Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Gaun pesta


Setelah selesai berbelanja, Zaky mengantarkan Bianka hingga di parkiran mall, karna kebetulan wanita itu membawa mobilnya sendiri.


"Dah sayang... nanti kabarin aku ya kalo udah sampai rumah!" Lambai Bianka setelah selesai memasukkan semua belanjaannya kedalam mobil.


"Iya."


"Bye bye... umuahhh." Zaky mencoba terus tersenyum meskipun hati ketar ketir ingin muntah. Apalagi sewaktu Bianka melambaikan kiss bye untuknya. Iuhhh menjijikkan.


Setelah memastikan Bianka telah pergi, Zaky berjalan menghampiri Milea yang sedari tadi bersandar di mobil sembari memainkan layar gawainya.


"Bye bye.... ummuahh." Ledek Milea saat melihat tuannya mendekat. Zaky mendengus lalu masuk kedalam mobil saat Milea membukakan pintu untuknya.


"Brisik!! Cepat kemudi mobilnya!! Kita pulang!" Sewotnya kesal sendiri melihat Milea sama sekali tidak terlihat kesal ataupun marah dia diperlakukan seperti itu oleh Bianka, justru malah meledeknya.


Milea melajukan mobilnya sesuai keinginan tuannya yang ingin pulang kerumah. Dia bukannya tidak kesal melihat tingkah Bianka yang menurutnya terlalu berlebihan, hanya saja siapa dirinya? Apa dia berhak marah sedangkan dirinya hanyalah seorang pengawal? Dia masih tau batasan.


Sesampainya di apartemen, Milea melenggang masuk kedalam kamarnya dengan raut wajah datar. Dia langsung membaringkan tubuh kecilnya di atas kasur dengan perasaan yang sulit di artikan.


"Lea, suatu hari aku janji akan menepati semua janji janji yang aku berikan padamu. Termasuk gaun ini!" Tutur seorang gadis memegang erat tangan Milea.


"Kau tidak perlu memikirkan janji janji itu. Aku bahkan hampir lupa apa apa saja janji yang kau berikan padaku,"


Gadis itu tersenyum manis. "Lea... berjanjilah padaku. Kamu harus hidup bahagia apapun yang terjadi oke?"


"Oke. Dan berjanjilah juga padaku, tetaplah bersamaku apapun yang terjadi. Karna kamu adalah bagian dari semangat hidupku."


"Oke. Janji!"


Tok tok tok


"Milea..." Wanita itu membuka matanya saat suara ketukan pintu terdengar dari luar. Dengan gerakan malas dia bangun dari kasur lalu berjalan membuka pintu.


"Ada apa tuan? Apa anda perlu sesuatu?" Tanya Milea menatap datar Zaky.


"ini." Milea mengerut bingung menatap paper bag yang Zaky berikan padanya. Dengan ragu ragu dia menyambut paper bag itu.


"Gaun pesta."


"Hah? Gaun pesta? Buat apa tuan? Bukankah saya sudah bilang kalau saya memiliki gaun untuk dipakai kepesta nanti. Lalu untuk apa anda membelikannya?" Tak dapat dipungkiri, Milea cukup terkejut saat tuannya berkata bahwa isi paper bag itu adalah gaun pesta. Padahal dirinya sedari awal sudah menolak untuk membeli gaun pesta karna dia memilikinya di lemari.


"Terima dan pakai, karna aku tidak menerima penolakan!" Tegasnya bernada ancaman.


"Terserah anda tuan." Milea menutup pintunya agak kasar. Pikirannya saat ini sedang tidak baik baik saja, dan tuannya itu datang memberikan sesuatu yang tidak dia inginkan.


Dia berjalan menuju meja rias. Mengeluarkan gaun itu dan langsung tertegun saat mengatahui gaun yang diberikan oleh Zaky adalah gaun yang dia lihat di toko tadi. Milea menghela nafas kasar lalu memasukkannya kembali gaun itu kedalam paper bag.


Pluk


Milea terdiam saat melihat sebuah kertas jatuh dari dalam saku jaket gaun ini. Dengan penasaran Milea menaruh gaun itu keatas meja rias lalu mengambil kertas itu dan duduk di kursi menghadap cermin.


Deg deg deg


Dengan jantung yang berdebar begitu cepat, dia perlahan membuka kertas itu dan memperlihatkan sebuah tulisan usang karna mungkin sudah sangat lama.


Hai Milea...


Kamu sudah melihat gaunnya? Cantik tidak? Aku telah menyuruh seorang desaigner untuk membuat baju rancangan ku ini, dan jika sudah selesai akan diserahkan padamu. Aku sengaja meletakkan surat ini kedalam saku gaunnya, aku takut saat gaun ini ada di tanganmu akunya yang tidak ada. Aku sudah menepati salah satu janji dari puluhan janji yang ku buat untukmu. Semoga kamu menyukai gaunnya..


A


Tes


Brukh


Milea jatuh tersungkur setelah membaca isi surat yang sudah usang itu. Bahkan sebagian katanyapun sudah ada yang luntur.


"Hiks... hiks... hiks... kenapa... kenapa kamu harus melakukan ini... aku tidak butuh semua ini, yang aku butuhkan hanya kamu!! Hiks... maafkan aku yang tidak bisa menolongmu... hiks maafkan aku..." Milea diam memeluk lututnya, menuntaskan tangisnya yang sedari tadi tidak mau berhenti mengalir. Saat ini yang dia lakukan hanya menyesali masalalu yang terjadi.