Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Saksi


Tak tak tak tak


"Coba terus masuki jaringan keamanan kediaman Rahardian!!" Titah Ronald pada tiga orang anak buah yang ia bawa langsung dari Australi.


"Baik tuan!"


Di sudut ruangan, Malvin berdiri menghadap keluar jendela gedung perusahaan sambil memegangi alat di telinganya yang sudah terhubung pada ponsel. "Kirim beberapa mata mata untuk mengintai keadaan kediaman Rahardian, dan pastikan beberapa orang lainnya untuk mengikuti terus kemanapun Rahardian dan seluruh anggota keluarganya pergi." Titah Malvin serius.


"Perintah diterima!!"


"Gimana kak?" Tanya Kris adik Malvin, ahli di bidang pakar nano.


Menoleh, "sedang di usahakan. Kakak sudah mengirim beberapa anak buah kita untuk memantau kegiatan apa saja yang dilakukan keluarga Rahardian," jawab Malvin hendak mengusap rambut adiknya, namun segera Kris tepis.


"Aku bukan anak kecil!!" Mendelik tajam.


"Oh ayolah brother," ucap Malvin malas sambil memutar kedua bola matanya. Adiknya benar benar tidak bisa diajak bermanja manja ria. Terlalu kaku dan dingin.


"Ini. Suruh anak buahmu untuk memasang ini ketubuh anggota keluarga Rahardian!" Menyerahkan beberapa alat ciptaannya kepada Malvin setelahnya berlalu pergi.


"Gak ada hormat hormatnya sama kakak!" Dengus Malvin lalu melakukan panggilan pada salah satu anak buahnya. "Kemari dan ambil alat ini. Ingat untuk memasangnya ketubuh seluruh anggota keluarga Rahardian!!"


"Dimengerti!"


Di tempat lain, Edwark tengah berhadapan dengan seorang wanita tua dengan huban yang tubuh di berbagai sisi rambutnya. Dengan pekarangan rumah yang sederhana, keduanya dipertemukan untuk sesi tanya jawab. "Maaf mengganggu sebelumnya nyonya, saya sebenarnya datang kesini bermaksud ingin menanyakan beberapa hal yang menyangkut tentang keluarga Rahardian," ucap Edwark kikuk.


"Jangan panggil saya nyonya, panggil saja bi Ningsih. Silahkan jika nak ini ingin bertanya," jawab Ningsih lemah mengingat umurnya yang sudah sangat tua.


"Ah, hehe kalau gitu saya tidak sungkan lagi bi. Jadi begini, saya ingin bertanya. Em, menurut info yang saya dapat, bibi sudah bekerja di keluarga Rahardian puluhan tahun lamanya," tutur Edwark pelan pelan.


"Betul."


Terdiam sejenak, "em... jadi begini. Maaf jika saya menanyakan masalah pribadi tentang keluarga mantan majikan anda, tapi saya sangat butuh informasi ini. Mengatur nafas berusaha untuk tidak gugup. "Apa anda melihat kronologi kejadian meninggalnya nona Anna Angkasa?" Tanya Edwark hati hati.


Membuang pandang, "saya tidak tahu." Elak Ningsih cepat. Kejadian itu berlalu hampir delapan tahun yang lalu, tidak ia sangka sekarang masih ada yang mencari informasi tentang kasus meninggalnya majikannya Anna Angkasa.


"Saya mohon bi, saya sangat butuh informasi ini," menurunkan egonya, semua Edwark lakukan demi sepupu tercintanya. Milea.


Edwark segera bangkit dan bersimpuh di kaki Ningsih hanya agar wanita itu mau sedikit saja hiba padanya. Dia lebih baik menahan malu dari pada menahan sakitnya masuk rumah sakit, karena di keroyok sepupu sepupunya. "Saya mohon bi. Ini demi Milea bi..." mohon Edwark dengan begitu menyedihkan.


"Milea?" Gumam Ningsih berbalik menghadap Edwark. "Apa maksud anda demi nona Milea?" Tanyanya lagi.


Bangun, "benar bi. Ini semua saya lakukan demi Milea. Dia dituduh membunuh nona Anna dan sekarang saya dan para sepupu saya sedang mengumpulkan bukti untuk meyakinkan hakim bahwa Milea tidak bersalah," jelas Edwark cepat.


"Itu tidak benar! non Lea gak pernah melakukan itu!" Bantah Ningsih tegas. Tak terima jika nona muda kesayangannya dikatakan seorang pembunuh.


"Sebab itulah, saya membutuhkan bibi untuk menjadi saksi di pengadilan nanti. Saya mohon bi, demi Milea. Demi membuktikan bahwa Milea tidak bersalah," ucap Edwark penuh secercah harapan Ningsih mau menerima tawarannya untuk menjadi saksi.


"Kejadian hari ini jangan sampai bocor keluar, apalagi sampai diketahui awak media. Jika sampai itu terjadi, siap siap saja kalian akan menanggung akibatnya," ancam Rahardian pada seluruh pembantu yang menyaksikan kronologi kejadian meninggalnya Anna Angkasa.


"Dan untuk bibi. Menunjuk Ningsih. "Pastikan tidak ada satupun dari mereka berani menyebarkannya. Jika itu sampai tersebar. Berbisik di telinga Ningsih. Bukan hanya keluarga anda yang saya hancurkan, tapi nona muda kesayangan anda juga akan masuk penjara," ujar Rahardian lalu pergi.


"Bagaimana bi?" Tanya Edwark menunggu penuh harap jawaban dari Ningsih. Dia sangat yakin, bahwa Ningsih pasti mau membantu Milea, nona mudanya dulu.


"Maaf, saya tidak bisa."


"Tapi kenapa?" Cecar Edwark tak percaya bahwa Ningsih menolak membantu Milea, nona mudanya.


"Apa ini karena Rahardian?" Tebak Edwark tepat sasaran. "Jika hanya karena itu, saya bisa menjamin. Kalau anda mau menjadi saksi di pengadilan, anda akan aman selamanya dari gangguan keluarga Rahardian, dan saya akan memberikan pekerjaan terbaik untuk putra putri anda, bagaimana?" Tawar Edwark.


"Aman dari keluarga Rahardian?"


"Betul."


Ningsih terdiam bingung harus memilih yang mana. "Tidak apa, anda tidak perlu menjawabnya sekarang. Saya bisa memberi anda waktu untuk memikirkannya. Kalau begitu saya permisi," Edwark membungkuk hormat dan berlalu pergi menghampiri motor sportnya yang terparkir di luar halaman.


"Tunggu!!" Menghentikan langkahnya, Edwark berbalik menghadap Ningsih yang nampak mengambil nafas dalam penuh keyakinan.


"Saya bersedia menjadi saksi di pengadilan." Jawab Ningsih mengembangkan senyum penuh bahagia dari Edwark.


Sebentar lagi Milea... tunggu sebentar lagi akan aku pastikan kamu mendapatkan keadilan itu.