
Dalam kesendirian, Milea termenung sembari memikirkan sesuatu yang menjadi pertanyaan utama di dalam otaknya. Tentang sebuah rekaman sebuah kecelakaan yang menjadikan beberapa korban di dalamnya.
Brak brak brak
Tok tok
Cklek
"Maaf mengganggu waktunya nona," ucap Ben menyadarkan Milea dari lamunannya. Dengan sedikit salah tingkah, Milea memijat keningnya sambil melirik Ben.
"Ada apa?" Tanyanya sedikit kesal.
"Hanya ingin mengingatkan, untuk dua jam kedepan kita akan mengunjungi perusahaan AG group untuk membahas perihal proyek kerja sama yang akan segera dibangun." Jelas Ben.
AG group? "Bukankah itu perusahaan papa?" Tanya Milea menyadari perusahaan yang akan ia kunjungi tak lain adalah perusahaan papanya sendiri.
"Betul nona. Perusahaan kita dengan perusahaan beliau telah terjalin kerja sama sejak direktur terdahulu menduduki posisinya di sini," jawab Ben masih dalam gaya formalnya.
"Kita akan bertemu dengan papa atau kakak?" Mengingat yang menjalankan bisnis tidak hanya Rahardian tapi juga Satria, Milea harus mengetahuinya lebih dahulu.
"Tuan Satria,"
"Baiklah. Kamu siapkan berkas yang akan kita bawa, 15 menit lagi kita berangkat." Titah Milea. Sambil membungkuk hormat, Ben berjalan keluar meninggalkan Milea yang mulai sibuk menyiapkan diri.
Tap tap tap
Tok tok tok
"Tuan, direktur dari perusahaan Leon RV sudah datang," Milea melirik sekeliling sambil menunggu pintu dibukakan oleh asisten Satria, kakak tirinya.
"Suruh masuk!" Jawab Satria dari dalam.
Cklek
"Silahkan nona, tuan," Keano segera membukakan pintu sambil membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai rasa hormat terhadap klain majikannya.
Tap
"Selamat datang, silahkan duduk," masih dalam keadaan duduk di singgasananya, Satria mempersilahkan Milea untuk duduk di depannya. Melihat itu mampu membuat Milea tersenyum sinis sambil mengangkat alisnya sebelah.
"Kalian berdua bisa keluar? Aku ada kepentingan pribadi dengan Ceo AG grup ini," pinta Milea tanpa mengindahkan pandangan dari kakaknya, begitupun Satria.
"Tapi---"
"Turuti saja. Kalian berdua bisa membahas proyek kerja samanya di tempat lain. Aku sedang ingin meladeni adik ku," potong Satria mengisyaratkan dari matanya untuk Keano maupun Ben untuk tidak mengganggu mereka.
"Huft... kalau begitu kami permisi dulu."
Klak
"Aku tidak ingin basa basi lagi. Aku ingin kakak mengaku padaku, tentang apa yang telah kakak perbuat di masa lalu. Baik padaku, maupun pada ANNA," ucap Milea sengaja menekan nama Anna.
"Maksudnya? Kakak tidak paham Lea," jawab Satria benar benar tak mengerti maksud Milea.
"Kakak mau tahu apa alasan Lea benci sama kakak?" Tanya Milea, sedang Satria memilih diam menunggu jawaban dari pertanyaannya selama ini. Tentang apa kesalahan yang ia perbuat sehingga adik kecilnya begitu membenci dirinya.
Milea menjeda sesaat menguatkan dirinya, "karena kakak mempertontonkan pada Lea, apa yang seharusnya tidak Lea liat." Menghela nafas, Milea bangun mempersingkat jaraknya dengan Satria.
"Malam yang menjadi trauma buat Lea, di mana kakak. Menghancurkan masa depan Anna di depan mata Lea!!!" Lega rasanya ketika Milea ngutarakan keluhan masa lalunya dulu, meski air mata itu tidak dapat ditahan untuk tidak lolos.
"Kakak memperkosa Anna!! Kakak melecehkannya!! Kakak menjadi pria ******** di hadapan adik kakak sendiri!!" Teriak Milea dengan nafas memburu dan air mata yang terus menerus keluar.
Tes
Satu tetes air mata keluar dari Satria. Dia tahu telah salah melecehkan Anna, tapi yang dia tidak tahu adalah Milea ada di sana menyaksikannya. Pria macam apa dirinya telah mempertontonkan hal seperti itu pada adiknya sendiri?
"Hiks... kakak buat rasa kagum Lea pada kakak hilang!! Hiks hiks karena kakak, hiks Lea harus kehilangan Anna!! Semua karena kakak...!!! Aku benci kakak!!!" Detik itu juga Milea ambruk menangisi semua yang terjadi dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
Melihat itu Satria berjalan menghampiri Milea dengan perasaan yang tidak dapat diartikan. Semuanya terlalu tiba tiba baginya, tidak menyangka kejadian yang berlalu di masa lalu harus terungkit lagi di masa sekarang.
"Mi-Milea... ka-kakak. Kakak minta maaf, kakak waktu itu. Waktu itu kakak tak sadar. Teman teman kakak memberikan obat pada kakak, sehingga kakak melakukannya. Kakak mohon, maafin kakak," Satria mendekap tubuh Milea dalam keadaan tangis yang juga tidak dapat ia tahan.
"Kakak jahat. Hiks hiks kakak jahat... aaaa hiks hiks..." seolah pasrah, Satria membiarkan Milea memukuli dada bidangnya tanpa melepaskan pelukan itu.
"Kakak mohon, maafin kakak," menjeda ucapannya, Satria menghapus air matanya lalu menarik tubuh Milea untuk melihat wajah cantiknya. "Sekarang kamu bilang, gimana caranya biar kamu bisa maafin kakak hm?" Tanya Satria mengusap pipi Milea yang berlinang air mata.
"Penjara."
"Ha?"
Milea mengangkat pandangannya penuh keyakinan, "aku ingin kakak pergi kepenjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kakak pada Anna!!" Lanjut Milea segera bangun sambil menghapus sisa air di pipinya.
"Kakak tidak bisa. Bagaimana dengan istri dan anak kakak jika kakak pergi ke penjara?" Tolak Satria mengingat istri dan anaknya yang masih balita.
"Istri dan anak kakak, keluarga Arceleon yang menjamin kehidupannya!! Yang perlu kakak lakukan hanya menyerahkan diri!" Ucap Milea tanpa menatap Satria yang masih dalam keadaan bimbangnya.
"Jika kakak menyayangiku." Singkat, tapi Satria paham betul makna yang terkandung di dalamnya. Dia tengah dihadapkan dengan dua pilihan yang tidak bisa ia pilih salah satunya.
***
Assalamu'alaikum semuanya...
Maaf author gak update udah dari lama banget. Tolong dimaklum ya, Author lagi banyak tugas dari sekolah, sampe sampe gak sempetin diri buat nulis cerita. Selain itu otak author juga lagi blank, kebanyakan mikirin soal yang sejibun.
Sekali lagi maaf ya...