Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Hilang beneran


"Haikal? Milea?" Terdiam sejenak. "Se-sedang apa kalian di sini? Nalanya mana?" Pandangan Kirana menyapu seluruh ruangan mencari titik keberadaan putri sulungnya yang tak terlihat.


"Emang Nala gak sama tante?" Tanya Milea mencoba untuk tidak terlihat gugup.


"Enggak. Dia dari tadi di kamar,"


"Gitu ya tan?"


"Niatnya pengen nyulik, eh malah keduluan orang lain," Celutuk Zaky tanpa dosa, membuat dua pasang bola mata mata mendelik tajam pada muka dingin itu.


"Apa?! Nala diculik?!" Bukan Kirana, tapi Wendi. Pria itu memaksa masuk, dan menutup pintu rapat agar orang orang tidak mendengarnya. Pandangannya kini beralih meminta penjelasan pada tiga orang pemuda berjiwa barbar yang malangnya justru atasan dan sahabat putrinya.


"Maaf om. Sebenarnya Haikal emang niatnya pengen nyulik Nala, tapi pas sampai di sini, Nalanya malah gak ada. Tapi sumpah! Haikal keduluan orang lain!" Jelas Haikal.


"Astaga bagaimana ini? Tamu sudah berdatangan, mempelai pria juga sudah datang. Apa yang akan kita katakan dengan tuan Cakra nanti?" Resah Kirana.


"Ughhh"


"Om/Sayang!" Semua orang terkejut melihat penyakit Wendi yang kumat, cepat cepat Haikal memapah pria paruh baya itu untuk berbaring di kasur.


"Minum dulu om," tak kalah sigap, Milea menuangkan segelas air putih dan memberikannya kepada Wendi.


"Terima kasih,"


"Sekarang gimana? Kita tidak tahu di mana Nala berada sekarang. Hiks putriku..." isak tangis Kirana semakin membuat suasana berubah menjadi kepanikan mendalam.


Haikal hanya bisa menghela nafas kasar. Tak menyangka, bahwa dia keduluan orang lain. Sedangkan Milea diam diam keluar menuju balkon untuk menelfon seseorang.


"Hallo?" Suara hentakan demi hentakan musik di seberang sana benar benar membuat Milea mempertajam pandangannya.


"Keluar dari tempat itu sekarang!" Titah Milea risih dengan bunyi suara musik dan orang orang yang ada di sana.


"Iya iya sebentar. Terjeda beberapa saat. "Ada apa?" Setelah mencari tempat yang tenang, pria di seberang sana mulai bertanya.


"Kamu bisa melacak keberadaan sahabatku Nala?" Tanya Milea penuh harap. Kali ini dia hanya bisa bergantung pada Ronald, sepupunya yang ahli dalam bidang retas meretas di layar komputer.


"Tergantung. Apa ada benda yang ia bawa yang dapat ku lacak? Tanpa ada benda, aku tetap tidak akan bisa melacaknya," jawab Ronald.


"Apa Nala membawa barang lain selain ponsel di tubuhnya?" Tanya Milea menatap satu persatu orang orang yang ada di dalam kamar.


Semuanya menggeleng tidak tahu dan membuat Milea terduduk di kursi meja rias sambil memijat keningnya. Dengan kening berkerut, Milea mencoba berfikir benda apa yang biasa ada di tubuh Nala saat dia ingin pergi.


"Raka,"


"Ha?"


"Yah Raka! Ronald, aku akan mengirimi foto Araka Ardinanta padamu. Tolong kamu lacak keberadaannya ada di mana. Aku ingin hari ini juga sudah ketemu, situasi saat ini sangat darurat!" Bukannya benda, justru nama Araka Ardinanta tiba tiba melintas di benaknya, membuat Milea yakin bahwa sahabatnya saat ini bersama Raka.


"Oke. Kasih aku waktu satu jam untuk menemukan keberadaannya," pinta Ronald. Milea mengangguk dan segera mengirim foto Raka pada sepupunya Ronald.


"Bagaimana?" Cecar Haikal semakin di landa kecemasan, apalagi mendengar nama Raka di sebut, membuat kecemasannya semakin bertambah.


"Ronald butuh waktu satu jam untuk bisa melacak keberadaan Raka," jawab Milea tak enak hati. Waktu satu jam bukanlah waktu sedikit, apalagi acara akan berlangsung 15 menit lagi.


"Kelamaan! Kalau begitu lebih baik aku mencari Nala sendiri!" Sarkas Haikal berjalan keluar menuju pintu.


Cklek


Tepat saat Haikal membuka pintu, pria itu di buat terpaku pada sosok orang yang berpengaruh di dunia bisnis. Pria yang biasa di panggil Tuan Cakra, pemilik perusahaan besar U-HalZ.


"Bisa anda bergeser? Anda menghalangi jalan saya," tuturnya penuh aura mematikan yang dapat siapa saja baca.


Pria bernama Cakra itu melirik Haikal penuh arti lalu tersenyum sinis dan segera bergeser, membiarkan pemuda itu berlalu pergi mencari cintanya yang dicuri.


Pandangan dingin Cakra kini beralih memandangi setiap sosok yang ada di sana, dan seketika berhenti pada sosok familiar seperti pernah ia lihat rupanya. Zaky Alexander.


"Tuan Cakra.... ughh..."


"Pelan pelan sayang..."


Fokus Cakra kini beralih pada calon besannya yang nampak terbaring sakit di atas tempat tidur. "Bisa tolong jelas 'kan, ada apa sebenarnya ini?" Tanya Cakra membuat Wendi dan Kirana mati kutu, sedang 'kan Milea sibuk telfonan dengan Ronald. Dan Zaky.... hahaa pria itu sibuk mengganggu Milea dengan menoel noel pipi chuby pengawalnya itu.