
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
"Ini berkas kemarin" ujar Max seraya meletakkan berkasnya di atas meja
"kenapa?" tanyanya lagi, penasaran karena bosnya itu terlihat tidak bersemangat hari ini
"Apa wanita hamil memang mudah marah?" tanyanya pada bawahannya yang notabennya sama sekali tidak berpengalaman dalam dunia pernikahan
Max mengangguk pelan, "kata orang kalau wanita hamil sedang marah dengan suaminya nanti anaknya akan sepenuhnya mirip ibunya" sahut Max sukses membuat Glen menoleh padanya
"Memangnya begitu?" tanyanya lagi
Max mengangguk mengiyakan pertanyaan atasannya sambil menahan tawanya
"lebih baik cepat berbaikan, lakukan sesuatu yang menyenangkan hati Serin" ujar Max dan hanya di angguki paham oleh Glen
"Tapi kalau kau berbohong gajimu ku potong" tukas Glen tidak lupa senyum penuh arti yang ia berikan pada bawahannya yang satu ini
Tentu saja ia tau jika Max pasti hanya mengada-ada "sudah kembali keruanganmu suruh Glen
"Tapi pikirkan saranku barusan" sahut Max sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan Glen untuk kembali ke ruangan-nya
Glen duduk sambil menatap layar komputernya, entah kenapa sesuatu terus mengusik pikirannya
Tidak ingin dihantui rasa penasaran, Glen meraih ponselnya untuk menelpon detektif Jung
...****************...
Serin duduk bersama putranya dihalaman belakang untuk bersantai sembari mengerjakan pekerjaan-nya
Sedangkan Reyhan, pria kecil itu kini tengah bermain bersama beberapa pengawal yang menjaga halaman belakang
"Ini benar-benar lingkaran iblis" gumamnya dengan nanar mata yang fokus pada layar laptop, namun sesekali ia menatap Reyhan untuk mengawasi-nya
📳Drrttt...
Sontak Serin langsung teralih pada ponselnya, dimana ia melihat nama atasannya terpampang di layar ponselnya
📞In Call-
"Ada apa pak?"
"Bagaimana dengan yang kemarin?"
"Kami sudah melakukan penyelidikan, tapi tidak bisa bergerak gegabah untuk saat ini... baru saja kami menemukan hal baru yang mungkin akan membuat pemilihan periode ini terganggu"
"Maksudmu?"
"saya akan mengirimkan bapak email, disana ada dokumen penting yang perlu di tinjau lagi untuk pemilihan kali ini,,, jika salah langkah maka kursi presiden akan di ambil oleh orang yang salah"
"Kalau begitu kalian harus menyelesaikan-nya sebelum pemilihan"
"saya juga memikirkan itu pak! tapi nama yang masuk kedalam daftar VVIP bukanlah orang yang bisa kita jatuhkan begitu saja... mereka semua punya pengaruh masing-masing"
"Ah. aku melupakan itu, bagaimana dengan kelemahan mereka? apa tidak ada jalan lain?! sementara pemilihan akan di lakukan sebentar lagi!"
"sejauh ini kami masih tutup mulut, untuk menyerang satu-persatu kelemahan mereka"
"Baiklah, jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja padaku... aku tidak bisa berlama-lama, kita bahas lagi nanti"
"Baik pak"
📞End Call-
"Maaf Nona! ada tamu di depan ingin bertemu Nona" ujar pelayan yang baru saja datang untuk memberitahu
"Tamu!" gumam Serin, dan di angguki oleh pelayan yang masih berdiri di tempatnya
"Suruh dia menunggu, mungkin tamu Tuan, aku akan kesana sebentar lagi" ucap Serin, dan di angguki paham oleh pelayan yang langsung pergi menuju ruang tamu
"Reyhan! ibu kedepan dulu. kamu diam disini bersama bodyguard ya" ujarnya seraya bangkit dari duduknya
"Iyaa Bu" sahutnya
Serin pergi sebentar untuk melihat siapa tamu yang di maksud oleh pelayan tadi
"......"
"Ravin!" seru Serin, ketika melihat tamu yang di maksud pelayan adalah teman kampusnya
"Oh! Apa aku mengganggu mu?" tanyanya ketika melihat Serin sudah datang
Serin hanya menggeleng pelan, tanda tidak untuk pertanyaan Ravin sebelumnya, "kenapa tiba-tiba datang? Apa ada masalah di kampus?" tanyanya seraya mendudukkan dirinya di sofa, begitu juga dengan Ravin yang juga kembali duduk
"Aku ingin minta bantuanmu" jawabnya
"bantuan?"
"iyaa, hmm.. sebenarnya aku sedang mengencani seseorang dan aku tidak tahu hadiah apa yang harus ku berikan untuk dating pertama" jelasnya tanpa menatap Serin, karena malu
Serin hanya tersenyum simpul "Baguslah jika kau sudah bisa membuka hatimu! Kau tenang saja dengan senang hati aku akan membantumu, kau tunggu disini aku akan mengganti pakaian sebentar" ucap Serin dan hanya di angguki oleh Ravin
Ravin melihat sekilas jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sembari menunggu Serin ia memilih untuk memainkan ponselnya sebentar
"......"
Meraih tasnya Serin duduk sebentar di tepi ranjang, lalu membuka ponselnya untuk menghubungi seseorang, tapi tidak ada jawaban sama sekali
Karena tidak ingin membuat Ravin menunggu lama, ia memasukkan kembali ponselnya dan turun untuk pergi ke suatu tempat bersama teman prianya
"......"
"Ayo!" ajak Serin yang baru saja selesai menuruni anak tangga
Dengan dress putih selutut dan rambut yang di cepol ke atas membuat penampilannya sempurna walau terlihat simpel
"Kita tidak lama, kan?" tanya Serin seraya membenarkan jam tangannya
"Vin?" tegur Serin, karena pria tampan itu sedang melamun
"Ah. Tidak, tidak akan lama, setelah membeli hadiah kita pulang" sahutnya
"Bi! Tolong awasi Reyhan, aku tidak akan lama" pesannya pada Sella dan tentunya di angguki paham oleh Sella
"Apa Glen tidak akan marah?" tanya Ravin sebelum mereka melangkah pergi
"Tenang saja, kita hanya sebentar lagi pula aku hanya menemanimu mencari hadiah,kan ... bukan melakukan hal gila di belakang-nya" jawab Serin, karena hal kemarin membuatnya masih sedikit kesal dengan Glen
Keduanya melangkah keluar rumah untuk pergi ke sebuah tempat dimana mereka bisa mendapatkan hadiah yang di maksud Ravin
...****************...
"Reyhan ibu mana?" tanya Glen yang baru saja datang, entah ada jadwal lain atau apa, tapi hari ini pria itu pulang cepat
"Ibu keluar sebentar Yah" jawab pria kecil yang kini sedang duduk di ruang tamu bersama pengasuhnya
"Kemana?" tanyanya lagi, seraya mendudukkan dirinya di sofa
Reyhan hanya menggeleng pelan, karena ia tidak tau kemana tujuan Serin dan Ravin pergi
"kau tau Serin kemana?" tanya Glen pada Lily
"Saya juga tidak tahu Tuan, tadi Nona pergi dengan temannya" jawabnya
Glen diam sebentar, lalu meraih ponselnya dan melihat jika sebelumnya Serin menelpon-nya tapi tidak dijawab olehnya, karena ponselnya tertinggal di mobil ketika sedang meninjau proyek
"Temannya yang mana? Pria atau wanita?" tanyanya lagi seraya menghubungi Serin tapi tidak di jawab
Seketika tangannya langsung mengepal sempurna, dan bangkit dari duduknya lalu pergi menuju mobilnya yang masih terparkir di halaman depan
...****************...
Sedangkan disisi lain, Serin baru saja keluar dari kamar mandi di sebuah kamar dengan ruang yang besar dan beberapa koleksi jam tangan mewah, ditambah nuansa dari kamar yang di poles dengan cat berwarna abu gelap menambah kesan elegan tersendiri
"Kau sudah selesai?" tanya seorang pria yang baru saja masuk kedalam kamar tersebut
"Hmm. Terimakasih untuk kamar mandinya" ucap Serin
Ravin hanya mengangguk, lalu mengajaknya keluar dari sebuah kamar apartemen mewah tersebut
"Kau sering tinggal disini?" tanya Serin membuka pembicaraan sembari mereka berjalan menuju ruang tamu
"Terkadang, kalau aku sedang ingin sendiri aku akan ke sini" jawabnya
"kau ingin minum sesuatu, sebelum aku mengantarmu?" tawar Ravin
"Tidak perlu, tadi aku beli air jadi aku minum ini saja" tolaknya halus, karena memang kebetulan sebelum keluar dari Mall ia membeli sebotol air untuk menghilangkan dahaganya
"Apa ada yang tinggal di sana?" tanya Serin, yang dari tadi melihat sebuah ruangan yang terlihat di kunci dari luar
"Tidak ada, dulunya itu kamar kakakku tapi sekarang sudah tidak pernah di pakai lagi" jawab Ravin, seraya melirik sekilas ke arah pintu kamar yang tadi Serin tanyakan
"Kau bilang ingin memperlihatkan kekasihmu padaku, apa aku bisa melihatnya sekarang?" ucapnya, karena saat perjalanan ke Mall Ravin berniat untuk menunjukkan foto kekasihnya pada Serin
Ravin menarik tipis senyumnya, lalu merogoh ponsel yang ada di saku celananya
"Ini" ujarnya seraya memperlihatkan foto seorang wanita yang ada di layar ponselnya
Ting~ Ting~ Ting~
Belum sempat Serin melihat fotonya, bunyi bel apartemen berhasil membuat atensinya teralih menatap ke arah kepintu utama
Ravin langsung memasukkan kembali ponselnya, lalu pergi untuk melihat siapa yang datang
"Aishhh shitt~" umpatnya ber-smirk seraya berjalan menuju pintu
Ravin menoleh sekilas ke sofa ruang tamu, lalu kembali lagi layar yang ada di samping pintu
Dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di artikan Ravin membuka sedikit pintu apartemen-nya
"Dia ada di sini, kan?" ucap seorang pria yang kini berdiri di balik pintu
"Dia sedang sibuk." sahut Ravin tanpa membuka penuh pintunya
Mendengar itu membuat emosi Glen semakin naik, entah apa sebenarnya yang terjadi tapi dari raut wajahnya terlihat sekali jika ada rasa ketakutan dan khawatir yang bercampur menjadi satu, yang di rasakan oleh seorang suami sepertinya
"Dia akan segera keluar, tunggu disini" ujarnya lagi, tapi sama sekali tidak membuka pintunya untuk Glen
Ia malah berniat untuk menutup pintu apartemen-nya, tapi sukses di tahan oleh tangan Glen, tatapan tajam tidak henti-hentinya pria itu layangkan pada pria yang selama ini telah menyukai istrinya
"Kau bukan anak kandung pak Arya, kan!" tukas Glen seraya menatap Ravin tidak lupa smirk andalannya
"Jika kau berani menyentuh istriku satu cent saja, aku akan menghabisimu" tambah Glen
"Ravin menunduk sebentar, lalu kembali lagi menatap lawan bicaranya "sepertinya ada kesalahpahaman " ucapnya, tapi hanya mendapat senyuman iblis dari Glen
"Kalau begitu buka pintunya" ucap Glen, memaksa untuk membuka pintu yang masih tersangga oleh pengait pintu
Ravin menutup sebentar, lalu membuka sepenuhnya pintu tersebut, tanpa buang waktu Glen langsung masuk kedalam apartemen mewah tersebut
"Serin!" serunya mencari kesekitar ruangan besar itu
"Serin!" serunya sekali lagi, ketika melihat wanitanya tengah berdiri melihat sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding putih
"Glen!" sahutnya heran, bagaimana suaminya itu bisa ada di apartemen Ravin
Ia langsung berjalan kearahnya lalu memeluknya dengan begitu erat hingga membuat Serin sedikit kesusahan bernafas
"Glen!" serunya menepuk pelan punggung Glen agar melepaskan pelukannya
"Kamu baik-baik saja, dia tidak melukaimu,kan? apa kamu terluka?" tanyanya bertubi-tubi
"Tenanglah, kamu ini kenapa? kenapa tiba-tiba bisa ada di sini?" tanya Serin balik
"nanti ku jelaskan, sekarang kita pergi dari sini, aku tidak tahan berlama-lama di tempat ini" jawab Glen, dasi nya
Glen menarik lembut istrinya, lalu meraih taplyang ada di atas meja tapi itu, Glen harus berhadapan lagi dengan Ravin?
"Vin! aku pulang dulu" ucap Serin dan hanya di angguki oleh Ravin, tidak lupa senyum manis tertarik dari bibir pria tampan itu
Glen langsung membawa Serin untuk keluar dari apartemen Ravin
Setelah kepergian Glen dan Serin , pria yang ketampanan-nya juga tidak kalah dengan Glen itu, mulai melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang sebelumnya di tanyakan oleh Serin
Dengan satu tangan yang ia masukkan kedalam saku celananya ia masuk kedalam ruangan tersebut, tidak lupa sebuah siulan yang mana nadanya mengisyaratkan sesuatu
Suasana tenang, gelap dan menakutkan bercampur menjadi satu dalam ruangan tersebut, dimana terdapat beberapa tali dan penjepit yang menjepit sebuah foto satu-persatu, serta cahaya merah dari satu lampu yang ada di ruangan itu
Pria itu lantas mendudukkan dirinya di kursi empuk yang ada di sana, dengan kaki yang menyilang ke atas meja
...****************...
Sedangkan di sisi lain, Glen langsung melajukan mobilnya untuk pulang, tidak ada pembicaraan sama sekali. Serin sudah bertanya tapi tidak dijawab sama sekali oleh Glen, hingga membuatnya kesal sendiri dan memilih untuk diam sampai dirumah
"......"
"Sebenarnya ada apa? dan bagaimana kau bisa tahu jika aku ada di sana?" tanya Serin yang baru saja keluar dari mobil, menatap Glen yang juga baru keluar dari mobil
"parkirkan ini" titahnya pada salah satu bodyguardnya
Glen menatap sebentar nanar mata istrinya, lalu menariknya lembut untuk masuk kedalam rumah
"Glen!" serunya menatap suaminya yang sedang membelakanginya
Pria itu lantas berbalik menghadap istrinya, dan mulai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan apa saja yang akan dilontarkan oleh Serin
"Dari hari ini dan seterusnya tolong jauhi Ravin, aku tidak masalah kamu berteman dengan Joshua, William ataupun Dilla tapi tidak untuk Ravin!" pungkas Glen sukses membuat Serin bingung atas ucapannya
"Alasannya?" tanya Serin, tanpa sekalipun mengalihkan tatapannya
"Aku belum bisa menjelaskan sepenuhnya, tapi akhir-akhir ini aku meminta Jung untuk menyelidiki latar belakang Ravin, dan menemukan hal yang berlawanan dengan realitanya" jawab Glen
"Maksudnya?" ~ Serin
"Ada kemungkinan, dia hidup dengan identitas orang lain" jawabnya
Mendengar itu membuat Serin semakin bingung, dan penasaran apa yang coba ingin Glen sampaikan
"Pokoknya jauhi saja dia, aku takut dia mencelakai-mu... jika aku sudah mendapatkan jawaban atas identitas-nya aku akan menjelaskan-nya padamu" ucap Glen, seraya melepaskan kemejanya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, meninggalkan Serin yang masih diam di tempatnya
Berselang beberapa detik, Serin mulai tersadar dan langsung meraih ponselnya untuk mengirim pesan pada Geralt, dan tentunya ia tidak akan menunggu sampai Glen menjelaskannya
Ia duduk di sofa panjang yang ada di kamar, "hidup dengan identitas orang lain?!" gumamnya, memikirkan kembali ucapan Glen sebelum-nya
"Jika dia hidup dengan identitas orang lain, lalu siapa orang yang ia ambil identitas-nya?" gumamnya lagi
Karena ucapan Glen, wanita itu terus saja kepikiran akan hal itu
...****************...
.
.
.
Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊
.
.
.