Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Tamu tak terduga


"Bacakan jadwalku!" Titah Zaky pada Jennie, sekretarisnya yang merangkap menjadi sekretaris Haikal juga.


"Hari ini jadwal anda kosong pak. Hanya saja, kita mendapati kiriman kontrak kerja sama dari perusahaan Leon RV," jawab Jennie membacakan jadwal Zaky dari layar i-pad miliknya.


"Leon RV?" Gumam Zaky lirih. "Perusahaan besar yang bergerak di bidang telekomonikasi itu?" Lanjut Zaky memastikan.


"Dari data yang saya dapat, memang benar perusahaan itu pak." Jawab Jennie membenarkan letak kacamatanya.


"Kenapa perusahaan Leon RV tiba tiba mengajukan kontrak kerja sama? Bukankah dulu mereka menolak untuk bekerja sama dengan perusahan Dyjun Company?" Lirih Zaky. Menoleh sedikit pada Zaky, "atur jadwal temu ku dengan direktur perusahaannya!" Titah Zaky.


"Emm itu... dari data permintaan kerja samanya, mereka pagi ini akan datang keperusahaan kita pak." Ucap Jennie gugup.


"APA?!!"


Tak tak tak


Tap


Milea berhenti di tengah tengah lobi sembari memandangi keadaan kantor yang tidak pernah berubah sejak terakhir kali ia lihat.


"Tidak ada yang berubah," gumamnya memandangi sekeliling. Tak lama setelah itu pandangannya beralih pada Zaky yang berjalan terburu buru bersama sekretarisnya keluar dari lift menghampirinya.


"Maaf tuan jika saya kurang sopan karena terlambat menyambut kedatangan anda," ucap Zaky pada Ben dan menghiraukan Milea yang terpaku dalam diamnya.


Milea berbalik menghunuskan tatapan tajam penuh ancaman pada Ben yang tiba tiba saja gugup sampai berkeringat dingin. Kenapa? Karena dia pernah merasakan bagaimana rasanya dibanting Milea saat menemani wanita itu ke dokter psikologi.


"Ma-maaf tuan Alex, tapi... nona muda saya ada di belakang anda!" Ujar Ben tak kuasa menghentikan air keringat mengalir dari wajahnya.


"Apa?" Tanya Zaky tak paham. Bukankah pemilik perusahaan Leon RV hanya memiliki anak dan cucu putra? Jadi sejak kapan ada nona muda?


"Nampaknya anda sudah tidak mengenali saya lagi tuan," sindir Milea bersidekap dada menatap punggung pria itu. Masih dengan kacamata hitam yang menjadi andalan keanggunannya.


Suara ini...


Berbalik cepat. "Milea?" Zaky memandang tak percaya pada apa yang ia lihat saat ini. Seorang wanita cantik menggunakan dress asimetris, high hiels, serta rambut panjang bergelombang yang dibiarkan tergerai. Siapa yang menyangka jika dia adalah Milea? Wanita yang umumnya tidak suka dress dan lebih mencintai levis serta baju kaos.


Membuka kacamatanya, "lama tidak bertemu. Tuan Zaky Alexander. Oh, atau haruskah saya memanggil anda, tuan Zaky Angkasa?" Kekeh Milea tersenyum tipis dengan pandangan kerinduan yang tersembunyi.


"Ba-bagaimana mungkin kamu---"


"Nampaknya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Memasang kembali kacamatanya. "Perkenalkan, nama asli saya. MILEA ARCELEON. Cucu perempuan satu satunya dari keluarga Arceleon. Suprise bukan? Mantan bos?" Lanjut Milea tersenyum menyeringai.


"Kau---!!!" Sekarang Zaky mengerti kenapa Milea bisa dengan lancar memasuki kehidupannya tanpa membocorkan identitas aslinya. Karenanya. Dia. Adalah cucu dari Gren Arceleon. Pengusaha terkenal yang mampu mendirikan perusahaannya menjadi jajaran perusahaan terbaik nomor 1 se-Asia. LEON RV..


"Apakah begini penyambutan anda dengan orang yang akan menjadi rekan bisnis anda?" Sindir Milea.


Tersadar, "ah maafkan saya NONA MILEA. Mari ikut saya keruangan saya." Ajak Zaky berjalan agak linglung. Masih dalam keadaan tak percaya dengan fakta mencengangkan yang kembali Milea tampilkan padanya untuk kesekian kalinya.


"Hehe... mari!!" Milea tersenyum geli melihat tingkah Zaky yang menurutnya sangat menggemaskan. Dengan langkah mantap Milea menghentakan high hielsnya mengikuti Zaky menuju ruangan yang sebenarnya telah ia ketahui tempat dan posisinya di mana.


"Nona muda tertawa? Dan itu karena tuan muda Alexander?" Ben termangu tak percaya. Satu tahun. Bertahun tahun menjadi asisten pribadi Milea tidak pernah terdengar sedikit saja tawa wanita itu, dan sekarang hanya karena bertemu tuan muda Alexander, dia kembali ceria?


Tak ingin terlalu memikirkan apa yang terjadi, Ben segera menyusul langkah nona mudanya menuju ruangan Ceo.


Cklek


"Ini adalah ruangan saya, silahkan masuk!" Ucap Zaky membukakan pintu untuk Milea masuk.


"Thank you boy..." bisik Milea dengan senyum menawannya masuk dan memperhatikan setiap sudut ruangan. Senyum tipis muncul kala dirinya sadar bahwa ruangan ini tidak pernah bergeser posisi ataupun bertambah barang. Persis seperti dulu.


Brukh


"Hah..." Menjatuhkan diri di atas sofa tanpa etika atau keanggunan, kebiasaannya dulu kala ingin duduk di sofa selalu menghempaskan diri bukan duduk secara perlahan. Wajah penuh ceria Milea memandangi setiap sudut ruangan penuh kerinduan.


"Bukankah anda memiliki cukup uang jika hanya untuk mengubah ruangan ini? Tidak mungkin jatuh miskin hanya karena renovasi ruangankan?" Goda Milea selalu mengerti kenapa ruangan ini masih sama seperti dulu.


Menatap datar. "Apa nona Milea datang kemari hanya untuk menjadi kritikus ruangan?" Sebenarnya rindu, tapi cara dan sikap Milea yang terkesan ingin menunjukkan bahwa dirinya kini adalah sosok wanita berpengaruh dan tidak bisa disentuh sembarangan pria.


"Dengan senang hati jika anda mengizinkan," jawab Milea tersenyum tenang seperti biasa.


Terdiam sambil menatap Milea dalam, Zaky menghela nafas berat menyandarkan tubuh. "Mari akhiri pembicaraan ini dan segera selesaikan kontrak kerja samanya. Seperti yang anda katakan, saya memiliki cukup uang dan butuh bekerja untuk menambahnya menjadi banyak uang." Tegas Zaky tak ingin berbasa basi lagi.


"Haha... santai saja tuan. Menengadahkan tangan "Berikan kontrak kerja samanya!" Titah Milea tanpa mengalihkan pandangan dari Zaky dengan wajah datarnya.


"Ini berkasnya nona," memberikan berkasnya ketangan Milea.


"Mari tanda tangani kontrak kerja sama ini." Ucap Milea serius.