Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Berbaikan


"Bagaimana?"


Pria dengan pakaian serba hitam itu menunduk di belakang siluet tubuh seorang pria yang membelakanginya sembari memandangi hiruk pikuk kota dari gedung perkantoran.


"Maaf, saya gagal." Jawab Pria itu tak berani mengangkat kepalanya. Lelaki yang menjadi bosnya itu tersenyum sinis lalu berjalan duduk di singgasananya.


"Kenapa bisa gagal?"


"Karna nona Milea tuan,"


Bos itu terdiam, namun sedetik kemudian dia tersenyum sinis. "Milea? Heh, dia ada di sana juga?" Tanya pria itu.


"Benar tuan."


"Milea... kali ini kamu berhasil menggagal 'kan rencana ku, tapi untuk kedepannya tidak akan pernah bisa. Karna niatku untuk membunuh Haikal masih sangat kuat," gumam Bos itu kemudian melirik orang kepercayaannya sambil mengibaskan tangan menyuruhnya pergi. Pria misterius itu menunduk hormat sebelum akhirnya keluar dari ruangan tersebut.


"Haikal... kamu harus mati!!"


***


Tok tok tok


"Ky! Lo masih tidur?"


Zaky terbangun saat mendengar suara ketukan pintu terdengar dari luar. Memastikan Milea masih tertidur, Zaky akhirnya beranjak dari kasur menuju pintu.


Cklek


"Ada apa?" Tanya Zaky memandang datar Haikal yang berdiri di depan pintu bersama sahabatnya yang satu. Harun.


Melirik kedalam, "kita ngobrol di luar aja. Takut ganggu yang di dalam," ucapnya.


Melirik kebelakang, Zaky mengangguk setuju. Ketiganya pun melangkah pergi menuju halaman depan vila yang sudah dibersihkan para pengurus vila.


Hening. Haikal melirik Zaky dan Harun bergantian. Suasana canggung sangat terasa, Harun yang nampak gugup untuk meminta maaf, sedangkan Zaky yang biasa biasa saja, dan dirinya sebagai penengah antara keduanya.


"Kau sudah selidiki orang tadi?" Tanya Zaky buka suara. Haikal mengalihkan pandangannya bingung.


"Penyusup tadi? Belum. Gue belum sempat selidiki, soalnya tadi gue sibuk nenangin Nala sama nemenin Harun," jawab Haikal.


"Selidiki orang itu! Kalau perlu kau cari dia sampai dapat! Aku ingin pria itu mendapat ganjaran setimpal karna hampir mencelakai wanitaku!"


"Oke"


Hening kembali menyapa. Harun yang sedari tadi gugup mulai mengambil nafas panjang sebelum akhirnya menggeser duduk menghadap Zaky.


"Sorry,"


"Sorry karna gue udah hampir bunuh cewek lo. Sumpah gue gak ada niat buat ngelakuin itu. Gue cuma pengen nembak pria itu, tapi karna lo teriak gue jadi kaget dan gak sengaja ngelepas peluru. Maafin gue ky," tutur Harun penuh sesal.


Menghela nafas, Zaky memposisikan duduk menghadap Harun. "It's oke." Singkat, padat dan jelas. Itulah Zaky.


"Nah gitu dong! Kan adem gue liatnya. Sini sini gue peluk." Ketiganya tersenyum lepas dan saling berpelukan penuh kasih sayang. Persahabatan yang mereka jalin sejak duduk di bangku SMA membawa mereka pada persahabatan yang mungkin akan terus terjalin hingga tua nanti.


***


Malam telah berlalu, pagi pun datang menyapa penduduk bumi untuk segera memulai aktivitas sehari hari. Seperti saat ini, lima orang pemuda memutuskan untuk pulang segera setelah menginap di vila semalam.


Cklek


"Saya bisa sendiri tuan." Lirih Milea saat Zaky membukakan pintu dengan gaya arogan, tidak ada manis manisnya sama sekali. Bahkan hanya untuk tersenyum saja tidak, bahkan menyuruhpun seakan tidak ingin dibantah.


"Kau panggil apa tadi?" Tanya Zaky mendekatkan wajahnya kepada Milea.


"Tu--- emm. Ma-maksudnya, Kakak."


Puk puk


"Gadis pintar! Masuklah!" Milea segera masuk setelah Zaky menepuk nepuk kepalanya lembut. Jantungnya saat ini sedang tidak bisa dikondisikan, terlalu cepat dan mungkin hampir copot dari tempatnya.


Setelah dirinya masuk, Zaky ikut duduk di sampingnya. Sementara Nala duduk di tempat satunya lagi. Haikal yang ada di depan bersama Harun melirik Nala dari kaca spion.


"Pindah kedepan!" Titahnya masih tak mengindahkan pandangannya dari Nala.


"Ha? Pindah? Gue udah di depan!" Sahut Harun melirik Haikal bingung. Dirinya sudah di depan, untuk apa pindah kedepan lagi? Ya kali dia duduk di luar mobil.


"Bukan lo! Tapi dia!" Tunjuknya pada Nala.


"Kirain."


"Saya mau di sini saja pak. Ingin menemani Milea," tolak Nala tanpa memandang pada lawan bicara.


"Sudahlah tuan, kita lanjutkan perjalanan saja. Biarkan Nala di sini menemani saya." Tak enak melihat keduanya yang nampak sedang berselisih, Milea akhirnya membela sahabatnya.


"Huft. Ya sudah, kita berangkat sekarang."


Mobil akhirnya bergerak melaju membelah jalanan untuk pulang kekediaman Alexander.


Milea duduk dengan tenang, tapi jantungnya tidak. Dia benar benar gugup duduk bersampingan dengan atasannya itu, padahal dulu dia tidak segugup ini jika bersamanya.


Apa yang harus aku lakukan saat kami pulang ke Jakarta nanti? Jerit Milea teringat bahwa dirinya tinggal seatap dengan bosnya ini.


Dulu dia biasa biasa saja, tapi sekarang dia menyadari perasaannya. Apa semuanya akan berjalan semulus itu? Sepertinya tidak. Apalagi mengingat Zaky mulai sering menciumnya akhir akhir ini.


Sepertinya aku harus membangun benteng perlindungan nantinya. Tuan Zaky sudah mulai berani. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.


Ckittt


"Ahhh"


"Sialan woi jangan ngebut ngebut dong!" Teriak Haikal geram saat ada pengendara motor ugal ugalan menyerempet mereka.


Menoleh kebelakang. "Semuanya oke?" Tanya Haikal menatap Nala khawatir, takut wanita kesayangannya itu kenapa napa.


"I'm oke!" Jawab Harun dan Nala serempak.


Kalian tanya bagaimana keadaan Zaky dan Milea? Saat ini mereka saling berpelukan dengan mata yang bertemu pandang. Dengan tangan yang melingkar di pinggang Milea, Zaky menatap lekat lekat manik mata hitam dari wanita yang ia cintai itu.


"Ekhm"


Tersadar. Milea langsung mendorong tubuh Zaky dan duduk dengan gugup. Ah ayolah! Kenapa akhir akhir ini mereka sering sekali melakukan adegan romantis? Kalian tahu?! Itu tidak baik untuk jantung keduanya yang berdetak terlalu cepat dari biasanya.


*Malunya....


Rezeki anak sholeh*...