Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Selalu melindungimu


"Jo?" Milea cukup kaget saat tahu orang yang menabraknya adalah Joshua. Orang yang cukup berpengaruh di masalalunya dulu.


"Milea?" Tebak Jo ragu ragu, mengingat saat ini Milea tengah memakai topeng, jadi hanya mampu mengenali lewat suara.


"Iya ini aku Milea." Jawaban dari Milea membuat keraguan Jo pupus. Dengan senyum lembut dia mengusap pucuk kepala Milea.


"Bagaimana kabarmu? Apa kau kesini bersama dengan pak Zaky?" Tanya Jo dengan mata yang tak luput mengabsen setiap inci wajah Milea, meski bagian mata hingga hidung harus tertutup oleh topeng berwarna silver.


Milea diam melirik Zaky sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. "Iya, beliau ada di sana." Tunjuknya pada Zaky yang tengah sibuk berbincang dengan beberapa rekan bisnis lainnya.


"Kau ingin minum apa? Biar aku ambilkan," tawar Jo. Milea kembali melirik kearah Zaky yang masih asik mengobrol dengan sesama rekan bisnisnya.


"Orange jus."


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku ambilkan dulu." Jo berlalu meninggalkan Milea mengambil minum untuknya dan juga gadisnya.


Milea bersidekap dada memantau kegiatan Zaky. Dapat dia lihat, banyak wanita yang melirik kecentilan kearahnya. Karna meski tertutup topeng sekalipun, Zaky masih terlihat sangat tampan, dari bentuk wajah maupun bentuk tubuhnya.


"Ini minuman mu!" Ucap Jo menyerahkan segelas orange jus kepada Milea.


"Thanks." Wanita itu tersenyum menyambut gelas lalu meminumnya pelan. Matanya sedari tadi tidak luput memantau setiap pergerakan Zaky yang sesekali tersenyum tipis menanggapi rekan rekannya yang cari muka. Mengingat dirinya adalah pengusaha yang cukup disegani.


"Kau tidak berniat ingin menghampiri atasanmu itu?" Bisik Jo di dekat telinga Milea, sedangkan matanya ikut memandangi pengusaha muda Zaky Alexander itu.


"Tidak perlu. Di sana dia hanya membahas tentang bisnis, aku malas mendengarkannya." Jawabnya lalu kembali meminum minumannya pelan dan anggun.


Matanya kini menelisik kearah seorang wanita yang tengah membisikkan sesuatu pada pelayan hotel. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti Milea merasa ini adalah hal buruk. Matanya terus mengiringi pergerakan pelayan hotel kini menghampiri segerombol para pebisnis untuk memberikan air minum kepada mereka.


"Apa yang kau lihat Milea?" Tanya Jo yang sedari tadi diabaikan. Milea tak menanggapi, matanya terus menatap Zaky yang meminum anggurnya hingga tersisa setengah. Lalu tiba tiba pria itu terlihat gelisah dan segera pamit dari rekan rekannya.


"Pegang punyaku."


"Eh eh, Milea?! Kamu mau kemana?" Teriak Jo kaget saat tiba tiba Milea memberikan gelas minumnya kepadanya. Sedangkan gadis itu nampak berjalan dengan cepat menyusul Zaky yang hendak memasuki lift.


Bukh


"Woi, kalo jalan itu liat liat dong! Basahkan jadinya gaun gue!! Lo tau gak gaun gue ini berapa harganya ha?!" Bentak seorang wanita saat Milea tak sengaja menyenggolnya akibat terlalu buru buru.


"Maaf, saya buru buru." Ucap Milea hendak berlari menyusul Zaky, tapi dengan cepat wanita menyentak tangannya dan mendorongnya hingga terjatuh.


"Maaf lo bilang?! Enak banget ya lo ngomong. Anak konglomerat mana sih ha?! Palingan juga orang miskin yang numpang makan!" Hina wanita itu hingga membuat Milea dengannya menjadi pusat perhatian.


Tangan Milea mengepal kuat, matanya menatap kearah lift yang sudah tertutup. Matanya mendelik tajam kearah wanita itu yang sudah menghambat perjalannya untuk menghampiri bosnya.


"Apa? Gak terima?" Sinisnya menantang. Milea menyeringai tipis lalu bangkit sembari mengibas ngibas gaunnya yang sedikit berdebu.


Milea tersenyum, lalu secepat kilat menyambar minuman tamu lain dan menyiramnya kewajah wanita itu.


"Lo!!"


"Nanggung cuma gaunnya doang yang kena. Kenapa wajahnya gak sekalian?" Balas Milea tak kalah sinis.


Matanya kini beralih menatap Jo yang tak jauh dari sana. "Sisanya aku serahin sama kamu Jo. Aku lagi buru buru!" Titipnya dengan cepat berlari menuju lift tanpa memperdulikan apa yang terjadi di belakang sana.


"Tenang Le!! Semuanya beres!!" Milea tersenyum kecil saat sayup sayup mendengar suara teriakan Jo.


Milea menekan nekan pintu masuk lift dengan cepat. Sayangnya, lift itu sedang berjalan, membuatnya mau tak mau harus kembali berlari menuju tangga darurat.


Tak tak tak


Dengan langkah seribu Milea berlari menuruni tangga demi tangga. "Hosh hosh hosh..." sejenak Milea menghentikan langkahnya saat merasa ngeri di bagian tumit kaki.


Brak


Milea membuka kasar pintu di lantai 12. Dari ekor matanya, Milea dapat melihat Zaky bersama dengan wanita yang ia lihat tadi hendak memasuki salah satu kamar hotel.


Milea dengan cepat berlari dan langsung mendorong pintu sesaat pintu itu ingin ditutup, membuat orang yang ada di dalam sana tersungkur jatuh.


"Hosh hosh hosh. Lepaskan tuanku!!" Geram Milea dengan wajah memerah karna kelelahan.


"Siapa kamu ha?! Berani berani masuk tanpa izin?!" Bentak wanita itu kembali bangun. Milea dapat melihat Zaky sedari tadi gelisah, hingga perlahan membuka jas juga baju kemejanya sembari mengipas ngipaskan tangan seperti orang yang kepanasan.


"Kamu apakan tuanku?" Dingin Milea mulai kehilangan kendali. Matanya menatap nyalang wanita itu penuh aura intimidasi.


"Kamu yang siapa ha? Datang datang ganggu pasangan orang aja!!" Aku aku wanita itu. Dalam hitungan detik, Milea mencekik wanita itu dengan kuat, matanya penuh aura menyeramkan yang mana membuat lawan tak dapat berkutik.


"Le-lepaskan haa a-aku..." rintih wanita itu kesulitan bernafas. Namun, jika Milea sudah dalam mode marah, dia tidak pandang bulu. Tanpa peduli wanita itu kesulitan bernafas, dengan sekali hentak wanita itu tersungkur membentur tembok hingga pingsan.


"Panas..." Milea kembali sadar sepenuhnya saat mendengar erangan menyakitkan dari Zaky. Dengan segera dia membantu pria itu bangun dari lantai dan membawanya keluar.


"Tuan anda baik baik saja?" Tanya Milea dengan cepat melempar topeng miliknya kesembarang arah dan merengkuh tubuh Zaky keluar dari dalam kamar hotel itu.


"Milea... kenapa di sini panas sekali?" Tanya Zaky yang syukurnya masih dalam keadaan sadar meski efek obat mulai bereaksi.


"Bertahanlah sebentar tuan, kita akan segera kerumah sakit." Tutur Milea dengan cepat menekan tombol lift menuju lantai dasar.


Brukh


"Aku tidak bisa menunggu lagi Milea!" Rintih Zaky mengurung Milea ketembok lift. Matanya berubah sayu, menampakkan bahwa dia sudah sangat tersiksa.


"Saya mohon bertahan sedikit lagi tu--- ummppp" Milea membulatkan matanya sempurna saat sebuah benda kenyal menempel keras di bibirnya.


Perlahan bibir itu ******* dan semakin memperdalam ciuman, membuat Milea kewalahan karna tangan Zaky mulai bergerilnya kemana mana, dan mulai tak terkondisikan.


Melihat Zaky yang semakin dipenuhi oleh hasratnya, Milea dengan cepat mendorong tubuh Zaky hingga membentur sisi tembol lift yang satunya, membuat Lift ini sedikit bergoyang.


"Kendalikan diri anda tuan!!" Teriak Milea sedikit takut melihat sisi agresif Zaky. Meskipun dia tahu bahwa Zaky telah diberi obat perangsang oleh wanita sialan tadi.


"Hah hah Milea... Aku..."


Brukh


Zaky terjatuh tak sadarkan diri saat sudah tidak mampu lagi menahan dosis obat yang mungkin cukup tinggi. Beberapa saat setelah Zaky tak sadarkan diri, Milea beringsut terjatuh mencoba menenangkan degupan jantungnya yang memompa terlalu cepat.


Siapa yang tidak gugup saat seseorang menciummu? Ini ciuman pertama Milea dengan seorang laki laki, dan orang yang mengambilnya itu adalah tuannya sendiri.


Ting


Pintu lift terbuka. Milea dengan tertatih tatih membawa tubuh Zaky keluar dari lobi hotel. Seorang petugas hotel yang melihat itu segera membantu Milea membawa Zaky memasuki mobil.


"Terima kasih pak."


"Sama sama neng. Itu teh, suaminya kenapa?" Tanya petugas itu. Milea tersenyum paksa sambil tangannya mengusap tengkuk. Kenapa orang orang suka sekali menyebut mereka suami istri?


"Mabuk pak, sampe pingsan. Dan lagi, dia bukan suami saya, tapi Kakak saya." Kilahnya tak ingin disalah pahami sebagai suami istri, maupun disalah pahami telah melakukan yang tidak tidak dengan Zaky. Sehingga mau tidak mau dia mengaku sebagai adiknya Zaky.


"Oalah, saya kira teh suaminya. Abis kalo disandingin gitu cocok. Ya udah sok dibawa kakaknya, kasihan keliatan kecapean dianya," kekeh petugas itu.


"Ya sudah, kalo gitu saya pamit dulu ya pak. Mari..." Milea segera masuk, memanaskan mobil sebentar lalu keluar menuju jalan raya membelah jalanan kota di malam hari. Matanya sesekali melirik jok belakang, memastikan bahwa Zaky baik baik saja.


"Saya bukannya tidak ingin, hanya saja saya tidak ingin anda menyesal setelah sadar. Dan, saya tidak ingin dituduh mencuri kesempatan dalam kesempitan."