Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Aku sudah tahu


Cklek


Pintu kamar pribadi Zaky terbuka. Di sana Haikal keluar dengan tampang lebih segar dari sebelumnya, terlihat rambutnya basah sehingga ia keringkan dengan menggosokkan handuk kerambutnya.


"Enak main solo?" Dengan senyum penuh meledek, Zaky menatap sahabatnya tersenyum penuh arti.


"Sialan lu! Siapa juga yang main solo?!" Elaknya merasa malu karna sahabatnya dapat menebak alasannya mencari kamar mandi.


"Kalau gak main solo emang apa lagi? Masa iya pagi pagi gini lu mandi di kantor, dan tidak mungkin pula lu gak mandi tadi pagi di apartemen lu sendiri!" Jawab Zaky santai.


"Gerah, makanya gue mandi." Ujar Haikal masih mencoba menyangkal tebakan sahabat sekaligus bosnya itu, yang bisa di katakan 100% benar.


"Yakin cuma gerah?" Entah setan apa yang merasuki Zaky, membuat pria itu tiba tiba nampak menjengkelkan di mata Haikal. Benar kata Milea, pria itu lebih cocok pasang tampang dingin. Karna bawelnya pria itu jauh lebih menyeramkan dari pada lihat kuntilanak di atas pohon nangka.


"Sebahagia lu aja." Kesalnya lalu duduk di sofa samping Milea.


"Solo? Maksudnya pak Haikal nyanyi gitu di kamar mandi? Kok nyanyi di kamar mandi pak? Padahal tadi bapak bisa ajak saya duet, soalnya saya juga bosen main hp mulu." Ucap Milea polos.


Keduanya membulatkan mata menatap Milea tak percaya. Dikira solo nyanyi lagu blackpink apa? Dia yang polos atau mereka yang bicara tidak jelas?


"Bapak masih mau nyanyi gak? Saya ikut dong, saya bosen nih." Lanjutnya merengut bosan. Membuat dua pria itu semakin melongo takjub. Entah kata kata apa yang harus mereka katakan pada gadis berumur 21 tahun ini.


"Hahaa gak lagi, soalnya juniornya udah tenang. Gak kayak tadi, degum degum gitu dianya." Tolak Haikal kikuk, apalagi saat mendapat tatapan tajam dari Zaky, semakin membuatnya merasa sedang berada di sel tahanan.


"Junior?" gumam Milea pelan. "Oh.. junior itu maksud bapak musiknya ya? Bapak kok aneh sih, musik kok dinamain junior segala. Setahu aku junior itu artinya adik kecil, dan rasanya gak ada sangkut pautnya dengan dunia musik." Nampak gadis itu semakin menjadi jadi, membuat Haikal serba salah menjelaskannya.


"Milea, bukan gitu. Maksudku---"


"Yakin mau duet sama Haikal?" Potong Zaky cepat. Entah kenapa dia merasa gemas sekaligus jengkel dengan Milea yang menurutnya terlalu polos.


"Iya." Jawab Milea pasti.


"Emang kuat?"


Mengeryit, "ya kuat dong. Kan cuma nyanyi doang, bukan ngangkat beban hidup." Jawab Milea.


"Emang kamu tau Haikal nyanyi solo lagu apa tadi di kamar mandi?" Tanya Zaky lagi kini bangkit duduk di samping Milea.


"Enggak tahu. Emangnya Kakak tahu lagu apa?" Tanya Milea semakin penasaran, seolah hal yang ia bahas hanyalah musik biasa. Padahal yang mereka bahas saat ini agak sedikit vulgar, tapi bagi orang polos seperti Milea mungkin menganggapnya hanyalah musik semata.


Tersenyum smirk sambil mendekatkan bibirnya di telinga Milea. "Sah mendesah." Bisik Zaky dengan sengaja membuat suaranya seerotis mungkin. Sengaja ingin melihat reaksi seperti apa yang akan Milea tunjukkan.


"Sah mendesah? Lagu apaan tuh, kok saya baru dengar? Lagu baru atau lagu zaman dulu?" Tanya Milea membuat Haikal dan Zaky menepuk jidat mereka bersamaan.


"Heran. Dia yang polos, atau aku yang bego karna tidak bisa menjelaskan. Decaknya pelan. Coba kamu cari di gogle pasti ketemu." tutur Zaky menyerah. Dia bangkit kembali menuju kursi kebesarannya, sedangkan Haikal memilih pergi karna prustasi menjelaskan hal vulgar pada makhluk polos keparat seperti Milea.


Terlanjur penasaran. Milea membuka laman akun goglenya dan mengetik lagu yang dikatakan Zaky tadi. Saat muncul lamannya di sana, seketika wajah Milea memerah. Tak disangka, yang mereka berdua bahas sedari tadi adalah tentang hal dewasa. Dia merutuki dirinya yang terlalu polos hingga menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak dia tanyakan.


Dari kursi kebesarannya, Zaky diam diam tersenyum saat melirik dan melihat reaksi Milea saat tahu apa yang dirinya dan Haikal bahas tadi. Apalagi saat dirinya melihat pipi gadis itu bersemu, membuatnya semakin gemas dan ingin menciumnya.


Hus. Kenapa pikirannya jadi ikutan mesum juga? Ngomong ngomong soal ciuman. Dia jadi teringat saat mereka sudah berciuman dua kali. Pertama karna paksaan darinya, dan kedua karna tak sengaja dari Milea. Tapi, jika boleh jujur. Itu kali pertama baginya berciuman dengan lawan jenis. Tapi bukan berarti dia pernah berciuman dengan laki laki ya, itu hanya perumpaan yang mengatakan bahwa itu adalah ciuman pertamanya.


Tok tok tok


"Masuk!"


"Permisi, maaf mengganggu tuan. Ada nona Bianka di bawah. Dia berkata ingin bertemu dengan anda." Ucap seorang wanita yang merupakan sekretarisnya.


"Bianka?" gumam keduanya saling melirik satu sama lain, lalu mengalihkan pandangan pada wanita itu.


"Suruh masuk!"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi tuan." Wanita itu berlalu pergi, menyisakan rasa penasaran di hati kedua sejoli itu. Karna sudah hampir seminggu ini mereka sudah tidak mendengar kabar lagi tentang wanita bernama Bianka. Setelah berita itu heboh dan akibat kejadian yang terjadi di kantor tempo lalu, Bianka tiba tiba menghilang bak ditelan bumi.


Cklek


Pintu terbuka. Terlihat seorang wanita cantik menggunakan rok span di atas lutut, serta baju t-shirt tanpa lengan. Terlihat cantik dan terkesan anggun untuk wanita seperti Bianka Rahardian Kusuma.


"Ada apa?" Tanya Zaky tanpa basa basi. Rasanya muak sekali melihat wajah Bianka ini, apalagi sampai mengingat penyiksaan yang dia beri 'kan pada adik kesayangannya Anna. Membuat kebencian di dalam hatinya semakin mendalam.


"Ada apa? Kamu gak kangen sama aku? Berjalan mendekat. Udah hampir seminggu loh kita gak ketemu." Ujarnya dengan sengaja memeluk tubuh Zaky dari belakang kursi. Kepalanya ia letakkan di bahu Zaky, sedangkan tangannya dengan lincah membelai setiap inci wajah tampan itu.


"Aku merindukanmu sayang," bisik Bianka erotis, mencoba menggoda pria tampan ini.


"Singkirkan tanganmu dariku!" Dengan penuh amarah, Zaky berusaha meredam emosinya melihat kelakuan tidak tahu Bianka. Milea? Dia duduk tenang seolah olah menikmati pertunjukkan ini. Namun, siapa yang tahu? Bahwa air yang tenang jauh lebih berbahaya dari pada air yang riak.


Melepas pelukan lalu berjalan kembali kedepan. "Oh... aku sakit sekali mendengarnya.." tutur Bianka terdengar meremehkan.


"Kenapa kamu kesini?!"


Melirik Zaky tenang. "Kenapa? Apa kamu tidak merindukanku? Apa kamu tidak merindukan wanita iblis yang kamu benci ini?" Tanya Bianka meremehkan dengan seringai tipis.


"To the point!"


",Oh Zaky sayang. Lama tak bertemu kamu semakin galak ya? Tapi aku suka. Apalagi kalo lihat wajah kamu kecewa, aku akan semakin suka." goda Bianka sengaja mengulur ulur perkataannya.


Menghela nafas kasar, Zaky melirik tajam Bianka. "Aku sedang sibuk. Sebaiknya kamu katakan apa yang katakan sebelum aku menyuruh pengawal ku untuk menyeretmu paksa keluar!" Ancam Zaky karna merasa kesal saat waktu berharganya harus terbuang karna meladeni wanita gila di depan ini.


"Benarkah? Milea. Apa kamu akan mengusir Kakakmu sendiri?" Tanyanya beralih menatap Milea dengan seringainya.


Huh, sekarang Milea mengerti permainan apa yang sedang Kakaknya mainkan saat ini. Nampaknya Kakaknya pandai sekali mengadu domba orang lain, cocok sekali menjadi tokoh antagonis untuk film film.


"Kakak? Apa maksudmu?" Milea melirik Zaky bingung. Tapi saat melhat kode dari jari Zaky membuatnya mengangguk paham. Tuannya ini ingin bermain main dengan Kakak tirinya.


"Oh kamu gak tahu sayang kalo Milea itu adik tiri aku?" Tanya Bianka pura pura terkejut sambil menutup mulutnya.


"Adik tiri?"


"Iya. Dia adik tiri aku. Iyakan Milea?"


Zaky melirik Milea seolah meminta penjelasan, sedangkan gadis itu nampak berekting dengan sangat natural saat memperlihatkan ekpresi gugupnya.


"Tu-tuan.. sa-saya bisa jelaskan,"


"Jelaskan? Apalagi yang perlu dijelaskan? Bukankah kamu bilang kamu berasal dari keluarga sederhana dan berasal dari kota Jogja? Kenapa dia bilang kalau kamu adalah adiknya, putri keluarga Rahardian?! JAWAB MILEA!" Bentak Zaky membuat Bianka tersenyum puas.


Sungguh, keduanya dapat diacungi jempol karna beracting dengan sangat natural, tak nampak sedikitpun kalau saat ini mereka tengah bersandiwara saja. "Ma-maaf tuan." Cicit Milea gemetar ketakutan. Kali ini Milea sungguh sungguh takut, dia tahu sekali bahwa Zaky masih melampiaskan kesalnya dulu karna sempat ia bohongi dengan asal usulnya berada.


"Aku sungguh kecewa padamu Milea." Zaky bangkit, pergi meninggalkan Milea. Sedangkan gadis itu bangkit mencoba mengejar tuannya, tapi Bianka dengan cepat menahan lengan gadis itu.


"Jika dia membenciku. Maka dia juga harus membencimu. Aku ingin melihat dia kecewa, sama seperti aku yang kecewa pada dirinya. Dia membenciku, maka dia harus tahu. Bahwa orang yang ada di dekatnya adalah adik dari wanita yang ia benci," ucap Bianka sinis.


"Benarkah? Tapi sayangnya aku sudah tahu." Jawab Zaky kembali masuk. Dia sengaja keluar untuk memperindah sandiwaranya dengan Milea.


Berbalik badan. "Apa maksudmu?"


"Sebelum kamu memberitahuku, aku sudah tahu bahwa Milea adalah putri bungsu keluarga Rahardian. Bagaimana? Seru bermain denganku?" Sinis Zaky.


"Kamu!!" Bianka menatap Zaky dan Milea bergiliran lalu pergi meninggalkan keduanya dengan emosi meluap luap. Malu sekaligus kesal karna telah dikelabui keduanya.


"Kamu baik baik saja?" Tanya Zaky saat melihat wajah pucat Milea.


"Tidak apa apa."