
"Trauma mu kambuh lagi na?" Ujar Milea menarik kursi di samping tempat tidur Nala yang terbaring lemah dengan selang infus dan oksigen.
"Begitulah le. Terkadang aku ngerasa pengen nyerah aja sama trauma ini. Setiap lampu mati, aku selalu seperti ini, sampai sampai papa membuat kamar khusus untukku yang memiliki penerangan tak terlalu terang yang dapat bertahan meski listrik padam." Lirih Nala.
"Kamu gak boleh gitu Na. Kamu itu kuat! Aku yakin kamu pasti bisa melewatinya, dan aku yakin kamu pasti bisa sembuh dari trauma kamu itu." Ucap Milea menyemangati.
"Makasih ya le.."
"Iya sama sama."
Cklek
"Nala!" Teriakan dari arah pintu menyita perhatian keduanya. Seorang wanita paruh baya berlari panik menghampiri tempat tidur Nala.
"Mama?"
"Nala kamu gak apa apa sayang? Ada yang sakit? Mana? Bilang sama mama biar nanti Mama panggilin dokternya," cecar Kirana pada putrinya.
"Ma... Nala gak apa apa kok, mama gak perlu sekhawatir itu." Lirih Nala menggenggam erat tangan Kirana, mencoba meyakinkan wanita dua anak itu bahwa dirinya baik baik saja.
"Beneran gak apa apa?"
"Iya ma.. Nala gak apa apa." Kirana menghela nafas pelan saat anaknya mengatakan bahwa dirinya baik baik saja. Pandangannya kini beralih menatap gadis berambut lurus sebahu yang tengah duduk di samping putrinya itu.
"Ini..."
"Hai tante. Ini Milea tante, teman Nala waktu smp sama sma. Tante gak lupakan?" Mengerti kebingungan Kirana, Milea berinisatif mengenalkan diri lebih dulu.
"Milea? Milea yang culun itu?"
"Maa!" Nala menatap mamanya yang saking kagetnya tidak bisa menyaring ucapan. "Eh? Aduh maaf maaf, tante gak maksud buat ngejek kamu yang dulu," sesal Kirana karna mulutnya tidak bisa direm.
"Gak apa apa tante, kan dulu Milea emang culun orangnya. Jadi wajar aja kalo tante kaget lihat Milea yang sekarang." Maklum Milea.
"Iya loh. Tante ampe pangling lihat kamu yang sekarang. Kamu apa kabarnya Milea? Udah berapa tahun ya kita gak ketemu? Kalo gak salah waktu kelulusan sma waktu itu deh," ucap Kirana mengetuk ngetuk dagunya mencoba mengingat terakhir kali bertemu dengan sahabat putrinya ini.
"Hehe tante bisa aja. Iya tante, Milea ngelanjutin kuliah di Australi, jadi wajar kalo gak pernah ketemu."
Nala menatap Milea. "Kok kamu gak pernah bilang kalo kamu kuliah di Australi?" Kesalnya.
Milea membalas tatapan. "Hehe iya maaf, aku gak sempet buat cerita. Sebenarnya selain kabur ke Jogja, aku juga pengen minta izin ke Nenek buat nerima tawaran beasiswa di Australi," jawab Milea menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Huh, alasan!"
Dibelainya surai sang putri. "Dengan ini mama bisa tenang ngebiarin kamu untuk belajar mandiri. Apapun keputusan kamu Mama akan selalu mendukungnya, yang penting kamu bisa mencari kebahagiaan kamu sendiri." Lanjutnya.
Nala menatap haru mamanya. "Emm makasih banyak ma, karna udah mau ngertiin Nala. Mama emang paling terbaik!!" Peluk Nala manja.
"Sama sama sayang..."
Milea menatap keduanya tersenyum tipis. Dirinya memutuskan untuk keluar memberi waktu Ibu dan anak itu untuk melepas rindu. Sekalian dia ingin mencari angin di luar.
Kreet
Milea menjatuhkan diri di bangku taman rumah sakit, menengadah kelangit melihat langit berbintang. Pandangannya sendu seiring kenangan bersama Ibunya terlintas di pikiran.
Seorang anak kecil tengah termenung di jendela kamarnya menatap kearah langit yang dihiasi bintang bintang cantik bertebaran. "Sayang.. kamu kok di sini? Gak takut masuk angin?" Tak lama kemudian, seorang wanita muda cantik menyapa gadis itu lalu ikut duduk di sampingnya.
"Bu, kenapa bintang bintang itu tetap bersinar meski tau dirinya tengah dikelilingi oleh kegelapan?" Tanya Milea kecil menunjuk para kaum bintang di langit.
Wanita bernama Rikha itu tersenyum membelai rambut anaknya. "Bintang bintang itu bersinar karna mereka ingin kita melihat. Bahwa meskipun di kelilingi oleh kegelapan sekalipun, kita sebagai manusia harus tetap semangat, karna orang orang yang bersinar terang itu tidak mesti selalu dikelilingi oleh cahaya. Karna lampu akan bersinar saat gelap menyapa."
"Pembelajarannya adalah. Kita diajarkan untuk selalu bersyukur dan terus semangat meski sedang dikeliling oleh mereka yang tidak mengharapkan kita. Karna apa? Karna setiap manusia berhak untuk bahagia."
Tes
Tanpa sadar, air mata mengalir seiring kenangan itu terlintas di pikiran. Milea menatap bintang bintang itu dengan perasaan tak bisa diutarakan.
"Bahagia? Apa Milea tetap bisa bahagia, sedangkan kebahagiaan Milea sudah pergi keduanya." Lirihnya semakin terisak.
Puk
"Hei kamu kenapa?" Tanya Zaky tiba tiba datang menepuk pundaknya. Milea yang kaget cepat cepat menghapus air matanya.
"Kamu nangis?"
"Enggak. Siapa yang nangis? Orang kemasukan debu juga." Elaknya menghindari kontak mata dengan Zaky agar tidak melihat matanya yang sembab.
Zaky menatap kedua mata Milea tajam. Tangannya menangkup wajah Milea untuk membalas tatapan. "Jangan bohong! Aku tau kamu sedang menangis. Coba cerita, apa yang membuatmu menangis hm?"
Milea menatap manik mata Zaky yang terlihat teduh dan menenangkan. Tanpa diminta, dia memeluk Zaky. Menumpahkan tangisnya yang tertahan sedari tadi. Tidak peduli bagaimana Zaky nanti mengejeknya atau apa, yang dibutuhkannya saat ini hanyalah sebuah sandaran.
Zaky terdiam membiarkan Milea menumpahkan tangisnya, dengan ragu ragu dia membalas pelukan itu sembari mengelus elus rambut Milea.