Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Jangan membuatku khawatir


Dor!!


"Arrgghh" semua orang langsung merunduk sambil menutup kuping mereka saat suara senapan itu terdengar melambung keatas awan. Peluru itu tidak mengenai siapa siapa, hanya terkena plapon vila hingga berlubang.


"Nala!" Haikal berlari merengkuh tubuh Nala kedalam pelukannya sambil berjongkok seperti yang lainnya.


"Arrgghh!"


"MILEA!!" Zaky membulatkan matanya sempurna saat melihat Milea berdiri di balik pembatas balkon dengan tangan pria berbaju hitam itu yang memegangi.


Mengepalkan tangan kuat, Zaky berlari cepat menghampiri Milea dan pria misterius itu di lantai tiga. Saat sampai di sana, dia mengeluarkan aura begitu menyeramkannya saat Milea menatap tajam pria itu sambil berbincang yang entah apa, dirinya pun juga tak tahu. Tapi, yang ia tahu saat ini adalah harus menyelamatkan Milea.


Tap


Langkahnya terhenti saat tak sengaja melihat sahabatnya Harun diam diam mengeluarkan senjatanya dari balik jas dan bersiap untuk menembak target.


"HARUN JANGAN!!"


Dor


Terlambat. Harun yang terkejut justru tak sengaja melepas pelatuk senapan membuat peluru itu terbang kearah Milea.


Milea dan pria misterius itu menoleh bersamaan kearah peluru yang hendak mendarat pada Milea. "Awas!!" Pria itu langsung melepas tangan Milea membuat tubuh wanita itu jatuh agar peluru itu tidak mengenainya.


"Ahhh"


"MILEA!!" Gila memang. Tapi dia melakukannya demi wanita yang ia cintai. Zaky dengan ikhlas terjun bebas dari balkon lantai tiga untuk meraih Milea yang lebih dulu terjatuh.


Byurrr


Milea terjatuh kedalam air yang secara kebetulan ada di bawah. Sepertinya keberuntungan berpihak padanya, dengan membuat dia terjatuh kedalam kolam. Hanya saja masalahnya, dia tidak bisa berenang, hingga mau tak mau dia harus tenggelam kedalam kolam yang dalamnya lebih dari dua meter.


Byurr


Setelah dia jatuh, seseorang menyusulnya masuk kedalam air dan berenang meraih pinggangnya membawa kepermukaan. Milea tersenyum kecil melihat wajah khawatir Zaky sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


"Uhuk uhuk uhuk.."


"Milea!" Zaky langsung membawa tubuh Milea dalam pelukannya. Wanita itu masih setenangah sadar karna terlalu banyak meminum air kolam.


"Please... jangan bikin aku khawatir!" Lirihnya terus mendekat Milea, menyalurkan kehangatan meski tubuh mereka basah kuyup.


Semua orang yang hadir di sana segera mendekati mereka. Terlebih Harun, Haikal dan Nala.


"Milea..." Isak tangis kecil terdengar dari Nala yang begitu khawatir pada sahabat satu satunya.


"Jangan tinggalin aku le. Jangan nyusul Anna! Aku masih butuh kamu di sini." Haikal segera menarik Nala kedalam pelukannya, membiarkan Zaky mengangkat tubuh basah pengawalnya dengan penuh hati hati. Saat ini suasana hati sahabatnya itu sedang tidak baik, dan butuh waktu sendiri.


Harun menatap penuh penyesalan pada sahabat. "Ky. Gue--" kesedihan terpancar di mata Harun saat Zaky menghiraukan dirinya dan berjalan pergi membawa Milea menuju salah satu kamar vila.


Puk puk


"Jangan sekarang run. Moodnya lagi gak baik, percuma kalau lo minta maaf sama dia, yang ada lo dicuekin. Jadi sebaiknya lo tunggu sampai moodnya baik lagi. Lo kenal dia seperti apa. Jadi gak perlu khawatir, dia pasti maafin lo kok!" Tutur Haikal menyemangati sahabatnya yang terus saja merasa tidak enak kepada Zaky atas tindakan gegabahnya tadi.


"Thanks bro!"


"Kalian bisa lanjutin acara! Maaf sudah mengganggu acaranya, silahkan dilanjutkan!" Seru Haikal membuat semua orang kembali fokus pada acara.


Di dalam sebuah kamar di vila. Zaky menatap wajah Milea lekat lekat dengan tangan terus menggenggam tangan wanita yang ia cintai itu. Dia maupun Milea sudah mengganti pakaiannya, syukurlah vila ini menyediakan beberapa pakaian dalam lemari sehingga membuat Zaky tidak perlu repot repot meminta anak buahnya untuk belikan.


"Kamu tahu? Aksi mu itu benar benar berbahaya dan karna itulah aku begitu khawatir padamu. Aku mohon! Jangan bikin aku khawatir Milea," lirihnya sesekali mengecup tangan gadis itu yang ia genggam.


"Kamu tahu? Aku begitu gila saat membayangkan kamu akan pergi meninggalkan ku seperti orang tua dan juga adikku yang pergi. Aku mohon tetaplah bersamaku! Jangan pergi lagi. Dengan adanya kamu, aku memiliki alasan untuk tetap hidup di dunia ini. Milea... aku menyayangimu," lanjutnya mulai memejamkan mata tidur di samping Milea dengan tangan yang tak pernah lepas karna terlalu takut di tinggalkan.


Beberapa waktu kemudian, saat dengkuran halus terdengar, Milea secara perlahan membuka matanya. Dia membuat posisi menyamping menghadap Zaky.


"Seharusnya bukan anda yang takut saya tinggal 'kan tuan, karna itu tidak akan terjadi. Dan yang seharusnya takut itu saya. Saya takut anda akan membenci saya jika anda tahu yang sebenarnya." Gumam Milea memejamkan matanya ikut terlelap dalam mimpi menyusul Zaky.