
Di sebuah tempat, terlihat seorang wanita duduk di atas kasur dengan pandangan kosong menatap kedepan. Di sampingnya sang Ibu terus mencoba membujuk anak perempuannya untuk makan.
"Bianka sayang, makan ya? Sedikit.. saja! Kamu udah berapa hari gak makan? Mama gak mau kamu sakit sayang. Lihatlah, anak kesayangan Mama jadi kurusan." Bujuk Ranti pada anak bungsunya.
Hening. Bianka masih bergeming di tempatnya, seolah bujukan Ibunya hanyalah angin lalu belaka. Ranti menghela nafas, dia meletakkan nasi beserta lauk pauk dalam piring itu di atas nakas. Dipandanginya wajah pucat putrinya yang sudah beberapa hari ini tidak pernah beranjak dari kasur. Kerjaannya hanya melamun dengan pandangan kosong, entah apa yang dipikirkannya. Hanya tuhan dan dia yang tahu.
"Bianka sayang.. jangan gini nak. Mama gak kuat lihat anak Mama begini. Mama mohon, kembali jadi Bianka kesayangan Mama yang dulu,"
Isak tangis wanita itu menyita perhatian Bianka. Dia menatap sosok Ibu yang selalu peduli padanya, di saat Kakak dan papanya justru memojokkannya. Menyalahkan dirinya atas semua yang telah terjadi.
Tangannya terulur untuk menghapus air mata orang yang paling ia sayangi. Pergerakan itu membuat Ranti langsung menatap putrinya. Senang? Tentu saja. Meski belum mau berbicara, tapi pergerakan ini pun juga merupakan kemajuan yang bagus.
"Sayang?"
"Jangan nangis. Bianka gak mau lihat Mama nangis." Ucap Bianka lemah. Mungkin karna sudah beberapa hari tidak makan membuat tubuhnya kekurangan asupan gizi dan vitamin.
"Sayang. Mama senang sekali lihat kamu sudah mau bicara. Jangan seperti ini lagi, Mama bisa gila lihat kamu seperti ini sayang." Ranti dengan cepat menarik tubuh Bianka kedalam pelukannya.
Bianka kembali diam, meski tidak seperti kemarin dengan pandangan kosong itu. Kali ini dia memasang telinga mendengarkan Ibunya berbicara.
"Baiklah sayang, kita makan dulu ya?" Bianka mengangguk. Ranti senang bukan main dan segera menyuapi putri kesayangannya itu yang makan begitu lahap. Setelah memberi makan anaknya, Ranti beranjak keluar membiarkan putrinya untuk beristirahat.
Sepeninggal Ibunya, Bianka mengambil ponselnya yang ia matikan di dalam laci nakas. Setelah membuka ponsel, hal yang pertama kali ia cari adalah berita tentang dirinya dan juga Zaky. Tapi, saat dia cari, berita itu justru tidak ada.
"Bagaimana mungkin? Bukankah berita itu sempat heboh sebelumnya? Jika berita itu mulai reda sekalipun, seharusnya tidak sampai hilang jejak begini bukan? Tapi kenapa tiba tiba hilang?" Gumam Bianka mencoba sekali lagi untuk mencari berita itu. Nihil. Tak sedikitpun berita itu tersisa, bahkan namanya seolah bersih sekarang, dan dunia mayapun mulai tenang, sudah tidak menggosipinya lagi.
"Siapa yang menbersihkan berita ini? Kak Satria atau papa? Atau..."
"Yah, kamu benar. Aku memang brengsek dan bajingan. Sedangkan ku adalah iblis!! Aku membencimu!! karna kamu! Aku harus kehilangan satu satunya orang yang aku sayangi di dunia ini!!"
Bianka diam dengan tangan yang mengepal. Masih teringat jelas di otaknya, bagaimana kasarnya Zaky padanya waktu itu. Berkata bahwa dia membenci dirinya.
"Kamu membenciku bukan? Maka akan ku buat kamu merasakan apa yang aku rasakan." Gumamnya penuh kilatan dendam dan amarah.
***
Tak
Nala menghentikan perkerjaannya saat melihat sebuah kotak makan ditaruh di atas meja kerjanya. Mengangkat kepala, dapat jelas ia lihat. Pria tampan nan manis itu kini tersenyum padanya, lalu menarik kursi di depan.
"Mau sarapan?" Tawar pria itu membuka tutup bekal yang ia bawa. Di dalamnya ada dua sandwitch yang sengaja ia buat, karna ia tahu Nala tidak sarapan. Karna tadi pagi dia dapat lihat gadis di hadapannya ini sedang buru buru. Mungkin bangun kesiangan? Entahlah.
"Tidak, terima kasih."
"Yakin?"
Nala tak menggubris ucapan Haikal. Dia tetap menyibukkan dirinya di depan layar komputer, sesekali matanya beralih pada kertas yang tertumpuk di mejanya.
Nala sebenarnya lapar, hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengatakannya. Sedari tadi dia mencoba menahan rasa laparnya, apalagi saat melihat Haikal sengaja menggodanya dengan memperlambat makan.
Menghela nafas. "Makanlah!" Haikal menyerah. Berhadapan dengan gadis keras kepala seperti Nala memang harus ekstra sabar. Didorongnya pelan bekal itu kearah Nala.
"Saya tidak lapar,"
Krukkkk
Haikal tersenyum geli saat mulut dan perut gadis itu tak sejalan. Sedang 'kan Nala, dia mengumpat dalam hati. Bisa bisa perutnya berbunyi di saat saat seperti ini.
Haikal bangun, menarik kursi lalu duduk di samping Nala. Diambilnya sepotong Sandwitch yang ada lalu menyerahkannya kepada Nala.
"Buka mulut!"
Nala menatap Haikal sejenak, lalu beralih pada sandwitch yang ada di tangannya. "Aku bisa sendiri!"
Hap
Pria itu menahan tangan Nala saat gadis itu berniat ingin mengambil alih makanan dari tangannya. "Buka mulut!" Titahnya.
"Tapi---"
"Buka!!" Mengalah jalan satu satunya. Nala membuka mulutnya, membiarkan sandwitch itu masuk untuk mengganjal perutnya. Matanya melirik manik mata Haikal yang juga menatapnya.
Keduanya sama sama terdiam. Tangan Haikal masih memegang tangan Nala dengan erat. Sedangkan gadis itu merasa gugup saat melihat posisi mereka yang cukup dekat.
Haikal mengalihkan pandangannya saat merasa sesuatu yang aneh mulai merasukinya. Dia melepas tangan Nala lalu meletakkan sandwitch kembali kedalam bekal, setelahnya dia berjalan keluar tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hal itu membuat Nala bingung sekaligus resah.
Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba tiba pergi tanpa mengucapkan apa apa? Apa dia marah padanya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bersarang di benak Nala yang hanya mampu ia pendam, tanpa mampu bersua.
Di dalam ruangannya, Haikal bersandar di balik pintu sambil memegang dadanya yang bergemuruh hebat. Bukan tanpa alasan dia pergi tadi, hanya saja hasratnya tiba tiba bangkit saat bersama dengan Nala. Karna dia menghormati gadis itu, maka dari itu dia pergi sebelum benar benar menjajahnya.
"Shit!!"
Haikal mengumpat lalu dengan cepat membuka pintu, berjalan menuju ruangan Zaky.
Cklek
"Pinjam kamar mandi!!" Sebelum bertanya, Haikal berinisiatif menjawabnya lebih dulu. Dia berlalu cepat menuju kamar yang tersembunyi di balik rak buku. Itu Zaky buat khusus agar saat dia lembur, dia bisa bermalam di sana tanpa harus pulang ke apartemen.
"Ada apa dengannya?"
"Tidak tahu."