
Ikal memeluk tubuh gemetar Lala semakin dalam, tak ingin membiarkan bocah itu melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat.
Dipandangnya satu persatu orang orang jahat itu, hingga pandangannya berhenti pada titik yang paling mencolok dari yang lain.
"Apa maumu?!"
"Wow, benar benar terlihat sekali wibawa yang diturunkan keluarga mu itu. Kecil kecil seperti dirimu pun sudah keliatan arogannya." Sinis pria bernama Yadi itu sambil bertepuk tangan pelan.
"Saya tahu anda mengincar saya. Tapi apa perlu, anda melibatkan orang yang tidak bersalah?!" Dengan aura dingin Ikal menatap tajam Yuda dengan sikap dewasanya.
"Jangan panggil kami penculik jika tidak melibat 'kan orang orang yang tidak bersalah. Karna apa? Karna kami ingin kamu datang kesini sendiri, tanpa perlu susah susah kami culik. Karna dengan wanita itu kami yakin, kamu akan dengan suka rela menyerahkan diri datang kesini." Jawab Yuda.
"Ikal..."
"Suuttt jangan dengarkan apa yang mereka katakan. Tetap duduk diam, dan jangan bergerak!" Bisik Ikal mengusap air mata yang mengalir di pipi cuby sahabatnya.
Lala hanya bisa mengangguk patuh dan kembali diam bersembunyi di bidang dada Ikal. "Sekali lagi saya tanya! Apa mau anda?!" Tanya Ikal penuh penekanan.
"Tidak banyak. Aku hanya ingin perusahaan ayahmu. Simple bukan? Ku rasa itu akan setimpal denganmu jika memang dia menyayangimu." Jawab Yuda. Ikal diam diam mengepal 'kan tangannya emosi.
"Saya rasa percuma anda menculik saya, karna saya yakin. Pria tua itu tidak akan menyerahkan harta bendanya demi upik abu seperti saya," ujar Ikal mencoba menahan gemuruh sakit di dadanya, apalagi mengingat almarhumah Ibunya yang meninggal setahun yang lalu.
"Kalau begitu mudah saja. Tinggal kami kembali 'kan kalian tanpa nyawa." Jawab Yuda dengan seringai liciknya.
"Ikal..." bocah perempuan itu semakin meringsek masuk kedalam pelukan Ikal dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
"Coba saja kalau berani!" Tantang Ikal. Sejak umurnya 6 tahun, papanya sudah memasukkannya kedalam kelas beladiri, yang mana membuatnya sudah mulai paham cara berkelahi melawan orang orang itu.
"Benar benar putra Radit," gumam Yuda dengan senyum sinisnya. Dengan isyarat mata, perlahan anak buahnya itu berjalan mendekat kearah dua bocah menyedihkan yang saling berpelukan, sedang 'kan Yuda berbalik pergi membiarkan anak buahnya yang bertindak.
"Jangan mendekat! Atau kalian akan tahu akibatnya!" Ancam Ikal semakin memeluk erat tubuh Lala yang gemetaran.
"Memang apa akibatnya jika kami mendekat? Coba kasih tahu, kami ingin tahu apa akibatnya," ujar salah seorang dari mereka tersenyum remeh.
Mereka semakin maju mendekat, membuat Ikal terdiam sambil melirik mereka dan Lala secara bergantian. Menghela nafas kasar, Ikal perlahan melepas pelukannya membuat Lala langsung memandang wajah Ikal bingung.
"Lala tetap diam di sini apapun yang terjadi oke? Hiraukan apa yang Lala dengar, dan jangan pernah membuka penutup ini tanpa seizin Ikal, oke?" Tutur Haikal segera menutup mata Lala menggunakan sapu tangan miliknya.
"Tapi, Ikal bakal baik baik ajakan? Ikal jangan tinggalin Lala sendirian ya! Lala takut sendirian di sini," lirih Lala menahan tangan Ikal yang ingin mengikat penutup mata di kepalanya.
"Ikal gak akan ninggalin Lala." Jawab Ikal cepat cepat mengikat sapunya saat orang orang itu sudah semakin dekat.
"Janji?"
"Iya janji!"
"Ya udah, semangat Ikal!!"
Ikal tersenyum tipis, mencium singkat kening Lala sebelum akhirnya dia bangkit menghadapi pria pria kekar itu.
"Aku sudah siap menunjukkan akibatnya," ucap Ikal tersenyum tenang yang begitu menyeramkan.
"Heh, tangkap dan ikat dia!" Titah ketuanya. Mengangguk patuh, semuanya maju serempak menghampiri Ikal dan Lala.
Bug
Bug bug
"Jangan sentuh Lalaku!" Tegas Ikal menerjang habis pria yang ingin menyentuh pujaan hatinya.
"Apa yang kalian tunggu?! Cepat tangkap mereka!!" Bentak ketua merasa geram dengan anak buahnya yang kalah melawan bocah.
"Hiyattt"
Bug bug bug
"Hosh hosh hosh... pria tua itu memang brengsek, tapi kali ini aku akui. Dia tidak salah memasukkan ku kedalam kelas bela diri," gumam Ikal cukup kewalahan melawan mereka yang terus berdatangan maju tanpa kenal henti.
Bug bug bug
Lala diam di tempat tak berani beranjak sedikitpun, yang mampu dia lakukan hanya mendengar suara orang orang dan suara seperti hantaman benda.
Si ketua yang sedari tadi diam mulai emosi. Dia mengeluarkan sebilah pisau lipat dari sakunya dan berjalan menghampiri Lala yang nampak diam gemetar.
"Ucapkan selamat tinggal!" Gumamnya dengan cepat mengangkat pisau dan melayangkannya kearah Lala.
"Lala!!" Ikal membulatkan mata sempurna dan secepat kilat berlari menghadang pisau itu dari Lala.
Srakkk
"Uhuk," muntahan darah keluar dari mulut Ikal saat pisau itu menancap di perutnya. Dia terdiam dan terus memeluk tubuh Lala dengan erat, meski saat ini tubuh bagian perutnya dibanjiri darah.
"Ikal itu kamu?" Tanya Lala.
"Iya, ini Ikal." Jawab Ikal berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar akibatan sakit yang rasakan.
"Ikal, kok Lala ngerasa ada yang basah ya? Ikal ngompol ya? Hayo ngaku!!" Tuduh Lala dengan senyum mengejeknya.
"Hahaa iya Ikal ngompol. Soalnya Ikal tadi ketakutan sampe ngompol gini," jawab Ikal tertawa paksa agar Lala tidak curiga dengan keadaanya.
"Ihhhh Lala pengen liat! Lala pengen liat celana Ikal yang basah!" Lala berusaha melepas ikatan di kepalanya, tapi sebelum itu, Ikal lebih dulu menahannya agar tidak terlepas.
"Jangan dilepas la, Ikal malu..."
"Hehee ya udah, Lala gak jadi lepas."
Ikal tersenyum dengan wajah pucat karna kekurangan darah. Perlahan dia menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Lala. "Ikal ngantuk la, gak apa apa 'kan Ikal numpang tidur dulu dipangkuannya Lala?" Lirih Ikal dengan tubuh semakin melemah.
"Iya." Jawab Lala polos.
"Nyanyi dong la. Ikal pengen denger Lala nyanyi," pinta Ikal semakin mengenaskan.
"Lagu apa?"
"Terserah, yang penting lagu pengantar tidur." Jawab Ikal meraih tangan mungil Lala dan meletakkannya di atas kepalanya.