
"Bunda apa kabar?" Tanya Zaky setelah melepaskan pelukan dari tubuh bunda Dina yang hanya sebatas dadanya saja.
"Bunda baik, mari duduk dulu nak." Zaky tersenyum lalu duduk di teras depan yang sudah mulai rapuh.
"Bunda turut berduka atas kematian adikmu nak. Maaf bunda tidak turut serta saat pemakaman berlangsung." Sendu bunda Dina mengingat kematian Anna, anak panti kesayangannya. Sifat gadis itu ceria, sopan dan selalu mengerti keadaan jikalau panti sedang tidak memiliki donatur untuk memenuhi kebutuhan panti.
"Tidak apa apa bun, lagi pula itu sudah berlalu." Jawab Zaky berusaha untuk tidak bersikap lemah meski sudah berhadapan dengan bundanya. Tempatnya sedari dulu berkeluh kesah.
"Iya. Sekarang kamu sudah kerja nak? Sepertinya sudah sukses ya? Bunda turut senang melihatnya." Tutur bunda Dina membelai lembut lengan Zaky.
Ah sentuhan ini, Zaky benar benar merindukannya. Bahkan dia tidak segan lagi menangis di pelukan sang bunda selayaknya anak kecil yang terjatuh dari sepeda.
"Loh kok nangis?" Bunda Dina membalas pelukan dengan tangan sesekali mengusap puncak kepala Zaky lembut. Tak peduli jika bajunya kini basah akibat air mata yang Zaky tumpahkan. Baginya, besar atau kecil semuanya tetap sama. Zaky tetaplah putra kecilnya yang selalu menangis dan memeluknya.
"Hiks Zaky rindu bunda... maaf karna Zaky baru sempat mengunjungi bunda dan anak anak panti." Sesalnya.
"Sudah tidak apa apa. Bunda tau kamu pasti sibuk, yang penting bunda seneng kamu bisa menjadi orang sukses seperti sekarang."
Perlahan Zaky melepaskan pelukan setelah di rasa puas melepas rindu. Dia mengambil sapu tangannya lalu mengelap air mata serta hingusnya.
"Sebenarnya waktu Zaky umur 17 tahun. Ada sepasang pengantin muda yang mengadopsi Zaky," cerita Zaky.
"Baguslah, setidaknya bunda merasa tenang karna kamu tinggal bersama orang yang tepat, tidak seperti...." bunda Dina terdiam, tak sanggup melanjutkan ucapannya karna takut menyinggung perasaan anaknya itu.
Zaky menatap kosong kedepan, lebih tepatnya pada anak anak panti yang tengah asik bermain. "Terkadang Zaky merasa marah bun. Kenapa cuma Zaky yang dapet kebahagiaan ini? Kenapa cuma Zaky yang mendapatkan keluarga angkat yang begitu baik sedangkan adik Zaky enggak? Kenapa tuhan begitu gak adil bun!!" Keluh Zaky menatap bundanya dengan mata berkaca kaca.
"Hus! Gak boleh ngomong gitu. Tuhan selalu bersikap adil kenapa umatnya, cuma kita sebagai manusia saja yang tidak mudah memahami keadilan yang tuhan beri. Cukup syukuri apa yang ada, karna tuhan tau apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk kita." Nasehat bunda Dina.
"Iya bun. Emhhh... panti asuhan udah lama gak ada donatur ya?" Tanya Zaky hati hati.
"Yah begitulah nak, bunda udah cari sana sini siapa tahu ada yang merasa simpati dengan keadaan panti ini, tapi... ya mungkin belum rezeki." Jawab bunda Dina sendu.
"Bun, sebenarnya sekarang aku udah mengelola perusahaan papa angkatku sekarang. Kalau boleh... Zaky ingin jadi donatur tetap di sini, itung itung sebagai balas budi karna bunda selama ini udah rawat Zaky." Tawar Zaky.
"Masyallah. Tentu nak, bunda seneng kalo kamu mau jadi donatur tetap di sini. Syukurlah karna sekarang anak panti sudah bisa bersekolah lagi," syukur bunda Dina.
"Iya bun alhamdulillah." Zaky tersenyum bahagia saat melihat bundanya juga bahagia. Matanya kini melirik kearah seorang gadis yang sibuk bermain bersama anak kecil dengan asiknya.
"Dia siapa nak?"