
Ting nong ting nong
Nala yang baru saja selesai sarapan dibuat bingung saat suara bell berbunyi. Dengan langkah malas dia membuka pintu dan cukup kaget saat melihat Zaky berdiri salah tingkah di depan pintu.
"Pak Zaky? Emm silahkan masuk pak!!" Gadis itu membuka lebar lebar pintu mempersilahkan atasannya untuk masuk.
"Tidak perlu. Milea-nya ada?" Tanya Zaky yang sedari tadi entah mengapa dibuat gugup hanya karna menanyakan keberadaan wanita bernama Milea itu.
"Milea? Tadi pagi dia buru buru pergi sambil bawa tas gede gitu pak. Katanya dia mau kesuatu tempat, dan mungkin gak akan pulang untuk beberapa hari." Jelasnya.
"Pergi? Kemana?"
"Gak tahu pak, saya mau nanya dianya udah keburu pergi," jawab Nala menatap polos tuannya yang nampak kecewa.
"Emangnya ada apa bapak nyari Milea?" Tanyanya penasaran. Zaky menoleh bingung, tak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin dia bilang mau minta maaf karna sudah ngambil keperawanan sahabatnya 'kan? Yang ada dia bisa babak belur saat ini.
"Tidak ada, saya hanya ingin mengajaknya kekantor bersama. Ya sudah kalo Mileanya tidak ada, saya pamit dulu."
Nala menatap kepergian Zaky dengan heran. Hingga pada akhirnya dia hanya mengangkat bahu cuek dan berniat ingin menutup pintu. Tapi, sebelum itu terjadi. Sebuah tangan kekar lebih dulu menahannya, dengan senyum merekah, Haikal membuka paksa pintu agar tidak Nala tutup.
"Zaky ngapain tadi kesini?" Tanya Haikal menyandarkan tubuhnya di pintu, menghalang Nala yang ingin menutupnya.
"Nyari Milea." Jawab Nala berusaha sekuat tenaga menutup pintu, namun sekuat apapun dia mencoba, tenaganya kalah kuat dari Haikal yang notabe nya adalah seorang 'cowok'.
"Milea? Emang Mileanya kemana? Bukannya beberapa hari ini dia tinggal bareng lo di apartemen?" Cerocos Haikal masuk kedalam tanpa dipersilahkan oleh sang tuan rumah.
"Dia ada urusan mendadak katanya. Gak tahu kemana, yang pasti dia gak akan pulang untuk beberapa hari kedepan." Ketus Nala berjalan melewati Haikal masuk menuju meja makan untuk membereskan piring piring kotor bekas dia sarapan.
"Oh ya? Tapi, kok gue nyerasa akhir akhir ini dia sama Zaky kayaknya lagi ada masalah ya? Soalnya gak biasanya mereka pisah tempat tinggal, dan Milea juga tidak mengawal seperti biasanya lagi." Gumam Haikal yang masih dapat Nala dengar.
Sembari mencuci piring, Nala menoleh sejenak Haikal. "Mungkin. Udah biarin ajalah, itu masalah mereka, jadi gak usah ikut campur. Mereka udah dewasa, bukan anak kecil lagi. Mereka pasti bisa nyelesain masalah mereka sendiri," jawabnya.
Haikal menyeringai kecil lalu berjalan perlahan mendekati Nala yang nampak fokus mencuci piring.
Grep
Nala membulatkan matanya sempurna saat sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya.
"Benar, kita tidak perlu mengurusi masalah mereka. Karna ada masalah yang harus kita urus. Ingat!! Aku masih menunggu jawaban darimu Nala..." bisik lirih Haikal di telinga gadis itu, sembari mengendus aroma sampu yang menyeruak di indra penciumannya.
"Apa yang anda lakukan pak? Lepaskan, saya risih pak." Nala mengerakkan tubuhnya mencoba melepas tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.
"Jangan bergerak seperti itu, jika tidak kau akan membangunkan sesuatu karna pergerakanmu itu," protes Haikal saat merasakan sesuatu di bawah sana mulai beraksi karna pergerakan Nala.
Nala menghentikan pergerakannya, lalu memutar sedikit tubuhnya untuk menatap wajah Haikal yang tentunya lebih tinggi darinya. "Sesuatu? Sesuatu apa?" Tanyanya begitu polos.
"Iya sesuatu. Sesuatu yang ada di bawah," jawab Haikal ikut ikutan berwajah polos, meskipun dia merasa mulai tidak nyaman dengan keadaan. Apalagi saat melihat wajah polos Nala yang begitu menggemaskan. Dia masih laki laki normal!!
"Di bawah? Emangnya ada apa di bawah? Kok gak ada apa apa?" Tanya Nala heran, lalu menunduk untuk mencari 'sesuatu' itu. Saat merasa tidak melihat apa apa, dia kembali mengangkat wajahnya menatap Haikal yang tersenyum menggoda. Perasaannya jadi tidak enak...
"Ada, kamunya aja yang gak liat. Soalnya dia ngumpet di balik celana aku," jawab Haikal cengengesan.
Plak
***
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, Allah berkehendak lain. Kami tidak bisa menyelematkan nyawa Nenek Fitri," sesal seorang dokter dengan baju berwarna hijau khas petugas yang melakukan oprasi.
Brukh
"Enggak!! Nenek gak mungkin pergi. Enggakkkk, Nenek masih hidup!! Jangan bohong!! Nenek aku masih hidup!! Dia gak mungkin ninggalin aku sendirian?! Enggak!! gak mungkin!!!" Teriak seorang gadis prustasi saat dokter mengatakan bahwa Neneknya telah meninggal.
Lima orang pria yang melihat keadaan gadis itu merasa iba. Salah seorang dari mereka merangkul tubuh gadis itu untuk bangun dari koridor rumah sakit.
"Tenanglah Milea..." gadis bernama Milea itu terus menangis dalam pelukan Kris. Orang satu satunya yang dia miliki kini telah meninggalkannya, sama seperti sang ibu yang meninggalkannya di dalam sebuah kegelapan yang tak berujung.
"Hiks Nenek Kris... hiks Nenek..."
Ronald yang melihat itu ikut duduk di samping Milea mencoba memberikan sedikit wejangan, berharap gadis itu mau berhenti menangis. Karna tangisan gadis ini sama saja dengan menghujam hati kelima pria ini dengan sebilah pisau.
"Hei... kamu tidak sendiri. Ingat!! Ada aku, Erickh, Edwark, Malvin, Kris dan Kakek juga. Come on!! Di mana Milea ku yang cuek dan selalu bersikap seenaknya hm?" Bujuk Ronald. Namun, nihil. Milea masih tidak mau berhenti menangis, dia bahkan menyembunyikan wajahnya di bidang dada Kris.
"Milea... tak semua orang akan tetap bertahan di dunia ini. Ada kalanya orang itu pergi dan tidak akan kembali. Cukup nikmati dan syukuri apa yang sekarang kamu miliki. Kamu lihat!! Kamu masih memiliki kami yang tentunya akan selalu ada bersamamu, menolongmu, dan akan menjagamu." Kali ini giliran Malvin yang mencoba memberikan sedikit bujukan, berharap adik manisnya itu mau berhenti menangis.
"Benar Milea... Kamu kuat. Kamu pasti bisa melewati ini!" Timpal Edwark berjongkok di samping Malvin.
"Kami juga sedih karna kepergian Nenek. Tapi, tidak seharusnya kamu berlarut larut dalam kesedihan seperti ini. Karna bagaimanapun juga, masih ada masa depan yang harus kita hadapi. Sedih seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah. Hadapi, karna hanya dengan itu kau bisa melewati pedihnya cobaan." Tutur Erickh ikut berjongkok di sebelah kiri Malvin.
"Kami menyayangimu Milea!" Seru kelimanya serempak. Para perawat yang melihat Milea dikelilingi para pria tampan merasa sangat iri. Apalagi melihat kelima pria itu terlihat sangat dewasa dan romantis tentunya.
Perlahan Milea keluar dari persembunyiannya. Dia menatap satu persatu sepupu sepupunya yang menunjukkan senyum termanis mereka, meskipun Kris hanya mampu menampakkan senyum tipis karna tidak terbiasa tersenyum, apalagi pada seorang perempuan.
Milea tersenyum haru, sebari menghapus jejak air matanya. Dia seketika sadar, bahwa dirinya tidak sendiri. Masih banyak orang orang yang menyayanginya. "Terima kasih."
***
Cklek
Pintu terbuka. Zaky berjalan dengan lesu memasuki apartemen miliknya. Entah mengapa rasanya ada sesuatu yang hilang darinya, dan dia menyadari itu karna ketidak hadirannya Milea di sisinya. Meski beberapa hari ini mereka bertengkar, tapi dia masih bisa melihat Milea dari kejauhan. Karna dia tahu, Milea sering mengikutinya diam diam kemanapun dia pergi.
Brukh
Zaky membaringkan tubuhnya di atas kasur tanpa melepas pakaian atapun kaos kakinya. Ditatapnya langit langit kamar, hingga terbayang tawa Milea di sana.
"Sekarang aku akan membuat kamu menyesal karna telah mengerjaiku." Bisik Zaky membuat Milea merinding sendiri.
"Coba saja kalau bisa!" Tantangnya.
"Oh nantangin! Rasain nih!!" Zaky mulai menggelitiki pinggang Milea hingga tawanya menggema di seluruh lobi.
"Hahaaa ampun tuan! Hahaa saya janji gak akan ngulangin lagi!! Hahaaa geliii..." teriak Milea mencoba menahan tangan bosnya.
"Huft... Milea, aku merindukanmu."