
"Kamu yakin tidak ingin ikut kami ke Australia?" Tanya Edwark untuk kesekian kalinya.
"Tidak. Aku masih harus menyelesaikan masalahku di sini. Setelah selesai nanti, aku janji akan ikut kalian ke Australi. Tapi tidak sekarang." Tutur Milea mencoba meyakinkan para sepupunya yang nampak enggan melepaskannya.
"Huft. Ya sudah, kamu jaga diri baik baik ya! Kalo ada apa apa telfon aja kita! Kita akan selalu ada 24 jam untukmu." Ujar Malvin yang merupakan paling tua di sana.
"Iya."
"Ya sudah, kita pamit pulang dulu ya. Bye bye Milea..!!" Pamit kelima pria itu melambaikan tangan lalu masuk kedalam pesawat.
Milea melambaikan tangannya sebentar lalu menggendong tasnya keluar dari bandara dan mencari taksi untuk pulang.
Sesampainya di apartemen. Milea langsung membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur. Waktu menunjukkan pukul tiga sore, yang artinya Nala sebentar lagi akan pulang bekerja.
Dia memutuskan untuk bangkit menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, dia berjalan kedapur berniat ingin memasak makan malam untuknya dan juga Nala.
Tak tak tak
Seperti biasa, tangan Milea selalu lincah dalam urusan memegang pisau di dapur. Hari ini dia memutuskan untuk memasak opor ayam.
Cklek
Tepat setelah Milea selesai menata makanan di atas meja, suara pintu apartemen terdengar dibuka. Derap langkah kaki yang pelan dapat Milea duga bahwa sahabatnya itu sedang kelelahan.
"Kamu sudah pulang?"
"Astaga!! Milea kamu mengejutkanku saja!! Kapan kamu datang? Kenapa tidak mengabari ku?!" Kaget Nala berjalan menghampiri Milea duduk di meja makan.
"Tadi sore. Bagaimana pekerjaan mu? lancar?" Tanya Milea mengambilkan nasi untuk Nala, serta opor yang dia buat kedalam mangkuk kecil.
"Alhamdulillah lancar, meski banyak sekali yang harus ku kerjakan," jawab Nala acuh tak acuh, karna mencium aroma masakan Milea begitu menggiurkan benar benar membuat perutnya lapar.
"Oh benarkah?"
"Kamu ingin menanyakan keadaan pak Zaky 'kan?" Tebak Nala melirik sekilas Milea lalu kembali memakan makanannya.
"Hehe. Bagaimana kabarnya saat aku tinggal 'kan beberapa hari ini?" Tanya Milea salah tingkah.
"Me-nye-dih-kan!! Satu kata itu cukup untuk menggambarkan keadaannya saat ini. Akhir akhir ini dia sering lembur, tugas ku tiap harinya juga numpuk, makanya sering ikutan lembur. Tapi, hari ini bersyukur bisa pulang lebih awal." Jawab Nala.
Milea tersenyum kikuk lalu memakan makanannya dalam diam. Setelah selesai makan, dia segera mencuci piring dibantu Nala.
"Na, aku pergi ke apartemen tuan dulu ya. Aku mau masak, beliau pasti belum makan." Pamit Milea setelah selesai mencuci piring.
"Oke. God luck!"
Milea tersenyum lalu bergegas keluar dari apartemen menuju lantai 6 di mana apartemen Zaky berada.
Tit tit tit
Cklek
Pintu terbuka. Keadaan apartemen tak jauh beda dari terakhir kali dia lihat. Hanya saja sedikit berantakan, mungkin karna Zaky sibuk jadi tidak sempat mengurus tempat tinggalnya.
"Saat bersih bersih!!" Gadis itu mulai beraksi membersihkan sudut demi sudut setiap ruangan. Hingga saat dia memasuki ruang kerja Zaky, hal tak terduga terlihat. Buku, kertas, alat tulis dan berbagai benda lainnya berserakan di lantai, membuat Milea hanya mampu geleng geleng kepala dan mulai beraksi membersihkannya.
Setelah selesai membersihkan kekacauan apartemen, sekarang saatnya bagi Milea untuk berkutat pada dapur.
***
Di lain tempat, Zaky masih berkutat pada layar komputernya. Malam sudah semakin larut, namun tak sedikitpun terbesit di pikirannya untuk pulang. Mungkin hari ini dia akan menginap di kantor.
Cklek
"Ky, lo gak pulang?" Tanya Haikal berjalan mendekati Zaky yang tak sedikitpun beralih pada layar komputernya.
"Nanti." Jawabnya cuek. Haikal menghembuskan nafas kasar langsung merebut kertas yang di tanda tangani Zaky, dan mematikan layar komputer.
"Kal lo apa apaan sih?!" Bentaknya menatap nyalang Haikal.
"Pulang ky!! Jangan gini dong! Lo kalo punya masalah selesaiin baik baik, jangan malah ngelampiasin pada perkerjaan gini. Yang ada entar lo sakit lagi," tutur Haikal menasehati.
"Ck. Udahlah, ayo pulang!" Dengan paksa Haikal menarik tangan Zaky keluar dari ruangannya. Mereka berjalan bersama keluar dari perusahaan yang sudah sepi karna para karyawan telah pulang kerumah masing masing.
Sesampainya di apartemen, keduanya berpisah di lantai 4 karna letak apartemen yang berbeda lantai. Sampai di lantai 6, Zaky berjalan gontai menelusuri koridor apartemen dan berdiri tepat di depan pintu apartemennya.
Tit tit tit tit tit tit
Cklek
Pintu terbuka. Zaky mengeryit bingung saat melihat rumahnya terlihat lebih bersih dari terakhir ia tinggalkan, dan dia pun tidak memanggil jasa pembersih untuk membersihkan apartemennya.
Dia berjalan masuk sambil meneliti setiap sudut ruangan yang bersih dan wangi. Pintu kamar dia buka, semuanya bersih dan rapi. Kali ini pintu ruang kerja dia buka. Dan... bersih juga? Bagaimana bisa? Siapa yang membersihkannya?
Tak tak tak
Srasss
Sing sing sing
Kali ini pandangan Zaky beralih menoleh kearah dapur yang terhalang oleh skat. Dapat terdengar jelas di telinganya suara dentingan wajan dan spatula beradu, menandakan bahwa seseorang tengah memasak di sana.
Dengan langkah cepat dia berjalan ke dapur. Sejenak dia tertegun saat melihat punggung orang yang teramat ia rindu 'kan sedang membelakanginya.
"Milea...?"
Gadis yang tengah sibuk memasak itupun menoleh saat mendengar suara seseorang. "Oh tuan, anda sudah pulang? Tunggu ya, masakannya sebentar lagi selesai. Anda bisa menunggu di meja makan," ucap Milea nampak kewalahan berjalan kesana kemari mengambil satu persatu bumbu masakan yang harus dia masukkan.
Sesaat setelah sadar, Zaky menjatuhkan tas kerjanya dan berjalan cepat menghampiri Milea.
Grep
"Milea aku merindukanmu... ku mohon jangan pergi lagi..." bisik Zaky yang memeluk erat pinggang Milea dari belakang, wajahnya bersangga di bahu Milea. Dengan mata terpejam, Zaky menikmati masa masa ini. Kali ini dia buang egonya jauh jauh, karna dia betul betul merindukan Milea.
Milea diam saja membiarkan Zaky memeluknya. Tangannya terulur untuk mematikan kompor agar masakannya tidak gosong. Di saat seperti ini masih sempat sempatnya ingat masakan? Tentu saja!! Masakan itu number one untuk Milea. Karna bukan gayanya jika sampai kecolongan masakan gosong.
"Tuan, apakah anda tidak lapar?" Tanya Milea setelah sekian lama berdiam diri membiarkan tubuhnya dipeluk.
"Lapar," jawab Zaky singkat tanpa ada niatan ingin melepaskan tubuh kecil Milea. "Kalau begitu lepas 'kan, agar saya bisa menyiapkan makanan untuk anda." Tutur Milea.
Senyum jahil, "kalau aku ingin memakanmu boleh?" Bisik Zaky dengan erotis dan menggoda.
Krak
"Awh!" Dengan sekali injak, Zaky langsung melepaskan pelukannya sembari memegang kakinya yang terasa sakit akibat ulah gadis cuek itu.
"Saya sedang tidak ingin bercanda tuan!!" dingin Milea dengan tatapan yang tajam. Zaky yang mendengar itu hanya bisa cengengesan.
"Ya sudah, ayo kita makan." Zaky berjalan membantu Milea untuk menyiapkan piring di atas meja makan, sedangkan Milea menyiapkan lauknya.
"Kali ini penilaianku berubah. Masakan mu luar biasa. Akh aku benar benar merindukan masakanmu." Girangnya dengan lahap memakan masakan Milea.
Tersenyum kecil, "sebelumnya saya minta maaf karna tidak sempat mengabari anda tentang keberangkatan saya ke kota Jogja." Sesal Milea.
"Jogja?" Beo Zaky di sela sela makannya. "Iya Jogja. Saya mendapat kabar dari pihak rumah sakit bahwa Nenek saya kritis." Jawabnya.
"Innalillah, terus bagaimana keadaan Nenekmu sekarang? Dia baik baik sajakan?" Tanya Zaky merasa kasihan pada Milea.
Tersenyum sendu, "tentu. Beliau baik baik saja. Karna saya yakin, Nenek akan tenang di sisi tuhannya."
Zaky terdiam mencerna sebentar ucapan Milea, hingga dia mengerti maksudnya. "Aku turut berduka cita atas kematian Nenekmu. Maaf tidak bisa menghadiri acara pemakaman."
"Tidak apa apa tuan. Saya sudah ikhlas melepas kepergian Nenek. Setidaknya mulai sekarang, Nenek tidak akan pernah merasakan sakit lagi," ujar Milea memaklumi.
"Ya. Emm ngomong ngomong. Jangan panggil aku tuan lagi. Kamu bisa panggil aku Kakak. Aku merasa tidak nyaman mendengarnya." Ucap Zaky kikuk.
"Baik Kak."
Zaky tersenyum sempurna lalu segera menghabiskan makanannya, sesekali melirik Milea yang menatapnya tersenyum tipis. Tentu saja itu membuat Zaky salah tingkah.