Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Malam itu


*Mimpi...


Semua orang punya mimpi.


Mimpi adalah hal mustahil bagi orang yang tidak ada niat untuk mengejarnya. Tapi, mimpi adalah hal indah bagi orang yang dapat menggapainya.


Mimpi dapat membuatmu senang juga sedih...


Mimpi membawa kita terbang keatas langit, lalu dihempaskan kedasar bumi.


Mimpi tidak selalu dapat dicapai. Ada kalanya kita dibuat kecewa karna hasilnya tak sesuai harapan.


Karna itulah. Saat kamu sudah berada di atas langit, jangan lupa untuk melihat kebawah. Apakah tinggi? Ataukah masih rendah. Karna langit tidak akan ada tanpa dasar permukaan. Begitu juga kamu. Mimpimu tidak akan tercapai tanpa mereka yang ada di bawah sana.


See you*..


***


"Sudah siap?" Tanya Zaky yang nampak terlihat gagah dari biasanya di mata Milea. Apa beberapa hari ini tidak bertemu membuat matanya kekurangan stok pria tampan itu dilihat, makanya merasa kalah Zaky terlihat lebih fress dari biasanya?


Ah, rasanya tidak. Nyatanya, sepupu sepupunya tak kalah tampan dari Zaky. Apa mungkin dia sudah bosan karna keseringan melihat kelima pria itu? Entahlah...


"Sudah tuan."


"Tuan?!" Ulang Zaky penuh penekanan. Milea tersenyum kikuk sembari meraba tengkuknya.


"Kakak!"


"Bagus. Ayo kita berangkat!" Untuk sejenak Milea tertegun saat Zaky tiba tiba menarik tangannya keluar dari apartemen berjalan menuju lift. Kenapa dia merasa Zaky berubah setelah kepergiannya beberapa hari yang lalu? Apa benar pria itu merindukannya sampai sampai seperti ini? Apa bentuk perhatian ini memiliki tujuan agar dia kalau dia pergi, dia selalu ingin cepat pulang karna merindukannya?


Entahlah. Untuk saat ini Milea tidak ingin ambil pusing, yang cukup dilakukannya hanya menurut saja.


Sesampainya di parkiran. Hal tak terduga terjadi lagi. Zaky dengan suka rela membukakan pintu kursi samping pengemudi untuknya. Apa tuannya ini berniat ingin menyetir?


"Tu-tuan.. sa-saya bisa sendiri." Saking kagetnya Milea sampai gagap berbicara. Tak menyangka bahwa kepergiannya beberapa hari ini berdampak pada perubahan sikap atasannya itu.


"Masuk saja! Dan ingat panggil aku. Kakak!!" Tegas Zaky tak ingin dibantah. Meskipun sungkan, mau tidak mau Milea akhirnya mau naik kedalam mobil.


"Iya Kakak,"


"Gadis pintar!" Huh... sepertinya tuannya ini sangat jago untuk membuat lawan jenisnya mudah baper. Buktinya, sekarang Zaky berulah lagi dengan mengacak acak rambutnya. Seperti adegan drakor yang pernah dia tonton, di mana sang kekasih sering mengacak rambut pacarnya karna gemas.


Milea segera menggeleng sambil memukul kepalanya pelan. Apa yang dia pikirkan? Mungkin Zaky hanya refleks, ya hanya refleks! Jadi jangan geer dan menganggap bahwa Zaky menyukainya!


"Kita berangkat sekarang ya?" Ucap Zaky sambil memasang safety belt-Nya lalu menoleh kearah Milea yang nampak berperang dengan pikirannya sendiri dan mengabaikan tuannya.


Zaky tersenyum kecil lalu maju mendekat ketempat duduk Milea. Nampak gadis itu masih saja berperang dengan pikirannya dan tak menyadari bahwa Zaky sudah ada di hadapannya.


"Milea," bisik Zaky lirih. Tangannya nampak meraba raba samping bahu Milea, sehingga terlihat seperti mengurung tubuh kecil gadis itu.


Milea yang saat itu tengah memandangi jendelapun langsung menoleh kesamping, hingga hal tak terdugapun terjadi.


Cup


Kecupan singkat itu tak sengaja Milea daratkan tepat di bibir Zaky, karna terlalu kaget dan belum siap. Mata keduanya bertemu. Masih dengan bibir yang menempel, keduanya sama sama terdiam dan saling mengunci pandangan satu sama lain, hingga bunyi sesuatu menyadarkan keduanya.


Klek


"Jangan ceroboh! Pasang sabuk pengaman saja menunggu orang lain pasangkan," gumam Zaky segera kembali keposisi awal, sedangkan Milea sudah malu abis. Dia membuang pandangan kesamping, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah karna menahan malu.


Jika pada malam pesta ulang tahun waktu itu Zaky yang menciumnya paksa, sekarang kenapa terbalik, justru dia yang tak sengaja menciumnya. Tapi, ini masih bisa ditolerir 'kan? Dia tidak sengaja, sedangkan Zaky memaksa! Beda bukan? Jadi dia rasa tidak perlu meminta maaf untuk kesalahan yang tidak disengaja itu.


"Hm"


"Milea..."


"Hmm!!"


"Ck. Milea tatap aku!! Aku di sini bukan di sana!" Decak Zaky dengan cepat menarik kepala gadis itu untuk menatapnya.


"Ada apa tuan?" Tanya Milea mencoba menghindari kontak mata dengan Zaky. Padahal pria itu hanya sesekali meliriknya, karna pandangannya harus fokus pada jalanan.


"Kakak!!"


Memutar bola mata, "hm ada apa Kak?" Tanya Milea malas. Entah mengapa rasanya geli sekali memanggil Zaky dengan sebutan kakak. Mungkin karna dia sudah terbiasa memanggilnya dengan panggilan 'tuan'


"Emm.. malam itu... a-apa.. apa kita melakukannya?" Tanya Zaky ragu sekaligus takut. Takut Milea tersinggung dan marah padanya karna mengingatkan pada malam itu.


"Malam? Melakukannya? Melakukan apa tu-- emm maksudnya Kak?" Tanya Milea salah tingkah.


"Itu... waktu diacara pesta waktu itu. Apa kita melakukan sesuatu? Maaf, tapi aku hanya mengingat sampai saat kita berciuman di dalam lift itu saja. Jadi bisakah kamu jujur apa yang terjadi setelah itu?" Tanyanya lagi.


Milea yang mendengarnya seketika wajahnya merah padam. Masih teringat jelas di benaknya bagaimana dengan kasar dan penuh nafsu Zaky ******* dan memungut habis bibirnya. Dia dengan cepat menggeleng dan beberapa kali memukul kepalanya untuk menghilangkan bayangan adegan ciuman itu.


"Milea, jangan memukul kepalamu!! Beritahu aku, apa benar kita melakukannya?" Cecar Zaky semakin was was. Apalagi melihat Milea yang memukul kepalanya. Pasti wanita ini sedang mencoba menghilangkan kenangan buruk yang dia buat. Oh astaga, Zaky benar benar sudah salah paham.


"Menurut anda?" Bukannya menjelaskan, Milea hanya menjawab acuh tak acuh dan segera turun saat tahu mereka sudah sampai di kantor.


Zaky yang melihat itu segera melepas safety belt-Nya dan berjalan keluar untuk menyusul Milea yang sudah masuk lebih dulu kedalam.


"Milea tunggu!! Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apa benar kita telah melakukannya?!" Tanya Zaky tak sabaran, dia mencekal tangan Milea agar berhenti di lobi itu. Melihat itu tentu saja para pegawai mulai berkerumun untuk menonton pertunjukan menarik. Apalagi saat melihat Milea telah kembali, mereka mengira gadis itu mengundurkan diri dan membuat bos mereka jadi uring uringan seperti tempo hari.


"Ya Allah gusti... tuan! Bisakah anda mengecilkan suara anda itu?! Tidak sadarkah anda dengan sekitar?" Geram Milea seakan ingin menggigit wajah tampan itu saking gregetnya.


"Kakak!!"


Kali ini kesabaran Milea benar benar diuji. Jika boleh meminta, dia ingin tuannya selalu bersikap dingin, karna sikap cerewetnya lebih menyeramkan dari wajahnya saat pasang tampang dingin.


"Iya maksud saya Kakak. Tidakkah anda sadar Kak sekarang kita di mana? Lobi woi lobi, banyak orang orang yang liat. Kalau ingin bahas masalah pribadi, maka di tempat pribadi juga dong!" Gerutunya entah mengapa terlihat sangat imut di mata Zaky.


Pria itu tersenyum gemas lalu sejurus kemudian tersenyum jahil. Dia menundukkan tubuhnya sedikit agar wajahnya dapat sejajar dengan wajah gadis manis ini. "Gak sabar pengen berduaan ya?" Godanya.


Memasang wajah datar. Kakinya langsung menendang tulang kering Zaky sehingga membuat pria itu merintih kesakitan. "Akh akh akh sakit..." rintih Zaky sambil memegangi tulang keringnya sembari menatap Milea cemberut.


"Sekali lagi berani menggoda saya seperti tadi, jangankan menendang. Menembak kepala anda saja saya jabani." Ujar Milea berjalan berlalu meninggalkan Zaky yang menatapnya cemberut.


"Aduh aduh sakit.. Milea kamu tidak ingin bertanggung jawab telah menendang kakiku?!" Teriak Zaky.


"Tidak!"


"Sakit beneran loh ini!?"


"Bodo amat!"


"Hmmp! Kejam kamu Milea!" Dengus Zaky lalu menatap sekeliling, di mana para karyawan dibuat tidak percaya dengan sikap menggemaskan yang atasan mereka tunjuk 'kan di tempat umum. Bagi mereka ini adalah pemandangan langka, bahkan tak sedikit para karyawati yang mengabadikan momen ini lalu membagikannya di grup watsapp para tukang gosip ngumpul.


"Apa?! Kembali bekerja!" Dalam hitungan detik, mood Zaky berubah. Seolah seperti wahana roaller coaster yang naik turun memacu adrenalin mereka.


"Milea tunggu!!" Teriak Zaky dengan cepat berlari menyusul Milea masuk kedalam lift.