Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Suci hilang


"Hihii pasangan itu romantis sekali ya," bisik salah satu pembeli pada temannya.


"Iya. Benar benar keluarga kecil yang bahagia." Timpal temannya tersenyum baper melihat pasangan sejoli itu.


"Woahh mas, ini istri sama anaknya ya?" Tegur pembeli lain tanpa sungkan. Terlihat perut wanita itu begitu buncit, menandakan bahwa saat ini tengah mengandung seorang buah hati.


"Bu---"


"Ih gak usah malu malu mas. Istrinya cantik gini, jadi gak usah ngelak deh. Setidaknya kalo diajak jalan gak bikin malu kayak suami saya," belum sempat menjawab, wanita itu lebih dulu memotongnya, membuat sang suami mendengus kesal. Padahal dia merasa wajahnya masih dalam standar kegantengan makhluk bumi.


"Emm i-itu..."


"Mbak, mas, sama anaknya, bisa foto bareng gak? Saya tiba tiba ngidam pengen foto sama kalian. Boleh ya? Pleasee!" Dari wajah penuh antusias berubah menjadi rengekan dengan air di pelupuk mata wanita hamil itu mengeluarkan pupy eyes yang menggemaskan, membuat dua pasutri itu saling menatap dalam diam.


"Huft... boleh bu." Akhirnya gadis yang tak lain adalah Milea itu pun berdiri di samping bumil, dan Zaky di sebelahnya lagi. Oh! Tak lupa Suci yang berada di depan Zaky dengan tangan pria itu merangkulnya.


"Sudah siap ya! Satu... dua.. tiga!"


Ckrek


"Duh makasih banget ya mbak sama masnya. Maaf udah ngerepotin gara gara ngeladenin ngidamnya orang hamil," tutur bumil itu tak enak hati.


"Enggak apa apa kok bu." Jawab Milea tulus. Dia tersenyum kecil melihat antusias bumil itu saat ingin berfoto dengan mereka tadi. Apa saat dia hamil nanti akan seperti itu juga? Ah! Seketika pikiran Milea membayangkan saat dirinya hamil dan ngidam pengen jatuhin pesawat. Auto blank suaminya nanti.


"Oh ya, saya mau nanya. Waktu ngelahirin itu sakit gak sih? Mumpung udah ketemu yang berpengalaman, jadi saya pengen tukar informasi soal kehamilan gitu," tanya wanita itu membuat Milea mengerjap erjap bingung.


Lah mana saya tahu? Orang nikah aja belum!! Umpatnya dalam hati. Yah, hanya di hati, tak mampu diutarakan. Yang ia tahu, wanita hamil itu rada rada sensitif, jadi dia tidak ingin ambil resiko.


"Sakit bu. Mungkin saking sakitnya, udah mati rasa. Tapi, semua itu akan terbayar saat kita mendengar suara bayi kita lahir. Sakit yang terbayarkan oleh rasa bahagia, karna orang yang kita nanti nanti akhirnya keluar untuk melihat dunia yang sesungguhnya." Sejak kapan dia jadi ahli tentang orang orang hamil? Entahlah, yang penting Milea menjawab apa yang ia ketahui selama ini tentang Ibu hamil.


"Iya betul. Ini anak pertama kami, jadi do'akan semoga dia bisa sehat terus ya mbak."


"Aaamiinn.."


"Di sini ada dedek bayi ya tan?" Tanya Suci mengusap pelan perut buncit wanita itu. Bumil itu tersenyum sembari mengusap kepala Suci yang terbungkus oleh hijab.


"Wahhh pasti dedek bayinya lucu,"


"Kalo kamu pengen, suruh mama sama papa bikinin adek buat kamu," bisik wanita itu yang masih bisa didengar Zaky. Seketika air muka pria itu berubah dingin penuh emosi. Tidak ada yang menyadarinya, Milea sibuk tersipu dengan pemikirannya sendiri, suami wanita itu sibuk dengan layar gawainya, sedang 'kan Suci dan Bumil itu sibuk berceloteh.


"Maaf mbak, kami sedang buru buru. Ayo dek," tanpa meminta persetujuan, Zaky dengan cepat menarik lengan Suci menjauh dengan Milea yang seketika tersadar dan segera berpamitan dengan Ibu hamil itu tadi lalu menyusul Zaky dengan mendorong troli.


"Kak anda baik baik saja?" Tanya Milea saat melihat air muka Zaky masih belum berubah sama sekali. Aura negatif mengelilinginya, membuat siapa saja yang berpapasan merasa terintimidasi dan lebih memilih menghindar.


"Tidak!"


Jujur sekali orang ini, "coba anda cerita. Apa yang membuat anda tidak baik baik saja? Siapa tahu saya bisa bantu?" Ucap Milea sembari memasukkan barang barang yang ingin dibeli.


"Aku kesal sama Ibu hamil tadi le. Kenapa mereka harus membahas tentang kehamilan dan juga tentang adek sih sama Anna? Bagaimana kalo bocah itu mengadu pada Mama minta dibuatkan adek?!" Gerutu Zaky pelan agar tidak didengar Suci yang sedari tadi sibuk melihat lihat di depan mereka.


"Memangnya kenapa? Gak salah 'kan jika Cia pengen punya adik? Lagi pula, tante Lida 'kan umurnya baru kepala tiga, masih subur dan masih bisa punya anak. Salahnya di mana sampai sampai anda kesal seperti itu?" Tanya Milea heran melihat Zaky marah tak beralasan.


"Masalahnya mama udah gak bisa punya anak lagi," cicit Zaky menghela nafas kasar sembari memijat keningnya.


"Hah? Apa gimana? Gak bisa punya anak lagi? Maksudnya?" Cecar Milea bingung sekaligus kaget saat mendengar fakta yang sesungguhnya.


"Waktu aku kelas dua SMA, mama pernah nolongin aku yang kena kroyok sama anak pentolan sekolah. Waktu itu mama ngehalau seseorang yang pengen mukul aku pake tongkat bestball sehingga membuat beliau mengalami pendarahan dan langsung di lakukan oprasi darurat untuk menyelamatkan anak beliau. Tapi, siapa sangka? Rahim beliau terinfeksi sehingga membuat pihak rumah sakit harus mengangkatnya,"


"Itulah alasan mengapa aku tidak ingin Anna merengek minta adik, takut melukai hati mama. Karna semua itu berawal dari aku," ujar Zaky.


Milea terdiam tak tahu harus apa. Dia terus melanjutkan jalannya sambil mengambil bahan bahan yang di perlukan. Sedetik kemudian matanya membulat sempurna saat menyadari sesuatu.


Tap


"Kenapa? Kok berenti?" Zaky menatap heran saat tiba tiba gadis itu berhenti dengan ekspresi panik.


"Ada apa?" Tanyanya lagi. Tapi, kali ini perasaannya benar benar tidak enak. Seperti akan ada batu besar yang siap menghimpit ulu hatinya.


"Cia mana kak?!"