
"Milea?!"
Deg. Seketika sang nama terdiam gugup. Diliriknya takut takut kearah rekan bisnis tuannya itu. Tatapan tak percaya dan... akh! Milea tidak dapat mengatakannya. Yang pasti sangat menyebalkan.
Mati aku!! Umpatnya dalam hati.
Pria itu segera bangkit menatap lekat lekat wajah Milea yang terlihat mengenaskan. Mata bengkak, dan pipi yang merah seperti bekas tamparan seseorang. Tangannya terulur untuk mengelus pipi Milea yang memar itu.
"Milea apa yang terjadi padamu? Kenapa pipimu merah? Matamu juga sembab? Apa kau habis menangis? Siapa?! Siapa yang berani membuat mu menangis ha?! Katakan biar kakak kasih pelajaran sama dia!!" Cecar pria itu khawatir.
Bagus!! Hidupku akan berakhir di sini! Gerutu Milea namun tidak sedikit pun ingin menghalangi tangan pria itu memegang pipinya.
Zaky yang sedari tadi melihat pemandangan itu diam diam mengontrol emosinya karna rasa cemburu. Cemburu? Bahkan Zaky-pun rasanya tidak menyadari perasaannya sendiri.
"Lepaskan tanganmu!!" Zaky bangkit melepas tangan Pria itu dari wajah Milea. "Apa yang kau!! Milea!!" Pria itu menatap tajam Zaky lalu beralih pada Milea, meminta gadis itu untuk memberi tahukan siapa dirinya.
"Kau mengenalnya?" Tanya Zaky dengan pandangan tak lepas dari wajah Pria muda itu.
Milea seperti berada disituasi yang sulit. Dia meraba raba tengkuknya karna rasa gugup yang tak dapat diutarakan lewat kata kata.
"Tentu saja kami saling mengenal! Kami inikan se--- mmmppp!!" Sebelum Pria itu menyelesaikan ucapannya Milea lebih dulu membungkam mulut lembek Pria itu.
"Hahaa Kak Erickh ini senior aku waktu kuliah di Australi. Ya kan Kak Erickh?!" Menatap dengan mata melotot.
Seketika nyali Erickh menciut, dia langsung menganggukkan kepalanya tak ingin menjadi sasaran empuk kemarahan gadis ini.
"Senior sih senior, tapi tidak perlu sedekat itu jugakan?!" Cibir Zaky kesal sendiri. Di belakang, Haikal dan Nala saling lirik lalu mengangkat bahu cuek bersamaan. Cukup menjadi penonton, biar yang di depan menjadi pemeran.
Milea dan Erickh saling lirik, merasa sadar Milea langsung mendorong tubuh Erickh menjauh darinya.
"Tapi Milea, kamu belum menjawab pertanyaanku!" Sebal Erickh memasang wajah cemberut, membuat beberapa pengunjung merasa Erickh sangat menggemaskan.
"Pertanyaan yang mana? Kau hitung sendiri berapa banyak kau bertanya? Kau pikir aku bisa mengingat semuanya?!" omel Milea.
"Yang itu. Pipi kamu itu..." cicit Erickh masih dalam keadaan cemberut. Milea memijat keningnya pelan. Orang yang disebutnya senior ini memang memiliki sifat sangat menggemaskan. Bahkan saking gemasnya pengen nyakar.
"Au, digigit kuda nil kali." Jawab Milea asal. Tapi, dari isyarat yang diberikan Milea, Erickh tahu apa itu.
"Akan aku ceritakan nanti." Begitulah sekiranya yang mampu dia baca. Karna dia bukan ahli dalam hal seperti itu, tapi sebagai seorang pebisnis, kemampuan membaca gerak gerik seseorang memang sangat diperlukan.
"Sudah lirik lirikannya? Sudah sejauh mana hubungan kalian?" Sinis Zaky kembali duduk pada posisinya, diikuti Milea dan juga Erickh.
"Mantan."
"Mantan?!" Zaky melotot kearah Erickh dengan perasaan yang sudah dikuasai api cemburu. Sedangkan Milea? Dia menepuk jidatnya pusing sendiri.
"Jelaskan atau kau mati di tanganku!" Erickh menelan saliva kasar saat melihat Milea molotot kearahnya dengan tangan yang bergerak di depan leher. Seolah olah sebuah ancaman yang akan merugikan nyawanya.
"Senang bekerja sama dengan anda tuan Erickh," ucap Zaky bangun menjabat tangan Erickh.
"Saya juga." Balas Erickh.
Pembicaraan mereka akhirnya selesai. Kelima orang itu segera pergi keluar setelah dirasa tidak ada yang ingin dibicarakan lagi.
Milea melirik kearah Erickh yang memasuki mobil tapi tidak ada niatan menjalankannya. "Tuan, saya ingin berbicara sebentar dengan Kak Erickh, bolehkan tuan?" Izinya.
Zaky menghentikan langkahnya tepat di samping mobil. Dilihatnya Milea yang nampak memohon hanya agar bisa berbicara dengan mantan seniornya itu.
"Pergilah!" Meski enggan melepaskan, tapi Zaky tetap mengizinkannya. Lagi pula siapa dirinya? Apa haknya melarang pengawalnya untuk mengurus urusan pribadinya? Lagipun, hubungan mereka saat ini 'kan hanya sebatas atasan dan bawahan. Tidak lebih.
"Terima kasih tuan." Milea berlari kecil meninggalkan Zaky menuju mobil Erickh. Dibukanya pintu mobil lalu masuk kedalamnya.
"Dia orangnya?" Tanya Erickh berubah datar dan dingin. Milea menyandarkan tubuhnya melirik Erickh sama dinginnya.
"Iya."
"Milea. Kenapa harus sama dia sih? Padahal jika kamu mau, dalam hitungan detikpun kami bisa dengan mudah menghancurkannya!" Tutur Erickh kesal.
"Aku memiliki alasan yang kuat untuk terus berada di sampingnya. Lagi pula kita sudah sepakat bukan? Dalam satu tahun setelah menyelesaikan masalahku di sini, aku akan kembali. Lalu apa yang kalian takut 'kan? Aku bisa bela diri, bisa menjaga diri sendiri." Keluh Milea menatap jenah Erickh.
"Bela diri saja tidak cukup Milea. Dunia ini kejam, apalagi yang kau urusi adalah dunia bisnis. Dunia di mana semua orang bisa saja melakukan cara curang hanya untuk bisa menduduki posisi pertama!" Tegas Erickh mencoba membuat Milea mengerti.
"Lalu apa? Kalian selalu saja ingin mengambil tindakan sendiri, tanpa memperdulikan perasaanku. Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri di sini! Aku mohon jangan ikut campur!!" Nafas Milea terengah. Menatap Erickh sebentar, dia memegang knop pintu berniat ingin keluar. Tapi, Erickh lebih dulu menahan tangan Milea untuk tidak pergi.
"Aku tau maafkan aku. Bagaimana dengan pipimu? Siapa yang melakukannya?" Milea menghela nafas sejenak dan mengurung niatnya untuk keluar dari mobil.
"Dia,"
"Dia siapa?"
"Masalalu, dan ku rasa kau tau siapa itu." Jawabnya memejamkan mata erat dengan tangan mengepal.
"Ck. Dia tidak ada habis habisnya ya! Kan sudah aku katakan! Kami bisa menghancurkannya dalam sekejap mata!" Kesal Erickh mengeluarkan rokok dan juga pematiknya.
Milea membuka mata, ditatapnya tajam Erickh. "Buang atau mati!!" Satu ancaman dari Milea yang mungkin tidak akan dia lakukan entah mengapa selalu membuat Erickh kalah.
Dia melempar rokok yang bahkan belum sempat dia nyalakan itu ke jok belakang. "Sudah."
"Aku sudah berkata dari awal. Di sini aku mencari keadilan, bukan menghancurkan seseorang. Karna aku akan sama busuknya dengan mereka jika melakukan hal itu," jawab Milea lalu turun dari mobil karna di rasa sudah terlalu lama di dalam sana.
"Sudah selesai?" Tanya Zaky acuh tak acuh. "Sudah tuan, mari kita kembali." Milea segera memasuki mobil di depan lalu mengemudi mobil kembali menuju kantor.