
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
"Sebenarnya untuk apa kamu repot-repot datang ke sini toh kita serumah juga, kan?" tanya Glen menatap Serin yang sedang duduk di seberang-nya
"ini untuk pekerjaan jadi harus profesional" sahut Serin
"Iya professional" ledek Glen, seraya memeriksa berkas yang di berikan Ardan padanya
"kalau kalian menginginkan struktur dan desain bangunan seperti ini, mungkin akan memakan waktu agak lama dan biaya yang tidak sedikit, karena harus mengimpor bahannya dari luar, ditambah bahan yang kalian inginkan adalah material yang biasa di pakai dalam dunia militer" jelas Glen, beralih menatap Serin dan Ardan secara bergantian
"Anggaran yang di berikan sekitar 5jt dollar, apa itu cukup?" tanya Serin
"Aku belum bisa memastikan sampai rinciannya selesai, tapi menurut perhitunganku ini akan menghabiskan dana lebih dari itu, jika semua kualitas bahan yang di inginkan adalah material berkualitas" jawab Glen, seraya menyodorkan sebuah kertas dimana disana terdapat rincian harga material pembangunan yang kemungkinan akan digunakan dalam proyek kali ini
Serin meraih berkas tersebut, lalu melihat seluruh data harga yang sudah tercetak di sana
"Yang penting waktunya, apa pembangunan-nya bisa di percepat? masalah harga... kan, ini perusahaan-mu jadi bisa negosiasi bukan?!" sahut Serin
"Maaf nona! tapi ini PROFESIONAL, jadi tidak ada harga keluarga" jawab Glen, bagaimana ia biasanya menetapkan proyeknya
"Iyaa iyaa" sahut Serin "padahal kalau proyeknya di mulai, ya tetap saja uangnya akan jadi uangku" gumam Serin
"Kamu bilang apa?" sahut Glen yang mendengar samar gumaman istrinya
"Tidak ada, lanjutkan-lanjutkan" suruh Serin
Glen memicingkan matanya sambil mengangguk pelan, lalu kembali lagi pada point pembahasan mereka
"......"
Selesai membicarakan masalah tadi, Serin keluar dari ruangan tersebut bersama Ardan dan Glen
"Ardan, kau pulang saja Serin akan pulang bersamaku" ucap Glen yang langsung merangkul mesra istrinya
"Kenapa begitu, aku ada keperluan lain" sahut Serin menghentikan langkahnya
Ardan menatap Glen dan Serin bergantian, ia bingung apakah harus pulang atau menunggu Serin
"Pulang saja" suruhnya, tanpa melepaskan rangkulan tangannya
"Tidak Glen, aku harus kerumah sakit. bukannya kamu masih harus bekerja?" jawab Serin
"Ayo Ardan kita kerumah sakit" ajak Serin seraya melepaskan rangkulan Glen dari pinggangnya
"Pergi bersamaku saja setelah pulang kerja" sahut Glen yang langsung mengangkat Serin ala bridal style
"Glen turunkan aku" ucap Serin
"Tidak!.... Ardan kau pulang saja" balas Glen, lalu ia langsung pergi dari sana menuju ruangannya, tanpa menurunkan Serin
Ardan hanya memperhatikan pasangan itu sampai menghilang dari pandangannya, lalu ia juga pergi dari sana untuk pergi kerumah sakit
Sementara disisi lain, Serin menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya malu karena ada beberapa pegawai yang memperhatikannya dengan Glen
"Apa kamu tidak malu?" lirih Serin pelan
"Untuk apa? ini kantorku" sahut Glen santai, lalu mendudukkan Serin di kursi kerjanya, di susul dirinya yang duduk di atas meja kerja
Serin menyipitkan matanya sebentar, sembari menatap curiga pada pria yang sedang duduk di hadapannya
"Kamu tidak akan kerja?" tanyanya seraya bangkit dari duduknya, tapi Glen kembali mendudukkan-nya di kursi
Suasana tiba-tiba hening, tidak ada pembicaraan di antara keduanya hanya ada deru nafas yang saling bersahutan dari dua insan tersebut
Glen meraih sebuah remote yang ada di atas meja lalu menekannya, hingga membuat tirai menutup otomatis
Serin melirik ke sekitar melihat tirai tersebut perlahan tertutup sempurna
"Ah. aku lupa, aku harus cek kandungan hari ini" tukas Serin seraya bangkit dari duduknya
"bukankah jadwalnya minggu depan" sahut Glen sukses membuat langkah-nya terhenti
"Hmm. sepertinya akhir-akhir ini aku sering lupa" sahut Serin menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal
"Kenapa kamu terlihat takut begitu?" tanya Glen turun dari meja, berjalan menghampiri Serin yang berdiri di tengah ruang
"Takut.. tidak, aku tidak takut" sahutnya tersenyum kikuk
"kenapa aku jadi canggung begini" gumamnya dalam hati, menatap kelantai
"Kamu baik-baik saja?" tanya Glen, seraya mengalungkan tangannya di pinggang Serin
"Hmm. aku baik-baik saja" sahutnya
"Kamu istirahat saja dulu, aku ada meeting setelah ini.. baru nanti kita kerumah sakit" ucap Glen dan hanya di angguki paham oleh Serin
"Kenapa tiba-tiba kamu jadi penurut begini?" gumam Glen, seraya menarik lembut tangan Serin menuju sebuah tempat
"Mau kemana?" tanyanya bingung
"ikut saja" sahut Glen, yang terus melanjutkan langkahnya hingga mereka sampai di sebuah dinding rata dengan cat hitam polos
Glen menempelkan tangannya pada dinding tersebut, hingga dinding itu terbuka layaknya pintu dan memperlihatkan sebuah ruangan seperti kamar tidur
Serin kaget melihat ada ruangan seperti ini dikantor Glen, matanya tidak berhenti menatap kedalam ruangan tersebut
Setelah mereka masuk, dindingnya kembali menutup seperti tidak ada akses masuk kedalam sana
"Apa ini Glen" tanyanya dengan mata yang terus mengitari sekeliling ruangan tersebut
"Kenapa ada ruangan seperti ini di perusahaanmu? perasaan waktu aku bekerja tidak ada??" tanyanya lagi
"Kenapa ada kamar tidur disini? jangan bilang kamu???" ucapnya, berbalik menatap suaminya dengan telunjuknya yang menunjuk wajah Glen
"Kamu tidak membawa wanita lain kesini tanpa sepengetahuanku, kan???" tembak Serin, tidak henti-hentinya ia memberikan pertanyaan pada suaminya
"Eyyy.. bukan ini respon yang ku inginkan" sahut Glen menurunkan jari telunjuk Serin dari hadapannya
"Jawab dulu pertanyaanku, kamu tidak menggunakan tempat ini untuk bersenang-senang dengan wanita lain, kan?" tanyanya dengan nada agak menekan
"Tidak sayang! kamu sensitif sekali.." jawab Glen, seraya berjalan menuju sebuah jendela kaca dengan tangan yang ia masukkan kedalam saku celananya
"Kami ingin membuat sebuah hotel dengan inovasi seperti ini" jelas Glen menatap kota dari jendela kaca, lalu berbalik menatap istrinya
"Oh... wajarlah aku sensitif, aku sedang hamil.. kamu seharian di kantor tanpa pengawasanku jadi tidak salah jika aku curiga" sahutnya seraya mendudukkan dirinya di tepi ranjang
"Hish. kamu terlalu over thingking.. sekarang istirahatlah jangan terlalu lelah" ucap Glen berjalan menuju Serin
Ia membantu istrinya, untuk berbaring seraya menarik selimut menutup sebagian tubuhnya
"Bukankah ini seperti kamar hotel? bagaimana menurutmu??!" tanyanya duduk di tepi ranjang
"Hmm. memang seperti kamar hotel" sahut Serin
"Yasudah, aku akan meeting dulu" ucap Glen, lalu ia mengec*p sekilas kening istrinya
Serin hanya tersenyum seraya mengangguk pelan, dan membiarkan Glen pergi untuk melanjutkan pekerjaannya
Glen diam di depan dinding yang merupakan akses masuk, lalu melihat kearah jam tangannya sebentar "Masih ada waktu" gumamnya
Serin yang kala itu baru saja menutup mata se persekian detik, tiba-tiba merasakan sesuatu sedang begitu dekat dengan wajahnya
Deru napas yang begitu terasa membuatnya kembali membuka matanya
Matanya membulat sempurna, ketika melihat sosok pria yang berstatus sebagai seuaminya ini, tengah duduk di sampingnya dengan wajah mereka yang begitu dekat
"Yak! sedang apa? kenapa masih ada di sini?" tanya Serin
"Masih ada waktu sebelum meeting" sahut Glen membelai lembut surai hitam istrinya
Seketika Serin diam, sambil sesekali mengejapkan matanya specless akan suasana kali ini
Tanpa buang waktu, Glen langsung mengambil kesempatan akan situasinya yang sangat menguntungkannya kali ini
"......"
Senyum sumringah tertarik dari bibirnya setelah menghabiskan sedikit waktu bersama wanita yang sangat ia sayangi
"Sekarang aku paham, kenapa ada ruangan seperti ini, dan kenapa kamu menyuruhku tinggal" tukas Serin menatap intens pria yang kini tengah membenarkan jas-nya
Glen hanya tersenyum, lalu mengacak lembut surai pipi Serin "Terimakasih untuk waktunya" ucapnya, lalu berjalan menuju pintu
"Tapi... Apa Kamu tidak akan memakai kemejamu?" tanya Serin terkekeh kecil, seraya menaikkan sekilas salah satu alisnya, dengan tangannya yang masih memegang kemeja Glen
Sontak Glen menatap tubuhnya dan benar saja, pria itu hanya memakai jas-nya tapi lupa akan kemejanya
Ia langsung meraih kemejanya dari tangan Serin, lalu memasangnya
"Karena terlalu semangat aku melupakan ini" ucapnya tersenyum manis, membuat Serin yang melihatnya gemas sendiri akan suaminya
"Aku pergi sekarang" ucapnya, lalu pergi setelah mendapat anggukan dari istrinya
...****************...
Glen terperanjat kaget ketika ia keluar, Max tiba-tiba lewat di hadapannya
"Kau yang mengagetiku" balas Glen, karena ia juga kaget akan kehadiran Max
"meeting sudah di mulai, kau darimana?" tanya Max menatap Glen dari kepala sampai ujung kaki
Tapi tiba-tiba Max tersenyum jahil, ketika melihat hal yang tidak seharusnya ia lihat
"Bapak Glen yang terhormat! tolong rapikan dulu pakaiannya, baru nanti keruang meeting, jangan sampai ini menjadi tontonan diruang meeting.. nanti banyak yang salfok" ucap Max sambil terkekeh kecil menatap sesuatu
"Yak! kau menertawakan apa?" sahut Glen yang langsung mengancing kerah kemejanya
"Kita meeting sekarang" ajak Glen, sebelum ia semakin di ejek oleh teman sekaligus karyawan-nya ini
"Siap pak!" sahut Max, sambil menutup mulutnya agar tidak ketahuan menertawakan Glen
"Berhenti tertawa, aku tau kau iri, kan!! makanya cepat menikah sana. nanti kau akan tau rasanya" ucap Glen dengan santainya, sambil mereka berjalan menuju ruang meeting
"kalau ingin aku menikah, jangan memberiku terlalu banyak pekerjaan, biarkan aku merasakan apa yang kau rasakan" balas Max yang masih tidak henti-hentinya mencibir atasannya ini
Sebenarnya hal itu tidak masalah untuk Max, toh Glen juga sudah menikah, hanya saja ia suka mengejek temannya ini, apa lagi ia memergoki Glen baru saja mengambil kesempatan sebelum meeting berlangsung
Dua sejoli itu masuk keruang meeting, untuk membahas proyek tentang ruangan yang tadi dijelaskan Glen pada Serin
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 16.00, tapi Serin masih pulas tertidur di atas ranjang
📳Drrttt....
Tiba-tiba ia terbangun karena dering ponsel yang berbunyi dari tadi
📞In Call-
"Apa?"
"Leo sadar, kau masih di kantor Glen?"
"Hmm. masih"
"Yasudah, aku hanya ingin mengabarkan ini saja"
"Baiklah, ah iya... kau sudah membawa apa yang ku pinta kemarin?"
"Sudah, aku akan memberikan-nya nanti"
"Oke"
📞End Call-
Serin meletakkan kembali ponselnya di atas nakas yang ada di ruangan tersebut, lalu membenarkan rambut serta mengancing kemejanya yang masih terbuka akibat ulah Glen sebelumnya
Ia teringat sesuatu tentang hal kemarin, hingga membuatnya kembali meraih ponselnya untuk menelepon seseorang
📞In Call-
"Ada apa Serin?"
"Pak! apa saya bisa minta data pribadi seseorang?"
"tentu, kirimkan padaku"
"......" ~
"Saya sudah mengirimkan-nya, apa memungkinkan?"
"kenapa tiba-tiba kau minta data pribadinya? apa dia terlibat dalam kasusmu?"
"Bapak ingat,kan kemarin saya memberikan laporan jika Markas di serang... kemungkinan orang ini terkait dengan penyerangan kemarin malam"
"Kau yakin?"
"Kami memang masih belum memastikan apakah mereka terlibat jauh atau tidak, tapi ini jelas di perintahkan oleh orang yang berkuasa, apalagi membebaskan tent*ra yang masuk kedalam daftar blacklist, tentunya tidak mungkin dilakukan oleh orang yang tidak memiliki akses ke sana"
"Baiklah, aku akan mengirimkan datanya nanti malam"
"Terimakasih pak"
📞End Cal-
"dulu meminta, sekarang menyerang" gumamnya
dan turun dari ranjang, lalu membereskannya seperti semula
Setelah semuanya selesai di bereskan, wanita itu kembali duduk di tepi ranjang, sembari melihat sebuah foto dari dalam ponselnya
...****************...
"Kau yakin sudah merasa baikan?" tanya Geralt, pada pria yang kini terbaring di banker rumah sakit
"Ini berapa Leo?" tanya Doni sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Leo
"Yak. aku tidak buta" sahut Leo, seraya menyingkirkan tangan Doni dari hadapannya
"Bagaimana dengan Jian, apa dia sudah di makamkan?" tanya Leo
"Jian sudah di makam,kan tadi pagi" jawab Geralt
"Sebenarnya apa yang terjadi kemarin malam, kenapa kalian berdua bisa berada di sana?" tanyanya penasaran pada Leo, begitu juga dengan yang lain, yang menatapnya penasaran
Leo menghela pelan napasnya, dan mencoba mengingat kembali kejadian kemarin malam
"......"
Kemarin, pukul 21.30... 10 menit sebelum ledakan terjadi
Tok... Tok... Tok...
"Apa?" sahut Leo, yang sedang duduk di kursi penumpang mobil Geralt
"Mereka sudah menarik diri, kita bisa kembali ke gudang sekarang" jelas Jian
Leo hanya mengangguk paham, lalu membereskan barang-barangnya di bantu Jian
Setelah semuanya beres mereka berdua berjalan menuju Gudang, tapi belum sempat mereka sampai, terdengar suara tembakan dari luar area gudang
Leo langsung meletakkan kembali laptopnya di dalam mobil tadi, yang tidak jauh dari posisinya, lalu pergi menyusul Jian untuk melihat dari mana asal suara itu berasal
"......"
"Ada apa?" Tanya Leo, sambil menormalkan deru napasnya
Dorrr....
Leo dan Jian sontak menoleh ke sumber suara, dimana terlihat seorang pria berwajah sangar dengan perawakan besar dan kekar
Ia berdiri di samping sebuah pohon yang ada di sana dengan sebuah p*stol di tangannya
Bahkan Leo dan Jian bingung siapa pria yang mereka lihat di depan mereka
Tanpa aba-aba pria itu langsung mengarahkan p*stolnya pada Leo dan Jian, tapi untung-nya keduanya bisa menghindar
Jian yang notabennya mantan tent*ra menatap Leo sebentar, lalu menggenggam pasir di tangannya
Seolah bicara dengan mata kedua pria itu langsung menghindar satu sama lain, dari satu tembakan yang berhasil pria itu bidikkan pada mereka
Jian langsung melempar pasir yang ada di tangannya ke wajah pria misterius itu, hingga membuatnya oleng.. dari sana Jian langsung mengambil kesempatan untuk merebut pistol tersebut dan menodongkannya kembali pada pria tadi serta merebut earphone yang ada di telinganya bermaksud untuk mendengar siapa yang memerintahkan pria ini
Leo juga langsung memegangi tangan pria itu agar tidak bisa bergerak
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Jian menod*ngkan pist*lnya pada pria tersebut
Tapi ia hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Jian, saat ia akan melontarkan kembali pertanyaan-nya satu bidikan berhasil membuat Jian tumbang, dengan luka tembak di kepalanya
"Jian!!!" teriak Leo respect melepaskan pria tadi dan berlari kecil menghampiri rekannya
Sedangkan pria tadi, ia mengambil batu dan memukulkannya pada kepala Leo, hingga pria itu jatuh di atas Jian dengan luka di kepalanya
Keduanya langsung kabur begitu saja dan membiarkan Leo yang mungkin mereka kira sudah tewas, akibat pukulan kasar tersebut
...----------------...
"Mereka sengaja memancing kalian keluar" tukas Geralt dan tentunya mendapat anggukan setuju dari rekannya
"Apa kau ingat hal lain, ciri-cirinya mungkin?" tanyanya lagi
"Aku tidak terlalu mengingatnya ditambah itu minim cahaya, aku hanya ingat dia pria berwajah sangar dan Jian sempat merebut earphone dari telinganya, melihat dari ekspresi Jian sepertinya dia sempat mendengar suara atasan mereka" jelas Leo
"Pikirkan saja kesembuhanmu, Sepertinya aku tahu siapa pelakunya?" pungkas Serin, yang baru saja datang bersama Glen, berhasil mengalihkan atensi dari para pria itu
Serin mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana seraya meraih sebuah berkas yang di mintanya pada Geralt sebelum-nya
...****************...
.
.
.
Episode "File?"
Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊
.
.
.