Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Bahagia/Duka


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


Sampai di rumah sakit, ketiganya langsung pergi ke dokter kandungan, yang dulu pernah mereka temui saat Serin kecelakaan


"......"


"Siang dok" sapa Serin ramah, seraya masuk kedalam ruangan


"Siang" balas Dokter tidak kalah ramah, serta mempersilahkan keduanya untuk duduk


Serin menoleh ke arah Glen sebentar, lalu kembali kearah dokter


"Apa kalian ingin konsultasi?" tanya dokter wanita, yang memiliki nama lengkap Seyla Stallone


"Begini dok! istri saya ingin mengecek apakah dia hamil atau tidak" jawab Glen lebih dulu, sebelum Serin bicara


Dokter Sera hanya mengangguk pelan, lalu mengajak Serin untuk mengecek-nya


Entah kenapa pria itu tiba-tiba gugup, saat istrinya akan melakukan pemeriksaan, ia benar-benar berharap istrinya hamil


Disisi lain, Serin masih belum yakin apakah dia hamil atau tidak, karena itu ia takut jika ia tidak hamil, maka itu akan membuat suaminya kecewa


Dokter Sera memulai pemeriksaannya menggunakan alat USG


Serin sesekali melihat kearah Glen dan Reyhan yang berdiri di sampingnya


Sera menarik senyumnya ketika melihat layar, dimana memperlihatkan sesuatu di sana


"Kau memang mengandung, dan ini memasuki minggu ke empat" jelas Sera, berhasil membuat senyum tertarik di wajah keduanya, kecuali Reyhan yang tidak terlalu paham dengan pembicaraan itu


Glen langsung meraih dan menggenggam tangan Serin, lalu membantunya untuk turun dari ranjang pemeriksaan


"......"


"Karena sebelumnya Serin sudah pernah keguguran, saya akan memberikannya obat penguat kandungan dan konsumsi makanan yang bergizi agar membuat janinnya sehat" jelasnya, lalu memberikan secarik kertas resep dan di sambut oleh Serin


"Sejauh ini kondisi janinnya baik-baik saja, dan silahkan kembali 2 minggu lagi untuk memantau perkembangannya" tambah Seyla dan di angguki paham oleh keduanya


Mereka keluar dari ruangan Sera untuk pergi menebus obat yang tadi telah di resep kan


Sambil menggendong Reyhan, Glen sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari sang istri


"......"


Selesai menebus obat, mereka keluar dari rumah sakit untuk pulang


Disisi lain, tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan keduanya, dari cafe yang ada di dekat rumah sakit


...****************...



"Terimakasih sayang! terimakasih banyak, aku menyayangimu" ucap Glen tanpa melepaskan pelukannya


"Hmm..." Dehamnya, sambil menepuk pelan punggung suaminya


"Aku akan menjaga kalian dengan baik" ujarnya, seraya melepaskan pelukannya


"Ah. aku melupakan sesuatu" gumam Glen "Apa?" sahut Serin


"kuliahmu" sahutnya, lalu merogoh ponselnya yang ada di saku celana


"Mau menelpon siapa?" tanyanya, menghentikan Glen yang ingin menelpon seseorang


"Vina!" sahutnya


"Tidak perlu, aku bisa mengatasi hal itu" jawab Serin


"dengan apa?" tanya Glen mengerutkan dahinya bingung


"Rektor memberiku hadiah, karena telah mengangkat nama kampus semakin go internasional setelah kasus Arka kemarin, aku akan meminta hadiah itu sekarang" jawab Serin dan hanya di angguki paham oleh Glen


"Apa kamu tidak keberatan jika kuliahmu terhambat!" tanya Glen seraya mengalungkan tangannya ke pinggang Serin, sambil menariknya agar jarak mereka semakin dekat, dibalas dengan Serin yang mengalungkan tangan di leher suaminya


"aku masih bisa ke kampus sebelum perutku besar, dan ini anak pertamaku jadi aku ingin memberikan yang terbaik" sahut Serin seraya menatap perutnya yang masih rata, lalu kembali menatap nanar mata suaminya


"Terimakasih sayang" ucapnya, seraya mengec*p lembut kening istrinya, dan beralih memeluknya


Hal yang cukup lama ia tunggu akhirnya datang hari ini, rasanya pria itu ingin berteriak sekeras mungkin dan mengatakan jika ia akan menjadi seorang Ayah


...****************...


📞"Dokter kurasa Nyonya Marisa mengalami koma, dengan indikasi pupil membesar maksimal, tak bisa bernapas spontan dan tanpa respon motorik, tekanan darah turun ke 80 per 60"


📞"Lekas beri dia dopamin, aku akan segera kesana" ~ Dokter


Lantas dokter muda yang merupakan dokter residen itu, langsung melakukan apa yang di perintahkan oleh dokter utama


"Apa terjadi?!" tanya David, yang baru saja kembali, setelah tadi sempat keluar sebentar


Tapi belum sampai dokter muda itu menjawab, dokter utama sudah datang untuk memeriksa keadaan Marisa


"......"


"Bagaimana keadaan istri saya dok??" tanya David ketika Dokter selesai melakukan pemeriksaan, David memang dokter, tapi ia bukan spesialis neurologi


Dokter menghela pelan napasnya, "Mata Nyonya Marisa sudah tidak bereaksi terhadap cahaya, sama sekali tidak bergerak, dan tidak bisa bernapas secara spontan, menurut perkiraan kami pasien mengalami mati otak... kami sudah memberi norepinefrin tapi tekanan darah pasien turun hingga kondisinya menurun drastis... dan-- "Dan apa dok!" potong David


Dokter menatap pasiennya dengan tatapan sendu, lalu beralih pada David yang terlihat begitu cemas


"Kemungkinan pasien tidak bisa bertahan hari ini" sambungnya dengan nada sendu


Sebuah paper bag jatuh begitu saja, hingga buah yang ada di dalamnya meng-gelinding di lantai


Tubuhnya seketika lemas dan hampir jatuh, tapi sepasang tangan kekar berhasil menahannya


"saya rasa kalian harus menyiapkan diri" ucap dokter seraya sedikit membungkuk, lalu keluar dari ruangan tersebut diikuti bawahannya


Seketika itu juga, Serin langsung menghampiri banker ibunnya


Air mata yang sedari tadi di tahannya, kini jatuh tak terbendung membasahi pipinya


Baru saja ia ingin mengatakan kabar bahagia pada ibunya, berharap sang ibu bangun tapi harapannya hancur, ketika mendengar penjelasan dokter


Bukan hanya Serin tapi Glen dan David juga tidak bisa menahan air mata mereka


Wanita yang dinikahinya selama lebih 28 tahun, kini divonis mati otak tanpa bisa bicara untuk terakhir kali, setelah dirumah sakit sebulan yang lalu


"Mah! mamah hanya tidur kan, mamah hanya marah padaku karena aku tidak memberikanmu cucu kan, sekarang aku hamil mah, sebentar lagi kau akan punya cucu dari rahimku, jadi lekaslah bangun jangan biarkan anakku tidak bisa melihat neneknya, aku mohon mah, Reyhan juga tidak ingin neneknya pergi" ucapnya memeluk sang ibu, dengan air mata yang terus mengalir


"Sayang bangunlah, apa kau rela meninggalkanku sendiri di rumah besar itu, bagaimana aku bisa mengurus semuanya jika kau pergi" lirih David menggenggam kuat tangan istrinya


"Setidaknya bicaralah denganku, bicaralah sekali saja denganku!!! aku merindukanmu!" lirih Serin tanpa melepaskan pelukannya, bahkan air matanya mengalir semakin deras


Hanya suara tangisan yang terdengar diruangan itu, bahkan Glen tidak bisa bicara, ingatannya tentang sang ibu kembali dalam ingatannya membuat air mata jatuh dalam keheningannya


Wanita itu menangis sejadi-jadinya, raungan demi raungan terdengar mengisi ruang VIP, alat medis yang tadinya masih membentuk grafik, kini perlahan menghilang berganti dengan garis lurus


Deru nafasnya serta detak jantungnya berhenti, seluruh alat medis yang di pasang di tubuhnya sudah tidak berguna lagi


Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya atas kehadiran nyawa di dalam rahimnya, diterpa oleh kepergian orang terkasihnya, wanita yang melahirkan dan membesarkannya sampai sebesar ini


"Tidak! ini tidak benar, kan pah... Tidak mungkin, Mah... bangun Mah, jangan tinggalkan Serin Mah, jangan pergi..." ucapnya tidak terima, seketika tangis nya kembali pecah dengan wajah yang mulai memucat


David membawa putrinya kedalam pelukannya, kini hanya tersisa ia dan Serin, istri dan anak pertamanya telah pergi


"Tidak pah! Tidak" lirihnya lemah lunglai, dengan air mata yang tidak berhenti mengalir pandangan yang mulai buram, hingga membuatnya kehilangan kesadaran dalam pelukan sang Ayah


"Serin!" seru David, ketika merasa tubuh Serin tidak bisa menopang lagi akan tubuhnya sendiri


Glen langsung mengambil alih istrinya untuk diperiksa oleh dokter, mengingat ia sedang hamil ditambah suasana yang tidak mendukung, ia takut terjadi sesuatu pada anak dan istrinya


David duduk sambil menggenggam erat tangan Marisa tanpa bisa berucap lagi, sudah lama ia tidak bicara pada istrinya.. wanita yang sudah hidup bersamanya hampir 30 tahun lamanya kini telah pergi lebih dulu meninggalkannya


"......"


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Glen khawatir


"pasien sedang tertekan sekarang, saya harap ini tidak berkelanjutan, jika ini lanjut ketahap depresi maka akan membahayakan bagi bayi serta ibunya" jelas dokter, dan hanya di angguki oleh Glen yang menatap sendu istrinya


Melihat keadaan Serin membuat Glen mengusap kasar wajahnya


"Baru saja kami ingin berbahagia, tapi nyatanya semuanya telah hancur, apa kebahagiaan tidak akan berpihak pada kita" gumamnya, mengelus lembut kepala istrinya


"......"


Sementara Serin diruang rawat, Glen kembali keruangan Marisa untuk menemani mertuanya


"Glen harap papah bisa menerimanya" ucap Glen sopan "Iya Glen, aku harap juga begitu" sahutnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari istrinya yang sedang dilepaskan alat medisnya


"Sebelumnya saya mohon maaf jika ini terdengar lancang! Tapi Nyonya Marisa telah terdaftar dalam anggota Transplantasi organ" jelasnya, sukses membuat David dan Glen mantap satu sama lain


"Ini surat yang telah ditandatangani Nyonya Marisa pada tahun 2018" ucapnya seraya memberikan berkas, yang memang ditandatangani Marisa tanpa sepengetahuan siapapun selain dirinya


"Bisakah kalian menunggu, kami perlu membicarakan masalah ini" sahut David


"Tentu, kalian bisa membicarakannya terlebih dahulu,,, kami akan menunggu keputusan kalian" jawab Dokter sopan, lalu keluar dari ruangan tersebut


Sekali lagi David menatap istrinya tidak percaya atas keputusannya, untuk menjadi pendonor mati otak


"Bagaimana keadaan Serin" tanya David


"Dia masih tidak sadar pah" jawabnya dan hanya di angguki oleh David


Tidak berselang lama, datang Mario beserta istri dan anaknya


Ia tidak bicara melainkan hanya menepuk pelan pundak kakaknya, untuk memberikan dukungan agar tetap kuat


Setelah Mario, bahkan kerabat dari keluarga NIX juga datang dari kota yang berbeda


...****************...


Seorang pria kini tengah duduk di kursi kerjanya, sambil tersenyum sumringah ketika mendapat pesan dari seseorang


"Baru saja bahagia, tapi sudah di timpa oleh kesedihan" gumamnya, lalu meraih beberapa buku yang ada di meja kerjanya


...****************...


Sebelum operasi pengangkatan org*n di lakukan, David menunggu anaknya sadar lebih dulu


Sebenarnya keluarga bisa menolak, tapi menurut David jika istrinya menandatangani itu, maka itu adalah permintaannya, walau sebenarnya itu berat


Dengan dibantu Glen, ia berjalan menuju banker ibunya, dimana semua alat medis telah di lepas


Dengan perasaan hancur dan kehilangan, Serin mencium kening ibunya selama beberapa detik


Air mata yang sebelumnya telah mengering kini kembali jatuh membasahi pipinya


Bukan hanya ia, tapi seluruh orang yang ada diruangan itu, bahkan Geralt juga datang setelah mendapatkan kabar tersebut


Para perawat dan beberapa dokter masuk untuk membawa Marisa keruang operasi


Glen terus memegangi tubuh istrinya, yang mungkin tidak akan bisa bertahan sendiri


Sedangkan Reyhan ada bersama Geralt, ia sempat menangis ketika melihat neneknya pergi sama seperti almarhum ibunya


Serin, Glen, David beserta yang lain pergi mengikuti ibunya untuk keruang operasi


"......"


Didepan ruang operasi ada para dokter dan perawat, yang membungkuk memberikan penghormatan pada mendiang Marisa yang dengan ikhlas mendonorkan org*n tubuhnya, untuk pasien lain yang membutuhkan


"Sebentar" tahan Serin, lalu berjalan menuju ibunya, diikuti David


"Terimakasih telah melahirkan dan merawatku sampai sebesar ini, aku menyayangimu bu" lirihnya seraya mengec*p kening ibunya untuk terakhir kalinya


"Terimakasih telah menjadi istri yang baik dan tidak lelah telah mendampingiku selama ini, aku mencintai dan menyayangi-mu sayang" ucap David yang juga mengec*p kening istrinya untuk terakhir kalinya


"Aku berjanji akan menjaga putrimu dengan baik" ujarnya mengucap janji pada mertuanya, seraya menggenggam sekilas tangan Marisa yang telah ia anggap seperti ibunya sendiri


Dengan berat hati, semua orang melihat para perawat dan dokter yang membawa masuk tubuh Marisa


"Duduklah, kamu perlu istirahat.. wajahmu juga pucat" ucap Glen mendudukkan istrinya, lalu memberikan air untuknya agar tidak dehidrasi


"Tolong urus masalah pemakaman" ucap David pada tangan kanannya


"Sedang di kerjakan tuan" jawabnya, dan hanya di angguki oleh David yang juga mendudukkan dirinya


David meraih dan menggenggam tangan putrinya, sontak Serin langsung menatap Ayahnya


"Berhentilah menangis, ibumu akan sedih jika melihatmu dalam keadaan seperti ini, kamu wanita yang kuat sayang" ujarnya memberi ketenangan pada putrinya, walau sebenarnya hatinya juga sedang begitu hancur


Serin memeluk erat tubuh Ayahnya, dan menangis sesegukan didadanya


"Aku belum sempat bicara untuk yang terakhir kali padanya" lirihnya


Jika air mata bisa mengering, mungkin sekarang air matanya tidak bisa keluar lagi karena terlalu banyak menangis, wajahnya bahkan begitu pucat dan sembab


"Papah tau, tapi kita harus merelakannya pergi" ucapnya sambil mengelus lembut kepala putrinya


Serin hanya bisa mengiyakan dengan anggukan pelan


Tidak ada yang bicara suasana begitu hening selama masa operasi, mereka semua menunggu proses operasi selesai, dan bersiap mengantar Marisa untuk ke peristirahatan terakhirnya


...****************...


.


.


.


Mengandung bawang ya, btw jujur aja Author bikin part ini sambil nangis (huhu! lebay thor)


Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊


.


.


.