Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Vidio


Milea berdiri termenung di balkon hotel. Matanya lentiknya fokus memandangi langit langit malam yang berhiaskan ribuan bintang yang cantik.


"Di luar dingin nona, sebaiknya anda masuk kedalam," ucap seseorang. Milea meliriknya sekilas dan kembali memandangi langit cerah.


"Ada apa lagi Ben? Katakanlah!"


Membenarkan letak kaca matanya, pria bernama Ben itu berdiri tegap menghadap nona mudanya, Milea. "Nona, tujuan kita sudah tercapai. Tuan Satria dengan adiknya Bianka sudah mendapatkan balasan yang setimpal. Sudah saatnya kita pergi kerumah utama untuk mencari bukti pembunuhan ibu anda dan sahabat anda, nona Anna," menjeda ucapannya sebentar. "Dengan artian, sudah saatnya anda berhenti bekerja sama dengan tuan muda dari keluarga Alexander," lanjutnya.


Melirik Ben, Milea langsung mengalihkan pandangannya kesembarang arah. "Tidak semudah itu aku untuk berhenti, karna kami sudah terikat janji kontrak kerja sama." Elak Milea.


Setia pada wajah datar, Ben ikut memandangi langit gelap yang berhiaskan bintang. "Ingat tujuan anda nona. Tuan muda dari keluarga Alexander itu sedari awal hanyalah sebagai benteng perlindungan untuk anda. Dan sedari awal, anda harusnya tau, bahwa hari ini pasti akan tiba," ucap Ben. Milea diam sambil melirik Ben.


Kamu salah Ben. Kalian semua salah. Aku meminta agar bekerja sama dengan keluarga Alexander bukan karna untuk meminta benteng perlindungan. Tapi, karna amanah yang dititipkan Anna sebelum dia meninggal. Kalian tidak tahu, dan tidak akan pernah tau bagaimana perasaanku, batin Milea.


"Beri aku waktu, karna tidak mudah untukku terlepas darinya dengan adanya perjanjian kontrak itu," pinta Milea.


"Baiklah. Tapi saya harap, anda mengesampingkan perasaan anda demi berlangsungnya rencana kita. Setelah semuanya terungkap, anda bebas untuk bisa dekat dengan siapa saja. Termasuk dia sekali pun," ujar Ben membungkukkan badanya lalu pergi.


Setelah kepergian Ben, Milea termenung menatap hamparan luas langit gelap. "Haruskah seberat ini untuk mengungkap keadilan? Haruskah sebesar ini batu yang harus diloncati? Dan haruskah setinggi ini tanjakan yang harus dilalui?" Gumam Milea memijat keningnya pusing.


Puk


Menoleh cepat, "pakailah, di sini udaranya sangat dingin. Tidak baik untuk kesehatan, bisa bisa nanti kamu masuk angin," ucap Zaky mengalihkan matanya kesembarang arah yang sekiranya tidak bertambrakan dengan pandangan mata milik Milea.


"Terima kasih tuan." Merapatkan jas milik Zaky ketubuhnya untuk menghalau rasa dingin.


"Sama sama."


"Ayo masuk. Di sini dingin, nanti masuk angin." Ajak Zaky memutar tubuhnya menghadap Milea. Melirik Zaky, Milea mengangguk patuh sambil berjalan lebih dulu dengan perasaan gugup.


Dari sudut tempat lain, Ben memandangi kepergian kedua sejoli itu hingga menghilang di dalam kerumunan orang orang. Wajahnya tenang, tapi matanya menunjukkan keseriusan dengan begitu banyak arti.


***


Bianka mengambil duduk di depan laptop miliknya sambil mengotak atik benda canggih tersebut. Bianka nampak tersenyum bernostalgia dengan foto foto yang ia simpan dari dia masih kecil, hingga besar sekarang.


Tak


"AAAAAAA"


Tak


Bianka mengerjapkan matanya kaget saat tak sengaja menekan tombol play sebuah vidio. Setelah tersadar, Bianka kembali membuka vidio itu dengan kening berkerut dalam.


"Vidio ini bukankah...??!"


"Yah, kau benar. Aku memang brengsek dan bajingan. Sedangkan kau adalah iblis!! Aku membencimu!! Karna kau! Aku harus kehilangan satu satunya orang yang aku sayangi di dunia ini!"


Bianka terdiam mencoba mencocok cocokkan vidio yang ia lihat dengan ucapan misterius dari Zaky hari itu.


"Cih. Apa Anna adalah kekasihnya? Jadi dia membalasku karna wanita tak berharga yang sudah lama meninggal itu? Benar benar tak masuk akal." Decihnya memutar bola mata sinis.


Bersidekap dada penuh kesombongan dan arogan, Bianka tersenyum misterius menatap vidio di depannya itu. "Saatnya aku yang mengajakmu bermain. Zaky Alexander,"