Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Nasehat seorang ibu


Milea menangis sesegukan di dalam mobil sambil memeluk lututnya dan menenggelamkan wajah di sana.


Menyesal? Tidak, dia tidak menyesal sama sekali. Bahkan jika diperbolehkan, dia ingin sekali menjahit mulut pedas wanita tak tahu diri itu. Hanya saja, dia kembali mengingat nasehat Ibunya yang mengatakan agar dirinya menjadi gadis yang lemah lembut. Selalu memaafkan kesalahan orang lain dan cukup bersabar saat orang lain menindas. Karna itulah dia merasa menyesal karna tidak bisa mengendalikan diri dan tidak mematuhi nasehat mendiang Ibunya.


"Hei, berhentilah menangis. Kita obati dulu memar yang ada di wajahmu, nanti bisa bengkak." Bujuk Zaky yang sedari tadi lelah melihat Milea terus menangis tanpa mau membagi keluh kesah dia padanya.


Milea tidak menggubris sama sekali. Dia masih setia meringkuk dengan tangis yang semakin membesar. Rasa sesalnya karna tidak bisa menjalankan nasehat Ibunya benar benar melukai hatinya.


Zaky menghela nafas pelan. Mengeluarkan ponselnya mengetik sesuatu di layar gawainya lalu memasukkannya kembali kedalam saku. Diliriknya Milea yang masih setia menangis tanpa ada keinginan untuk berhenti. Bisa dia tebak, saat ini mata Milea sudah bengkak karna menangis sudah hampir satu jam lamanya.


Merasa kesal, dengan kasar Zaky menarik kaki Milea hingga bersolonjor di atas kakinya. Ditatapnya tajam wajah Milea yang basah dipenuhi air mata.


"Jangan menyiksa diri sendiri dengan air mata itu! Kau tidak pantas menangisi orang orang seperti mereka!" Tegasnya.


"Hiks hiks hiks" Milea diam tak ingin menjawab. Karna saat ini yang dia tangisi adalah penyesalan karna tidak menaati nasehat Ibunya, bukan karna menyesal telah membuat orang orang itu tidak berdaya.


Zaky menatap Milea tak tega. Tangannya terulu mengambil sapu tangannya lalu perlahan mengusap matanya yang sembab.


"Menangislah, jika itu memang bisa membuatmu tenang. Tapi ingat, tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah berlalu. Masalalu memang tidak bisa diubah, tapi jadikan ini sebagai pelajaran di masa yang akan datang." Tutur Zaky sudah pasrah menyuruh wanita itu untuk berhenti menangis.


Milea menyerap kata kata Zaky dalam diam. Sekitar 30 menit menunggu, akhirnya Milea mulai berhenti menangis.


"Tu-hiks tuan.. bu-bukankah hiks bukankah anda ada jadwal bertemu dengan hiks klien anda?" Tanya Milea masih sedikit sesegukan.


"Tadinya memang iya. Sekarang aku bisa apa? Pertemuan juga tertunda karna pengawalku menangis seperti layaknya seorang perempuan," sindirnya.


"Saya memang perempuan tuan!" Cicit Milea pelan. "Maaf jika karna saya anda mengundur jadwal pertemuaan anda tuan." Sesalnya.


"Sudahlah. Pakai sabuk pengaman! Kita berangkat sekarang, bisa bisa telat kita kalau terus diam di sini." Gerutu Zaky dengan cepat pindah duduk di kursi kemudi.


"Tuan, biar saya saja yang mengemudi." Ucap Milea tak enak hati. Zaky memasang sabuk pengamannya melirik sekilas Milea dari kaca spion.


Milea yang tak enak hati hanya bisa menunduk pasrah membiarkan Zaky mengemudi ketempat tujuan.


Tak butuh waktu lama, merekapun akhirnya sampai di depan Restouran XX tempat janjian sebelumnya. Sebelumnya Haikal berkata akan menunggu dirinya di restouran itu bersama dengan Nala. Dia juga ingin memberi waktu untuk Zaky dan Milea berbincang sejenak.


"Ini pakailah! Kau sangat jelek dengan mata sembabmu itu!" Ejek Zaky memberikan kaca mata hitam miliknya pada Milea.


"Terima kasih tuan."


"Hm sama sama. Selesai pertemuan nanti kau bisa mengobati memar di pipimu itu," meski terkesan cuek, Milea sangat menghargai bentuk perhatian kecil yang akhir akhir ini sering tuannya tunjuk 'kan padanya.


Setelah memasang kaca mata, keduanya bersama memasuki pintu masuk restouran dan berjalan menuju meja nomor 15 yang berada di tengah tengah ruangan.


"Permisi. Maaf saya datang terlambat, ada sedikit masalah yang harus saya urus sebentar tadi." Jelas Zaky. Terlihat di sana Haikal dan Nala sudah menemani kliennya. Pria yang tengah duduk membelakangi mereka itupun berbalik. Seketika mata Milea membola sempurna di balik kaca matanya.


Sial, kenapa harus dia?! Umpat Milea dalam hati, harap harap cemas agar orang itu tidak mengenalinya.


"Oh it's okey. Saya tidak mempermasalahkannya. Mari duduk!" Huft. Dalam hati Milea bernafas lega karna orang itu tidak mengenalinya, jika orang itu sampai mengenalinya. Ada banyak kemungkinan yang terjadi di sini.


Milea mencoba bersikap biasa saja saat mata orang itu sesekali melirik kearahnya. Mereka terlihat sibuk membahas tentang kerja sama yang akan mereka buat, jadi Milea tidak ingin terlalu banyak bicara apalagi sampai mengganggu urusan mereka.


Sampai pada saat seorang waitres ingin meletakkan minuman pesanannya, tak sengaja seseorang menyenggol waitres itu hingga menumpahkannya kebaju Milea. Refleks Milea bangkit dan melepas kaca matanya.


"Ma-maaf mbak. Sa-saya tidak sengaja." Cicit waitres itu nampak ketakutan. Milea menatapnya sambil mengibas ngibaskan bajunya yang basah.


"Tidak apa apa, kau boleh pergi!" Jawab Milea. Waitres itu meminta maaf beberapa kali sebelum akhirnya undur diri.


"Milea?"