
Dua orang bocah berbeda jenis nampak tengah menikmati ice cream mereka sembari menunggu Ibu Ibu mereka di sebuah taman yang banyak didatangi muda mudi kasmaran.
"Punya Ikal rasanya apa?" Tanya si bocah perempuan melirik ice cream temannya yang nampak melelah nikmat.
"Stroberry, emang kenapa?" Jawab si bocah laki laki acuh tak acuh.
"Ihh... cowok kok doyan stroberry? Kek cewek aja!" Ejek Lala sambil menjilati ice cream vanilla miliknya.
"Biarin. Yang penting aku masih tetap ganteng dan keren," ujar Ikal tersenyum menyeringai sok ganteng. Melihat itu diam diam Lala mencibir kelakuan sok tampan Ikal sahabatnya.
Mata bocah perempuan itu tiba tiba berbinar saat melihat seorang pria tengah berjualan permen kapas. Tanpa sepengetahuan Ikal, Lala pergi menghampiri pria itu.
"Permen kapasnya dek?" Tawar pria berkumis tebal itu berjongkok untuk menyeimbangi tubuh Lala yang kecil.
Lala menatap permen kapas yang bergelantungan itu dengan air liur menetas. "Iya mau!" Mengangguk antusias.
Pria berkumis itu tersenyum lalu mengambil satu bungkus permen kapas dan memberikannya kepada Lala yang begitu antusias menyambutnya.
"Adek mau lagi gak permennya? Gratis, tapi dengan satu syarat!"
"Apa syaratnya?" Tanya Lala melirik pria itu polos sambil tangannya terus menyuap permen kedalam mulutnya.
"Syaratnya gampang kok. Ikut saya om ya?" Ajak pria itu tersenyum penuh misterius.
"Yah, ice cream ku udah habis. La, beli lagi--- eh? Lala kemana?" Ikal bangkit dari kursi celingak celinguk mencari keberadaan adik kecilnya yang tiba tiba saja menghilang dari jangkauan pengawasannya.
Tatapannya tiba tiba terpaku saat melihat Lala berjalan bersama seorang pria asing menuju sebuah mobil hitam yang sudah terparkir di jalan raya.
"Itu... itu 'kan Lala? LALA!!"
"Om, kita mau kemana sih?" Tanya Lala bingung saat pria itu membimbingnya menuju jalan raya.
"Udah ikut aja, kamu pasti suka!" Jawab pria itu mengajak Lala cepat menuju mobil yang terparkir di hadapan mata.
"LALA!!" Teriakan itu membuat Lala menghentikan langkahnya. Kepalanya segera melihat kebelakang sebelum pria itu lebih dulu memutar pandangannya agar tidak melihat kebelakang.
"Ayo kita jalan lagi!" Desak pria itu.
"Tapi om, tadi Lala denger ada yang manggil Lala. Gak apa apa 'kan om Lala liat dulu siapa yang manggil?" Ujar Lala.
"Gak perlu! Ayo kita pergi!"
"Tapi om?"
"Argh kelamaan! Ayo ikut sekarang!" Terlampau kesal, pria itu dengan sigap menggendong Lala di pundaknya dan membawa paksa bocah itu masuk kedalam mobil.
"Arrrghhhh om lepasin om! Tolonggg!! Ikal tolongin Lala ikal!! IKALLL!!" Lala terus memberontak saat pria itu memaksanya masuk kedalam mobil, dan itu tidak luput dari pandangan Ikal.
"LALAAAA!!" Ikal berteriak kuat saat mobil itu melaju pergi. Dia dengan cepat melihat kanan kiri untuk mencari taksi ataupun ojek yang lewat.
"Taksi!"
"Ikutin mobil itu pak!"
"Siap dek!"
"Lepasin Lala! Om kok jahat sih? Lala gak suka sama om!" Teriak Lala terus menberontak minta dilepaskan.
Lala langsung terdiam saat pria itu membentaknya. Ini adalah kali pertama ada orang yang berani membentaknya. Dia diam di pojokan sembari menangis, dalam hati dia terus menanggil nama Ikal berharap pria itu datang menyelamatkannya.
"Cepetan dong pak! Teman saya lagi dalam bahaya!" Bentak Ikal tak sabaran. Supir itu hanya bisa mengelus dada banyak banyak istigraf menghadapi para penumpang yang memiliki beragam macam sifat dan sikap. Dan sekarang dia harus berhadapan dengan anak laki laki yang pemarah, arogan dan tukang ngatur.
"Kecil kecil udah keliatan aja jiwa sultannya," gumam supir itu dengan terpaksa menambah kecepatan mengejar mobil hitam yang diincar penumpangnya.
Brukh
"Diam di sini dan jangan kemana mana!" Ancam pria itu berjalan keluar dan mengunci pintu gudang yang gelap, kotor dan tentunya pengap.
"Hiks hiks Ikal... hiks hiks Ikal Lala takut... hiks hiks Ikal..." perempuan itu terus meraung raung memanggil nama sahabatnya berharap pria itu datang dan membawanya keluar dari tempat pengap ini.
Di balik mobil, Ikal berdiri bersembunyi sembari mengintip untuk mencari celah jalan agar dia bisa masuk dan menyelamatkan adik sekaligus pujaan hatinya.
Ikal bersandar di mobil mencari cari ide yang tepat agar bisa masuk kedalam tanpa harus ketahuan.
Sedetik kemudian, senyumnya mengembang saat melihat batu batu kerikil yang di dekatnya.
"Lala. Aku datang!"
Srak srak
"Siapa di sana?!" Teriak salah satu penjaga yang ada di depan kios tak terpakai itu. Dia dan temannya saling lirik, dan perlahan berjalan mendekat kearah semak semak yang bergoyang.
Tanpa mereka sadari, seorang bocah laki laki yang menjadi biang keladi itu masuk kedalam kios dengan perasaan lega.
"Untung aku pinter dan ganteng. Kalau enggak, gak bakal kepikiran sampe kesitu." Gumam Ikal penuh percaya diri.
Ikal menatap sekelilingnya dengan bingung sekaligus risih karna begitu banyak debu yang menempel di kotak kotak tak terpakai yang ada di gudang.
"Hiks hiks... Ikal..."
Sayup sayup Ikal mendengar isak tangis seseorang dari dalam. "Lala? LALA!!" Ikal berlari kencang menghampiri arah suara.
"Lala!!"
"Hiks Ikal?" Gumam Lala menajamkan penglihatannya untuk memastikan bahwa siluet tubuh yang ia lihat benar benar sahabatnya.
"Lala!"
"Ikal? Ikal... hiks hiks tolongin Lala.. hiks hiks Lala takut.."
Ikal berlari menghampiri tubuh sahabatnya yang diikat di sana. Dengan cepat dia melepaskan ikatan tali itu dan membawa tubuh Lala kedalam pelukannya.
"Kamu gak apa apa 'kan la? Kamu gak diapa apain mereka 'kan?" Tanya Ikal menangkup wajah sembab Lala lalu membawanya kembali kedalam pelukan.
"Hiks La-la hiks takut..."
"Cup cup cup... tenang oke? Ikal di sini. Lala gak perlu takut lagi, oke?" Mencoba menenangkan, Ikal mengusap rambut berantakan sahabatnya sesekali dia cium rambut itu.
Prok prok prok
"Akhirnya... yang ditunggu datang juga."
Lala dan ikal langsung mengalihkan pandangan kesumber suara. Seketika tubuh mereka gemetar ketakutan melihat begitu banyak pria bertubuh kekar mengelilingi mereka.