
"Non..." Ningsih menatap Milea yang wajahnya mengeras dengan tangan terkepal kuat. Milea menatap lurus kedepan mengingat apa yang ia dengar dahulu.
"Kejadian hari ini jangan sampai bocor keluar, apalagi sampai diketahui awak media. Jika sampai itu terjadi, siap siap saja kalian akan menanggung akibatnya," ancam Rahardian.
Milea dari balik pintu diam diam mendengarkan percakapan papanya dengan para asisten rumah tangga dirumahnya. "Dan untuk bibi. Pastikan tidak ada satupun dari mereka berani menyebarkannya. Jika sampai itu tersebar." Dari kejauhan Milea melihat Rahardian berjalan membisikkan sesuatu pada Ningsih bibi kesayangannya.
Meski tidak tahu apa yang dibisikkan papanya, yang pasti Milea yakin itu sebuah ancaman yang menyangkut keluarga bi Ningsih. Karena itulah watak asli Rahardian. Tak peduli miskin ataupun kaya, jika berani menghalanginya, siap siap merasakan kehilangan anggota keluarga.
"Harap untuk tersangka untuk diam membiarkan saksi menceritakan kronologi ceritanya. Dengan ini tidak hanya dapat membebaskanmu, tapi bisa meluruskan kesalah pahaman yang mungkin ada di sini." Ucap Jaksa geram sendiri dengan pelaku yang bukannya senang akan bebas, tapi malah ingin menetap. Hei, penjara sudah penuh. Beras mahal, untuk memberi kalian makan.
Melirik dengan dingin, Milea diam tanpa kata. Satu alasannya. Dia tidak ingin Rahardian murka pada Ningsih karena membongkar rahasia pribadi keluarga.
"Silahkan saksi untuk melanjutkannya!" Titah Jaksa tersebut.
Ningsih diam menatap Milea yang enggan menatapnya. Sakit rasanya melihat nona mudanya dulu, kini semakin dingin dan tidak tersentuh hatinya. Betapa banyak cobaan yang nona mudanya ini harus hadapi, bahkan setelah terbebas dari keluarganya, masih harus melewati hari ini. Hari yang dihindari keluarga Rahardian dengan segala cara.
"Lalu setelah itu, majikan saya yang satunya datang dan berusaha melepaskan pegangan tangan non Lea dari non Anna. Di situ mereka beradu argumen. Non Lea terus mempertahankan genggamannya, sedang nona muda saya yang satunya terus berusaha melepaskannya. Tapi tiba tiba... saat non Lea sama nona muda bertengkar, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, non Anna melepaskan genggamannya sendiri dan terjatuh dari balkon. Di sana, non Lea----"
"AKU BILANG CUKUP!!" Teriak Milea tiba tiba. "Cukup bi cukup! Jangan cerita lagi!! Hiks Lea mohon bi... hiks hiks..." pinta Milea lemah dengan isak tangisnya.
"Jangan cerita lagi bi. Lea mohon. Jangan korbanin diri sendiri buat nolongin Lea. Lea bakal baik baik aja bi, Lea mohon jangan lanjutin lagi." Lirihnya dan dalam sekejap, kepalanya terasa berat, dan matanya berkunang kunang.
Brukh
"MILEA!!!" Semua orang bangkit dari duduknya saat tersangka jatuh tak sadarkan diri.
Zaky berlari menghampiri tubuh tak sadarkan diri Milea, dan dengan sekali angkat, tubuh wanita itu melayang di udara. Zaky berlari membawa Milea keluar tanpa menghiraukan teriakan sepupu sepupu Milea yang kesal karena keduluan Zaky.
"Wah... pengaruh wanita itu benar benar luar biasa dalam hidup Zaky. Saat wanita itu dituduh membunuh adiknya sendiripun, dia masih saja mengkhawatirkannya. Ck ck ck, cinta itu memang buta..." gumam Haikal memandang heran sekaligus senang dan membiarkan saja sobatnya itu membawa pujaan hatinya pergi.
"Jangan ngoceh aja! Cepat kita susul mereka kerumah sakit!!" Omel Nala menarik tangan suaminya untuk mengikuti rombongan lain. Dan dengan pasrah, Haikal mengikuti kemanapun tuan putri ingin pergi.
"Dokter tolong!!" Seru Zaky keluar dari mobil sambil menggendong Milea berlari memasuki rumah sakit. Para perawat yang melihat itu dengan sigap memindahkan tubuh pasein keatas brankar dan mendorongnya keruang UGD.
"Bagaimana keadaan Milea?" Tanya Malvin yang baru saja sampai bersama yang lainnya.
"Dia masih dalam pemeriksaan," jawab Zaky sama cemasnya dengan yang lain. Hanya saja kecemasan mereka pada satu orang membuat mereka akur sesaat tanpa sadar.
"Keluarga pasein Milea Gunawan," Panggil dokter.
"Kami, kami sepupunya dok! Bagaimana keadaan sepupu saya dok?" Sambar Kris yang paling cemas dari yang lain. Milea memang lebih dekat dengan Kris mengingat mereka seumuran, terlebih mereka sudah seperti kembar yang tak dapat dipisahkan.
"Sepupu?" Gumam Zaky memandangi semuanya dan berhenti pada Erickh yang merupakan rekan bisnisnya.
"Keadaan pasein sangat lemah, diharap agar mengajaknya bercanda agar pasein tidak terlalu banyak pikiran. Keadaan pasein sudah bisa dikatakan stress, jadi harap dijaga dengan baik. Karena takutnya, jika pasein semakin banyak pikiran, pasein akan..."
"Akan apa?!" Desak Kris.
Menghela nafas. "Gangguan jiwa."
Deg
Zaky terpaku di tempatnya. Matanya memandang pintu yang tertutup. Muncullah sebongkah rasa bersalah dalam hatinya dan merasa dirinyalah penyebab Milea seperti itu.
"Apa kami bisa menemuinya?" Tanya Ronald. "Bisa, tapi sesuai anjuran saya. Ajak dia bercanda, jangan biarkan pasein terlalu banyak pikiran yang mana akan mempengaruhi jaringan sarafnya. Silahkan, pasein sudah sadar di dalam," jawab dokter.
Semua orang berdesakan masuk menjenguk Milea yang terbaring lemah di brankar. Saat hendak masuk, langkah Zaky tertahan.
"Apa anda percaya dengan saya?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya Zaky balik dengan heran. Mengapa pengawalnya ini tiba tiba memberikan dia pertanyaan itu?
"Jawab saja! Apa anda percaya dengan saya?!" Desaknya.
Hening sejenak, "tergantung. Kalau saya merasa kamu baik, maka saya akan percaya. Begitu pula sebaliknya."
"Jika seandainya di masa yang akan datang ada orang yang menuduh saya, apa anda akan tetap percaya?"
Tangan yang semula berada di gagang pintu, perlahan terlepas. "Kamu memintaku untuk percaya, tapi aku tidak percaya. Sekarang, saat aku tahu kamu tidak bersalah, semuanya telah terlambat. Hubungan kita tetap tidak akan bisa seindah dulu lagi. Milea... maafkan aku..." lirih Zaky memutar balik arah pergi dari sana.
Diam diam dari balik pintu, Kris mendengarkan suara hati Zaky yang sudah menjadi rasa penasaran dari dirinya saat Zaky membawa Milea dengan begitu khawatirnya.
"Hubungan indah? Tidak mungkin mereka saling mencintai bukan?" Gumam Kris.