Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
cantik cantik kejam


"Horeeee!!" Milea menoleh kebelakang, semua anak panti sudah berkumpul dengan teriakan kemenangan yang membuat hati Milea menghangat.


"Kakak hebat!!"


"Iya, kakak keren banget!"


"Kakak udah kayak super hiro!"


"Besar nanti aku juga mau kayak kakak!" Begitulah sorak sorai anak anak panti saat melihat aksi heroik Milea yang menurut mereka sangat keren.


Milea berjalan menghampiri mereka dengan senyum merekah. "Hallo adik adik. Seru ya liat kakak berantem tadi?"


"Iya kak. Kakak hebat banget tadi, udah kayak malaikat yang baik!" Seru salah satu anak perempuan dengan boneka di pelukannya.


"Emang malaikat bisa berantem?" Pertanyaan polos keluar dari mulut anak panti lain.


"Malaikat itu baik, kalo iblis itu baru jahat yang bisa berantem. Jadi kakak ini malaikat iblis yang menjelma jadi manusia di dunia ini," karang cerita dari laki laki yang umurnya sudah cukup mengerti tentang urusan perkelahian.


"Ohhh gitu ya?" Milea tertawa melihat respon anak anak panti yang kelewat polos. Bahagia itu memang sederhana, tidak selalu bergantung pada uang. Karna hal hal kecil di sekitarmu sudah bisa menjadi kebahagiaan tersendiri.


"Adik adik, untuk yang perempuan jangan dituruti seperti itu ya. Kalo yang laki lakinya boleh, tapi gunakan untuk menolong orang lain, bukan untuk kejahatan oke?"


"Oke kak!"


"Emmm tapi... kenapa perempuan gak boleh gitu kak? Kakak sendiri boleh kok kita enggak?" Tanya salah satu perempuan dengan kuncir kuda.


"Karna kodratnya seorang wanita itu adalah bersikap lemah lembut. Wanita itu ada untuk dilindungi, bukan melindungi. Noleh kok kalian kalo ingin belajar bela diri, tapi tetap harus ingat kodrat kita sebagai wanita. Gunakan kemampuan itu di saat ingin menolong orang lain, atau ingin menjaga diri dari hal hal yang tak diinginkan." Jawab Milea lembut.


"Sudah sudah, ayo masuk. Bunda mau ngomong dulu sama kakaknya," perintah bunda Dina.


"Baik bunda..." anak anak itu segera masuk saat mendengar perintah bunda Dina.


"Makasih ya nak karna kalian sudah mau membantu panti asuhan ini." ucap bunda Dina terharu.


"Udah gak apa apa bun, itu emang udah kewajiban Zaky karna sekarang Zaky akan jadi tulang punggung panti ini." Jawab Zaky lembut.


"Kamu nak... kamu itu cewek lo. Bersikaplah selayaknya wanita. Cantik, anggun, sopan, dan lemah lembut. Bukan seperti tadi, bruntal dan kejam!" Tutur bunda mengingatkan.


"Hehee iya bun. Milea ngelakuin ini juga semata mata karna Milea pengawal tuan Zaky. Tapi, nanti bakal Milea coba menjadi wanita anggun dan lembut, tapi mungkin bukan sekarang." jawab Milea cengengesan.


"Ya sudah, bunda gak ngelarang kamu buat ngelakuin apapun. yang penting kamu tidak lupa dengan kodrat kamu sebagai wanita."


"Asyiapp bundaaa!!" Cerianya.


"Kamu juga Zaky! Belajar dari nak Milea, masa cowok dikawal cewek. Gak malu sama tubuh kamu yang kekar itu?" Omel bunda membuat Zaky memutar bola mata malas.


"Bunda sayang. Tubuh kekar ini akan Zaky uji coba waktu udah nikah. Ah bunda kayak gak pernah kawin aja, kan gak bagus kalo tubuh aku lecet, entar istri aku ilfil lagi sama Zaky waktu lihat tubuh sempurna ini ada lecetnya." Oceh Zaky begitu cerewet, dan entah mengapa di mata Milea itu terlihat sangat imut. Imajinasinya membayangkan mata zaky yang polos serta memiliki kuping kucing di atas kepalanya, sembari menatapnya dengan tatapan imut.


*A*h apa yang aku pikirkan. Batin Milea menepis jauh jauh pikirannya.


"Justru karna lecet itulah istri kamu akan bangga. Karna apa? Karna dia menganggap bahwa kamu itu orang yang hebat dan bisa melindunginya kelak!!" Balas bunda tak mau kalah.


"Entar dia ngiranya aku ini seorang preman bun, kan gak asik. Trus gimana kalo dia ngejek aku karna punya bekas luka? Itu berarti 'kan aku pernah kalah dari lawan!" Rengek Zaky manja.


"Audah sudah!! Kamu kok malah bahas tentang istri, nikah aja belum. Bikah dulu baru ngoceh!!" Bibir bunda membuat Zaky manyun.


"Ya udah deh, Zaky pamit dulu ya bun. Mau nyari jodoh. Assalamu'alaikum," pamit Zaky mencium tangan bunda lalu pergi.


"Emmm Milea juga pamit ya bun, kasih salam sama anak anak panti. Assalamu'alaikum," Milea segera mencium tangan bunda ikut mengejar tuannya.


"Wa'alaikumussalam, iya nanti bunda sampeiin!"


Di dalam mobil, suasana sunyi kembali melanda keduanya. "Sudah tidak bosan lagi?" Tanya Zaky memecah keheningan.


"Ah, sudah tidak tuan." Milea melirik kearah spion sebentar. Ah kenapa dia jadi kegeeran gini? Tidak mungkin Zaky mengajaknya kepanti asuhan hanya untuk membuatnya tidak bosan, Zaky kesana pasti merindukan bunda Dina. Iya pasti. Begitulah Milea meyakinkan diri agar tidak terjerumus pada rasa malu karna salah menganggap kebaikan orang lain.


"Syukurlah, aku juga merasa senang karna bisa berkunjung kepanti lagi. Sudah hampir berapa tahun aku tidak kesana? Entahlah." Milea hanya diam sesekali melirik Zaky dari kaca spion.


*T*erkadang bahagia itu sederhana ya tuan. Melihat anda tersenyum saya ikut tersenyum, melihat anda tertawa saya ikut tertawa, dan melihat anda bahagia, merupakan kebahagiaan tersendiri untuk saya. Batin milea tersenyum tipis.