
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
📞In Call-
"Seperti dugaanmu! sejak beberapa hari yang lalu, tampaknya Regan yang mengangkat panggilan Tuan Xavier, dan menurut Departemen kehakiman juga secara sepihak Regan mengatur jadwal Kongres Xavier"
"Kita harus menemukan studionya secepat mungkin"
"Baiklah, kami akan kembali mencari nanti ku kabari lagi"
"baiklah"
📞End Call-
Serin meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, seraya melirik sekilas layar monitor yang telah terjeda di bagian tengah interview, lalu menarik tipis senyumnya
...****************...
Selesai melakukan interview, pria yang rapi dengan setelan jas abu-abu tersebut keluar dari ruang siaran untuk kembali ke ruang make up
"......"
"Professor! apa anda punya rencana setelah ini, saya ingin mengajak anda untuk makan siang kalau Professor tidak keberatan!" tanya seorang wanita yang merupakan pembawa berita tadi, ia masuk ke ruang Regan dan meminta waktunya untuk makan siang berdua
"Maaf! tapi aku punya janji sebentar lagi" sahutnya begitu ramah dan lembut
Tak ayal untuknya mendapat tawaran seperti itu dari wanita karena parasnya yang menawan, walau usianya hampir menginjak kepala 4
Ia lantas bangkit dari duduknya, karena seperti yang di ucapkannya ia akan pergi karena ada janji lain
Baru saja ia keluar dari ruang rias, terlihat seorang pria berkaos hitam serta topi yang digunakannya untuk menutup sebagian wajahnya
"Kenapa kau melakukan ini??" ujarnya menarik kasar kerah kemeja Regan
"Apa yang kau lakukan, lepaskan dia" ujar asisten Regan
Wanita yang tadi masih berada di dalam langsung keluar saat mendengar keributan di luar
"Kenapa kau melakukan ini?!" tanyanya seraya membantu Regan lepas dari cengkraman pria aneh tersebut
"Apa yang kau inginkan dariku, aku bahkan tidak mengenalmu" ucap Regan, dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya, tanpa berniat untuk melepaskannya sama seperti kebanyakan orang
"Dia bicara tentang hak asasi manusia kepada publik, tapi b*jingan ini yang membuat Happiness Auction, dia paling kotor dan sampah paling jahat di dunia ini" ucapnya
"Itu fitnah, kami bisa menuntutmu" jawab wanita tadi
"Otakmu tidak bekerja dengan baik ya?!" sahut Regan
"......"
"Hallo! ini stasiun penyiaran, seorang pria menyebabkan masalah disini"
Setelah menelpon polisi, wanita itu kembali untuk membantu Regan lepas dari pria tidak di kenal itu
"Apa kau sedang sakit, dan melampiaskan-nya denganku?" ucap Regan
"Melampiaskan! bagaimana kau bisa mengatakan itu setelah memikirkan korban yang menderita karena di potong-potong olehmu.
Bughhh~
Satu pukulan berhasil mendarat di wajah Regan hingga membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah
"Apa anda baik-baik saja?!" tanya pembawa berita, seraya membantu Regan untuk berdiri
"Pastikan untuk melihat apa yang brengs*k ini sembunyikan nanti" ujarnya menatap Regan dengan tatapan penuh kebencian
Tapi Regan hanya tersenyum tipis sambil mengelap darah di sudut bibirnya
"Beraninya kau tersenyum! kau pikir aku lucu hah..."
Bughhh~
Sekali lagi pria itu mendaratkan satu pukulan di wajah Regan
"Apa kau masih bisa tertawa setelah mengambil mata adikku hah!!!"
Bughhh~
Bughhh~
Suasana menjadi begitu ricuh, beberapa anggota organisasi, termasuk asisten dan pembawa berita juga ikut memisahkan dua pria itu
"Lepaskan dia! apa yang kau lakukan hah!" ucap Luke berusaha menahan pria itu bersama Zeon
"KALIAN DIAM SAJA! KALIAN TIDAK TAHU BAGAIMANA RASANYA SAAT MEMAKAMKAN ANGGOTA KELUARGA KALIAN TANPA JASAD YANG UTUH!!!" teriaknya membabi buta ingin menghabisi Regan saat itu juga
"LEPASKAN AKU!!!"
"DIAM!!!" tegur Luke seraya memborgol tangan pria yang masih saja mengumpat pada Regan
"LEPASKAN AKU!!!"
"Berhenti!!!" tegur Zeon sekali lagi
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKANMU!!!" teriaknya seperti orang kesetanan
"Kau ditangkap karena masuk tanpa izin dan penyerangan, kau memiliki hak untuk tetap diam, apapun yang kau katakan bisa digunakan untuk melawanmu di pengadilan" ucap Luke seraya menyeretnya keluar dari sana di bantu Zeon
Mereka semua keluar dari tempat syuting, diikuti oleh beberapa detektif lain yang merupakan anggota tim Luke di kantor
"Apa anda baik-baik saja?!" tanya Edward memastikan
"Saya baik-baik saja, jangan terlalu keras padanya mungkin dia hanya sedang kehilangan" ujarnya memancarkan citra dan jiwa yang begitu rendah hati di hadapan semua orang
"Anda baik-baik saja Pak!" tanya salah satu mahasiswa, yang juga anggota dari organisasi hak asasi manusia
"Saya baik-baik saja" sahutnya, lalu pergi bersama asistennya kembali keruang makeup untuk mengobati lukanya
...****************...
"Sepertinya dia tidak curiga, Jordan melakukannya dengan baik" ucap Luke, bicara pada Serin lewat earphone mereka yang saling terhubung
"Baiklah" ~ Serin
Setelah memastikan suasananya aman, Zeon langsung membuka borgol yang ada di tangan Jordan, lalu mereka masuk kedalam mobil
"Ini ponselnya" ucap Jordan seraya memberikan sebuah ponsel pada Luke yang duduk di sampingnya
"Sekarang apa yang harus kami lakukan?!" ~ Luke
"Leo periksa memorinya, Ardan kau periksa yang lain, periksa juga catatan pencariannya baru-baru ini, kalian harus cepat Regan akan sadar kalau dia kehilangan ponselnya" ucap Serin sambil terus mengawasi keduanya yang fokus pada komputer masing-masing
"Katakan padaku no. seri dan modelnya, aku akan mengatasinya dengan kode" ~ Leo
"RPT.201. model LX2022" ~ Luke
"Sebentar" ~ Leo
"Bisa hubungkan ponsel Regan ke tablet, aku akan mengontrolnya dari sini" ~ Leo
Setelah terhubung, Leo mulai berkutat dengan code-code komputer
"Wah~ sistem keamanannya bukan lelucon" tukas Leo, saat melihat ada begitu banyak kombiasi yang harus ia pecahkan untuk mendapatkan 23 kode kombinasi yang pas untuk masuk ke sistem keamanan ponselnya
"Apa kau bisa mendapatkan sesuatu yang berguna?" tanya Serin
"kurasa aku bisa mendapatkan data lokasinya" jawabnya
"Studio Regan bisa saja berada di bawah tanah sama seperti Arka" ~ Serin
"Oh iya Serin! aku melihat ada bubuk kapur pada lengan kemejanya dan ada bau bahan kimia juga" ~ Jordan
"Bahan kimia?" perjelas Serin
"Hmm.. bahan kimia!" sahut Jordan
"Apa dia menggunakan itu untuk menyingkirkan bau dari jasad korban di studionya?" ~ Edward
"Tidak menutup kemungkinan" sahut Serin
"Aku menemukan catatan keberadaan-nya baru-baru ini, dia pergi ke daerah ini setidaknya 3 kali dalam seminggu ini, dia juga Sering berada di sekitar Museum Sport Center di Centella. 47 Distrik A" ~ Leo
"Ardan bukan denah lokasinya sekarang" ~ Serin
"Baik" ~ Ardan
"......"
"Kami akan langsung kesana" ~ Zeon
"Baik" ~ sahut mereka bersamaan
"kalian harus cepat! jika Regan mencurigai kita, maka dia akan sampai di sana sebelum kita" ~ Serin
...****************...
"Bapak yakin baik-baik saja" tanya salah satu mahasiswa
"Tidak apa-apa. orang-orang cenderung bertindak seperti itu saat mereka sakit" jawabnya
Para mahasiswa itu hanya mengangguk paham, lalu keluar dari sana untuk membiarkan Regan sendiri
Pria itu mulai merogoh saku celana dan jasnya, untuk mencari ponselnya namun tidak mendapatinya
"Ini ponsel bapak! tadi terjatuh di depan" ujar sang asisten yang baru saja masuk memberikan ponselnya
Pria itu mencoba mengingat kejadian tadi, lalu tersenyum tipis saat memeriksa ponselnya
"Dia bermain-main denganku rupanya" gumamnya ber smirk
"Kenapa kau sangat hina" ucapnya seraya bangkit dari duduknya, keluar dari ruangan tersebut
...****************...
"Apa kalian mendapatkan sesuatu??" ~ Serin
"Tidak ada apa-apa disini, dan tidak ada yang mencurigakan" sahut Luke
"Kurasa ini hanya tempat pengalihan, dan dia sengaja membuat kita mengetahui ini dan berjalan di skenario yang dia buat" tambahnya
"Kalian yakin tidak ada apapun di sana?!" tanyanya sekali lagi memastikan
"Hmm.. tidak ada apapun di sini, kami juga sudah memeriksa ruang bawah tanah dan tidak ada yang mencurigakan" jawab Luke
Serin menghela panjang napasnya, "baiklah! kalian bisa kembali ke markas, Leo juga masih mencari hal lain" ~ Serin
"Baiklah" ~ Luke
Serin memijat pelipisnya seraya mendudukkan dirinya di kursi
Ia berpikir bagaimana mereka bisa menangkap Regan dengan waktu yang tersisa, dimana mereka masih belum mengetahui dimana letak Studionya
...****************...
Regan duduk di sisi sofa singgle yang ada di tempat itu
"Apakah Ayah tahu ini apa?" ujarnya seraya mengeluarkan sebuah alat perekam dari saku jasnya
"Ini adalah kompilasi dari umpatan tiap umpatan yang membuat manusia indah, dan orang-orang yang memohon padaku untuk diselamatkan" ujarnya bicara pada pria paruh baya yang duduk tidak sadarkan diri di depannya
"Oh. iya! disini juga ada suara tangisan putrimu sebelum dia bunuh diri" tambahnya lalu tertawa kecil
Sambil memegang dan mendengarkan rekaman tersebut, ia menuang sebuah wiski Glenfiddich Janet Sheed Roberts Reserve 1955 kedalam gelasnya, lalu meminumnya di hadapan sang Ayah mertua seolah tidak terjadi apapun
Entah sudah berapa hari Tuan Xavier di kurung di ruangan itu, tapi nyatanya pria paruh baya itu hanya duduk terikat di sebuah kursi tanpa ada yang mengetahui apakah dia masih hidup atau tidak, bahkan bekas cekikan dari kawat tipis itu masih berbekas di lehernya
"Indah sekali" gumamnya seraya menatap langit-langit ruangan tersebut sambil menutup matanya, menikmati berbagai macam suara bahkan jeritan dari dalam rekaman tersebut
Pria itu memang tidak ada bedanya dengan Arka, bahkan mungkin dia jauh lebih kejam dan sadis dari pada Arka
"Kau pikir aku memulai Happiness Auction, hanya karena uang?! kau tahu betul jika aku mewarisi lebih banyak uang yang tak terhingga, pekerjaanku adalah membangun kembali kemanusiaan kita, Ah.. ini mirip dengan pol*tik yang kau lakukan, jadi dari semua orang kau tidak seharusnya menegurku karena aku yang membuat posisimu tetap aman dari penciuman para jaksa dan polisi. apa aku benar?" ucapnya
"Serin memprovokasiku dan mengekspose nama para klienku ke media, bahkan dia juga menyuruh Van untuk mengungkapkan rahasiaku, dia cukup baik dan kompeten tapi aku tidak akan menoleransi itu selamanya" ujarnya seraya bangkit dari duduknya, lalu keluar dari ruangan tersebut
...****************...
Pukul 20.33
Glen yang baru saja pulang dari kantor, langsung mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu dimana anak dan istrinya sedang duduk di sana
"Kapan kamu pulang??" tanya Glen saat ia baru saja mendaratkan bokong-nya di sofa
"Jam 10.00" sahutnya tanpa menoleh pada sang suami
Pria itu lantas melihat jam tangannya, dan memastikan jika Serin hanya keluar selama satu jam
"Satu jam bukan?!" ucapnya melirik Glen dan di angguki oleh suaminya
"Pergilah ke kamar, bersihkan dirimu lalu setelah itu kita makan malam" suruhnya dan sekali lagi di angguki oleh Glen yang bangkit dari duduknya
"Oh iya, dimana rekan-rekanmu, apa mereka masih disini" tanyanya berbalik menatap istrinya
"Leo dan Ardan sudah kembali ke markas, jadi tidak ada siapapun disini" jawabnya
Mendengar itu membuat Glen mengangguk paham, lalu pergi ke kamarnya
"......"
Selesai makan malam, Serin masuk ke kamarnya setelah tadi meminta Lily untuk menjaga dan menidurkan Reyhan
"Kamu kelelahan?!" seru Glen seraya memposisikan dirinya untuk duduk di samping istrinya
Serin hanya menggeleng pelan seraya meletakkan ponselnya di samping
"Aku hanya sedikit pusing" jawabnya seraya menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya
"Ini kenapa aku tidak ingin kamu terlalu memfokuskan dirimu pada kasusmu" sahutnya, seraya mengelus lembut pucuk kepala Serin
"Aku tidak akan bisa tenang jika pria gila itu masih menjalankan bisnis kotornya" balas Serin
"untuk melawan orang-orang seperti mereka, entah berapa banyak emosi yang harus ku tekan?!" ucapnya lagi
Glen menghela pelan napasnya, niatnya untuk membuat istrinya tetap dirumah, mungkin hanya akan menjadi impian mengingat bahwa nyatanya wanita itu telah berkecimpung di dunia penyelidikan sebelum mereka saling mengenal
"Mungkin banyak emosi yang harus kamu tekan, tapi aku berharap kamu akan segera menyelesaikan ini tanpa satu goresanpun" pasrah Glen seraya menggenggam tangan istrinya
"mungkin sudah berkali-kali aku bicara agar kamu tidak perlu khawatir, tapi kali ini aku akan berusaha untuk tidak terluka" tukasnya, lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah tampan suaminya
"Hmm.." dehamnya, lalu perlahan mulai mel*mat lembut bibir istrinya
Ia melepaskan tautannya, lalu menatap lekat wajah sang istri "kalian benar-benar harta berharga untukku, dan aku tidak akan pernah mau kehilangan kalian" ucapnya seraya membawa Serin kedalam pelukannya
...****************...
...4 Hari Tersisa...
...****************...
📞In Call-
"dia biasanya tinggal di Apartemen/ studionya"
"apa kau tahu dimana studionya?"
"Entahlah, dia tidak pernah memberitahuku.. maaf tidak bisa banyak membantu"
"Tidak apa-apa terimakasih karena sudah mau mengangkat telponku"
"Iyaa"
📞End Call-
Serin dan Geralt langsung masuk kedalam lift menuju lantai atas, setelah mendapat info dari asisten Regan di organisasi
"......"
Sampai dilantai 16, keduanya mulai mencari no Apartemen Regan
"Aku yakin, kita pasti menemukan sesuatu disini" pungkas Serin seraya masuk menggunakan kartu akses yang di berikan oleh Leo
"Dia tidak ada di sini" ucap Geralt sembari berjalan masuk kedalam Apartemen mengikuti langkah Serin
Ia masuk kesebuah kamar yang merupakan kamar utama dan itu adalah kamar Regan
Serin melihat ke sekeliling sampai ia tertuju pada sebuah foto yang terpajang di dinding
Dimana didalam foto tersebut, terdapat foto seorang pria kecil yang sedang memangku seorang gadis kecil, dan sebuah tulisan yang tertulis di foto tersebut berhasil membuat Serin sadar siapa kedua anak kecil yang ada di dalam foto itu
(Ep 'Rekan Luke')
...****************...
.
.
.
Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊
.
.
.