Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Tidak sendiri


Gawat!!


Milea berlari cepat memasuki ruang rahasianya untuk bersembunyi dari mereka yang datang mencarinya. Jangan tanya siapa. Sepupu gilanya yang datang. Kalian tahu bukan seberapa posesifnya mereka pada Milea? Terkecuali Kris tentunya. Karena bagi Milea, hanya Kris satu satunya makhluk paling waras di antara kelima sepupunya.


Brak


"SUPRISEEE!!!" Seru Erickh, Ronald, dan Edwark bergaya ala ala cewek chereladder. Sedang Di belakang mereka sepasang dua beradik Malvin dan Kris hanya berdiri stay cool.


Krik krik. Krik krik...


Edwark, Erickh, dan Ronald mengerjap erjap bingung saat dalam ruangan hening, tidak ada tanda tanda kehidupan dalamnya.


"Loh Milea kemana? Katanya ada di dalam ruangannya, tapi ini kok gak ada?" Ronald bangkit dari gaya sit up nya.


"Au, tadi Ben bilang di dalam ruangannya bukan?" Berjalan menghampiri meja kerja Milea sambil membolak balik buku di atasnya.


Erickh dengan konyolnya berjongkok kekolong meja sambil memanggil, "Milea?" katanya lalu bangkit sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Brukh


Malvin menjatuhkan tubuhnya di atas sofa membiarkan adik adiknya berbuat hal aneh sesukanya. Yah, Malvin memang sikapnya dewasa, tapi jika berhadapan dengan Milea, lelaki itu tidak lebih seperti bayi yang butuh kasih sayang.


Jika yang lain sibuk mencari Milea di berbagai sudut tak masuk akal, Kris berjalan menuju rak buku lalu mengambil satu buku dan membukanya.


Klak


Tombol rahasia dalam buku membuka rak buku tersebut hingga menampakkan sepasang pintu berkata sandi. Kris meletakkan buku itu kembali ketempatnya lalu berjalan menuju pintu.


Tok tok tok


"Keluar Milea!" Titah Kris dengan wajah datarnya. Perlahan pintu itu terbuka, menampilkan wajah masam Milea pada Kris.


"Kau selalu saja tahu keberadaanku," dengus Milea berjalan keluar menghampiri sepupunya. Dia sudah menyiapkan mental untuk dicecar oleh banyak pertanyaan.


"Karena kamulah yang membuatku mengharuskan diri untuk tahu," gumam Kris bergabung dengan yang lainnya.


***


Milea diam termenung di dalam kantornya dengan pandangan kosong. Teringat baginya saat kelima sepupunya memintanya untuk segera mengakhiri rencananya dan kembali ke Australia.


"Rencanamu sudah sampai tahap mana?" Tanya Malvin sambil memasukkan potongan buah jeruk kedalam mulutnya.


Memandang Malvin, "sudah tahap akhir. Aku sudah berhasil memasuki kediaman keluarga Rahardian, tinggal mengumpulkan bukti saja lagi," jawab Milea pelan.


"Sebaiknya jangan ditunda tunda lagi Milea. Segerakan urusan kamu itu, dan kembali pulang kerumah." Timpal Ronald.


"Betul apa yang Ronald bilang. Karena kamu melarang kami untuk membantumu, maka percepatlah rencanamu..." ucap Erickh


"Agar kami tidak lagi mengkhawatirkan keadaan kamu," lanjut Edwark.


"Tentu. Dalam minggu ini, aku pastikan aku akan pulang. Tentunya setelah memberi pelajaran yang setimpal untuk mereka." Jawab Milea patuh saja.


Sibuk menyimak, Kris menghela nafasnya panjang lalu menurunkan kakinya yang ia silang. "Sulit mengatakannya. Tapi, aku memiliki firasat buruk tentang ayahmu." Ujarnya datar.


"Maksud mu?"


"Maksud ku. Ayahmu tidak sendiri,"


Ddrrrtt ddrtt ddrtt


Lamunannya harus buyar kala ponsel berdering, meliriknya malas Milea mengangkat telfon tersebut.


"Milea!! Kenapa kamu belum datang juga? Bukankah aku sudah mengirim pesan bahwa aku ada waktu luang hari ini?! Aku sudah hampir satu jam menunggumu kau tau?!" Omel seseorang di seberang sana.


Milea segera melihat nama yang tertera dan terkejut saat tahu Zakylah yang menelfonnya. "Maaf maaf, aku sibuk tadi gak sempat buka handphone. Sekarang kamu di mana?"


"Huft. Aku di Sky Rooftop,"


"Masih di sanakan? Kalau begitu tunggu aku. Lima menit lagi aku sampai!" Setelah memutuskan telfon sepihak, Milea langsung menyambar jaket kulit miliknya dan cepat cepat keluar dari kantor menyusul keberadaan mantan atasannya dulu.


Kreett


"Hosh hosh... maaf telat. Masih ada waktukan buat ngajarin aku?" Sambil menarik kursi di depan Zaky dengan nafas naik turun.


"Minumlah dulu!" Menyodorkan minumannya.


"Makasih." Meneguk air hingga tandas. Setelah dahaganya hilang, Milea melirik Zaky. "Jadi, kita mulai sekarang pembelajarannya?"


"Istirahatlah dulu, kamu terlihat sangat kelelahan. Apa pekerjaan di kantor banyak sekali sehingga kamu bahkan tidak sempat membuka pesan dariku?" Tutur Zaky mengkhawatirkan Milea.


"Ah? Itu..." Milea tersenyum kikuk mendengarnya. Bahkan sampai sekarang dia belum mengerjakan apa apa di kantor, karena semuanya telah di handel Ben dan kelima sepupunya. Alasannya simpel...


"Princess tidak boleh lelah!" @Erickh


"Jangan kecapean, entar sakit!" @Edwark


"Duduklah dengan tenang seperti seorang putri," @Ronald


"Tidak perlu bekerja, nanti kamu banyak pikiran," @Malvin.


"Aku suka kerja." @Kris


"Em.. saya dipaksa bekerja oleh tuan muda semuanya." @Ben. Ternistakan...


"Haha... iya." Jawab Milea tertawa kikuk.


"Sulit mengatakannya. Tapi, aku memiliki firasat buruk tentang ayahmu,"


"Maksud mu?"


"Maksud ku. Ayahmu tidak sendiri,"


Tiba tiba sepelintas ingatan muncul di benak Milea. Wanita itu melirik Zaky penuh arti, lalu tersenyum saat mengerti apa yang harus ia lakukan.


"Hei, dulu kamu mencari pengawal pribadi untuk apa? Bukankah kamu dulu memiliki banyak pengawal yang menjagamu?" Tanya Milea menyangga dagunya penasaran.


"Ha? Itu... entahlah. Mungkin hanya untuk berjaga jaga kalau musuh bertindak diluar dugaan," jawab Zaky yang dirinya sendiri tak paham kenapa tiba tiba dulu menginginkan pengawal pribadi. Padahal dirinya dulu tahu, kalau Bagas mengerahkan puluhan pengawal untuk menjaganya.


"Oh ya, aku penasaran. Kamu dendam dengan papaku bukan hanya soal Anna bukan? Tidak mungkin hanya Anna membuatmu dendam begitu dalam,"


Zaky terdiam menatap Milea dengan pandangan sulit. Memang, selain Anna kunci kematian orang tuanya juga ada pada Rahardian. Hanya saja, dia masih tidak pasti siapa yang membunuh orang tuanya, karena saat itu yang ia lihat ada dua orang. Dan dia melupakan wajah pelaku yang satunya.


"Itu...