
"Jadi?"
"Jadi apa?" Tanya Milea pura pura lupa. Sungguh, jika boleh. Dia ingin sekali menghindari pembicaraan yang akan membuatnya malu sendiri saat mengingat malam itu.
"Kenapa kamu seperti menghindar? Apa kita benar benar melakukannya? Kalau begitu maafkan aku. Aku janji akan segera menikahimu," tutur Zaky benar benar merasa bersalah.
Mendengar itu Milea langsung memusatkan perhatiannya kepada Zaky. Apa katanya tadi? Menikah? Yang benar saja. "Menikah? Anda yakin ingin bertanggung jawab menikahi saya, sedang 'kan saya masih perawan?"
"Hah? Perawan?"
"Iya perawan. Karna pada malam itu, setelah anda mencium saya anda pingsan begitu saja. Hah... sungguh mengecewakan, ternyata atasan saya yang terlihat gagah perkasa, hanya mampu bertahan di tingkat ciuman?" Ledek Milea untuk menghilangkan rasa malunya.
"Hei, waktu itu aku dalam pengaruh obat makanya pingsan!! Asal kamu tau saja, aku bisa membuatmu tak dapat beranjak dari kasur selama berhari hari," ujar Zaky menantang.
"Ha, ha, ha.. benarkah?"
Zaky menatap datar wajah malas gadis di depannya ini. Dia kemudian bangkit dari duduknya berjalan menghampiri Milea yang tengah duduk di sofa depan meja kerjanya.
Brukh
"Apa aku perlu membuktikannya?" Tubuh Milea seketika menegang saat Zaky tiba tiba mengikis tempat duduknya sehingga membuatnya tak bisa berbuat apa apa selain menatap manik mata hitam pria di depannya saat ini.
Zaky menatap cukup lama manik mata gadis di hadapannya. Entah sadar atau tidak, pria itu seolah terhipnotis dan perlahan mendekatkan wajahnya kewajah tegang Milea.
Milea menelan ludahnya kasar saat melihat pergerakan Zaky yang mencurigakan. Pria itu semakin mendekat, dan mulai menutup matanya, sedangkan Milea entah mengapa tidak bisa berbuat apa apa meski hatinya berontak untuk mendorong tubuh pria di hadapannya saat ini. Tapi, tubuh justru sebaliknya, sehingga dia ikut memejamkan mata menunggu sesuatu yang terjadi.
Cklek
"Zaky aku----"
Sudah hampir tak terhitung jarak di antara wajah keduanya, tapi itu semua seketika terhenti saat seseorang tiba tiba membuka pintu. Kedua pasang mata itu membuka mata dan menoleh kearah pintu bersamaan.
Di sana seorang Haikal Malik berdiri kaku di depan pintu. Entah merasa bersalah atau merasa senang karna telah merecoki acara dua sejoli yang mungkin ingin memadu kasih.
"Ck. Apa?!" Zaky bangkit dengan perasaan kesal. Entah kesal karna gagal maning, atau karna Haikal mengganggu acaranya, atau bisa juga kesal karna tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Entahlah, hanya dia dan tuhan yang tau.
"Wah wah wah... tak ku sangka hubungan kalian sudah sejauh ini rupanya. Apa kalian akan menikah lebih dulu dari ku dan juga Nala? Secepat itukah?" Cecar Haikal dengan binar kagum sekaligus tak percaya melihat hubungan sepasang manusia berbeda jenis itu sudah pada tahap pendewasaan mereka.
"Tadi hanya kecelakaan pak. Saya tidak mungkin menikah dengan Kak Zaky, karna bagaimanapun juga saya tetaplah bawahannya, " sanggah Milea meskipun hatinya menolak hal itu terjadi.
Zaky menatap Milea dengan tatapan dingin yang sulit untuk diartikan, tersirat kekecewaan di sana, dan itu tidak luput dari pandangan Haikal. Sungguh ironis kisah cinta sahabatnya itu.
"Taruh saja di meja kerjaku," dingin. Itulah yang Milea tangkap dari indra pendengarannya. Apa pria itu tersinggung dengan perkataannya yang mengatakan bahwa dirinya tidak dapat menikah dengan pria itu?
Tapi, memang benar bukan? Lagi pula, setelah misinya mencari keadilan di sini telah usai, maka dia harus kembali ke Australia untuk menjalani kehidupan normalnya kembali. Karna sekarang, di sanalah tempat keluarganya berada.
Haikal masih berdiri memandang satu persatu makhluk di hadapannya. Terlihat keduanya sibuk dengan pemikiran masing masing sehingga membuat Haikal merasa terabaikan. Apa dia benar benar merusak suasana mereka?
Dia berjalan mendekati Milea. "Hai Milea, lama tidak jumpa. Kapan kamu kembali?" Tanya Haikal basa basi.
"Baru kemarin sore pak."
"Owh... oh ya. Besokkan akhir pekan, bagaimana kita pergi jalan jalan? Sekalian refresing otak, biar gak soal pekerjaan mulu yang dipikirin. Gimana ky? Lo setuju gak?" Usul Haikal menoleh kearah Zaky yang sibuk dengan kertas dan bulpoinnya.
"Terserah padanya," jawab Zaky nampak tak tertarik. Kini pandangan Haikal beralih menatap sepasang mata hitam milik Milea yang setia menatap tuannya sendu.
"Bagaimana Milea?"
"Ha?! A-apa.. oh.. iya. Jika Nala ikut, maka saya juga akan ikut," jawab Milea kikuk.
"Oke, karna semuanya sudah sepakat. Besok pagi kita ketemu di lobi apartemen ya. Nanti untuk kemana saja kita melakukan kunjungan, akan aku beritahu. Kalau begitu, aku pamit dulu ya. Bye bye!"
Setelah kepergian Zaky, entah mengapa suasana canggung kembali menyelimuti. Dua orang itu saling lirik satu sama lain, dan saat mata mereka bertemu, maka dengan cepat mereka memutuskannya.
"Maaf."
Milea menoleh. "Maaf untuk?"
"Maaf karna tadi aku bersikap kelewatan. Aku bahkan hampir melecehkanmu untuk yang kedua kalinya. Kamu boleh marah, dan jika kau ingin menamparkupun silahkan. Anggap saja itu bayaran atas kesalahan yang ku perbuat padamu." Sesalnya.
Milea menghela nafas pelan lalu berjalan mendekat. "Apa dengan menampar anda ciuman pertama saya akan kembali? Apa dengan memaki anda, semua yang terjadi akan hilang bak diterpa angin? Tidak bukan?" Cecar Milea datar dan tenang.
"Memang dengan menampar ataupun memaki tidak dapat mengembalikan semua yang sudah terjadi. Tapi, dengan menampar maupun memaki, setidaknya kamu merasa sedikit puas meski tidak bisa mengubah takdir," jawab Zaky ikut bangkit berdiri berhadapan dengan gadis kecil itu.
"Ya benar. Tapi, saya bukan orang yang seperti itu. Saya orang yang memaklumi dengan kuasa takdir yang tuhan tetap 'kan. Jika ciuman pertama saya memang harus jatuh pada anda, apa yang bisa saya perbuat? Tidak ada. Yang mampu saya lakukan hanya mensyukuri apa yang menjadi jalan takdir saya." Jawab Milea panjang lebar.
Zaky tersenyum simpul lalu menepuk nepuk puncak kepala Milea dengan lembut. "Semakin aku mengenalmu, semakin aku merasa kamu terlihat sangat dewasa. Entah dewasa karna faktor usia, atau dewasa karna lingkungan."
Deg
Milea menatap Zaky dalam. Apa pria itu sudah mengetahuinya? Jadi, perlakuannya ini apa benar tulus, atau hanya sekedar ucapan terima kasih? Entahlah. Tiba tiba hati Milea terasa sakit. Apa benar dia telah jatuh cinta pada tuannya ini?