
Tok tok tok
"Masuk!!"
"Permisi tuan, seseorang datang memaksa ingin bertemu dengan tuan," ucap sekretaris baru Haikal, Jennie.
Menatap Jennie dengan kening berkerut, "siapa?" Tanya Haikal.
"Itu---"
Tap
"Hallo, Tuan Haikal Malik yang terhormat. Apa saya mengganggu waktu anda?" Jennie terdiam saat tamu tak diundang itu masuk memotong perkataannya. Dengan postur tubuh berwibawa, tegas, dan penuh kharisma, Arron berdiri di depan Haikal dengan senyum penuh arti.
"Kau...." Haikal menatap Arron penuh siaga, sekaligus heran. Mengapa orang suruhan Riandy ini ada di sini?
***
Tit tit tit
Klek
Di balik pintu yang terbuka, sepasang kaki perlahan memasuki sebuah ruangan mewah milik atasannya.
"Aku pulang..."
Sepintas ingatan perlahan menguap mengikuti langkah demi langkahnya memasuki apartemen tersebut.
"Martabaknya ada tuan?" Tanya Milea celingak celinguk mencari makanan pesanannya.
Raut wajah Zaky seketika berubah masam. "Bukannya disambut atasannya baru pulang, malah nyariin martabak." Cibir Zaky.
Sepasang kaki itu terus melangkah menelusuri setapak demi setapak lantai keramik itu menuju ruangan lain.
Menatap cengengesan. "Hehe, selamat datang tuan. Sekarang martabaknya mana?" Tanya Milea sudah tak sabar.
Cklek
Memasuki kamar yang satu, bayangan dirinya tertidur di samping bosnya seolah menjadi pemandangan hologram di depan mata. Menghela nafas, dia kemudian menutup pintu dan berjalan menuju ruang tamu yang juga memiliki kenangan dirinya bersama bosnya.
"Belum habis juga? Itu kau makan atau nyiput dulu? Lambat banget." Heran Zaky ikut duduk di samping Milea.
"Sengaja tuan, biar bisa makan bareng tuan," jawab Milea polos.
"Ya udah, mana martabaknya?"
Milea melirik Zaky lalu mendorong pelan kotak martabak. "Nih." Sodornya. Zaky diam menatap Milea datar.
Belum sempat Zaky mengambil potongan martabak itu, Milea lebih dulu mengambilnya. "Buka mulut tuan. Aaaaa~" Zaky tertegun sejenak sebelum akhirnya dia tersenyum lalu membuka mulutnya.
Milea tersenyum kecut lalu berjalan menuju arah dapur. Sepintas kenangan lainnya kembali bermunculan di dalam otaknya, memaksa diri untuk ingat, bahwa kenangan itu sangatlah indah dibandingkan sekarang.
"Tadaaa~ makanannya sudah siap," seru Milea meletakkan dua buah piring berisikan nasi, daging ayam dan lalapan.
"Kamu bisa masak rupanya?"
Krieett
Milea mengambil duduk di kursi bar, tepat di samping tempat duduk favorit Zaky dulu.
"Makanlah!"
"Apa?" Tanya Zaky tak sabaran.
"Hehe saya foto dulu."
Senyuman polosnya, kekesalan Zaky padanya, meloloskan setitik air mata jatuh dari persembunyiannya. Milea menangis mengingat separuh kenangannya bersama Zaky di dalam apartemen ini.
Ddrrttt ddrrttt
Bunyi dering ponsel menyadarkan Milea dari tangisnya. Sambil menghapus jejak air mata, Milea menggeser tombol hijau dan meletakkam ponsel itu di telinganya.
"*Milea, kamu di man*a?" Tanya Malvin memijat keningnya sambil menatap jam di pergelangan tangan miliknya. "Pesawat kita dua jam lagi bakal lepas landas!" Lanjut Malvin.
"Aku. Aku akan kesana." Menatap lurus dengan ekspresi tak terbaca.
Klek
Zaky masuk kedalam apartemennya dengan baju berantakan. Wajahnya muram bak awan mendung yang siap mengguyur bumi dengan airnya, dan mungkin saja dia akan melepaskan petirnya yang pasti membuat siapa saja akan takut gemetar.
Brukh
Menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, Zaky menatap lurus kedepan tanpa berniat apa apa. Sulit baginya untuk beradaptasi dengan kehidupan lama apartemennya yang suram. Karena cahayanya kini pergi meninggalkannya sendiri.
Pandangan Zaky jatuh pada secarik kertas yang ditindih dengan pot bunga di atas meja depan sofa. Penasaran, dia mengambil kertas itu dan perlahan membacanya.
Dear Zaky Angkasa.
"Ini pasport anda," ucap pelayanan bandara menyerahkan pasport milik Milea.
"Terima kasih." Jawab Milea menarik kopernya pergi dari bandara sambil mengingat secarik kertas yang ia tuliskan isi hatinya untuk Zaky yang terakhir kalinya.
Terima kasih untuk kenangan yang kamu berikan untukku selama ini. Kenangan indah yang tidak pernah aku dapatkan dengan setulus ini. Darimu aku mendapatkan senyuman yang dulu hilang. Darimu aku mengetahui apa itu kebahagiaan. Dan darimu aku mengetahui, bahwa kehidupan kita memang tidak pernah bisa bersatu.
"Ayo!" Ajak Kris mengambil alih koper milik Milea lalu menyerahkannya kepada anak buah yang kakeknya siapkan untuk menemani perjalanan mereka.
Aku tau aku telah bersalah besar karena mendorong Anna, bahkan memanfaatkan anda untuk kepentingan pribadi saya.
Menoleh kebelakang, Milea menghela nafas lalu berjalan masuk kedalam badan pesawat diiringi kelima sepupunya dari belakang.
Tapi satu hal yang harus anda tau. Bahwa apa yang mereka katakan, tidaklah sepenuhnya benar. Hanya aku dan Anna yang tahu, bahwa berdiri di samping anda setiap harinya, adalah sebuah ketulusan dari hati.
Serpihan kenangan perlahan masuk kala Milea mendudukkan diri dikursi badan pesawat. Saat bagaimana dirinya selalu berada di samping Zaky dan terus menerus melindunginya. Tak memperdulikan keselamatan diri demi keselamatan nyawa tuannya.
Aku tidak pernah sekalipun memanfaatkan kesempatan berada di samping anda untuk ajang balas dendam. Yang aku tahu, bahwa berada di samping anda adalah sebuah kenyamanan. Kebahagiaan yang Anna kirim untukku selepas kematiannya.
"Pesawat menuju Australia akan segera lepas landas, harap penumpang untuk segera memasuki pesawat." Terdengar perintah dari operator bandara membuat Milea melihat keluar jendela saat pelan pelan pesawat itu mulai melajukan rodanya di atas jalanan lepas landas.
Terima kasih untuk kenangannya selama ini. Terima kasih juga karena menyadarkan saya, bahwa harapan ini hanyalah semu. Karena kita...
Tidak mungkin bersama.
Selamat tinggal, tuan...
Tertanda. Milea Gunawan :)
Zaky tertegun saat membaca isi surat tersebut. "Terlambat. Semuanya sudah terlambat. Kenapa saat kamu pergi, aku baru menyadari. Bahwa kamulah... cahaya yang juga adikku kirimkan untukku."
"Dan sekarang. Aku telah memadamkan cahaya itu dan membiarkan kegelapan memasuki hariku kembali." Gumamnya lirih.
"AAARRRRGGGHH"