Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Mengenang memori


Perlahan, sepasang kelopak mata bergerak membuka matanya. Disinari cahaya lampu membuatnya sulit untuk melihat jelas sekelilingnya yang terasa asing dari tempat terakhir yang ia ingat.


"Ssttt akhhh..."


"Milea akhirnya kamu sudah sadar. Kamu tidak apa apakan? Ada yang sakit? Katakanlah biar aku panggilkan dokter kemari," cecar Malvin berdiri di samping Milea bersama yang lainnya juga.


Memegangi kepalanya yang terasa berdenyut nyeri, Milea perlahan bangkit dibantu Kris untuk duduk. "A-aku di mana?" Tanyanya pelan.


"Rumah sakit," jawab Kris singkat.


"Kami mendapatkan kabar dari kepolisian kalau kamu pingsan dan dibawa kerumah sakit," perjelas Ronald.


Milea memandangi sepupunya satu persatu sambil mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Sesaat mengingat apa yang terjadi, Milea terdiam.


"Permisi, biarkan saya periksa pasein lebih dulu." Izin seorang dokter pada para sepupu Milea. Dengan cepat Kris memberi jalan untuk dokter memeriksanya.


"Bagaimana dok?" Tanya Erickh cemas.


Tersenyum lembut. "Pasein baik baik saja, dia hanya kelelahan. Diharap agar pasein tidak terlalu banyak pikiran dan banyak banyak beristirahat. Saya akan membuat resep obatnya," ucap dokter menuliskan resep obatnya lalu menyerahkan pada Malvin.


"Jika tidak ada yang ingin ditanyakan, saya pamit untuk memeriksa pasein lainnya," menunduk hormat, dokter tersebut pergi meninggalkan mereka di dalam ruangan tersebut.


"Kamu banyak pikiran Mil? Apa kamu memikirkan akan tinggal di penjara untuk waktu yang lama?" Tanya Edwark sedih.


"Itu tidak akan terjadi. Aku akan memastikan Milea bebas dari tuduhan. Bahkan jika perlu menyuap hakimnya, akan aku lakukan." Tegas Malvin.


"Berperanglah dengan adil." Tutur Milea datar. Malvin menatap Milea sendu, paham kalau adiknya ini butuh keadilan, bukan kekuasaan.


"Baik."


***


Di sebuah ruangan, seorang pria bersandar pada kursi kebesarannya sembari memandangi hiruk pikuk bangunan tinggi yang terlihat dari atas gedung perusahaannya.


"Huft..."


Helaan sekian demi sekian telah terhembuskan. Zaky bangkit berjalan duduk di sofa yang biasa pengawalnya duduki. Sembari mengusap tempat biasa Milea duduk, Zaky terkenang beberapa memori dirinya dengan Milea di dalam ruangan ini.


"Kamu berani berteriak di depanku?!" Kini giliran Zaky yang terbawa emosi. Tak terima saat bawahan berani meneriakinya.


"Bagaimana saya tidak berteriak? Anda tiba tiba muncul di samping saya, itu membuat saya merinding tuan!" Ketusnya.


"Tidak cukup kamu meneriakiku, sekarang kau mengatakan aku cenayang?!" Milea menjambak rambutnya, bangun dan membentur benturkan ketembok.


***


"Ha, ha, ha.. benarkah?"


Zaky menatap datar wajah malas gadis di hadapannya ini. Dia kemudian bangkit dari duduknya berjalan menghampiri Milea yang tengah duduk di sofa depan meja kerjanya.


Brukh


"Apa aku perlu membuktikannya?" Tubuh Milea seketika menegang saat Zaky tiba tiba mengikis tempat duduknya sehingga membuatnya tidak bisa berbuat apa apa selain menatap manik mata hitam pria di hadapannya saat ini.


Cklek


Lamunan Zaky seketika buyar saat pintu terdengar dibuka. Cepat cepat dia memperbaiki ekspresinya agar tidak terlalu nampak bahwa dirinya sangat merindukan pengawal cantiknya.


"Apa aku mengganggumu?" Tanya Haikal perlahan menutup pintu dan berjalan duduk di sisi Zaky.


"Tidak. Ada apa?" Elak Zaky.


"Harun sudah pulang ke--Jogja 'kan?" Tanya Haikal basa basi. Bingung harus memulai dari mana mengatakannya.


"Ya."


"O-oh... benarkah?" Haikal menggaruk kepalanya kikuk. Haruskah mengatakannya atau tidak. Itulah yang sedari tadi berperang di pikirannya.


"Apa itu saja? Tidak mungkin kamu kesini jika hanya untuk bertanya tentang hal yang sudah kamu ketahui jawabannya." Tegur Zaky melirik Haikal dingin.


Menatap Zaky cepat. "Ha? It-itu..."


"Katakan!!"


Menghela nafas lemah, "istriku mendapat kabar bahwa Milea pingsan dan sekarang dirawat di rumah sa---- Eh eh? Mau kemana?!!" Teriak Haikal.


Zaky berjalan cepat menghiraukan teriakan Haikal dalam ruangannya. Mendengar kabar Milea pingsan dan masuk rumah sakit membuat akal sehatnya hilang. Satu yang ada di otaknya saat ini. Bagaimana keadaan Milea sekarang?


Tap tap tap


Menelusuri lorong rumah sakit, kakinya terhenti di depan pintu kamar Milea. Dari kaca pintu, dia dapat melihat Milea terbaring di brankar ditemani sepupu sepupunya. Tiba tiba saja dia enggan untuk masuk. Takut tidak diterima kedatangannya, mengingat dirinyalah penyebab Milea masuk rumah sakit.


"Yah. Aku memang tidak pantas mengunjungimu. Siapalah aku? Orang jahat yang membuatmu seperti itu." Terdiam sejenak. "Melihatmu baik baik saja, sudah cukup bagiku. Sehat selalu Milea... jangan membuatku khawatir..." lanjutnya lalu berbalik meninggalkan pintu itu dengan perasaan sakitnya.


Dari dalam Milea mengalihkan pandangannya kepintu. Sekelibat dia melihat siluet tubuh Zaky yang pergi. Bukan halusinasi, tapi itu benar benar Zaky. Dan Milea sangat mengenalinya meski tidak melihat wajahnya.


Terima kasih karena masih mengkhawatirkan saya, dalam diammu. Tuan....