
Duduk di ruang tengah, Zaky mendengus kesal saat melihat adiknya terus menempel pada Milea sedangkan dirinya diabaikan. Pun dengan Haikal, ia merasa kesal saat melihat Nala lebih asik bermain dengan Milea dan Suci ketibang ingin meladeni omongannya.
Iyalah gak mau, orang kalo lo ngomong bawaannya pengen nampol! Begitulah isi hati Nala yang cuek bebek melihat Haikal cemberut.
"Sekarang Suci udah kelas berapa?" Tanya Nala menatap gemas anak gadis yang tengah makan coklat sambil duduk anteng di pangkuan Milea.
"Udah kelas 3 kak." Jawabnya tanpa melirik Nala. Fokusnya saat ini hanya pada sebatang coklat yang hampir habis ia makan.
"Wahh udah gede dong kamu. Udah kenal deket belum sama cowok di sekolah kamu?" Goda Nala semakin gencar menanyakan hal hal tak masuk akal pada bocah berumur 9 tahun itu. Sedang 'kan Milea nampak memasang wajah datar dengan profesi sebagai penyimak.
"Ada. Dia ngeselin, suka banget narik narik ujung kerudung Suci kalo lagi belajar. Diomelin dia malah ngadu sama guru, jadinya 'kan Suci yang kena marah sama gurunya, padahal Suci gak salah apa apa," gerutu Suci mulai semangat menceritakan masa sekolahnya yang selalu diganggu oleh teman sekelas yang kelewat jahil, alias sengklek bin bengek.
"Whahahaa tanda tanda jodoh ini," tawa Nala seketika pecah mendengarnya. Dia jadi teringat dengan teman masa kecilnya dulu, apa kabarnya sekarang? Ah, dirinya lupa. Teman masa kecilnya itu 'kan meninggal setelah terjadi insiden waktu itu. Mengingat itu Nala seketika merindukan sahabat masa kecil, yang merupakan cinta pertamanya dulu. Apalagi saat mereka membuat janji konyol yang tak 'kan pernah mungkin terwujud.
Kala itu, di sebuah danau indah nan sepi. Dua orang bocah beda usia tengah duduk berdua di bawah pohon sembari bersandar di batangnya sembari memandang hamparan luas danau yang di tumbuhi beberapa teratai.
"Lala, kalo udah besar nanti aku mau lamar kamu," ucap seorang bocah laki laki bernama Ikal.
Lala yang tengah bersandar di pundak Ikal hanya meliriknya sekilas, lalu kembali mengarahkan pandangan kehamparan danau. "Gak ah! Ikal suka boong, Lala gak mau! Entar pas gedenya Ikal malah nyantol ama cewek lain lagi," gerutu Lala mencabik kesal.
"Ikal gak bohong Lala. Kalo udah besar nanti, Ikal janji bakal nikahin Lala dan jadiin Lala istri Ikal satu satunya." Sungut Ikal sungguh sungguh. Dia meraih tangan Lala dan menggenggamnya erat.
"Beneran?"
"Iya!"
"Kalo gitu mana buktinya?"
"Tunggu bentar ya!" Lala diam memperhatikan Ikal yang pergi menuju sepedanya lalu kembali lagi dengan membawa dua buah pot berisikan bunga matahari.
"Ini buktinya!" Ujar Ikal menyerahkan dua pot yang berisikan bunga matahari.
"Bunga? Emang bunga bisa jadi bukti?" Tanya Lala mengambil satu pot bunga tersebut.
"Iya. Sini ikut Ikal!" Lala pasrah saat tangannya ditarik Ikal menuju tanah lapang yang cukup subur. Lala memperhatikan setiap pergerakan Ikal yang terlihat mengeruk tanah kayak kucing. Saat di rasa cukup dalam, dia mengeluarkan tanah beserta bunga itu dari dalam pot.
"Sini deketan la!" Lala menurut mendekat kearah temannya. Ikal dengan sigap menarik tangan Lala untuk memegang tanah bunga itu sebelah, sedang 'kan sebelahnya lagi dia yang pegang.
"Ayo kita tanam sama sama!" Ucap Haikal lalu sama sama mereka menanam 'kan bunga itu kedalam tanah.
"Emang apa hubungannya dengan nanam bunga matahari sama bukti janjinya Ikal?" Heran Lala namun tetap menuruti perintah Haikal.
"Ada. Bunga ini ibarat kamu sama hati aku. Sama sama indah dan bersinar. Bunga ini akan jadi bukti, selama dia masih hidup, maka selama itu pula Ikal akan tetap menyukai Lala," jelasnya tersenyum manis.
"Dan selama bunga ini masih hidup, selama itu pula Lala bakal nunggu Ikal." Timpal si bocah cewek ikut membalas senyum.
Plak
"Awh"
"Jangan ngajarin anak kecil yang enggak enggak!" Omel Milea dengan tampang datarnya. Buyar sudah pikiran Nala yang tengah bernostalgia, digantikan dengan raut wajah nyengir tanpa dosa.
"Iya mamak tercinta, ampun dah," Milea menatap datar kelakuan sahabatnya yang semakin jadi. Bukannya apa, dia takut hilaf gorok leher anak orang.
"Ini silahkan di minum," Maulida datang dari arah dapur membawa nampan berisi minuman serta camilan lain untuk tamu dan juga anaknya.
"Terima kasih tante." Ucap Nala dan Milea tersenyum sopan pada wanita yang kini umurnya sudah kepala tiga.
"Ahhhh bubu tayang, tau aja dedek lagi haus," gaya gaya lebai, Haikal meraih gelas berisi air jus itu tanpa sungkan langsung meminumnya.
"Siapa yang kamu panggil bubu tayang?" Suara dingin dan mencekam seseorang yang tiba tiba datang dari arah tangga sembari menggulung lengan kemejanya hingga siku membuat ruangan yang semula hangat, berubah dingin.
"Uhuk uhuk uhuk" Haikal yang kaget seketika tersedak air minumnya sendiri. Dia melirik pria yang umurnya sudah tua tapi tidak dengan wajahnya takut takut.
Zaky? Jangan ditanya. Dia bersikap santai sembari melirik Haikal dengan senyum meledeknya, seolah olah berkata. "Mampus lo, sebentar lagi bakal ada yang digantung di tiang monas," begitulah sekiranya yang Haikal baca dari tatapan meledeknya.
"Eh ada yayah, abis dari mana tadi yah?" Tanya Haikal dengan panggilan anehnya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Bagas berjalan mendekati istrinya memeluk pinggang Maulida posesif, seolah istrinya adalah benda berharga yang tidak dia biar 'kan untuk dicuri. Ditatapnya Haikal dengan alis terangkat sebelah dan mata tajamnya yang mampu membuat Haikal langsung kicep di tempat.
"Hehee jangan salah paham yah. Bubu itu gelaran Ikal buat Mama Lida yang artinya Bunda. Sedangkan yayah untuk Ayah." Jelas Haikal sebelum dirinya benar benar digantung di tiang monas.
"Terserah." Tuh 'kan bikin dongkol ini bapak bapak, pengen rasanya ia makan hidup hidup trus muntahin lagi. Udah jelasin panjang lebar di jawabnya cuma "Terserah" sambil pasang wajah songong. Bawaannya pengen mutilasi.
Sepasang mata coklat terang yang duduk di samping Suci memandang Haikal dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ikal?"
***
Hallo...
Emm untuk para pembaca yang setia nungguin novel ini update. Author pengen banyak banyak minta maaf karna jarang up.
Berhubung ini udah mau lebaran, selain sibuk, otak author juga lagi buntu. Sebenarnya ceritanya udah author rangkai sedemikian rupa, tapi ya gitu. Kadang author malas ngetik makanya jarang update.
Sekali lagi author banyak banyak minta maaf untuk pembaca setia novel typo ini. Bye bye 👋