Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Berita


Ting


Seorang pejalan kaki berhenti saat sebuah notifikasi di layar ponselnya berbunyi. Dia menghentikan langkahnya sebentar lalu melihat berita apa yang ada.


"Ha?!" Orang itu terkejut bukan main saat melihat isi berita yang mungkin akan menghebohkan jagat dunia maya.


Ting Ting Ting


Beberapa pejalan lain juga sama halnya saat membuka ponsel merasa terkejut melihat berita menggemparkan itu.


"Bukankah dia adalah anak dari pengusaha yang berpengaruh di sini?" Bisik satu orang tak percaya.


"Cih. Orang kaya memang seenaknya ya. Selalu berbuat sesuka hati, bahkan hal memalukan seperti ini pun tetap mereka lalukan,"


"Woah... agresif sekali wanita itu,"


"Tidak tahu malu!!"


Brak


Bianka menggembrak meja kerjanya kesal. Tangannya mengepal kuat saat melihat wajahnya terpampang jelas di semua laman berita di akun media sosial seseorang.


'Anak pengusaha terkenal, Bianka Rahardian Kusuma diberitakan mendekati tuan muda dari keluarga Alexander. Zaky Alexander. Wanita cantik ini dikatakan selalu mendekati tuan muda Alexander dengan agresif dan selalu mengaku bahwa memiliki hubungan lebih dengan tuan muda Alexander. Berikut beberapa foto yang membuktikan kebenarannya.'


"Arrrrgghh" Bianka yang kesal melempar semua barang yang ada di meja kerjanya. Matanya sudah memerah dengan tangan mengepal kuat.


Ting ting ting


Bianka melirik ponselnya melihat beberapa pesan dari pacar ATM-nya yang menanyakan kebenaran berita itu.


"BRENGSEK!!"


Brak


Bianka melempar ponsel itu hingga retak tak berbentuk. Dia menjambak rambutnya sendiri karna merasa prustasi dengan berita itu. Sudah bisa dipastikan teman temannya akan menghinanya, pacarnya akan memutuskan hubungan mereka. Dan Zaky? Entahlah dengan pria itu.


Cklek


Satria membuka pintu dan melihat sekeliling yang penuh dengan kertas yang tak tersusun bentuknya. Dilihatnya sang adik yang kini menangis sesegukan. Dia berjalan pelan menghampiri adiknya yang terlihat mengenaskan itu.


"Bianka," merasa dipanggil, Bianka mendongak dan langsung menghamburkan pelukan pada kakak kesayangannya itu.


"Kakak... hiks bagaimana ini kak? Teman teman pasti akan mencaciku, dan pacarku juga pasti akan memutuskan hubungan kami." Rengeknya.


Satria diam tanpa berniat membalas pelukan adiknya. Bianka mengangkat wajahnya menatap kakaknya penuh harap. "Kak. Bantu aku untuk menghapus berita itu dan membuat conperensi pers untuk meluruskan semuanya. Aku mohon kak..."


Satria menatap adiknya datar. Perlahan dia mendorong tubuh adiknya dari dirinya. "Kakak?" Bianka menatap kakaknya bingung.


"Bianka. Kakak datang kesini hanya untuk melihat keadaanmu, bukan untuk menolongmu. Semua ini terjadi karna kesalahanmu sendiri. Jadi kakak harap kamu bisa belajar dari kesalahan ini agar tidak terjadi lagi di masa depan." Tutur Satria.


"Kakak!! Kakak kok gitu sih?! Kakak udah gak sayang lagi sama aku?!" Teriak Bianka melangkah mundur tak percaya.


"Kakak tidak membantumu bukan karna tidak menyayangimu. Kakak hanya ingin kamu belajar untuk menghargai perasaan orang lain. Cinta ada bukan untuk dimainkan, tapi untuk di jaga dan dilindungi. Orang tidak akan menghargai dirimu jika kau tidak menghargai mereka," jawab Satria tegas.


"Kakak jangan sok pintar deh! Kakak pikir, cuma kakak yang bisa aku andelin?! Aku bisa minta papa buat ngehapus berita itu!!" Ujar Bianka menatap tajam Kakaknya.


"Terserah padamu. Kakak sudah mengatakan apa yang ingin kakak sampaikan. Dan satu hal lagi! Menjauhlah dari keluarga Alexander! Mereka keluarga baik baik yang memandang seseorang dari agama! Berbeda denganmu. Jadi sebelum kau semakin jauh menyelam kedalam keluarga itu, lebih baik kau menyerah sebelum akhirnya kamu akan tergelam di dalamnya." Satria keluar dari sana setelah di rasa sudah mengeluarkan semua unek uneknya.


"Arrrggghhhhh"


***


Di tempat lain, Milea menatap layar ponselnya dengan perasaan yang tak dapat diutarakan. "Tuan, secepat ini kah anda melakukannya?" Tanyanya pelan.


"Iya. Aku sudah muak dengan wanita itu. Setiap saat menempel dan selalu memanfaatkan kebaikanku untuk membeli apapun yang dia inginkan," jawab Zaky mendengus kecil.


"Hehe. Anda bukannya muak dengan nona Bianka, tapi takut bangkrut karna selalu morotin uang anda." Ledek Milea tertawa kecil.


Mendelik tajam, "eh enggak ya!! Uang aku banyak. Mau sampe tujuh turunan pun tidak akan habis!!" Elak Zaky tak terima.


"Hahahaa iya-in aja." Kekeh Milea senang. Zaky tersenyum kecil sebelum akhirnya ikut tertawa bersama Milea.


***


Malam telah tiba. Nala mengeluarkan kue tart buatannya dari dalam open. Dia tersenyum saat melihat kue buatannya mengembang sempurna.


Tok tok tok


"Sebentar!!" Teriak Haikal dari dalam.


Cklek


Pintu terbuka. Nala membulatkan matanya sempurna melihat Haikal hanya memakai kolor dan sinlet putih, membuatnya langsung memalingkan wajah malu.


"Oh kau Nala? Ada apa?" Tanya Haikal tanpa malu bersandar di pintu melirik gadis itu geli. Tahu sekali kalau gadis itu tengah salah tingkah melihatnya seperti ini.


"In-ini. A-aku tadi bu-buat kue. Karna kebanyakan, aku kasih aja sebagian ke kamu. Sekalian sebagai ucapan terima kasih karna dulu telah merawat ku." Ucap Nala gugup. Tanpa menoleh sedikitpun, dia menyerahkan piring berisikan potongan kue tart buatannya.


Haikal menatap kue itu sedikit mengeryit sebelum akhirnya dia mengambil kue itu dari tangan Nala.


"Ada lagi?"


Nala refleks menatap Haikal, lalu sedetik kemudian kembali mengalihkan pandangan. "Ti-tidak ada. Ka-kalau begitu... a-aku pulang dulu." Dengan secepat kilat Nala masuk kedalam apartemennya yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari apartemen Haikal.


"Astaga!! kenapa aku gugup sekali?" Lirih Nala menggelengkan kepalanya kuat lalu berlari masuk kedalam kamar.


Haikal tersenyum melihat tingkah Nala. Diapun memutuskan untuk menutup pintu dan masuk kedalam membawa piring berisikan kue tart itu.


Haikal duduk di ruang tamu memakan kue itu. Disuapan pertama, dia terdiam dengan pandangan kosong.


Rasa ini...


"Hahahaa kejar aku kalo bisa wlee!" Ejek seorang bocah perempuan dengan boneka tedy bear di pelukannya berlari di sebuah taman yang luas.


"Awas kamu ya!!" Haikal kecil berlari mengejar bocah perempuan itu. Saat ini mereka tengah berada di halaman belakang rumah Haikal yang terbilang cukup luas.


"Haikal!! Lala!! Udahan dulu yuk! Bunda bawain kue buat kalian nih!" Seru wanita cantik bernama Bulan.


Dua bocah yang tengah kejar kejaran itupun menghentikan langkahnya menoleh kearah sumber suara. Haikal kecil melirik Lala temannya dengan senyum mengembang.


"Siapa cepat dia dapat!!" Teriak Haikal berlari kencang menghampiri bunda kesayangannya.


"Ihhh ikal curangg!!" Tak ingin kalah, Lala ikut berlari menghampiri bunda Bulan. Mungkin kuenya.


"Yeayyy aku menang!!" Sorak Haikal gembira. "Ikal curang! Lala ngambek!" Bulan tersenyum menatap putra dan temannya yang terlihat sangat menggemaskan.


"Yee gitu aja ngambek," cibir Haikal menoel noel pipi Lala mencoba membujuk perempuan itu.


"Ihhh ikal, jangan rese deh!" Lala semakin cemberut menepis tangan Haikal kesal. "Makanya, jangan ngambek gitu dong." Bujuknya.


"Abisnya ikal nyebelin!" Rengek Lala manja. Haikal tersenyum mengusap pucuk kepala Lala. "Iya iya maaf. Ayo kita makan kue buatan bunda,"


Tak butuh waktu lama bagi Haikal untuk membujuk sahabatnya itu. Sambil bergandengan tangan, mereka duduk di bangku taman bersama dengan bunda Bulan.


"Pelan pelan makannya!" Omel Bulan mengusap bibir keduanya yang belepotan memakan kue.


"Abisnyo ue unda enak anget!" celoteh Lala tidak jelas karna mulutnya yang penuh dengan kue.


"Abisin dulu Lala, baru ngomong!" Cetus Haikal. Lala mengangguk perlahan menelan kuenya.


"Kue bunda enak banget. Nanti ajarin Lala bikin ya bun." Pinta Lala menatap Bulan dengan senyum yang mengembang.


"Mungkin Bunda gak akan bisa ngajarin Lala deh. Tapi tenang, nih bunda kasih buku resepnya. Di sana tertulis semua resep kue buatan Bunda." Ujar Bulan menyerahkan sebuah buku kecil berisikan resep resep kue buatan bunda Bulan.


"Ini buat Lala Bun? Ahhh makasih bundaaa..." Lala bangun untuk memeluk bunda Bulan.


"Kok Lala aja yang dikasih Bun? Haikal enggak?" Cemburu Haikal. Bulan tersenyum hangat menatap putra semata wayangnya itu yang cemburu.


"Kan Haikal bisa minta ajarin langsung sama bunda. Dan lagi, Lala itu 'kan cewek. Jadi harus bisa masak buat suaminya nanti," ucap Bulan mencoba membuat putranya mengerti.


Lala menghampiri Haikal lalu merangkulnya. "Ikal tenang aja. Kalo Lala udah bisa bikinnya, Lala bakal kasih Ikal kuenya." Bujuk Lala tersenyum ceria.


Haikal menatap binar polos Lala yang terlihat ceria itu. "Janji ya!"


"Janji!!"


"Bunda..." Nala tersenyum menatap sendu buku resep kue yang dia dapat 'kan dari seseorang yang paling ia sayangi di masa lalu.