
Puk
"Harun!!"
"Zaky?! Haikal?!"
Milea menatap ketiga pria bersahabat itu yang kini tengah berpelukan untuk melepas rindu karna telah lama tidak berjumpa.
"Widih... body lo run!! Ckck, ngiri gue sumpah." Haikal memandangi sahabatnya dari atas sampai bawah sambil menggelengkan kepala tak percaya dengan perubahan bentuk tubuh sahabatnya begitu luar biasa. Jika dulu temannya ini mempunyai tubuh sedikit gendut, dan hobi makan. Lain ceritanya sekarang, pria itu memiliki tinggi 190 cm, tubuhnya ramping dan kekar membuat dirinya terlihat semakin tampan.
Plak
"Bisa ae lo! Body gue emang body goals." Harun yang sekarang dan dulu memang tidak ada bedanya. Masih sama, hanya pertumbuhannya saja yang berubah.
Plak
"Sakit pea! Jangan mukul keras keras!" Membalas memukul, Haikal mendengus kesal sambil mengelus bahunya yang terasa panas karna Harun memukulnya terlalu kuat.
"Kuat dari hongkong! Gue mukulnya pelan juga. Plak. Gimana? Gak sakit 'kan ky?" Elaknya dan justru memukul pundak sahabatnya yang satu yang sedari tadi hanya diam dengan wajah datar.
Zaky melirik Harun dengan dinginnya, membuat pak TNI itu langsung ciut nyalinya. Mungkin secara fisik dan ilmu bela diri, Harun jauh di atas Zaky. Tapi, jika sudah menyangkut masalah tatapan mengintimidasi yang mampu membuat lawan harus beribu kali berpikir untuk melawan, maka Zaky juaranya.
"Hehee sorry sorry!" Harun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan mata melirik lirik kesegala arah untuk menghilangkan rasa gugupnya. Hingga matanya terpaku pada titik di mana dua orang wanita cantik tengah berdiri di belakang mereka sembari berbincang.
"Cantik! Godain abang yuk!"
Milea yang berbincang dengan Nala seketika menoleh kesamping. Yang dilihatnya, pria tampan dengan tatapan usil dan jahil untuk menggodanya ini terlihat biasa saja.
Bugh
"Awh sakit woi!" Bentak Harun menoleh kebelakang dengan tatapan murka, tapi saat tahu siapa yang menendang tulang keringnya dia langsung diam. Dua pria yang tak lain adalah sahabatnya sendiri kini memandangnya dengan tatapan menyeramkan.
"Kenapa ditendang? Sakit tahu!" Gerutu Harun meringis pelan saat masih merasakan tulang keringnya sakit.
"Jangan ganggu wanitaku!" Jawab keduanya serempak dengan aura dingin menyelimuti.
"Wanita? Maksudnya mereka?" Tunjuk Harun pada kedua wanita yang dia goda tadi tak percaya. Dan keduanya mengangguk serempak sebagai jawaban.
"Sejak kapan kalian punya pacar? Kok gue gak tau?" Tatapan minta penjelasan terlihat jelas di mata Harun. Zaky maupun Haikal sama sama terdiam tak tahu harus menjawab apa. Mereka bahkan belum berpacaran, hanya sekedar mencintai dalam diam dan dalam fase memperjuangkan.
Bolehkah dia bahagia? Mendengar pengakuan langsung dari mulut Zaky entah mengapa membuat hatinya berbunga bunga sekaligus bahagia. Saat Zaky membalas tatapannya, dia seketika tersadar dan langsung membuat pandangan kesembarang arah sambil menggeleng kepala pelan.
"Sa-saya... permisi ketoilet sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Milea bergegas menuju toilet untuk menenangkan pikiran dan hatinya yang berdebat tak sejalan. Hatinya bahagia, tapi pikirannya menolak.
"Sadar Lea sadar!! Kamu pasti salah dengar, mana mungkin Kak Zaky mengatakan kamu adalah wanitanya. Sekalipun ia, pasti maksudnya adalah aku pengawalnya. Yah! Pasti seperti itu." Milea duduk di atas kloset sembari memukul mulul kepalanya untuk menyadarkan diri.
"Buang jauh jauh perasaanmu Milea! Please! Jika kamu tidak ingin tersakiti lebih dalam lagi sebaiknya buang jauh jauh perasaanmu itu! Apa kamu tidak takut? Jika saat kamu sudah jatuh cinta, justru orang yang kamu cintai malah membencimu. Jadi please! Harap kerja samanya hati! Tolong sekali ini saja kendalikan perasaanmu itu!"
Milea menumpahkan segala kekesalan dan tangisan di dalam toilet. Setelah di rasa sudah mulai reda, dia akhirnya memutuskan untuk membasuh wajahnya dan keluar dari toilet.
Cklek
"Kenapa lama?"
Milea terperanjat kaget saat melihat Zaky kini berada di hadapan mata sembari bersandar di tembok dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana.
"Tu-tuan..."
Zaky melirik Milea tajam, dan perlahan bangun mendekati gadis itu. Milea yang melihat tatapan berbeda Zaky mulai takut dan perlahan melangkah mundur hingga tersudutkan di tembok.
"Kamu memanggil ku apa tadi? Coba ulangi!" Pinta pria itu mengurung tubuh mungil Milea dengan kedua tangannya.
"Tu--"
Cup
Milea yang belum siap hanya bisa mengerjap erjap kaget saat Zaky mengecup bibirnya cepat.
"Tu-tuan anda..."
Cup
Lagi. Milea semakin dibuat takut saat Zaky kembali mengecup bibirnya singkat. "Jangan panggil aku tuan! Jika kamu menyebutnya lagi, aku tidak akan segan segan untuk menciummu!" Ancam Zaky menarik kedua tangannya dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan Milea yang masih shock di tempat.
Milea memegangi bibirnya, lalu melirik punggung Zaky yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya. "Jika seperti ini terus, aku tidak yakin bisa bertahan untuk tidak jatuh cinta kepada anda tuan. Bisakah aku merasakan manisnya cinta tanpa merasakan sakitnya jatuh? Bisakah." Milea menatap kepergian Zaky dengan tatapan sendu, hingga air mata itu kembali mengalir lagi hingga membuat Milea meringsut jatuh dan menangis di sana. Dia tidak peduli tatapan orang orang, yang ia rasakan saat ini adalah sakitnya membohongi diri sendiri dengan mengatakan tidak akan jatuh cinta, nyatanya. Dia sudah jatuj sejatuh jatuhnya pada pesona Zaky Alexander.
"Tuan. Salahkan saya mencintai anda?"