Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Sama sama galau


Haikal berjalan menusuri koridor rumah sakit menuju taman. Di sana dia dapat melihat Nala tengah duduk sendirian di bawah sebuah pohon menengadah kearah langit.


Sebuah dorongan dari hatinya membawa dirinya berjalan mendekat kearah Nala. Dia duduk di samping Nala, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Oh? Anda Pak, sedang apa di---" Nala terdiam belum sempat menyelesaikan ucapannya, Haikal lebih dulu menarik dirinya kedalam pelukan hangat pria itu.


"Pak Haikal anda---"


"Biarkan seperti ini. Sebentar saja. Ku mohonnn..." Nala diam tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Dia membiarkan beberapa saat untuk Haikal menenangkan diri di dalam pelukannya. Tangannyapun tak ada niat ingin membalas pelukan dari Haikal.


Hingga beberapa saat kemudian, pria itu melepaskan pelukannya. Matanya memerah, mungkin pria itu menangis tanpa sepengatahuan Nala.


"Nala..." sang nama menoleh, ditatapnya lekat lekat Haikal yang entah mengapa membuatnya tiba tiba gugup.


"MENIKAHLAH DENGANKU!!"


Deg!!


Seorang pria tersandar di balik pintu, menatap ruang kerjanya yang sudah seperti kapal pecah. Dia masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya...


"Kenapa Milea? Bagaimana kamu bisa membohongiku? Kamu memanfaatkan diriku, di saat aku sudah merasa nyaman bersamamu. Cih. Semua wanita sama saja!! Bulls*t!!" Umpatnya dengan air mata sebagai jawaban, bahwa dia sedang tidak baik baik saja.


"Rahardian ya? Kenapa? Kenapa setiap kali aku terpuruk seperti ini, selalu nama Rahardian yang terpilih menjadi pemeran utamanya?! Kenapa?!" Teriak Zaky menjambak rambutnya kasar.


Sakit? Sangat sakit. Kehancuran adiknya berasal dari keluarga Rahardian. Sekarang? Apa harus hatinya juga tersakiti karna anggota keluarga itu? Tidak adakah nama keluarga lain agar dirinya bisa menghilangkan sedikit saja rasa benci akan nama keluarga itu. Dia lelah. Bahkan dia baru saja mengambil beberapa langkah, namun harusnya sesakit ini menjalaninya?


Jika boleh egois. Dia tidak ingin mendengar kata itu keluar dari mulut Milea. Tak peduli meski harus hidup dengan penuh kebohongan, dia hanya menginginkan rasa nyaman yang sudah lama tidak pernah ia dapatkan dari orang lain. Tapi, mengapa semuanya harus terungkap secepat ini? Tidak bisakah semesta membiarkan dirinya untuk bahagia sesaat saja? Tidakkah cukup baginya melimpahkan rasa sakit ini secara terus menerus? Dia lelah. Dia ingin beristirahat sejenak, dia ingin seperti manusia lainnya yang bisa hidup bahagia tanpa ada kekangan dari orang lain.


Ting nong! Ting nong!


Lamunan Zaky buyar saat mendengar bunyi bell berbunyi. Dengan malas dia bangun menuju pintu lalu membukannya.


"Ada apa?" Tanya Zaky menatap dingin pria yang kini tengah berdiri di hadapannya saat ini. Tanpa disuruh, pria yang tak lain adalah Haikal itu menerobos masuk dengan lesu. Zaky hanya menggeleng samar lalu menutup pintu berjalan mengikuti langkah Haikal.


"Ya bisalah. So, guekan hanya manusia biasa. Gue bukan Thor yang dengan mudah memecahkan tanah seolah memecahkan cangkang telur. Dan gue juga bukan Hulk yang kuat ngangkat beban seolah kayak ngangkat kaleng." Jawab Haikal asal dengan perlahan membuka soft drink itu dan meminumnya.


"Jadi ngapain lo di sini?"


"Pak Haikal tiba tiba ngajak aku nikah." Terang Nala menatap galau sahabatnya yang dengan setia mendengarkan keluh kesahnya, meski hati juga sedang dilanda dilema.


"Ya bagus dong."


"Apanya yang bagus?! Yang ada aku malah merinding tau gak. Masa iya dia tiba tiba ngelamar aku, sedangkan kamu tahu sendiri bukan. Kalo kita itu udah kayak tom and jerry kalo ketemu." Kesalnya.


"Nyadar juga lu."


"Ihhh Milea aku serius..." rengek Nala merengut sebal melihat sahabatnya yang selalu menanggapi dengan santai, tidak seperti biasanya.


"Hmm... trus?"


"Ya terus aku takut aja dia itu kesurupan. Secarakan posisi kami saat itu ada di rumah sakit." Jawab Nala bergidik ngeri membayangkannya.


"Jadi lo terima atau enggak lamarannya?" Tanya Milea kini beralih menatap sahabatnya yang tengah dilanda dilema itu.


"Ya enggaklah!! Entar kalo aku terima dianya udah sadar, dia malah ngehina aku cewek kegatelan lagi. Ya aku gak mau lah!" Tolak Nala mentah mentah, meski di lubuk hatinya yang paling dalam dia mengiyakan permintaan Haikal.


"Intinya. Lo suka gak sama dia?"


"Suka. Udah dari kecil malah. Cuma gue gak yakin apa Nalanya juga suka sama gue apa enggak." Jawab Haikal mendesah prustasi.


"Kalo lo emang suka ya perjuangin. Jangan cuma dibiarin aja, entar diambil orang tau rasa lu." Tutur Zaky merasa tertampar dengan kata katanya sendiri.


Perjuangin? Kenapa dia baru sadar sekarang. Kalo dulu dia memang menyayangi adiknya, dia seharusnya memperjuangkan untuk adiknya kembali. Apa karna dulu dia tidak dewasa? Atau karna ekonomi yang membuatnya rela melepaskan adik kesayangannya? Entahlah.