Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Terjebak


Cklek


Pintu terbuka, Milea yang tengah asik menonton drakor di layar laptopnya pun mengalihkan pandangan kearah pintu.


"Aku pulang..." seru Zaky menutup pintu kembali. Milea melirik laptopnya sebentar lalu menutupnya. Dia berjalan cepat menghampiri Zaky.


"Martabaknya ada tuan?" Tanya Milea celingak celinguk mencari makanan pesanannya.


Raut wajah Zaky seketika berubah masam. "Bukannya disambut atasannya baru pulang, malah nyariin martabak." Cibir Zaky.


Menatap cengengesan. "Hehe, selamat datang tuan. Sekarang mana martabaknya?" Tanya Milea sudah tidak sabar.


Zaky melirik Milea yang begitu menginginkan martabak itu seketika tersenyum senang. "Ada."


"Mana?"


"Kalau kamu ingin martabaknya, coba bilang. Zaky adalah pria tertampan sedunia." Jebak Zaky penuh kemenangan.


Milea seketika terdiam lalu menatap Zaky datar. "Apa? Mau martabaknya enggak?. Kalo gak mau ya udah," ujar Zaky pura pura ingin berlalu pergi.


Grep


"Tu-tunggu. Baiklah.." Zaky tersenyum senang saat Milea dengan cepat mencegat dirinya pergi.


Milea terdiam sejenak, menatap ragu tuannya yang akhir akhir ini suka sekali menggodanya seperti ini. "Ayo cepetan!! Mau martabaknya gak?" Desak Zaky mencoba menahan senyum melihat wajah cemberut Milea.


"Huft... tuan Zaky adalah pria tertampan sedunia..." ucap Milea malas.


"Apa? Kok ada tuannya? Ulang lagi!" Milea mendelik tajam saat melihat sudut bibir Zaky berkedut karna menahan tawa.


"Zaky adalah pria tertampan sedunia."


"Terlalu datar!! Ulangi lagi!"


"Zaky adalah pria tertampan sedunia~"


"Terlalu lebay! lagi!"


"Zaky adalah pria tertampan sedunia.."


"Coba sekali lagi!"


Milea menarik nafas panjang untuk menyabarkan hatinya dengan kelakuan tuannya itu. Sedangkan Zaky tertawa senang di dalam hati karna berhasil memberikan pelajaran pada pengawalnya itu. Bukannya menyapa dirinya, malah menanyakan martabak. Gimana tidak kesal coba?


"Zaky adalah pria tertampan di seluruh dunia. Bahkan para artis kalah oleh ketampanannya, dan wanitapun mengantri untuk menjadi pasangan hidupnya." Puji Milea terpaksa. Demi mengurangi terjadinya pengulangan, dia bahkan menambahkan beberapa bait kata untuk penyempurna.


*I*ni semua demi kau martabak. Gumam Milea dalam hati menjerit pilu.


"Benarkah? Apa termasuk kau juga?" Bisik Zaky membungkuk sedikit untuk mensejajarkan wajahnya dengan Milea.


"Terkecuali. Mana martabaknya?" Tadahnya dengan bibir sedikit maju dengan dagu terangkat menantang.


Zaky menghela nafas sejenak, lalu menyerahkan kantong plastik berisikan martabak itu pada Milea.


"Nih!"


"Horee martabak!!" Zaky terkekeh kecil sambil menggeleng pelan melihat kelakuan Milea seperti anak kecil.


Dia membiarkan wanita itu memakan martabaknya, lalu masuk kedalam kamar untuk mandi. Setelah selesai mandi dan ganti baju santai, dia pun berjalan keluar menghampiri Milea yang masih memakan martabaknya.


"Belum habis juga? Itu kau makan atau nyiput dulu? Lambat banget." Heran Zaky ikut duduk di samping Milea.


"Sengaja tuan, biar bisa makan bareng tuan," jawab Milea polos. Tidak tahukah dia? Ada seseorang yang sedang berbunga bunga karna doi' nungguin buat makan bareng.


"Ya udah mana martabaknya?"


Milea melirik Zaky lalu mendorong pelan kotak martabak. "Nih." Sodornya. Zaky terdiam menatap Milea datar. Kenapa wanita ini tidak peka sekali sih? Dia 'kan pengen disuapin. Tapi mau bagaimana lagi? Ngomong sama orang polos ya gini. Banyak banyakin sabar aja.


Belum sempat Zaky mengambil potongan martabak itu, Milea lebih dulu mengambilnya. "Buka mulut tuan. Aaaaa~" Zaky tertegun sejenak sebelum akhirnya dia tersenyum lalu membuka mulutnya. Tidak sia sia dia berharap doi' peka.


Jika cerita di atas tentang acara suap suapan. Lain lagi cerita kali ini. Nala menghela nafas lega setelah akhirnya tugas kantornya telah selesai ia kerjakan. Dengan cepat dia membereskan mejanya lalu berjalan keluar menuju pintu lift.


"Hai Nala, lembur juga ya?" Entah pertanyaan atau ledekan, Nala menatap tajam pria bernama Haikal Malik itu.


"Memangnya siapa yang menyuruh saya untuk lembur?" Ketus Nala masuk kedalam lift bersama dengan atasannya Haikal.


"Memangnya siapa?" Tanya Haikal seolah olah tidak tahu siapa yang telah menyuruh Nala untuk lembur.


"Au.. orang gila kali."


"Benarkah? Itu berarti kau juga gila, mau maunya disuruh orang gila buat lembur," ujar Haikal.


"iya. Saya memang gila. Berarti saya dan dia impas, sama sama gila." Jawab Nala kesal sendiri. Ditatapnya lift terasa lambat turun, padahal dia ingin cepat cepat pulang agar bisa berendam air dingin untuk mendinginkan kepalanya yang hampir meledak.


"Woahh benarkah? Jangan jangan jodoh lagi..." Haikal menatap Nala dengan tatapan menggoda. Melihat Nala kesal semakin dia ingin mengganggu wanita itu.


"Jodoh? Sama dia? Dih amit amit!!" Tok tok tok. Nala bergidik ngeri sambil mengetuk kepalanya lalu diketukkan kekotak besi di depannya.


"Biasanya yang amit amit itu bakalan jadi." Ujar Haikal semakin gencar menggoda Nala.


"Ihhh eng---"


Lap


Gubrak


"Awh." Baik Haikal maupun Nala, keduanya sama sama meringis saat kepala mereka terpentok tembok karna terjatuh.


"Liftnya kok mati lagi? Bukannya listrik udah dibayar ya? Kok liftnya berhenti lagi?" Gumam Haikal dengan cepat membuka ponselnya. Seketika dia membulatkan matanya saat melihat pesan singkat dari Zaky.


Oh ya. Lift kusus untuk para petinggi atasan sedang dalam masa perbaikan, jadi jangan naik itu ya.


Zaky Alexander


"Shit! Sial!!" Haikal meninju udara dengan kesal. Saat sedang bekerja biasanya dia selalu mengaktifkan mode senyap, sehingga tidak tahu kalau ada notif pesan masuk dari Zaky.


"Sekarang bagaimana? Tidak mungkin tidur semalaman di sini, bisa bisa kami mati kehabisan oksigen." Gumamnya bingung.


"Hei Nala! Kau---" Haikal terdiam saat sorot cahaya ponselnya melihat sekelabat seseorang di sudut lift.


Haikal cepat cepat menyalakan senter yang ada di ponselnya dan menyorotkan kepada orang itu. Dan benar saja, di sana Nala terdiam dengan pandangan kosong. Wajahnya pucat, tangannya gemetar, hingga perlahan air matapun turun dari manik mata indah itu.


"Nala! Kau kenapa? Hei sadarlah!" Teriak Haikal menguncang cukup kuat bahu Nala. Namun, bukannya sadar, Nala bertambah gemetar.


"Hiks hiks to-tolong.. Ja-jangan bunuh aku... hiks ja-jangan bunuh aku.. JANGAN BUNUH AKU ARRGGHH!!" Haikal semakin panik di saat Nala mulai mengamuk tidak jelas.


"Nala, hei sadarlah! Aduh bagaimana ini? Aku harus segera menghubungi Zaky untuk meminta tolong," gumam Haikal mengangguk cepat. Dia menekan layar telfonnya memanggil Zaky hingga terdengar bunyi tut-tut-tut- pertanda panggilan telah tersambung.


"Hallo?"


"Hallo Zaky. Gue--"


Plak


"Jangan bunuh akuuu!!!" Teriak Nala kencang hingga tanpa sengaja menepis tangan Haikal hingga ponsel itu terlempar keujung sudut yang lain.


"hallo? hallo?"


"Astaga, Nala lo kenapa sih ah, ribetin aja lu." gerutu Haikal menatap wajah takut Nala. Terbesit di hatinya rasa kasihan melihat wanita itu meringkuk ketakutan dengan wajah pucat.


Grep


"Tenanglah..."


"Ja-jangan.. ku-kumohon jangan bunuh aku. Aku mohon..." isak Nala mencoba mendorong tubuh Haikal yang memeluknya. Bukannya terlepas, Haikal semakin mempererat pelukannya.


"Tenanglah... aku tidak akan membunuhmu... aku di sini untuk menolongmu... jadi diamlah oke?" Dengan suara lembut, Haikal mencoba meyakinkan Nala. Dan perlahan, Nala mulai mengendurkan tangannya untuk mendorong tubuh Haikal, lalu pelan tapi pasti, dia membalas pelukan Haikal dan menangis sejadi jadinya di sana.