
Brukh
Milea membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur tanpa berminat ingin mandi. Dia menutup matanya, mencari celah celah ketenangan yang mungkin bisa membuatnya sedikit saja merasa tidak tertekan oleh keadaan.
"Saya harap jika hari itu tiba, andalah yang berada di sisi saya. Meskipun rasanya mustahil." Gumamnya lalu bangkit mengambil selembar foto dua orang gadis polos yang ada dia ambil di dalam laci nakas.
"Anna. Sampai hari itu tiba, apakah aku masih bisa bertahan? Apa aku masih bisa berada di sisinya?" Lirihnya sembari membelai lembut wajah Anna sahabatnya.
"Anna. Saat hari itu tiba, bisakah kamu menguatkanku untuk tetap berada di sisinya meski dia akan membenci keberadaanku. Aku hanya butuh semangat darimu. Biar 'kan aku kuat sampai amanah darimu selesai aku kerjakan," lanjutnya tanpa sadar meneteskan air mata.
Tok tok tok
"Milea... kamu sudah tidur?" Mendengar panggilan seseorang, cepat cepat Milea menghapus jejak air matanya, lalu menyimpan foto itu di bawah bantal.
"Tunggu sebentar!"
Cklek
"Ada apa Kak?" Tanya Milea mencoba bersikap biasa, meski hatinya selalu merasa bersalah dan tersakiti saat melihat wajah tampan ini.
"Maaf."
Alisnya bertaut. Gadis itu segera mengangkat pandangannya pada pria tinggi di depannya ini. "Maaf? Maaf untuk apa?" Tanya Milea tak paham.
"Apa kamu marah dengan jawabanku saat di pantai waktu itu? Aku... aku tidak bermaksud untuk---"
"Saya tidak marah Kak. Lagi pula itu hanya sebuah pertanyaan, kenapa saya harus marah?" Tersenyum manis. Milea berjalan melewati Zaky menuju sofa yang ada di ruang tengah.
"Benarkah kamu tidak marah?" Tanya Zaky memastikan, dia ikut duduk di samping Milea.
"Saya tidak marah. Lagi pula kepercayaan seseorang tergantung pada orang itu sendiri, mau dia berikan kepada siapa kepercayaan itu," memandangi sambil tersenyum. "Termasuk anda. Saya tidak memaksa anda untuk percaya, karna itu hak anda. Saya hanya bertanya saja, tidak menginginkan lebih." Lanjutnya.
"Aku akan selalu percaya padamu, selagi kamu tidak berniat ingin mengkhianatiku, apalagi sampai menyembunyikan sesuatu dariku." Ujar Zaky pasti.
Milea terdiam, namun sedetik kemudian dia tersenyum simpul. "Terima kasih Kak." Ucap Milea.
"Tidurlah Kak. Bukankah besok anda harus bekerja, jadi sebaiknya anda istirahatkan tubuh anda agar besok tidak kecapekan," tutur Milea.
Zaky tersenyum, lalu tanpa aba aba langsung menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Milea. "Aku tidak bisa tidur. Bisakah kau mengusap kepalaku? Waktu kecil, saat aku tidak bisa tidur, Mama selalu mengusap kepalaku hingga tertidur." Pinta Zaky sendu.
Menatap sekeliling. "Pindah kekamar saja Kak. Di sini terlalu sempit, takutnya saat anda bangun nanti, badan anda sakit sakit," bujuk Milea.
"Baiklah, ayo!"
Keduanya berjalan masuk kekamar Zaky. Pria itu segera berbaring di bibir kasur dengan posisi miring menghadap Milea yang duduk di lantai.
Zaky merasa sekarang seperti melihat sosok Ibu yang ia rindu 'kan. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan. Milea tersenyum kecil, lalu menghapus jejak air yang membasahi pipi bosnya.
"Tidak apa apa, saya masih di sini. Tidurlah dengan nyenyak." Lirihnya.
Zaky menggenggam tangan Milea dengan erat. "Jangan pergi." Pinta Zaky dengan suara bergetar.
"Tidak akan." Milea membiarkan sebelah tangannya di dekap bosnya, sedangkan tangan satunya tetap mengelus puncak kepala Zaky dengan lembut. Hingga tak lama kemudian, mata itu terpejam dengan nafas teratur, menandakan bahwa sang pria di hadapannya ini sudah tertidur.
Milea memandang wajah Zaky intens, memastikan jika pria itu benar benar tertidur. Dengan gerakan pelan, dia mencoba melepaskan tangannya dari dekapan Zaky.
"Jangan pergi...." igau Zaky membuat gadis itu mengurungkan niatnya. Dengan terpaksa dia membiarkan sebelah tangannya digenggam pria itu, hingga detik menjadi menit, dan menit berlalu menjadi jam. Gadis itu merasakan matanya terasa berat, hingga tanpa sadar dia tertidur dengan kepala terbaring di bibir kasur.
***
Sinar mentari yang masuk dari celah gorden membuat seorang pria yang tengah tertidur pulas itu merasa terusik. Dia perlahan membuka matanya, dan hal pertama yang ia lihat seorang gadis cantik tertidur dengan kepala tertumpu pada bibir kasur.
Pria bernama Zaky itu tersenyum, lalu bangkit dari kasur. Dia mengangkat tubuh kecil itu keatas kasur dan berlalu masuk kedalam kamar mandi membawa baju ganti.
Milea mengerjapkan matanya saat merasa terganggu dengan suara gemericik air yang jatuh dari dalam kamar mandi. Dia bangun sembari mengucek matanya sambil mencoba mengumpulkan sebagian nyawa.
Cklek
"Oh? Kamu sudah bangun?" Zaky keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian formal karna hari ini dia sudah harus bekerja. Dia berjalan kearah meja rias, mengeringkan rambutnya dengan handuk di depannya, dan itu tidak luput dari ekor mata Milea yang merasa heran.
"Kenapa anda ada di kamar saya Kak?" Tanya Milea polos. Zaky menoleh sekejap lalu berbalik kembali sembari tersenyum kecil.
"Coba kamu pandangi dengan jelas sekelilingmu, sekarang ini kamu berada di kamar siapa?"
Milea memegangi kepalanya yang terasa pusing. Seketika dia mengingat semuanya dan merasa malu pada diri sendiri karna menganggap kamar ini adalah kamarnya.
"Maaf Kak, tadi saya ketiduran. Kalau begitu saya akan segera membuatkan sarapan untuk anda." Milea segera beranjak dari atas kasur, sebelum sebuah tangan menahannya.
"Tidak perlu. Kita sarapan di kantor saja. Kamu pergilah kekamarmu untuk bersiap siap." Tuturnya lembut.
Sejenak Milea terkesima melihat wajah tampan Zaky yang begitu ketara, apalagi saat pancaran sinar matahari menyinarinya. Sungguh, nikmat mana lagi yang kau dusta 'kan.
"Milea?"
Tersadar. "Ah... i-iya? Oh.. ka-kalau begitu saya pamit pergi kekamar dulu." Milea berlari malu karna kepergok mengagumi wajah tampan itu pagi pagi.
Tersenyum. "Dasar bocah." gumam Zaky geleng geleng kepala.