
Di malam hari yang temaram. Di antara jutaan bintang berkerlip di langit gelap, empat orang pemuda tengah duduk santai di halaman belakang rumah. Siapa lagi kalau bukan Zaky, Milea, Haikal dan juga Nala?
Di sana, mereka menyiapkan satu buah laptop, api unggun, selimut, serta berbagai camilan untuk di santap. Rencananya mereka ingin nobar di alam terbuka.
"Jika bintang ad untuk menemani kegelapan malam, maka kamu tercipta untuk aku bahagia 'kan." Ujar Kim Min Seok menatap lekat gadis yang tengah duduk di sampingnya. Han Na Bi.
"Jangan pernah bersedih, apalagi menangis. Air matamu terlalu berarti untuk menangisi mereka yang bahkan tidak pernah melihatmu ada," tambahnya.
"Hiks gumawo,"
"Aaaaaa!!" Nala menjerit baper melihat adegan yang menurutnya sangat romantis. Sedang 'kan Milea, di sekelilingnya sudah berserakan tisu bekas air mata. Yah, gadis itu mudah terbawa perasaan. Terlalu menghayati dan meresapi, dia merasa seolah olah dia berada di posisi gadis itu.
Zaky dan Haikal? Hahaa mereka ngenes semua. Ada di sana hanya untuk di jadikan samsak pelampiasaan para gadis yang kesal karna pemeran si cowok berselingkuh, dan si doi datang untuk menyemangati kembali si cewek.
"Hiks hiks" Milea terus menghapus air matanya yang selalu turun seiring film itu berlanjut menuju konflik yang sesungguhnya.
Zaky yang melihat itu sungguh tak tega, dia berinisiatif ingin merengkuh tubuh gadis itu, namun sebelum itu terjadi dia melihat mata Milea seperti kosong.
"Ya Na biya! Ya Han Na Bi!!" Teriak Kim Min Seok berusaha mengejar gadis yang tengah berlari di jalanan dengan air mata yang bercucuran.
Puk
Han Na Bi menepis Min Seok saat pria itu mencekal pergelangan tangannya.
"Aku bisa jelas 'kan! Ini tidak seperti yang kamu pikir 'kan. Dengar 'kan aku dulu!" Tukas Min Seok meraih kedua tangan Han Na Bi mencoba meyakinkan.
"Wea? Menjelaskan apa lagi? Menjelaskan bahwa dalang di balik kematian orang tua ku kamulah orangnya? Iya?!" Han Na Bi menatap sosok yang sempat singgah di hatinya ini dengan sorot mata penuh kekecewaan.
Perlahan genggaman tangan dari pria itu terlepas. Dia membalas tatapan Han Na Bi tak kalah sendu. "Iya. Aku mengaku memang aku yang membunuh kedua orang tuamu. Tapi aku bersumpah saat itu aku----"
Plak
Belum sempat Min Seok menjelaskan semuanya, sebuah tamparan lebih dulu melayang di pipi kanannya. Min Seok diam dengan pandangan kosong.
"Aku membencimu! Jangan pernah lagi kau muncul di hadapanku!!"
Klik
"Arrrggghh Lea kenapa dimatiin?!" Teriak Nala heboh. Milea diam, dia juga bingung saat dirinya tiba tiba mem-pause film dan menutup layar laptop. Sungguh, itu adalah gerakan refleks dari tubuhnya yang entah kenapa ingin menghentikan film itu.
"U-udah malam. Sebaiknya kita istirahat, bu-bukankah besok kita akan sibuk mengurus acara ulang tahun Cia," ucap Milea gugup.
"Tapi, filmnya belum habis!!"
"Udahlah na. Betul kata Milea, ini sudah malam, udaranya juga sudah semakin dingin. Sebaiknya kita masuk kekamar masing masing. Besok kita bakal sibuk!" Timpal Haikal setuju demi menyelamatkan tubuhnya yang menjadi samsak oleh gadis barbar di sampingnya ini.
"Tapi---"
"Gak ada tapi tapian! Udah ayo masuk!" Tak ingin di bantah, Haikal langsung mengangkat tubuh Nala layaknya karung beras masuk kedalam rumah, sedang 'kan gadis itu terus memberontak minta turun.
"Kak, anda tidak masuk kekamar? Udaranya semakin dingin, saya tidak ingin anda sakit nanti," tutur Milea saat melihat Zaky bergeming di tempatnya sembari menengadah kearah langit.
Menoleh. "Tidak, aku masih ingin di sini. Jika kamu ingin, kamu bisa masuk lebih dulu," tolak Zaky halus di sertai senyum tipis yang tulus.
"Kenapa? Tidak jadi masuk?" Tanya Zaky heran. Milea menggeleng dengan pandangan mengarah pada kerlap kerlip bintang.
"Saya seorang pengawal, sudah wajib bagi saya untuk menjaga anda. Jadi, tidak mungkin saya meninggalkan anda sendirian di sini." jawabnya.
"Oke... "
"Kamu tau itu namanya apa?" Tunjuk Zaky pada salah satu bintang yang bersinar cukup terang.
"Saya memang tidak mengenal nama nama bintang, apalagi sampai tahu letak letaknya. Yang saya tau, bintang memiliki sejuta makna dan pelajaran bagi orang orang yang mampu memahami dan menjabarkannya," jawab Milea membuat Zaky tersenyum tipis.
"Yah kamu benar," senyum tipis itu kini mengembang sempurna. Zaky memandangi langit dengan senyum yang tak pernah pudar. Keduanya terus membahas tentang nama nama bintang yang ada di langit itu hingga jam menunjukkan pukul 11 malam.
"Milea, kamu tahu kenapa aku menyukai bintang yang---" belum sempat menyelesaikan ucapannya, Zaky disungguhkan pemandangan wajah cantik yang kini tertidur pulas di bahunya.
Tanpa sadar, tangannya terulur untuk merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu. "Cantik." Satu kata yang bahkan Zaky sendiripun tak sadar ucapkan.
Merasa tak tega melihat Milea yang kedinginan. Zaky dengan sigap menggendong tubuh kecil itu masuk kedalam dan membaringkannya di samping Nala di kamar tamu.
Dia menarik selimut hingga sebatas leher Milea. Lalu...
Cup
"Good night. Have a nice dream," kecupan singkat mendarat di kening Milea. Yah, Zaky memberikan ciuman selamat malam, meskipun dia tahu gadis itu tidak sadar.
"Ekhm." Tubuh Zaky seketika menegang saat mendengar dehaman seseorang di ambang pintu. Memutar tubuh pelan, dia langsung disuguhkan wajah datar Maulida yang tengah bersidekap dada di tengah tengah pintu.
"Mama?!"
"Ikut mama keruang tengah!" Menghela nafas, Zaky mengekor pasrah di belakang Maulida, tak lupa dia menutup pintu sebelum akhirnya menyusul sang mama keruang tamu.
Puk puk
"Duduklah!" Zaky duduk di samping Maulida dengan sejuta perasaan bersalah dan takut. Karna selama ini dia dididik dengan cukup keras oleh Maulida tentang semua yang bersangkutan dengan agama. Dan itu membuatnya tau, bahwa saat ini Maulida pasti sedang marah saat melihat dirinya menyosor anak orang.
"Apa kamu mencintainya?"
"Hah?!"
***
Milea Gunawan/Milea Rahardian Kusuma.
Zaky Alexander/Zaky angkasa