Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Kembali


Satu tahun kemudian...


"Kamu yakin ingin pergi kesana lagi?" Tanya Gren memastikan keinginan cucunya yang ingin kembali ke Indonesia.


"Misi ku belum selesai kek. Masih ada mereka yang merasakan kebahagiaan tanpa bertanggung jawab atas apa yang mereka telah perbuat." Jawab Milea penuh keyakinan.


"Tapi----"


"Ada Ben kek. Kakek percaya pada Ben bukan?" Potong Milea sebelum Gren membantah keinginannya yang ingin pulang kekampung halamannya. Indonesia.


Gren terdiam lalu melirik Ben yang berdiri di belakangnya. "Anda tenang saja tuan besar, saya akan menjaga nona muda dengan baik," tegas Ben paham dengan lirikan cemas dari Gren dan berusaha meyakinkan kakek tua itu.


"Huft, baiklah. Kakek akan segera mengurus keberangkatanmu," putus Gren akhirnya. Milea tersenyum tipis, lalu menoleh kearah jendela besar yang menampakkan bangunan kota yang megah menjulang tinggi.


Indonesia. I'm come back!!


"Sayang ayolah... kok ngambek sih?" Di dalam sebuah ruangan, seorang pemuda berusaha merayu istrinya yang tengah berbadan dua. Akibat masa kehamilannya, emosi istrinya kadang suka naik tidak jelas. Memaksa yang suami untuk berpikir keras untuk memahami maksud sang istri.


"Huh!" Sang istri mendengus sebal sambil melipat tangan di depan dada.


"Kamu mah gitu. Coba kasih tau aku, apa kesalahan aku? Kamu sebut aja, aku pasti akan perbaiki demi kamu dan calon buah hati kita," rayu pria itu sambil berlutut di depan istrinya. Siapa lagi kalau bukan Haikal Malik dengan istri kecilnya, Nala Mahaswira.


"Hari ini hari apa?" Tanya Nala sedikit luluh pada rayuan suaminya.


"Hari kamis. Emangnya kenapa?"


Wajah Nala seketika berubah masam. "Tuh kan lupa! Hari ini itu jadwal aku cek up ke dokter, kan udah dari kemarin aku bilangin. Di tungguin malah gak dateng dateng!! Terpaksa aku nyuruh Rendy buat nganterin aku, udah gitu pake motor lagi. Kamu tau gak, pinggang aku itu sakit banget, bahkan perut aku sempat kram!!" Omel Nala mengeluh dengan sifat pelupa Haikal yang selalu saja menyulitkannya.


"Apa?! Naik motor?! Kamu gak apa apakan sayang? Masih sakit gak? Duh maaf banget sayang, aku lupa. Soalnya tadi ada jadwal meeting penting yang gak bisa ditunda," cecar Haikal tak enak hati pada istrinya.


"Pentingan mana meeting sama istri sendiri ha?!" Bentak Nala semakin kesal karena alasan lupa suaminya karena sebuah meeting.


"Ya udah aku minta maaf, janji gak bakal diulang lagi deh. Kamu cantik deh yank, kalau lagi marah gini," rayu Haikal sambil mencolek colek pipi Nala dengan senyum mautnya.


"Gak usah colek colek!! Anak kamu lagi gak mau deket deket sama kamu!!" Tepis Nala kesal.


"Ah masa?" Dengan jahil Haikal semakin mendekati istrinya, mencolek, mencubit dengan gemas pipi cuby istrinya.


"Huft..." sebuah kemalangan yang harus Zaky terima saat dua orang yang sayangnya adalah temannya, harus bertengkar dan bermesraan di ruangannya, di hadapan bos mereka tanpa rasa malu. Kurang malang apa lagi coba?


Dia beralih menatap keluar jendela dengan sendu.


Milea... apa kabarmu? Kamu tau, aku sangat merindukanmu.


"Pemberitahuan untuk seluruh penumpang, s**ebentar lagi kita akan mendarat di bandara Seokarno Hatta,"


Pemberitahuan dari pegawai pesawat menyadarkan Milea dari bacaan bukunya, dan saat melihat keluar jendela, dia di suguhkan pemandangan indah kota Jakarta yang dipenuhi dengan corak gedung gedungnya yang tinggi.


Di luar bandara, berjejer orang orang suruhan Gren menyambut kedatangan nona muda mereka dan mempersilahkannya untuk masuk kedalam mobil dengan penjagaan yang ketat tentunya.


"Suruh beberapa orang untuk mengantar barang barangku ke apartemen. Aku ingin melihat perusahaan baruku." Titah Milea memandang lurus kedepan penuh aura kental seorang pemimpin. Dingin dan tegas.


"Emm... apa tidak sebaiknya anda besok saja berkunjung keperusahaan? Anda pasti lelah, beristirahatlah dulu hari ini nona. Besok baru anda mulai bekerja," usul Ben agak khawatir dengan kesehatan nona mudanya. Setahun adalah waktu yang lama bagi Milea bisa sembuh dari depresinya dengan dibantu oleh tim psikologi terbaik yang Gren miliki.


"Aku akan istirahat. Hanya melihat lihat kondisi perusahaan saja, setelah itu aku akan pulang." Jawab Milea tak ingin dibantah.


Ben menatap Milea khawatir lalu perlahan menghembuskan nafasnya. "Keperusahaan!!" Titah Ben dan diangguki oleh supir.


Milea menyadarkan kepalanya di tulang pintu mobil sambil melihat pemandangan jalanan yang macet layaknya Jakarta. Perlahan mobil itu melaju dan sampailah mereka di salah satu cabang perusahaan milik Gren yang merupakan satu dari lima perusahaan besar di Indonesia.


"Kita sudah sampai nona," ucap Ben membukakan pintu untuk Milea. Melirik Ben, Milea keluar dari mobil penuh elegan. Pembawaannya tidak seperti dulu yang mungkin agak sedikit lelaki, tapi sekarang dia menjadi wanita elegan yang berkelas.


Pakaian lace overlay dress berwarna coksu dengan jas senada yang bertengger di punggungnya menambah aura kharismanya.


Tap


Milea menghentikan langkahnya dijarak 10 meter dari pintu masuk, memandangi sekeliling lobi perusahaan yang menjadi miliknya selama masih berada di Indonesia.


"Tunjukkan di mana ruangan ku!" Titah Milea dengan wajah datarnya, masih mengamati sekeliling yang banyak para pegawai lalu lalang di sana.


"Mari ikuti saya nona!" Ajak Ben. Kedua orang itu berjalan dan menjadi pusat perhatian pegawai lain yang tidak mengenali siapa kedua orang tersebut. Tapi yang pasti, mereka yakin bahwa Milea dan Ben bukanlah orang biasa.


Cklek


"Ini adalah ruangan direktur, tempat bekerja anda untuk kedepannya." Ucap Ben mengikuti langkah Milea masuk kedalam ruangan direktur utama.


"Apa anda menyukainya? Jika tidak, saya bisa meminta anak buah saya untuk mengatur ulang ruangan ini sesuai dengan keingin anda." Lanjut Ben melirik Milea yang meneliti setiap sudut dari ruangan.


"Yah. Ruangan ini terlihat sedikit membosankan. Siapa direktur terdahulu?" Tanya Milea sambil menelusuri rak buku dengan jari jemarinya.


"Rianty Cakra, putri dari keluarga Cakra,"


"Cakra?" Beonya menghentikan jarinya lalu berbalik menatap Ben penuh tanda tanya. "Tidak mungkin orang yang kamu maksud adalah---"


"Betul. Rianty Cakra adalah saudari kembar Riandy Cakra," jawaban dari Ben menjawab semua pertanyaan yang ada di benak Milea.


Memandang sekeliling, Milea tersenyum sinis. "Aku akan kirimkan desain interior ruangan yang aku inginkan. Pastikan semua barang harus baru, dan besok sudah harus bisa aku pakai untuk bekerja." Titah Milea lalu berjalan keluar dengan anggun.


Tap


Menghentikan langkah, lalu menoleh sedikit kebelakang. "Oh ya, satu lagi. Ajukan kontrak kerja sama dengan Dyjun Company, dan susulkan jadwal temu untuk membahas kerja samanya." Ucap Milea lalu pergi.


"Dyjun Company itu bukankah...??" Ben terdiam memandangi kepergian Milea tak percaya. "Apa kedatangan anda ke Indonesia selain untuk mencari keadilan, juga karena tuan muda keluarga Alexander itu?" Gumamnya lirih.