
Menghela nafas, Milea menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan sambil memejamkan mata. Hening, sunyi, dingin, itulah yang dia rasakan di dalam ruangan isolasi tersebut.
Klak
Pejaman mata Milea langsung terbuka dikala bunyi pintu terdengar dibuka. Dari arah pintu, Nala masuk perlahan menghampirinya. Hanya sekilas melirik, Milea kembali memejamkan mata tanpa peduli dengan kehadiran sahabatnya itu.
"Milea... terdiam sejenak. "A-apa benar, kamu yang---"
"Ya. Memang aku yang mendorongnya. Aku yang sudah membunuh Anna. Benci? Silahkan. Kamu berhak membenciku setelah semua yang terjadi," potong Milea tanpa membuka mata.
Nala menatap sendu Milea yang nampak amat berputus asa, namun jauh dari lubuk hatinya ada sebuah tanda tanya besar. Apa yang menyebabkan Milea membunuh Anna? Pastinya Milea memiliki alasan tertentu untuk membunuh Anna. Pikirkan saja, Milea yang senantiasa menjaga dan melindungi Anna, tiba tiba membunuhnya tanpa alasan? Sungguh tidak masuk akal bukan.
"Aku tidak tahu pasti benar atau tidak kamu yang sudah membunuh Anna. Tapi aku yakin, kamu tidak sejahat itu," tutur Nala lembut.
"Hah. Jangan terlalu yakin, bahkan detik inipun jika aku ingin, aku bisa mengirimmu untuk menemani Anna di alam kubur," kelopak mata indah itu terbuka dengan senyum sinis yang diam diam mengandung unsur kesedihan. "Hanya saja, aku tidak suka penyesalan." Bohong jika Nala tidak mendengarnya, meskipun itu samar.
"Sebaiknya kamu pergi. Aku sedang tidak ingin menerima tamu dari pihak lawan!" Usir Milea tanpa menatap Nala.
"Milea aku----"
"PERGI KU BILANG!!!" Bentak Milea mengejutkan Nala. Sadar dari terpaku, Nala menghela nafas lalu bangkit keluar dari ruangan tersebut.
Bugh
"Milea, aku percaya kamu bukan pelakunya." Lirih Nala berlalu pergi dari sana.
"Terima kasih karna sudah mempercayaiku Nala. Tunggu sebentar lagi, akan aku pastikan, kepercayaanmu tidak akan sia sia. Untuk saat ini aku hanya bisa menjauhimu untuk menjagamu agar tidak menjadi pelampiasan amarah Zaky," gumam Milea menerawang penuh rencana.
***
"Apa apaan ini?! Kamu bisa kerja atau tidak ha?! Makan gaji buta kamu?!! Buat ulang!!" Bentak Zaky.
"Ba-baik pak,"
Semua orang yang berada di ruang rapat dapat merasakan aura pemotongan gaji yang keluar dari tubuh Zaky. Mereka tau, beberapa minggu kedepan atasan mereka akan memiliki mood buruk, mengingat pengawalnya sendiri telah berkhianat dengan membunuh nona muda yang untuk rupanya saja tidak di ketahui.
"Kinerja yang sangat buruk! Sangat tidak memuaskan! Saya tidak mau tahu, jika bulan depan masih sama seperti ini. Tidak hanya gaji kalian yang saya potong, jabatan, bahkan saya bisa memecat kalian semua. Mengembuskan nafas kasar. "BUBAR!!" Semuanya langsung angkat kaki berdesakan keluar untuk menghirup udara segar.
"Rilex ky, lo dari tadi marah marah mulu." Ucap Haikal menyodorkan secangkir air putih. Untuk kesekian kalinya helaan nafas terdengar, Zaky menerima gelas tersebut dan meminumnya hingga tandas.
"Huft. Harun kemana?" Tanya Zaky melirik Haikal lemah.
Memutar bola mata malas, "nyari jodoh katanya." Jawab Haikal mengambil duduk di kursi samping Zaky.
"Ada ada aja dia," kekeh Zaky hambar.
Memandang Zaky penuh selidik, "lo masih belum bisa ngelupain dia ya?" Tebak Haikal tepat sasaran.
"Gue maklum kok kalo lo belum bisa ngelupain dia. Ya... secarakan, ini cinta pertama dan sayangnya, lo juga harus ngerasain jatuh dari cinta pertama. Menepuk bahu Zaky. "Tapi saran gue, lo lupain dia. Mungkin kalian emang gak ditakdirin buat bersama. Lupakanlah mulai sekarang, agar kedepannya kamu terbiasa tanpa dia," ujar Haikal.
Menarik kembali tangannya, Haikal menyandarkan tubuh sambil tersenyum menatap lurus kedepan. "Jikapun mungkin Milea yang menang di pengadilan nanti, gue yakin banget. Dia gak akan kembali," lanjutnya.
Drrrtt drrtt drrtt
"Panggilan dari ibu negara, gue pamit dulu ya. Dan resapi kata kata gue tadi. Lupain dia sebelum lo yang dilupain. Buat diri lo terbiasa tanpa dia, sebelum alam yang memaksa lo untuk terbiasa tanpa dia," ucap Haikal lalu pergi dari ruangan rapat, meninggalkan Zaky yang termenung sendiri di kursi kebesarannya.
"Haruskah?"