Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Cerita sebenarnya


"Katakan kalau vidio itu hanya editan! VIDIO ITU HANYA EDITAN 'KAN MILEA?!!!!" Teriak Zaky menatap wajah menunduk Milea yang terdiam dalam isak tangis.


Brak


"Aaarrrrgghhhh!!" Suara keras gebrakan meja dari Zaky membuat tubuh Milea terlonjat kaget. Matanya memberanikan melihat keadaan Zaky yang ternyata sangat mengenaskan.


"Katakan sekali saja Milea! Kalau apa yang orang itu kirim tidaklah benar! Ku mohonnn!!" Masih menyangkal kenyataan, Zaky menghadap pada Milea penuh pengibaan yang begitu menyedihkan. Raut wajah keputus asaan terpancar jelas dari raut wajahnya yang berantakan.


"Terkadang apa yang anda lihat sepintas tidak bisa membuktikan kejadian yang sebenarnya. Karena, dengan melihat sepintas anda hanya akan tau sekelabat dari cerita tersebut. Sedangkan cerita sebenarnya, hanya orang orang yang ada di tempat kejadian saja yang tahu. Apa yang terjadi setelahnya," jawab Milea datar.


"Jadi?"


"Memang saya yang telah mendorong Anna," ucap Milea memejamkan mata dalam tundukan kepala. Memasrahkan diri jikalau Zaky ingin berbuat sesuatu kepadanya.


"Teganya kau....!!!" Zaky berlalu pergi dari hadapan Milea. Marah? Tentu saja. Selama ini dia menduga orang yang membunuh adiknya adalah salah satu anggota keluarga Rahardian, sampai dia lupa, bahwa orang yang selalu ada di sisinya juga salah satu anggota keluarga itu.


Brukh


Perlahan tubuh Milea merosot jatuh kelantai penuh taburan kelopak bunga mawar yang indah. Sebuah penyesalan yang selama ini ia sesali adalah mendorong Anna sehingga membuat wanita itu meninggal.


"Hiks hiks... Anna...."


"Non! Non Lea! Non gawat non!!" Teriak salah seorang Art bernama Nina berlari cepat menghampiri Milea yang baru saja sampai setelah berbalanja di pasar bersama bi Ningsih.


"Apa?" Tak heran bagi Nina jika Milea begitu datar menyikapi ucapannya, karna semua pembantu yang ada di rumah tau kalau Milea memiliki sifat dingin dan datar. Hanya kepada Anna-lah wanita itu akan bersikap hangat.


"Gawat lah pokoknya!" Ujar Nina.


"Coba di bawa betenang dulu. Jangan panik gitu. Emang gawat kenapa?" Bi Ningsih sigap menengahi keadaan.


"Itu... itu!! NON ANNA MAU BUNUH DIRI!!"


Brukh


Belanjaan yang Milea pegang seketika terjatuh. Dengan langkah cepat Milea memasuki halaman rumah yang terlihat ramai oleh para pembantu.


Deg


Langkahnya terhenti dan terpaku melihat begitu banyak para pembantu berkumpul di halaman depan untuk meneriaki Anna yang berdiri di balik pembatas pagar balkon.


"Anna...!" Dalam hitungan detik, Milea melebarkan langkahnya menaiki menaiki satu persatu anak tangga hingga sampailah ia di lantai tiga.


Brak


Pintu ruangan tersebut terbuka lebar. Netra mata Milea mengarah lurus pada sosok sahabatnya yang terlihat ragu saat ingin meloncat dari balkon. Dengan tegas, Milea melangkahkan kakinya menghampiri Anna.


Dughh


Bola mata Milea membulat sempurna di rasa seseorang tiba tiba mendorongnya dari belakang. Hingga tanpa ia sadari, tangannya justru mendorong tubuh Anna yang berada di pembatas pagar.


"AAAAA!!!"


Puk


"Anna..." sempat bagi Milea meraih pergelangan tangan Anna hingga dia menggelantung di udara.


"Bertahanlah Anna! Aku akan membantumu naik!" Ucap Milea sambil mencoba menarik Anna naik.


"Lea..." panggil Anna lirih.


"Anna belum pernah cerita ya kalau Anna punya satu orang kakak laki laki," tutur Anna penuh kepasrahan pada manik mata Milea.


"Nama dia Zaky Angkasa. Dia adalah kakak terbaik yang pernah Anna miliki. Bagi Anna, dia adalah sosok kakak, ayah sekaligus ibu untuk Anna. Tapi kami berpisah karna Anna diadopsi sama papa Dian,"


Milea masih dengan usahanya menyelamatkan Anna, sambil memasang telinga mendengarkan semua cerita Anna yang seakan hendak pergi.


"Bertahanlah! Aku mohon bertahanlah! Hiks jangan tinggalin aku! Aku mohon maaf 'kan aku! Bertahanlah Anna!!" Isak tangis sudah tidak dapat Milea hindari. Tak dapat ia bayangkan jikalau dia harus kehilangan Anna dari hidupnya.


"Lea. Tolong jaga kak Zaky seperti Lea menjaga Anna. Sayangi ia seperti Lea menyayangi Anna. Dan selalulah berada di sisinya sama seperti Lea yang selalu berada di sisi Anna." Pinta Anna sendu.


"Hiks hiks jangan berkata seolah olah kamu akan pergi!! Bertahanlah! HEI KALIAN YANG DI BAWAH!! APA KALIAN HANYA BISA MENONTON SAJA?!! CEPAT KEMARI DAN TOLONG!!!" Seru Anna murka. Mereka yang diteriaki sejenak linglung lalu segera berlarian menuju lantai tiga.


"Singkirkan tanganmu darinya!!" Titah Bianka yang tiba tiba datang hendak melepas tautan tangan antara Anna dan Milea.


"Bian apa yang kamu lakukan?!!" Teriak Milea mendorong keras bahu Bianka dengan sebelah tangannya.


"Apa yang akan aku lakukan? Tentu saja menyingkirkan hama lingkungan!" Jawab Bianka sinis dan berusaha melepas tangan Milea dari Anna.


"Bianka apa yang kamu lakukan!! Anna bisa mati jika jatuh kelantai bawah!" Teriak Milea mempertahankan tangan Anba agar tidak terlepas darinya.


"Aku tidak peduli, dan tidak akan pernah peduli. Sebaiknya kamu lepaskan atau akan ku buat kamu merasakan hal yang sama!!" Ancamnya.


"Tidak ak----" puk. Milea memandang tak percaya di mana Anna begitu mudahnya melepaskan genggaman tangan yang sangat Milea jaga. Siluet senyum manis itu menjadi salam perpisahan terakhir dari Anna sebelum akhirnya Anna terjatuh kelantai dasar.


Brak


"Kan...."


"ANNAAAAAA!!!"


"Heh, akhirnya satu hama sudah hilang. Tinggal satu lagi yang perlu aku singkirkan," sinis Bianka bersidekap dada sambil melirik tubuh bersimbak darah milik Anna yang ada di halaman.


Grep


"Ukhhhh...!"


Milea bangkit dan dengan sekali serangan, Bianka langsung kesulitan bernafas. "Mudah sekali anda berkata seperti itu. Apa anda tau? Bagaimana kehilangan orang yang anda sayang? Apa perlu, saya buat anda kehilangan orang yang anda cintai, agar anda tahu. Bagaimana rasanya di tinggal pergi oleh orang yang selama ini selalu ada untukmu!" Entah kerasukan jin apa, dalam hitungan detik Milea berubah menjadi gadis psicopat yang begitu menyeramkan di mata Bianka.


"Le-lepaskan!"


Memojokkan tubuh Bianka kepembatas balkon dan semakin memperkuat cekikan, "lepaskan anda bilang? Setelah anda mendorong saya, lalu anda membuat saya kehilangan sahabat saya. Dengan mudahnya anda meminta dilepaskan?!!"


"Apa anda tau? Hidup di keluarga iblis seperti kalian adalah sebuah aib bagi saya. Jika anda ingin menyalahkan orang yang telah menghadirkan saya, maka patutlah Rahardian yang harus anda salahkan!! Karna yang salah bukan saya maupun ibu saya, tapi Rahardian ayahmu yang dengan mudahnya menghadirkan saya di dalam rahim ibu saya!!"


"Uhuk uhuk!" Bianka mulai kehilangan banyak pasokan oksigen. Milea merupakan satu satunya orang yang mewarisi gen kental Rahardian. Dari sifat, sikap, dan cara kemarahannya benar benar sama persis dengan Rahardian.


"Matilah!!"


Syuttt


Brukhhh


Tubuh Milea dan Bianka merosot jatuh bersamaan. Jika Bianka pingsan karna kehabisan oksigen, maka Milea pingsan karna suntikan bius dari Rahardian.


"Maaf 'kan papa nak...." itulah kata yang Milea samar dengar sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri.