Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Kunci?!


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!


...****************...


"Pak hari ini bapak periksa gedung" ujar seorang pria yang juga petugas keamanan di sana, namun usianya masih di angka 35 an


"Tapi aku tidak tugas siang ini" jawabnya


"Tolonglah aku, istriku melahirkan jadi aku harus ke rumah sakit" ujarnya, karena kasian, ia meng-iyakan dan mengambil shif dari pria tadi


...****************...



Serin meraih ponselnya ketika mendengar, dering ponselnya berbunyi


📞In Call-


"Apa?"


"bisa kau periksa siapa pemilik gedung di Jl. xxxx .. no.17"


"memangnya kenapa?"


"Gedungnya roboh, pihak polisi dan tim medis baru saja berdatangan"


"Roboh! bagaimana bisa"


"Gedungnya ada di bawah tanggung jawab NVC, alias milik Willy" sahut Leo


"Mereka lagi?"


"Hmm. bagaimana keadaannya sekarang?"


"Kami masih belum bisa mengidentifikasi keseluruhan korban, tapi menurut data, ada sekitar 50 keluarga yang tinggal di apartemen ini"


"Baiklah, kau fokus saja pada pekerjaanmu... jika butuh sesuatu katakan saja padaku"


"Oke"


📞End Call-


Serin meletakkan kembali ponselnya, dimana ia juga sedang menunggu kabar, dari Zeon dan Geralt yang sedang memeriksa seluruh kontainer di pelabuhan


"Bagaimana?" tanya Serin lewat earphone yang tersambung


"Kami sedang mengecek, percayalah kita pasti bisa menangkap Arka" sahut Geralt, sambil berlari menuju kontainer berikutnya, untuk di periksa


"Baiklah" sahut Serin, lalu menyuruh Ardan untuk menayangkan berita terkini tentang Apartemen


Sedangkan di sisi lain, ditengah pidato Arka yang begitu hitmat, ada para korban yang barus berjuang untuk bisa di keluarkan dari reruntuhan bangunan 5 lantai


...****************...


Pelabuhan. pukul 13.56


"Bau apa ini?!" ucap Geralt, yang langsung menutup hidungnya, begitu juga dengan Zeon, Jordan, Aiden dan Doni


"Aku tidak tahan" ujar Jordan yang langsung keluar dari sana, diikuti 2 temannya dan petugas pelabuhan


Menyisakan Zeon dan Geralt yang menelusuri kontainer yang begitu kotor, dan beberapa bercak darah


"Serin! seperti-nya kami menemukan lokasinya, kami berada di kontainer no 31, zona E, tolong kirim tim forensik ke sini" ujar Geralt


"Selesai dari sini kita harus pergi menemui Arka, untuk mencari tahu apa ada sesuatu yang lain?" ~ Zeon


"Oke. kita bertemu di Hotel Hilton, Arka sekarang sedang menghadiri acara penting" ~ Serin


Zeon pergi menuju tempat yang di katakan Serin, sedangkan Geralt dan yang lain masih berada di sana menunggu tim forensik datang


"Mati sekarang kau baj*ngan" umpat Serin seraya masuk kedalam mobilnya


...****************...


"Dengan ini, kami mengesahkan upacara penanda tanganan kontrak, untuk melanjutkan pembangunan proyek Golden City yang sempat terhenti, dan ini akan menjadi inti tombak pengembangan Wilayah Distrik A" ujar sekertaris Wali kota


Seakan tuli, atau buta, mereka sama sekali tidak memikirkan tentang perbuatan Willy yang sudah nyata telah di sidang, tapi masih banyak pihak yang berpihak kepada mereka, tanpa memikirkan berapa banyak nyawa yang sudah melayang, akan tujuan perealisasian proyek Golden City, mungkin bagi mereka! para pejabat dan orang penting yang menghadiri acara itu, hanya keuntungan besar yang mereka lihat lewat Proyek pembangunan Golden City


"Aku jamin, jika Golden City telah rampung, maka akan banyak sekali warga asing yang akan tinggal disini, dan itu bisa membuat perekonomian negara semakin maju" tutur Arka, dengan bangganya di hadapan para tamu dan wartawan


"......"


Sedangkan Willy, ia juga berada di hotel yang sama, hanya saja ia berada di sebuah kamar hotel sambil melihat dengan bangga, anaknya yang sedang berdiri di tempatnya


"Tuan Gedung di Jl. xxxx .. no.17 Roboh" ujar Roy yang berdiri di dekat sofa yang ia duduki


"Apa? bagaimana bisa kau membiarkan hal itu terjadi" marahnya


"Separah apa?" tanyanya lagi


"Sedikitnya ada 10 korban yang dilaporkan tewas" jawab Roy


"Kenapa cuma masalah robohnya gedung murah itu saja, sampai dibesarkan segala" ucap Willy, tanpa rasa bersalah


"Kecelakaan itu bisa merusak hari indah kita, cepat urus itu" tambahnya, menyuruh sang bawahan


"......"


Sedangkan di tempat acara, Serin dan Zeon datang ketempat dimana acara itu di gelar


"Aku polisi" ujar Zeon memperlihatkan identitasnya, ketika keamanan mau menahan mereka


"Direktur Arka Nasution!" panggil Serin, berhasil membuat atensi semua orang di sana, beralih pada gadis cantik yang berdiri di tempatnya


"Ada yang ingin kami tanyakan padamu secara pribadi" tambahnya, tanpa menurunkan tatapannya


"Kalau tidak keberatan, kita bicara sebentar" ujar Serin


Bukannya takut / apapun, tapi pria itu malah tersenyum ketika melihat kedatangan Serin


"Permisi!" ujarnya, yang kala itu sedang bicara dengan seseorang


Dengan senyum yang tidak ia turunkan, Arka melangkah menghampiri Serin


"Dia tamuku! minggirlah" ujarnya pada tim keamanan yang mau menghalangi Serin


"Nona Serin! aku tidak ingat pernah mengundangmu ke sini?!" ucap Arka santai


"Bukankah tidak sopan, datang ke sini tanpa di undang oleh orang yang punya pesta?" tambahnya lagi, menatap Serin


"Tidak usah banyak bicara kau... kenapa? apa kau bermaksud menghancurkan kepala semua orang dengan mainanmu itu, jika semuanya tidak berjalan sesuai rencanamu?" ucap Serin, tanpa rasa takut ia menatap nanar mata Arka, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan


"Kenapa kita tidak bicara diluar saja?!" tawar Arka


"Baiklah" jawab Serin


Lalu mereka pergi dari sana menuju sebuah tempat, dan tentunya Zeon juga ikut


"Jadi dimana itu? Dimana mainan yang dibelikan Ayahmu? apa itu di rumah / disana (kontainer)... kau menyembunyikan-nya di sana?!" ucap Serin, berdiri di hadapan Arka


"Apa yang kau bicarakan?" jawab Arka


"Jangan pura-pura tidak tahu, ingat apa yang ku katakan kemarin, kubilang aku akan mengumpulkan bukti bagaimanapun caranya, dan membuatmu mati secara perlahan di tempat pengasingan" ujar Serin, seraya melipat kedua tangannya ke dada


"Nona Serin! aku suka semangat besarmu ini, tapi sepertinya kau terlalu banyak ikut campur, jika kau tidak terlalu ikut campur maka hidupmu akan lebih mudah" balas Arka


"Toh, kalau kau begini, tidak ada orang yang akan memujimu, aku ingin bermain denganmu hari ini tapi aku sibuk, sampai bertemu lagi" tambahnya, lalu melangkah pergi


"Yak!" panggil Serin, tersenyum tipis menghentikan langkah Arka, lalu mengguncang sekilas sebuah benda yang ada di tangannya, dimana terdengar suara seperti besi dan kaca bersentuhan


"Kau pikir apa? kunci kontainer... kau tahu apa artinya, kan?" ucap Serin bersmirk


"Tamatlah riwayatmu... ku ulangi sekali lagi, Tamatlah sudah riwayatmu" ucap Serin pelan, lalu pergi dari sana di ikuti Zeon


Sedangkan Arka, pria itu terdiam tidak bersuara dan masih berada di tempatnya, entah apa yang ada di pikiran-nya sekarang


(kenapa Serin mengatakan 'dimana mainan yang di berikan Ayahmu?', kalian ingat, kan di episode sebelumnya author pernah nyebut, jika Arka adalah orang yang haus akan darah, dan Willy menutupi seluruh kejahatan anaknya, dan itulah yang dilakukan Willy, dia mendapatkan para tunawisma atau orang yang sebatangkara dan itu di gunakan untuk memuaskan hasrat membunuh anaknya, hanya saja waktu itu ia sempat tidak tahu jika Arka membunuh anak David)


...****************...


Pukul 15.16


Luke yang masih berada di tempat evakuasi gedung roboh, mencium sesuatu yang tidak asing


"Berapa banyak lagi, perkiraan orang yang belum berhasil dikeluarkan?" tanya Luke pada rekan polisinya


"menurut perhitungan sisa 1 orang" jawab rekan Luke


Luke menggaruk keningnya yang tidak gatal, lalu meraih ponselnya untuk menelpon seseorang


📞In Call-


"Leo, apa Serin ada di gudang?"


"Tidak ada, mereka belum kembali... kenapa?"


"Lalu,,, apa kau bisa mengakses alat pendengaran Serin?!"


"Tidak bisa! alat itu sudah di pindah ke brangkas baru, dan itu hanya bisa di akses dengan retina mata Serin"


"Bagaimana ini? kurasa aku memerlukan bantuannya, Gas dari apartemen bocor, jika tidak segera menemukan sumbernya kami tidak tahu kapan itu akan meledak"


"kenapa?" tanya Serin yang baru datang bersama Zeon


"Gas di Gedung bocor, Luke minta bantuanmu untuk mencari sumber bocor-nya dan memperkirakan kapan gasnya meledak, karena masih ada 1 orang yang terjebak di reruntuhan" jelas Leo


"Serin sudah datang! kau bisa bicara dengannya"


"Oke"


Serin langsung mengambil telpon Leo, tapi sebelum itu ia sempat mengambil alatnya lebih dulu


"Jelaskan padaku situasinya?"


"Sesuai dengan cetak biru, saluran Gas ada di besment"


"Kapan kau mencium bau gasnya?"


"Sekitar 4 menit yang lalu, dan masih tercium sampai sekarang"


"Sekarang mendekatlah kesumber bau, agar aku bisa mendengar suara bocor-nya"


"Gasnya bocor terlalu banyak, cetusan api sedikit saja bisa menimbulkan ledakan,,, pakai earphonemu agar kita mudah berkomunikasi"


"Oke"


Luke yang kala itu tidak sempat terpikir ke sana, langsung mencari earphone yang selalu ia bawa


"Biarkan saja telponnya masih terhubung"


"Oke"


"Waktu kalian hanya sekitar 5 menit, mendengar dari suara kebocoran gas, situasi kalian sedang darurat, jauhkan seluruh benda yang akan memicu kebakaran dan kau fokus mencari korban, aku akan membantumu" ~ Serin


Dengan dibantu Serin, Luke mengarahkan rekannya untuk menjauhkan seluruh benda/ apapun yang dapat memicu kebakaran


"Katakan pada korban, jika ada yang mendengar suaramu, maka ketuk atau buat bunyi, sekecil apapun bunyinya, aku akan mencoba menemukan titiknya" ~ Serin


"Jika kalian mendengar suaraku, tolong buatlah bunyi / ketuk sesuatu, sekecil apapun kami akan berusaha menemukan kalian" teriak Luke


Serin duduk sambil mendengarkan sesuatu yang dicarinya, walaupun ada banyak suara yang bercampur disana


"Lakukan dengan baik Serin! ini tergantung denganmu" gumamnya, dengan mata yang tertutup fokus mencari sumber suara


"Sebelah kanan Luke" ~ Serin


"Stop!!!" ~ Serin


"Dekatkan ponselmu ke reruntuhan" ~ Serin


Walau kecil, tapi Serin berhasil mendengar suara ketukan beserta lirih kesakitan


Alat yang Serin gunakan, buhan alat pendengaran untuk tuna rungu, benda kecil yang di rancang sedemikian rupa dan sedetail itu, bahkan tidak di perjual belikan secara umum, Serin juga sulit untuk mendapatkan-nya, makanya ia menyimpannya dengan keamanan ketat


"Sepertinya mustahil untuk menggunakan dongkrak hidrolik untuk masuk kedalam" ujar rekan Luke, yang juga membantunya


Dengan di bantu beberapa rekannya, mereka mencoba mengangkat reruntuhan


"Sepertinya tangki gasnya semakin bocor" ~ Serin


"Kami akan masuk sekarang" ucap Luke, setelah mereka berhasil menyingkirkan beton-nya


"mendengar dari deru napas, korban sedang dalam kondisi kritis, kemungkinan dia akan kesusahan bernapas karena Shock, cepatlah!" ~ Serin


"Kalian harus bergegas, kemungkinan besar Gasnya akan meledak dalam waktu kurang lebih 3 menit" ~ Serin


Sedangkan Luke, ia dan rekannya terus berusaha untuk mengangkat beton berukuran cukup besar, yang menimpa kaki korban


"1 . 2 . 3" mereka menghitung bersamaan sambil mengangkat beton-nya


Berselang 1 menit mereka berhasil menyingkirkan betonnya, dengan sekuat tenaga


"Pak! bertahanlah, sebentar lagi kita akan keluar dari sini" ucap Luke, dengan dibantu rekannya, mereka mengangkat korban untuk di bawa keluar


"BUKA JALANNYA!!!" Teriak Luke


Dengan perlahan dan berhati-hati mereka mengangkat korban, tapi disisi lain mereka juga harus cepat keluar, karena kemungkinan Gasnya akan meledak sebentar lagi


Selisih detik mereka berhasil menjauh dari reruntuhan, dan seperti apa yang di perkirakan, Gas-nya meledak saat itu juga


Seketika Luke dan yang lain langsung menunduk, menghindari percikan dari kerikil beton yang beterbangan karena ledakan


Semuanya menghela napas lega, ketika mereka berhasil menyelamatkan korban-nya


"Kau baik-baik saja?" ~ Serin


"Oh. aku baik-baik saja, Terimakasih" ucap Luke, lalu mematikan sambungan telpon beserta earphone-nya, karena ia harus fokus melakukan evakuasi


Mendengar semuanya baik-baik saja, membuat Serin bisa menghela napas lega


Ia menyimpan kembali alat-nya di dalam brangkas, lalu duduk di sofa bersama Geralt dan ekornya yang baru saja datang


"Bagaimana?" itulah pertanyaan yang pertama kali Serin lontarkan


"Itu sudah cukup lama, tapi itu benar darah, mereka juga menemukan kalau ada beberapa yang masih segar" jelas Geralt


"Apa DNA Arka ditemukan di sana?" tanyanya lagi


"Itu masih di periksa oleh Tim forensik" jawabnya dan hanya mendapat anggukan dari Serin


"Lalu, bukti penangguhan Willy?" ~ Serin


"Gery sedang mengecek itu, menurutnya kemungkinan malam ini mereka akan menjemput Willy untuk kembali di tahan dalam sel" jelasnya


Serin menghela panjang napasnya, lalu menyadarkan tubuhnya pada punggung sofa sekedar istirahat sebentar


...****************...


"Bagaimana tim medis?" tanya Willy, pada Roy


Dimana mereka sekarang sedang pergi dari hotel, dengan di iringi banyak anak buahnya


"Mereka baru saja berangkat, tim kepolisian sudah lebih dulu sampai" jawabnya


"Bagaimana bisa! bisa-bisa citra kita akan semakin rusak,,, pokoknya bereskan semuanya, kalau perlu tutup mulut mereka dengan uang, dan suruh para media untuk tutup mulut, jangan biarkan berita-nya berada lama dalam penyiaran" titahnya, lalu ia dan anaknya masuk kedalam mobil untuk segera pergi dari sana


...****************...



Serin mendudukkan dirinya di sofa, seraya meletakkan tasnya di atas meja


"Sedikit lagi Serin! bertahanlah, kau pasti bisa berada di puncak" gumamnya, seraya mengusap kasar wajahnya


Baru saja ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar, ketukan pintu membuatnya terpaksa bangkit dari duduknya


"Kenapa bi?" tanya Serin, ketika melihat Sella ada di depan pintu kamarnya


"T-Tuan muda non!" gugupnya


"Reyhan kenapa?" tanya Serin bingung


"Tuan muda jatuh di halaman belakang, sekarang dia ada di kamarnya.. tapi! "Tapi apa?!" potong Serin


"Kepalanya terbentur semen pembatas tanaman" jelas Sella


"Bagaimana bisa!" sahut Serin yang langsung pergi ke kamar putranya



"Kenapa bisa terjadi, bagaimana kau menjaga putraku sampai begini!" tegur Serin, yang langsung melihat keadaan putranya


"Bi ambil kotak obat" suruhnya pada Sella


"M-Maf Nona, saya lalai, tadi saya tidak melihat ada selang dan membuat Tuan muda tersandung" jelasnya


"Diam!"


Bahkan Sella yang tidak biasanya melihat Serin marah, langsung ikut diam seraya memberikan kotak obatnya pada sang majikan


Serin sudah lelah, sekarang malah di tambah dengan ke khawatiran akan putranya


"Aku baik-baik saja bu! ini salahku, kak Lily tidak salah" lirihnya menunduk


"Hmm. biar ibu obati dulu lukanya, tahanlah" jawab Serin lembut


Walaupun tidak bersuara, tapi Serin sadar jika pria kecil itu sedang merintih kesakitan


"Selesai" gumamnya, lalu mengangkat Reyhan kedalam gendongannya


"Lain kali berhati-hatilah, jika ini terjadi lagi, maka kau akan mendapatkan hal yang sama" ucap Serin tenang, namun punya sejuta makna, karena tidak mungkin ia membentak Lily di hadapan putranya


"Lain kali berhati-hatilah, Nona tidak bisa meninggikan suaranya seperti itu sebelumnya" ujar bibi Sella, memperingati pengasuh Reyhan


Wanita itu hanya mengangguk pelan sambil memperhatikan kepergian Sella dari sana, sedangkan Serin, ia sudah lebih dulu pergi, membawa Reyhan ke kamar-nya


...****************...


.


.


.


Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊


.


.


.