Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Menculik calon pengantin


Sebuah undangan kini sudah berpindah tangan kepada seorang gadis mungil dengan rambut sebahu. Milea. Gadis itu terdiam tak percaya, bahwa nasehatnya kemarin tidak membuat sahabatnya mau membatalkan pernikahan dan bersatu dengan kekasih hatinya.


Siapa yang tau? Laki laki dengan nama Riandy Cakra adalah calon mempelai laki lakinya. Kurang suram apa lagi hidup Nala jika menikah dengan pria tak tahu malu itu? Pria yang pernah mendekati Milea hanya untuk bahan taruhan saat masih duduk di bangku kuliah. Tepatnya saat dia berada di Australi.


Mengingat itu membuat Milea menggeram kesal. Dengan langkah mantap, Milea berjalan menuju ruangan Haikal. Jika atasan keduanya itu ingin melakukan sesuatu kepada Nala, maka dia akan mendukungnya 100%.


Brak


"Pak Haikal ayo kita....!!?"


Dua orang pemuda dengan bidang dada terekspos membuat Milea membulatkan mata sempurna. Ditatapnya satu persatu para pemuda itu dengan mulut terbuka lebar.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Mi-Milea! Ini tidak seperti yang kamu lihat! Kamu salah paham, aku bisa jelas 'kan!" Teriak Zaky dengan cepat mengancingi kembali kemejanya yang terbuka akibat dipaksa Haikal untuk berpakaian ala ninja.


"Jadi kalian ingin menculik Nala sebelum hari pernikahan?" Tanya Milea memastikan dan di balas anggukan kepala dari keduanya.


"Saya dukung rencana kalian! Saya tidak rela jika Nala harus menikah dengan si playboy Andy!" Dukung Milea semangat dan penuh kekesalan.


"Andy?" Beo keduanya bingung.


"Ma-maksud saya si marga Cakra itu!" Ralat Milea gugup.


"Sejak kapan kamu memanggilnya Andy? Bukankah panggilannya adalah Rian?!" Cibir Zaky bersidekap merajuk.


"Eh? Kapan gantinya? Bukannya waktu di Australi dia biasa di panggil Andy ya?" Gumam Milea yang masih bisa di dengar Zaky.


"Jadi kamu sudah mengenalnya sejak masih kuliah?!" Bertambah sebal jadinya Zaky mendengar Riandy lebih dulu mengenal Milea dari dia.


"Hehee iya tuan. Dulu waktu saya kuliah, dia sempat menjadikan saya sebagai bahan taruhan dia dengan teman temannya. Untung Kris sudah membereskan mereka lebih dulu," tak tahu bahwa tuannya merajuk, Milea semakin menambah Zaky murka dengan menyebut nama lelaki lain lagi selain dirinya.


Dasar bucin!


Kata itu sangat cocok untuk seorang Zaky yang baru pertama kali merasakan apa itu cinta.


"Siapa itu Kris? Pacar?" Sindir Zaky membuang pandang kesegala arah sebagai tanda bahwa dia merajuk tapi penasaran.


"Sepupu,"


Sebuah jawaban yang membuat Zaky tanpa sadar bernafas lega. Diam sejenak, Zaky mengerut mengingat kembali apa yang di katakan Milea sebelumnya.


"Hehee iya tuan. Dulu waktu saya kuliah, dia sempat menjadikan saya sebagai bahan taruhan dia dengan teman temannya. Untung Kris sudah membereskan mereka lebih dulu,"


"Jadi si marga Cakra itu pernah menjadikanmu bahan taruhan?!" Terlalu fokus pada nama, membuat Zaky baru sadar bahwa pria brengsek bernama Riandy Cakra itu pernah mempermainkan kekasih hatinya.


"Telat nyadarnya!" Cibir Haikal yang sedari tadi diam dengan pikiran yang bercabang. Memikirkan Nala, dan juga sesuatu yang hanya dia dan tuhan yang tau.


"Ya mau gimana lagi, aku terlalu ngefly sama nama Kris itu tadi," cicit Zaky menggaruk tengkuknya malu.


"Berarti besok kita beraksi 'kan?" Tanya Milea, menyudahi perdebatan tak penting yang berkepanjangan.


"Yes!"


***


Bagi orang, hari ini adalah hari bahagia bagi mempelai pengantin. Tapi bagi Nala, hari ini adalah hari tak terduga yang pernah ia lalui. Jika kemarin dia masih berstatus single, maka hari ini statusnya akan segera berubah menjadi seorang istri dari pria bernama Riandy Cakra. Anak dari atasan papa Wendi.


Masih teringat jelas saat Rian datang kerumah untuk mengutarakan maksudnya datang melamar. Saat itu, Wendi tanpa bertanya pada Nala langsung menerimanya, membuat Nala hanya bisa pasrah karna tidak ingin mengecewakan apalagi membuat papanya malu, mengingat papanya memiliki riwayat penyakit jantung semakin membuatnya tak kuasa untuk menolak keinginan Wendi yang ingin segera menimang cucu.


Fokus pada wajahnya, pandangan Nala kini beralih pada siluet tubuh tak asing berdiri memantulkan wajah menyeringainya di cermin.


"Ingin menikah dengan yang lain? Heh, jangan harap!" Bibir penuh menyeringai itu menatap pantulan wajah Nala dengan jahatnya.


Hap


"Mmmppp mmmpp mmppp..."


Brukh


"Your mine Nala. Be mine!"


***


"Yang ini 'kan kamarnya?" Tanya Haikal memastikan bahwa balkon yang ia lihat saat ini benar letak kamar Nala.


"Iya benar," Milea menjawab yakin.


"Tali ky!" Memutar bola mata malas, Zaky menyerahkan tali tambang yang ia gendong sedari tadi.


"Jika ada yang bilang satu teman tak waras, maka yang lainnya akan ikutan tak waras. Aku setuju! Karena sekarang aku juga ikutan tak waras bersamanya," gumamnya lirih sembari melirik Haikal yang mulai perlahan memanjat tali, diikuti Milea dan terakhir dia.


Hap


Ketiganya dapat bernafas lega setelah berhasil naik kelantai dua. Karena berhubung acara nikahan digelar di rumah, jadi mereka dapat dengan mudah naik kekamar Nala. Sedang 'kan untuk resepsinya akan digelar nanti malam di hotel kingdom.


"Loh? Kok jendelanya kebuka?" Tanya Haikal bingung. Tiba tiba saja perasaannya tidak enak, Haikal masuk lebih dulu meninggal 'kan teman dengan pengawalnnya tertinggal di sana.


"Nala? Nala!! Where are you!!??" Teriak Haikal semakin panik saat mendapati Nala tidak ada di kamarnya. Dari kamar mandi, waking closet, sampai kolong meja pun ia cari, namun tidak nampak sedikitpun batang hidung kekasih hatinya itu.


"Loh? Nalanya kemana?" Tanya Milea berjalan menghampiri Haikal yang menggusar rambutnya kebelakang.


"Jam berapa acaranya dimulai?" Bukannya menjawab, Haikal menatap Milea gusar, penuh keputus asaan.


"Di undangannya sih katanya pukul sembilan. Sekarang masih pukul setengah sembilan, masih lama lagi." Jawab Milea melirik Haikal bingung bercampur cemas.


"Trus Nalanya di mana?!"


Cklek


"Nala..."


Zaky, Milea, dan Haikal terdiam sejenak, lalu melirik secara bersamaan kearah pintu. Kirana berdiri terpaku menatap ketiga orang yang dua di antaranya sangat ia kenal.


"Haikal? Milea?"