Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Mengigau


Milea menuruni anak tangga perlahan dibantu Zaky yang memepah dirinya, membuat jantungnya semakin berdetak tak karuan.


"Saya bisa sendiri Kak." Ucap Milea pelan pelan melepas lengan kekar Zaky dari bahunya. Tapi, Zaky justru mempererat rangkulannya sambil berkata.


"Kamu sedang sakit! Jadi diam dan turuti saja apa kataku!" Tegasnya sehingga Milea hanya bisa mengangguk pasrah.


"Pagi..."


Semua orang yang berada dimeja makan menoleh secara bersamaan kearah sumber suara. Melihat kedekatan kedua manusia beda kelamin itu membuat mereka sepeti melihat sepasang pengantin baru.


Nala segera bangkit mengambil alih Milea dari Zaky. "Kamu gak apa apa le? Aku khawatir banget waktu pak Haikal bilang kalau kamu demam," cemas Nala membimbing sahabatnya untuk duduk di sampingnya.


"Aku gak apa apa kok, udah mendingan juga." Jawab Milea menepuk pundak Nala tersenyum kecil dengan bibirnya yang terlihat masih sedikit pucat.


"Minum ini sayang. Biar tubuh kamu hangat," Maulida menyerahkan secangkir air rebusan gula merah dan jahe. Minuman tradisional kampung halamannya untuk menghangatkan badan dan mampu menghalau virus masuk kedalam tubuh.


"Makasih tan," saat menegak minuman itu, seketika dia merasakan rasa panas, pedas berpadukan rasa manis dari gula merah mengalir di tenggorokkannya. Memang rasanya agak pedas, tapi Milea akui, minuman ini enak.


Setelah selesai sarapan, Maulida, Bagas dan Suci pergi menggunakan satu mobil yang sama ketempat tujuan yang berbeda. Maulida pergi mengajar, Bagas kekantor, dan Suci sekolah.


"Kamu tidak ingin ikut papa kekantor ky? Siapa tahu kamu bosan berada di rumah saja?" Tawar Bagas.


"Zaky lagi cuti, jadi pengen istirahat. Papa kekantor aja, kalo ada perlu apa apa papa bisa telfon Zaky," jawab Zaky.


"Ya sudah, papa berangkat dulu ya. Jaga rumah baik baik!" Bagas segera menyusul istrinya yang lebih dulu masuk kedalam mobil bersama Suci.


Kini tinggallah mereka berempat yang tengah duduk berdempetan di sofa ruang tengah.


"Sekarang kita ngapain?" Gumam Nala memandang lurus kearah televisi yang semuanya masih gelap.


"Mau keluar?" Tawar Haikal.


"Bo---"


"Tidak! Kamu masih sakit!! Gak boleh keluar!" Seolah tahu keinginan Milea, Zaky lebih dulu menolaknya dengan tegas mengingat Milea terlihat masih lemah.


"Tapi--"


"Sekali tidak, berarti tidak!" Milea mengerucutkan bibirnya kecewa, menyadarkan kepalanya di sofa sambil memijatnya yang masih terasa sedikit pusing.


Deg


Milea terdiam saat tiba tiba Zaky menarik kepalanya lembut dan meletakkan di bahunya. Milea segera bangkit karna merasa tidak enak. "Kak---"


"Tidak apa apa, berbaringlah!" Milea menatap manik mata lembut Zaky yang tulus padanya. Dengan ragu ragu dia kembali menyadarkan kepala di bahu pria itu. Sedikit demi sedikit senyumnya terbit merasakan kenyamanan saat bersandar pada bahu Zaky.


"Obat nyamuk pake kaleng,"


"So sweet bingittt..."


"Kagak nyambung oneng!" Nala mengelus elus keningnya, merengut masam saat Haikal menjitaknya. Ketahuilah! Hal pertama yang menurut pria menyenangkan, namun sebaliknya bagi wanita adalah. Saat di mana rambutmu yang membahana, hancur karna diacak acak. Yang kedua, pria suka sekali menjitak kening wanita dan itu rasanya sakit. Dan yang ketiga!!! Pria suka sekali menyentil hidung atau mencubit pipi, dan itu sangat menyebalkan.


"Biarin!"


Haikal tersenyum kecil melihat wajah cemberut Nala yang menurutnya sangat menggemaskan. Nala, adik kecil yang mampu merebut hatinya dan tak bisa berpaling belasan tahun darinya meski dia sendiri tidak tahu di mana keberadaannya. Haikal sungguh tidak menyangka, wanita yang ia cari cari selama ia pindah ke Jakarta kini sudah berada di hadapannya. Bahagia? Tentu saja. Dan kini saatnya, dia menepati janji yang pernah ia buat untuk menikahi gadisnya.


Cup


Nala membulatkan mata sempurna saat sebuah benda hangat menempel di pipi kirinya cukup lama, lalu terdengar bisikan halus yang mampu membuat bulu kuduknya meremang.


"Sun-Nya di pipi dulu, nanti kalau udah halal baru yang lain," bisik Haikal mengulum senyum melihat wajah kaget Nala yang menurutnya semakin menggemaskan dan rasanya ingin sekali cepat halal.


Bug


"Gak sopan! Main nyosor aja!" Dengan kesal Nala melayangkan pukulan di bahu Haikal.


"Bonusnya aku ambil duluan, sisanya aku ambil kalo nanti kita udah halal," ucap Haikal membiarkan lengannya menjadi samsak gratis kekasih hatinya.


"Halal halal, emang kong guan!"


"Kamu juga mau halal kayak kong guan? Kuylah! Aku sih gak keberatan bikin kamu jadi halal," goda Haikal sambil memandangi wajah imut Nala.


"Gila!!" Nala melempar bantal sofa segera bangkit pergi menuju taman depan yang ditumbuhi banyak berbagai macam bunga. Dan yang paling banyak bunga mawar, bunga kesukaan Maulida.


"Tunggu aku sayang...!!"


"Sayang sayang pala lu peyang!!"


Kini tinggal Milea dan Zaky yang masih setia di posisi masing masing tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Milea diam karna merasa nyaman, sedang 'kan Zaky diam karna tidak ingin mengganggu ketenangan gadis itu.


"Milea, boleh aku bertanya?" Ucap Zaky akhirnya buka suara karna sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Boleh, anda ingin bertanya tentang apa Kak?"


Zaky diam sejenak mengambil nafas dalam dan menghebuskannya secara perlahan. "Apa saat kamu demam, kamu biasa sering mengigau aneh?" tanyanya hati hati.


"Mengigau? Apa saya mengigau Kak?"


Mengangguk. "Iya. Saat kamu demam, kamu terlihat gelisah dan seperti orang ketakutan. Kamu juga meracau tidak jelas tadi malam," jawab Zaky melirik Milea ingin tahu bagaimana reaksinya.


Milea diam, sepertinya dia seperti itu karna bermimpi kejadian di masa lalu saat dia masih tinggal di kediaman keluarga Rahardian bersama Anna. "Apa yang saya kata 'kan?" Tanya Milea pelan.


"Lepaskan Anna!"