Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Hari patah hati


Brukh


Milea menjatuhkan tubuhnya keatas sofa setelah lelah menempuh perjalanan panjang dari kota Yogyakarta, menuju Jakarta.


Matanya terpejam sejenak untuk menghilangkan rasa pening yang melanda kepalanya.


Brukh


Pergerakan yang Milea rasa 'kan dari sofa membuat Milea membuka kedua kelopak matanya, dan menoleh kesamping. Terlihat Zaky tengah memijat keningnya yang mungkin juga terasa sakit.


"Biar saya bantu pijat 'kan tuan," Milea bergeser mendekat sebelum sesuatu menghantam permukaan bibirnya, hingga dalam hitungan detik benda itu terlepas membuat Milea terpaku dalam diam.


"Aku sudah peringat 'kan padamu, jangan panggil aku tuan! Panggil aku Kakak!" Tegas Zaky setelah berhasil mencuri kecupan dari bibir Milea.


"Anda atasan saya, jadi rasanya tidak enak jika saya memanggil anda Kakak, tuan." Lirih Milea menghindari kontak mata dari Zaky.


Cup


"Aku bilang panggil aku Kakak!"


"Tuan saya mohon. Jangan persulit keadaan saya! Kita hanya sebatas atasan dan bawahan. Jadi sebaiknya, kita mengerti posisi masing masing. Anda bersikaplah seperti atasan, dan saya akan bersikap seperti bawahan. Permisi,"


Zaky terpaku sejenak, lalu bangkit dan menahan pintu sebelum Milea menutupnya. "Apa kamu seperti ini karna ucapanku di acara reuni waktu?" Tanya Zaky terus menahan pintu yang sekuat tenaga Milea coba tutup.


"Tidak ada yang salah dengan ucapan anda tuan. Wanitaku. Saya mengerti, anda hanya ingin menegaskan bahwa saya adalah bawahan anda yang tidak boleh disentuh sembarangan orang. Saya mengerti,"


"Tapi saya mohon dengan sangat sangat tuan. Berhentilah bersikap seperti ini. Jangan terlalu baik dengan saya. Saya takut tuan, saya takut menyalah artikan maksud anda. Saya takut saat perasaan ini semakin besar, saya harus menerima kenyataan pahit atas kesalahan yang saya telah perbuat."


"Saya mohon sekali lagi. Berhenti bersikap baik dengan saya, sebelum terlambat. Takutnya nanti, kita akan sama sama tersakiti, permisi." Milea segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Perlahan tubuhnya merosot jatuh, sedetik kemudian Milea mulai menangis sesegukan.


"Hiks seharusnya aku tau hiks kalau ini akan terjadi. Hiks hiks seharusnya aku tau hiks bahwa jalan ini tidaklah mulus. Hiks hiks seharusnya aku tahu, hiks bahwa haru ini akan terjadi, hiks bahwa resiko ini pasti ada. Hiks hiks tapi kenapa harus sesakit ini tuhan?" Milea menenggelam 'kan wajah sembabnya di balik lutut, menangisi rasa dan penyesalan atas kesalahan yang telah dia perbuat sehingga berdampak pada dirinya sendiri.


Di balik pintu, Zaky terdiam tak tahu harus apa. Dia berbalik badan dan mulai duduk di pintu itu dengan pandangan menerawang kelangit langit ruangan.


"Tapi saya mohon dengan sangat sangat tuan. Berhentilah bersikap seperti ini. Jangan terlalu baik dengan saya. Saya takut tuan, saya takut menyalah artikan maksud anda. Saya takut saat perasaan ini semakin besar, saya harus menerima kenyataan pahit atas kesalahan yang telah saya perbuat."


"Tapi... kenapa saat kamu mempunyai perasaan itu, justru kamu ingin menjauh dariku? Apa kamu takut tersakiti karna cinta yang bertepuk sebelah tangan?"


"Milea. Jika kamu ingin menjauh, maka itu artinya, akan yang akan mendekat. Aku tidak akan membiarkanmu membuang perasaan itu. Karna aku juga mencintaimu," lirih Zaky tersenyum penuh misteri. Otaknya mulai treveling memikirkan rentetan dari rentetan rencana pendekatannya nanti.


"Aku tidak pernah takut dengan perasaan ini, tak pernah ingin membuangnya, menyesalinya, apalagi sampai membencinya. Yang aku takut 'kan hanyalah. Perpisahan yang penuh dengan kekecewaan. Saya takut. Takut melihat wajah kecewa kamu jika tahu siapa sebenarnya aku."


***


"Seharusnya tidak secepat ini aku mengatakannya. Tapi, karna sudah terlanjur maka kita lurus 'kan saja permasalahan ini. Nala, aku mencintaimu. Dari dulu, sampai sekarang, perasaan ini tidak pernah berubah. Masih seutuhnya milikmu. Nala menikahlah denganku!"


Nala terdiam dengan pandangan kosong menatap Haikal yang berjongkok di hadapannya memperlihatkan kotak berudru berisikan cincin berlian.


"Aku tidak bisa." Jawab Nala tiba tiba bangkit dengan mata yang memerah menahan air matanya untuk tidak keluar.


Ikut bangun, Haikal menatap Nala penuh tanya. "Kenapa? Aku sudah berkata jujur bahwa aku adalah Ikal. Dan sebagai Ikal, aku ingin menepati janji ku untuk menikahimu, dan kamu juga telah berjanji untuk menungguku melamarmu. Tapi sekarang kenapa...?!!" Cecar Haikal tak mengerti.


"Karna kamu adalah Ikal!!!" Teriak Nala berlari kencang memasuki gedung apartemen yang mereka tinggali.


"Nala!! Nala! NALAAAA!!" Haikal terduduk lemas di kursi taman sambil menatap kotak cincin itu sendu.


"*Kenapa? Aku sudah berkata jujur bahwa aku adalah Ikal. Dan sebagai Ikal, aku ingin menepati janjiku untuk menikahimu, dan kamu juga berjanji akan menungguku untuk melamarmu. Tapi sekarang kenapa...?!!" Cecar Haikal tak terima.


"Karna kamu adalah Ikal!!!" Teriak Nala*.


"Alasan apa itu? Kalau alasan karna tidak mencintaiku maka aku akan terima karna butuh waktu untuk membuat seseorang jatuh cintai. Tapi ini...?! Aku sungguh tidak mengerti dirimu Nala," Gumam Haikal mengacak acak rambutnya kesal.


Nala perlahan menjatuhkan tubuhnya di bibir kasur. Tangannya terulur mengambil foto masa kecilnya bersama dengan Haikal, diusapnya pelan foto itu sambil tersenyum kecil.


Tes


Tetesan air bening itu jatuh membasahi bingkai foto. Nala memeluk foto itu penuh rindu dan kesedihan yang mendalam. Butuh waktu untuk membuatnya percaya, bahwa Haikal adalah Ikal yang sudah ia anggap meninggal karna insiden kejadian beberapa tahun silam.