Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Kantor pengadilan


Ni no ni no ni no...


"Beri jalan beri jalan!!"


"Eh ini ada apaan?" Bisik orang orang berkerumun di luar gedung sebuah apartemen.


"Katanya sih mau nangkep seorang pembunuh yang tinggal di gedung ini," jawabnya.


"Ihh ngerinya..."


Ting nong ting nong ting nong


Milea mengucek matanya lalu bangun saat samar samar terdengar suara ketukan di luar pintu.


"Ahhhh si Ben kemana sih?!" Gumamnya bangkit dari tempat tidur dan menuruni anak tangga perlahan.


Ting nong ting nong ting nong


"Sebentar!!" Teriak Milea sedikit berjalan tergesa menghampiri pintu.


Cklek


"Dengan ibu Milea?" Tanya seorang polisi. Tanpa Milea tanyakan pun, dia tahu siapa yang telah mengirim orang orang ini kesini. Yang jadi pertanyaanya, bagaimana dia tahu kalau Milea tinggal di apartemen ini?


"Ya."


"Kami mendapat laporan penangkapan dengan kasus pembunuhan delapan tahun silam. Silahkan ikut kami kekantor polisi untuk dimintai keterangan,"


Tanpa menolak, Milea berjalan dengan diapit dua orang polisi menuju lantai dasar. Puluhan kamera menyorot saat dirinya keluar dari gedung. Dan dengan sigap para polisi memberikan jalan untuk Milea masuk kedalam mobil.


Pada akhirnya. Kamu tetap akan melakukannya. Dan kita tidak akan mungkin pernah bersama. Selamanya...


"Nona..." Ben termenung saat melihat mobil polisi melewatinya, tapi bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan karena ada nona mudanya di sana.


Tut tut tut....


"Kirimkan pengacara keluarga Arceleon sekarang juga!!" Titah Ben bergegas menuju parkiran untuk mengambil mobilnya menuju kantor polisi.


"Nama anda betul nona Milea?" Tanya polisi muda bernama Agam, sembari membolak balik data tentang Milea yang ia dapat.


"Ya."


"Baiklah nona Milea. Anda sudah tahu bukan, apa yang membuat anda berada di sini?" Tanya Agam lagi, kali ini menatap serius Milea yang duduk tenang tanpa beban.


"Ya."


Menghela nafas, "kami mendapatkan laporan dari seseorang mengenai kasus yang terjadi delapan tahun silam di kediaman keluarga Rahardian. Dan sesuai laporan dan bukti yang ada, anda dituduh sebagai pelakunya," jelas Agam.


Tersenyum sinis, "lalu?" Jawab Milea tak minat.


Melirik Milea penuh selidik, "pertanyaannya. Apa benar, kamu pelaku yang mendorong korban dari balkon lantai tiga kediaman keluarga Rahardian?"


Dengan tenang, Milea menyandarkan tubuhnya sambil melipat tangan penuh keanggunan. Setelah itu dengan singkat dia menjawab.


"Ya."


"Semudah itu kamu mengaku?!" Kaget bukan main. Ini kasus pembunuhan pertama yang Agam tangani di mana tersangka langsung mengaku tanpa harus ia gertak lebih dulu.


"Ya."


"Huft. Baiklah, tinggallah kamu sementara di sini. Saya harus keluar sebentar," Agam pamit pergi.


"Untuk apa berbohong jika pada akhirnya semuanya akan terungkap? Dan perlu kalian ketahui. Pada akhirnya, kebenaran pasti menang. Dan akan aku pastikan. Mereka mendapatkan ganjaran yang setimpal karna perbuatan mereka," gumam Milea menatap lurus kedepan dengan dingin.


"Eh itu dia itu dia!!"


"Nona Milea apa benar anda adalah pelaku pembunuhan adik dari tuan muda Alexander?"


"Apa benar anda pembunuhnya? Bukankah selama ini anda telah menjadi pengawal beliau?"


"Apa anda melakukan itu untuk memantau gerak gerik lawan?"


"Beri jalan beri jalan!!" Teriak jajaran para polisi mengamankan tubuh Milea hingga masuk kedalam mobil untuk pergi menuju pengadilan.


"Nona Milea tolong dijawab!"


Bugh


"Nona nona, tolong jawab nona!!"


Milea tak bergeming di tempatnya. Netranya hanya fokus menatap lurus kedepan tanpa minat meladeni siapa siapa hingga mobil melaju menuju tempat pengadilan.


"Hah, tak ku sangka. Ternyata putra sulung keluarga Angkasa masih hidup," gumam seseorang menatap layar televisi yang menampilkan wajah Milea yang digiring masuk kedalam mobil.


"Kalau begitu. Sekalian saja kamu menyusul adikmu!" Lanjutnya penuh siasat mengerikan.


Dendamku belum berakhir sebelum keturunanmu habis di tanganku. Hendra Angkasa.


"Hah..." sekian helaan nafas sudah terdengar keluar dari mulut Zaky saat dalam perjalanan menuju kantor pengadilan. Ada sedikit keraguan di hatinya jikalau Milea adalah pelaku pembunuhan tersebut. Mengingat dari buku memo adiknya yang terlihat mengisahkan kebaikan Milea yang menjaga Anna. Yang dia tanyakan, apa tujuan Milea sebenarnya mendorong adiknya jatuh?


Puk


"Rilex ky. Lo pasti bisa laluin ini," ucap Harun menepuk pundak Zaky sambil tersenyum lembut.


"Thanks,"


Mobil itu melaju membelah jalanan raya, hingga dalam hitungan menit merekapun akhirnya sampai di tujuan. Zaky dan Harun turun bersamaan dengan jajaran mobil polisi datang membawa Milea keluar dari sana.


Deg


Pandangan keduanya bertemu, namun sedetik kemudian Milea langsung mengalihkan pandangannya dan lebih memilih masuk bersama para polisi kemeja tersangka.


Zaky? Jangan ditanya. Dia merasakan sakit yang luar biasa di ulu hatinya saat melihat Milea nampak sangat membencinya.


"Apa anda percaya dengan saya?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya Zaky balik dengan heran. Mengapa pengawalnya ini tiba tiba memberikannya pertanyaan itu?


"Jawab saja! Apa anda percaya dengan saya?!" Desaknya.


Hening sejenak, "tergantung. Kalau saya merasa kamu baik, saya akan percaya. Begitu pula sebaliknya."


"Jika seandainya di masa yang akan datang ada orang yang menuduh saya. Apa anda akan tetap percaya?"


"Masa yang akan datang? Menuduh? Inikah yang dia maksud hari itu?" Gumam Zaky saat sekelibat memori melintas di otaknya.


"Ayo ky!" Lamunannya terhenti sesaat Harun mengajaknya masuk. Dengan penuh bimbang dia masuk kedalam bersama Harun.


Apakah keputusanku sudah benar dek?