Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Hadiah, Nostalgia


Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!


...****************...



Serin menghela napasnya, seraya menarik tipis senyumnya


"Berhasil?" tanya Glen, yang kala itu sibuk dengan ponselnya, selagi Serin sibuk dengan urusannya


"Hmm." sahut Serin


"Tapi dilihat-lihat kamu hebat juga dalam masalah ini" tambah Serin, karena tadi Glen yang mengambil alih untuk membenarkan rambutnya


"Tentu" sahut Glen, yang langsung mengc*p sekilas jenjang leher istrinya, berhasil mendapat tatapan tajam dari Serin, karena sempat-tempatnya mengambil kesempatan disaat seperti ini


Sedangkan Glen, ia hanya tersenyum puas, lalu kembali pada ponselnya


📳Drrrtt...


Serin yang kala itu masih menatap suaminya, langsung teralih pada ponselnya


📞In Call-


"Hallo!"


"Malam sayang!"


"tutup mulutmu itu!!! katakan pada Ayahmu jika dia tidak bisa membesarkan anak seperti itu, dan aku ingin memberikan kabar lebih dulu, jika penangguhannya akan segera di batalkan, jadi lebih baik serahkan diri sekarang!"


Glen yang kala itu sedang asik dengan ponselnya langsung menatap istrinya, yang terlihat kesal


"Serin! kau harus bicara yang jelas biar aku bisa mengerti, aku tidak mengerti apa yang kau katakan?"


"Jika kau tidak mengerti tanya Ayahmu"


"aku tidak tahu apa maksudmu, tapi jika kau kesal karena Ayahku, aku minta maaf atas namanya.."


"Psikopat sepertimu memang selalu bicara sopan"


"...hahaha.."


"Kau tertawa, Baiklah! tertawalah sesukamu selagi sempat, orang sepertimu bahkan tidak layak mendapat ruang di bangsal RSJ atau sel penjara sekalipun... akan ku cari, dan ku kumpulkan seluruh buktinya, dan membuatmu mendapat hukuman sesakit mungkin, dan mati secara perlahan, nantikanlah itu Baj*ngan... kau paham!!!"


".... Oh iya, kau memang ahli dalam mencari, kan! ternyata pepatah lama itu benar, sepasang kekasih itu sama saja,,, suamimu juga ahli dalam mencari dan menggali masa lalu bukan! dan ya... apa kau menikmati acara nostalgia yang kusiapkan?!"


"*B*aj*ngan kau, Baiklah... kau boleh bertingkah semaumu sebelum aku menangkapmu, tapi ketika aku berhasil akan ku lumpuhkan seluruh sarafmu dengan perlahan, dan akan membuatmu kesakitan setiap detik dan mati secara perlahan... nantikanlah itu!!!"


"Aku suka orang sepertimu, wanita yang kuat dan berani... sebenarnya aku ingin bermain denganmu, tapi aku ada urusan, lain kali saja kita bermainnya ya! Aku harus mengembalikan foto dan memberikan hadiah untuk seseorang" Tut...Tut...Tut...


📞End Call-


Belum sempat Serin menjawab, panggilan telponnya sudah lebih dulu di akhiri


"Kenapa?" tanya Glen, yang mendengar langsung ucapan Serin ketika menjawab telpon dari Arka tadi


Serin meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu beralih memijat pelipisnya, sebenarnya ia juga stress dengan seluruh perbuatan Arka


Mereka memang mengantongi saksi hidup, tapi seperti yang kita tahu Lusia masih dalam keadaan koma, anak buahnya masih belum berhasil menemukan Larisa, dan bukti yang mereka punya tidak akan cukup, agar dapat membuka sidang untuk Arka, karena pria itu menutupi seluruh kejahatannya tanpa cacat sedikitpun ditambah kekuasaan Willy yang juga digunakan, untuk menutup sempurna kesalahan anaknya sendiri, sementara tempat Arka menyimpan seluruh tropinya masih belum berhasil ditemukan, entah di mana pria itu menyimpannya, Serin dan yang lain sudah pernah masuk kerumahnya secara diam-diam tapi hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda jika tropinya ia simpan di sana


Glen yang paham jika Serin, sedang banyak pikiran mencoba memijat pundaknya, agar wanita itu merasa lebih baik


"Tidak perlu Glen, seharusnya aku yang melakukan ini padamu" ucap Serin


"Sudah jangan membantah, nikmati saja ini dan jernihkan pikiranmu" sahut Glen


Serin menarik senyumnya, "Terimakasih" gumamnya, namun sukses di dengar oleh Glen


Pria itu hanya tersenyum, dan melanjutkan apa yang sedang dilakukannya tadi


Ditengah pikirannya yang berkecamuk, ia terpikir dengan ucapan Arka tadi 'nostalgia'


"Jadi dia sengaja mengirim itu untuk membuatku down?!" gumamnya dalam hati


Tapi tidak hanya di sana, Serin juga kembali mengingat 'Aku harus mengembalikan foto dan memberikan hadiah untuk seseorang' ia mulai berpikir keras dan mencari apa maksud dari ucapan Arka tadi


Entah kenapa tapi sekilas Serin mengingat, jika waktu di rumah sakit, ia melihat foto yang ada di ruangan Marisa hilang


"Apa mengembalikan foto, maksudnya adalah foto yang ada di ruangan Mamah?!" gumamnya, yang mulai khawatir


Melihat jika tadi Arka yang menelpon-nya, sudah pasti semuanya terkait satu sama lain


Tanpa buang waktu, Serin langsung menelpon Marisa untuk memastikan apakah ia baik-baik saja sekarang


Tapi untungnya Marisa mengatakan jika ia sedang berada di rumah, dan itu membuat Serin bisa bernapas lega


Berhasil menarik napas lega, Serin mengerutkan dahinya, ketika pelayan mengatakan jika dirinya punya kiriman, yang entah dari siapa


"Tunggu!" ucap Glen, menghentikan Serin yang akan membuka kotaknya


"Kenapa?" sahut Serin, menatap Glen, tapi tangannya malah bergerak lebih dulu untuk membuka kotaknya


Keduanya tersentak kaget, ketika melihat sebuah rambut seseorang dengan berlumur sedikit darah, ditambah ada catatan kecil juga di kotak tersebut.


Dengan perlahan Serin menyingkirkan rambutnya, untuk mengambil catatan yang ada di dalam kotak


"If you had


One shoot


Or one opportunity


To seize everything you ever wanted


In one moment


Would you capture it


Or just let it slip?


"My choice fell on you..."


"Kenapa pilihannya jatuh padamu! apa maksudnya?!" ucap Glen, yang juga membaca tulisan yang tertulis di kartu ucapan


Serin hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali beralih pada kotaknya


Bukan hanya kartu, tapi ia juga menemukan sesuatu didalam kotak itu


Sebuah alat perekam, dimana ketika Serin memutar isi rekamannya terdengar suara jeritan, dan suara benda yang menghantam sesuatu dengan kasar


Dan tulisan terakhir yang Serin lihat di kotak itu adalah 'ini baru hadiah awal, masih banyak kejutan berikutnya. kau pasti akan sangat menyukainya'


"Semakin aku mengejar-nya, semakin dia bersemangat untuk main-main denganku" gumamnya


"Sebaiknya kita istirahat, kau terlihat lelah" ucap Glen, dan hanya di angguki oleh Serin yang ikut berdiri, dan mengikuti suaminya untuk istirahat di kamar


...****************...


Tidak habisnya Arka mempermainkan Serin, dari mayat yang di buatnya semirip mungkin dengan luka Darin, bahkan surat ancaman jika Serin lah target selanjutnya



Serin bangun pagi-pagi sekali, jam masih menunjukkan pukul 07.12 tapi ia sudah rapi dengan pakaian-nya



Sebelum pergi, ia sempat mengec*p sekilas bibir suaminya, lalu meraih tasnya dan pergi ke suatu tempat


Tanpa sopir Serin melajukan mobilnya menuju apartemen Geralt, untuk pergi ke gudang


"......"


Mengerjapkan matanya, Glen meraba kasur mencari keberadaan istrinya


Glen melihat ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 07.54 pagi, tapi ia juga melihat jika pakaiannya sudah di siapkan rapi di gantungan yang ada di dekat cermin


Karena ia juga harus ke kantor, Glen memilih untuk pergi ke kamar mandi dan bersiap pergi ke kantor


...****************...



Serin mendudukkan dirinya di sofa panjang yang ada di sana


"Sejauh dari yang kami dapatkan, kemungkinan besar Arka mempekerjakan tunawisma / orang yang sudah tidak memiliki keluarga lagi, untuk memuaskan rasa hausnya akan pembunuhan yang dilakukannya, selama ini" ucap Edward


"Itulah sebabnya, kenapa para korbannya kebanyakan tidak mempunyai keluarga, dan berakhir tidak ada yang melaporkan-nya" sahut Luke, sukses mendapat anggukan dari Serin dan yang lain


"Kita dapat menangkap-nya setelah menemukan tempat pembunuhannya, dari yang kita tau jika seluruh korbannya di temukan ketika sudah tidak bernyawa sejauh ini" ucap Serin


Karena, dari 24 kasus yang berhasil mereka identifikasi dan menempatkan Arka sebagai tersangka/ pelakunya, semua korban kebanyakan di temukan di sebuah tempat dimana mereka sudah tidak bernyawa, walau sebagian ada di tempat random, misalnya wanita yang baru-baru saja di bunuh ketika harinya sedang hujan di sebuah lorong, tapi kebanyakan sudah tewas saat di temukan, dan adanya jejak pembunuhan di tempat juga tidak di temukan


"Tapi kita masih tidak tahu dimana tempatnya" sahut Zeon


"Si psiko itu, pasti membuat tempat itu sulit di lacak" jawab Serin


"Tunggu dulu! kemarin aku mendapat surat ancaman darinya, mungkin kita akan dapat petunjuk dari sana" ucap Serin, mengingat jika kemarin ia mendapatkan kiriman dari Arka


Serin berjalan menuju sebuah ruangan, untuk mengambil sesuatu dari sana, lalu kembali lagi duduk di tempatnya


"Ah iya, lacak keberadaan Nina, kita perlu menanyai-nya sekali lagi, siapa tahu masih ada sesuatu yang tidak kita tahu" titah Serin dan di angguki oleh anak buahnya


Serin memasang alat kecil ke telinganya, dimana itu dapat membantunya mendengar hal sekecil apapun


Kemarin ia mendapatkan sebuah rekaman, itu ia gunakan untuk mencari petunjuk, siapa tahu dengan alat pendengarannya, mereka bisa mendapatkan petunjuk kecil dari mana suara itu di rekam


Serin fokus mendengarkan lewat headphone yang di berikan Leo, karena rekamannya sudah di pindahkan ke laptop


"Suaranya terlalu banyak! Leo apa ada aplikasi yang bisa menghilangkan atau mengecilkan beberapa suara, agar aku mudah mendengar-nya" pintanya


"Sebentar" sahut Leo, mengambil alih laptop dan mencoba beberapa perangkat lunak, untuk menghilangkan beberapa suaranya


"......"


Hampir 15 menit mereka menunggu Leo selesai, "Ini! aku sudah memperkecil suara jeritannya" ucapnya, memberikan kebali laptopnya pada Serin


Serin menghela napasnya, lalu menutup matanya untuk fokus mendengarkan dengan jelas, apa saja yang bisa ia dengar


"Suara bergema, seperti tempat di area tertutup, aku juga mendengar suara kicauan burung yang biasa terdengar di laut" ~ Serin


"Dan area yang dimasuki mungkin terbuat, dari bahan-bahan yang bisa menimbulkan suara gema... aku tidak tahu pasti, tapi itu seperti kontainer?!" tambah Serin


"Kontainer? Tempat tertutup, dan suara kicauan burung" gumam Zeon, dan di angguki oleh Serin


"Dari yang ku dengar, saat kita mengorek kasus Itada, menyewa kontainer itu mahal" celetuk Edward


"Kurasa itu pas, jika seandainya Arka memang menggunakan tempat itu untuk memuaskan dirinya akan darah, pertama... dia tentu punya uang untuk menyewa kontainer, ditambah Itada dari awal sudah terkait dengan mereka, dimana ia menggunakan kontainer untuk menyelundupkan para imigrannya" ~ Luke


"Benar! kurasa yang dikatakan Luke masuk akal" sahut Zeon


"Bagaimana jika masih ada bukti-bukti pembunuhan sebelumnya di sana?" tambah Geralt sukses mendapat anggukan dari yang lain


"mungkin saja dia terus menggunakan tempat yang sama, jejak pelakunya... sangat mungkin ada di sana karena tempatnya seperti lokasi pembunuhan" ucap Edward


"Ardan, periksa seluruh kontainer di pelabuhan.. tempat Itada melakukan tindakan ilegalnya" suruh Serin, dan langsung di angguki oleh Ardan


(Lengkapnya ada di chp. File pt.1- final)


...****************...


Terlihat seorang pria sedang duduk di kursi kejayaannya, dengan kaki menyilang ke atas meja


"Kau terlalu banyak memujiku.... intinya, aku berterima kasih jika kau bisa mengurus artikel acara kesepakatan kontrak kami" ujarnya lalu mematikan telponnya, dan kembali menerima telpon untuk segera turun ke loby


Arka, keluar dari kawasan loby, diiringi beberapa bodyguard-nya, lalu masuk kedalam mobil mewahnya dimana di sana, sudah ada Willy yang duduk di kursi penumpang


"Direktur Fergus, si penakut itu menyusahkan ku saja" ucapnya pada sang anak


"Ya" sahutnya


"2 hari yang lalu, kau kemana? saat lagi jam kerja, biasanya kau tidak pernah seperti ini" tanya Willy, melirik sekilas ke arah putranya


(pasti ingat lah ya, jika Serin mendapatkan hadiah nostalgia tentang Darin dari Arka)


"Aku lupa, jika ada janji waktu itu" jawabnya


"Hmm. jika terjadi sesuatu diskusikanlah dengan Edwin atau Roy" ucapnya dan hanya mendapati anggukan dari anaknya


Lalu sopir melajukan mobilnya menuju suatu tempat


...****************...


Disisi lain, seorang pria tua kisaran 60 tahun, sedang berdiri di sebuah ruangan bersama seorang pria, yang lebih muda darinya


"Gedung baik-baik saja, kenapa kau terus mengajukan laporan keluhan?" tanyanya, pada pria yang berprofesi sebagai petugas keamanan itu


"Begini, ada beberapa retakan besar di lantai 5, takutnya itu bisa menyebabkan kecelakaan nantinya" ujar petugas keamanan


"saya juga khawatir, kipas ventilasi ada di atas gedung, takutnya itu akan menambah beban dan malah menambah retakan semakin besar" tambahnya


"Jadi apa ada keretakan tambahan atau tidak?!" tanya lelaki itu


"Tidak ada" jawab petugas keamanan


"Itulah maksudku... jaga ucapanmu, kau pikir kau siapa mengeluh soal bangunan yang sudah lulus kelayakan huni" ucapnya dengan nada membentak


"Kami ini sudah baik padamu, dan memberikan pekerjaan jadi keamanan di umurmu, yang sudah tidak layak diterima bekerja ini, kau seharusnya berterimakasih" ucapnya lagi


"Saya sangat berterimakasih, tapi saya bicara seperti ini bukan untuk diri saya sendiri... "makanya itu, fokus saja pada tugasmu, masalah bangunan itu sudah ada yang mengurus" potong pria itu


Dan dengan emosinya, ia menendang kaki pria tua itu dengan kasar, hingga sang pemilik kaki merintih kesakitan


Sedangkan sang atasan, terus mengumpat, lalu memberikan sebuah map berisi dokumen


"Tanda tangani ini" suruhnya pada petugas keamanan


"Ini apa?" tanyanya, seraya membuka map tersebut


"menurutmu apa? polis asuransi untuk menjamin keselamatanmu, kau seharusnya berterima kasih karena mendapatkan asuransi untuk pekerjaanmu ini" ucapnya


"Baiklah" sahut petugas keamanan, melihat kertas yang ada di tangannya


Tapi dengan lancangnya pria yang jauh lebih muda itu, memukul kepala petugas keamanan dengan polpennya


"apa setelah kau membacanya, kau akan paham, tanda tangani saja cepat!" suruhnya


Lantas pria tua itu mengambil polpen yang dilempar di hadapannya


"Ini pak" ujarnya, walau usia terpaut jauh, tapi karena pria yang jauh lebih muda darinya itu adalah atasannya, mau tidak mau dia harus bersikap sopan


Karena di usianya yang sudah tua, ia harus tetap bekerja untuk mencukupi kehidupannya


"Kaulah orang yang paling bod*h di perusahaan ini, aku merasa kasihan pada perusahaan karena harus memberikan asuransi padamu" makinya


"Kau ini bod*h sekali,, Keluar!!!" suruhnya dengan nada membentak


"Baik pak!" ujarnya, lalu keluar dari sana dengan kaki yang masih terasa sakit


...****************...


.


.


.


Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊


.


.


.