
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!
...****************...
Jordan dan Aiden bisa bernapas lega karena dokter itu mau membuka mulutnya
Pricillia mengeluarkan sebuah flashdisk dari laci mejanya yang terkunci
"Kalian bisa datang minggu depan, ini obat yang perlu di tebus" ujar Pricillia dengan tangannya yang sibuk menulis sesuatu di kertas
"Ada orang diluar sedang mengawasi, jangan menoleh... demi keselamatan bersama, tolong jangan menuntut aku untuk menjelaskannya, silahkan kalian bawa saja flashdisk ini bersama kalian, tanpa membuat keributan..." itulah yang di tulis Pricillia dalam sebuah buku yang biasa di gunakannya untuk menulis resep obat, lalu memberikannya pada keduanya
Aiden menatap Jordan sekilas, lalu kembali lagi pada kertasnya, dan tanpa sepatah katapun mereka keluar dari sana
"Terimakasih atas perawatanmu sejauh ini" ucap Jordan berbalik sebentar menatap Pricillia, lalu pergi dari sana bersama Aiden, seolah mereka adalah pasien dari Pricillia
Benar saja, saat keduanya masuk, pintu ruangan Pricillia tidak tertutup dengan rapat hingga wanita itu tidak sengaja melihat bayangan seseorang, yang sepertinya baru saja berdiri di sana, karena itu dia menulis ucapannya lewat kertas
Keduanya berjalan dengan santai seperti pasien lainnya, sampai di tempat keramaian, mereka berbalik dan melihat apakah pria tadi masih ada di dekat ruangan Pricillia
"Kau yakin, dia baik-baik saja?" tanya Jordan
"dia ada di klinik, pasti ada CCTV di sini, tidak mungkin mereka akan melakukan sesuatu padanya, di tempat seperti ini" jawab Aiden
"Tapi tetap saja aku tidak tenang! kita kembali saja" ujar Jordan, lalu berjalan mendahului Aiden untuk kembali keruangan Pricillia
Saat mereka sampai diruangan tadi, tidak ada siapa-siapa di sana, sontak Aiden dan Jordan langsung panik mencari keberadaan wanita itu
"Aku akan ke ruang CCTV, kau cari keseluruh tempat" ucap Aiden dan langsung di angguki oleh Jordan
Mereka langsung berpencar, untuk mencari keberadaan Pricillia, karena dilihat dari pria yang tadi berada di dekat ruangan, terlihat sekali jika dia seperti orang suruhan yang sengaja membuntuti wanita itu, tapi untungnya pria itu tidak tahu jika Pricillia, tadi sempat memberikan sebuah flashdisk pada mereka
Sementara mereka sibuk mencari keberadaan pricillia, seorang pria yang berdiri di atap gedung sedang menelpon bos-nya
"Beres! dan ku pastikan dia tidak membuka mulutnya" ujarnya, lalu menutup telponnya
Pria yang memakai jaket kulit berwarna hitam itu langsung pergi dari sana, setelah berhasil menjalankan tugasnya
"......"
Aiden datang menghampiri Jordan dengan nafas tersengal
"Kedepan!" ujarnya lalu lanjut berlari di susul oleh Jordan
Keduanya mulai menormalkan napasnya saat berdiri di kerumunan
Mereka berdua saling menatap satu sama lain, lalu beralih pada wanita yang sudah tewas akibat terjun dari lantai 4 gedung klinik
Tanpa buang waktu, Aiden langsung meraih ponselnya untuk menelpon seseorang
📞In Call-
"Ada apa?"
"Pricillia Tewas! sepertinya ada yang menyuruh seseorang untuk membunuhnya, dengan mendorong dari lantai 4 gedung"
"Apa!! Lalu pelakunya?"
"Kami tidak berhasil menemukannya, semua CCTV diruangan Pricillia di hapus, aku yakin ini sudah terencana"
"Baiklah! kalian pulang saja lebih dulu aku akan mengurus sisanya, berhati-hatilah... mungkin ada yang mengawasi langkah kita sejauh ini"
"Baiklah"
📞End Call-
Aiden dan Jordan langsung pergi, untuk kembali ke hotel dan bersiap pulang
...****************...
📞In Call-
"Leo retas CCTV di Klinik A, pastikan rekaman di mana Jordan dan Aiden bertemu dengan Pricillia di hapus!"
"Memangnya kenapa?"
"Pricilla di bunuh, jika CCTV terakhir menyatakan dia bersama Aiden dan Jordan, maka polisi di sana akan curiga... di tambah mereka bukan pasiennya, lakukan saja seperti apa yang kusuruh, dan minta Geralt untuk menemuiku di rumah"
"Oke"
"Ah. satu lagi! pastikan mereka berdua berangkat dengan penerbangan hari ini"
"Iyaa"
📞End Call-
"Pricillia di bunuh hari ini, tepat setelah mereka berdua bertemu dengannya! Jika seandainya Arka sudah tahu keberadaan Dokter Pricillia, tidak mungkin dia membiarkan wanita itu masih hidup, mengingat jika semua psikolog yang menanganinya saja sudah di lenyapkan semua" gumamnya
"Tapi! tidak mungkin dia, tidak tahu selama ini jika dokter yang menangani ibunya masih hidup? padahal Dokter Pricillia pindah 4 tahun setelah ibunya bunuh diri" gumamnya lagi sambil berjalan mondar-mandir di kamarnya
Serin berjalan menuju mejanya, di mana di dalam laci tersebut, terdapat berkas penting tentang penyelidikan-nya selama ini tentang Arka
Matanya melihat kesetiap tulisan yang tercetak di kertas itu, "Ah. mungkin ini alasan kenapa dia tidak tahu jika Pricillia masih hidup" gumamnya
Pasalnya dalam kertas tersebut menyatakan jika setelah kematian ibunya, satu tahun kemudian, Arka dikirim Ayahnya keluar negri
"Sebenarnya apa alasan dia membenci ibu? padahal mereka tidak saling terkait" gumamnya
(penjelasan ada di episode 'ingatan!' .)
Serin mencoba mengingat kembali seluruh cerita Marisa waktu itu
Dia duduk diam di tepi ranjang sambil memikirkan hal itu, tapi pikirannya buyar saat Glen memanggilnya dari luar
Sontak wanita itu langsung beranjak dari duduknya untuk menemui suaminya
"......"
"Ada apa?" sahutnya seraya menutup pintu lemari
"Geralt ada di bawah" ucapnya, entah apa yang sedang dilakukan suaminya, tapi ia terlihat sedang mencari sesuatu
"Cari apa?" tanya Serin bingung
"Aku mencari dompetku?" ujarnya membuka laci nakas
Serin menepuk pelan jidatnya, lalu berjalan menghampiri Glen
"Ini apa?" tanyanya menepuk ****** Glen
"Ah. disini rupanya" gumamnya, lalu langsung mengambil dompetnya dari saku celananya
"Masih muda sudah pikun!" cibir Serin lalu pergi dari kamar sambil terkekeh
"Yak! aku tidak pikun... hanya lupa saja" sahutnya seraya mendudukkan dirinya di tepi ranjang
"Sama saja" sahut Serin yang masih belum jauh dari kamar, dan masih bisa mendengar ucapan Glen tadi
"Untung istri, kalau dia masih pengawalku sudah pecat" gumamnya sambil memeriksa dompetnya, entah apa yang sebenarnya ia cari dalam di dompet
...****************...
"Jack! bisa aku pakai ruanganmu dulu" ujar Serin, dan tentunya di angguki oleh Jack
Serin duduk di kursi, begitu juga dengan Geralt
"Bagaimana dengan Lusia? apa dia masih belum sadar?!" tanyanya
Geralt hanya menggelengkan kepalanya pertanda masih tdak ada kabar baik tentang Lusia
"Besok sidang Vonis, aku masih belum bisa menebak! apa sebenarnya yang sedang di rencanakan Arka... kau lihat sendiri bukan, bagaimana dia begitu tenang saat Ayahnya di tuntut jaksa dengan hukuman mati" tutur Serin
"Kau saja bingung, bagaimana denganku" sahut Geralt
"Ah. bagaimana kabar Clara? apa dia senang dengan tempat barunya" tanya Serin
"kau tidak perlu khawatir, aku yakin wanita itu sedang menikmati tempatnya sekarang,,, buktinya dia masih betah di sana" jawab Geralt dan hanya di angguki oleh Serin
Sudah lama Clara tidak terlihat, dan tidak ada yang peduli dengan itu, setelah Ryan di tangkap perusahaan Clara berhasil Serin akusisi atas nama Ardan, sama seperti pemilik sahamnya
Entah kemana Serin mengirim mantan kekasih suaminya itu, tapi yang pasti tidak ada yang tau keberadaa-nya sekarang kecuali Serin dan Geralt
"Hmm. Serin!" gumam Geralt ragu, "apa?" sahut Serin penasaran
"Kau ingat selingkuhan Jayden?" ucapnya ragu
"Hmm. memangnya kenapa?" sahut Serin
"Kami kehilangannya" ucapnya tanpa menatap nanar mata Serin
"Apa? bagaimana bisa, kapan... kenapa baru mengatakan sekarang?!" tanya Serin bertubi-tubi pada tangan kanannya
"Kami kehilangannya satu bulan yang lalu!" sahut Geralt
"Kami sudah mencari-nya kemana-mana, tapi tidak berhasil, CCTV merekam keberadaan terakhirnya di sebuah bandara, dan setelah itu kami tidak pernah lagi berhasil melacak keberadaan-nya" tambah Geralt
"Bagaimana bisa kecolongan?! kau tau bukan, kita memerlukannya sebagai saksi hidup" ucap Serin tidak habis pikir, bisa-bisanya anak buahnya kali ini teledor
"Bagaimana dengan data penerbangannya?" tanya Serin lagi
Serin hanya bisa menghela kasar napasnya "Aku tidak mau tau? jika kalian tidak menemukan-nya, kau tau sendiri apa konsekuensi-nya bukan?!" ucap Serin
Geralt hanya bisa menelan kasar salivanya, serta mengangguk paham atas ucapan atasannya itu
(Siapa yang masih ingat part, 'bukan jantung tapi otak!' dan Permainan' ingat jika hal kecil di satu episode punya benangnya sendiri)
Selama bertahun-tahun setelah dia berhasil menghancurkan kehidupan Jayden dan selingkuhannya, Serin menyuruh Geralt untuk mengawasi-nya dari jauh, dan memastikan jika wanita itu tidak pernah bisa bahagia setelah keluar dari sekolah, tapi itu hanya berlaku beberapa tahun, sampai Serin menemukan sebuah rahasia lain.. setelah kambing hitam Arka mengatakan hal lain pada Geralt, sebelum dikirim ke penjara, dan itulah yang membuat Serin, sedikit demi sedikit, bisa meluruskan benang kusut yang dibuat Arka selama ini
Benar jika Jayden pernah melukai perasaan dan fisiknya, tapi perasaan Serin waktu itu berhasil mengalahkan akal sehatnya, percayalah Serin pernah jadi gadis bodoh saat bersama Jayden, karena Jayden jugalah orang pertama yang membantunya, untuk benar-benar lolos dari depresinya atas Darin, hingga di selingkuhi saja ia sempat diam, sebelum akhirnya benar-benar geram dengan kelakuan dua insan itu, dan membuat Serin mengakhiri segalanya dengan menghancurkan masa depan keduanya
Larisa tidak pernah lepas dari pengawasan anak buah Serin, sebenarnya Larisa sadar jika dirinya terus di awasi karena itu, ia kabur seperti yang di ucapkan Geralt
"Ku tunggu kabar baiknya? aku ingin dia ada di tangan kita sebelum Arka mengetahui hal itu" ucap Serin sedangkan Geralt, ia hanya mengangguk paham
Setelah pembicaraan itu, keduanya keluar dari ruang CCTV
Serin masuk ke kamar sedangkan Geralt, ia pulang ke apartemen-nya
...****************...
Sedangkan di sisi lain, seorang wanita tengah duduk di sebuah kursi "kau hidup tenang dengan Glen, sedangkan aku! kau mengambil semuanya dariku" gumamnya dengan pandangan kosong menatap keluar jendela
Tidak beberapa lama masuk seorang pria, yang membuat lamunannya buyar dan langsung mengubah ekspresi wajahnya!
...****************...
"Glen!" panggil Serin karena tidak mendapati suaminya di sana
"Kemana lagi dia?" gumamnya lalu keluar dari kamar untuk mencari Glen
"Lili, apa kau melihat suamiku?" tanyanya
"Tuan baru saja turun bersama Tuan muda nona" jawabnya sopan
Serin mengangguk, lalu pergi untuk menemui dua pria kesayangannya
Serin pergi keruang keluarga, tapi tidak menemukan apa yang di carinya
Pergi dari ruang keluarga, ia pergi ke tempat lain
Serin bersandar di ambang pintu dengan tangan yang ia lipat ke dada, memperhatikan dua pria yang sedang asik berenang di kolam renang, tanpa sadar jika ada sepasang mata yang memperhatikan mereka
"Apa kalian tidak kedinginan, sekarang cuaca sedang dingin" tanya Serin seraya jongkok di tepi kolam, sesekali ia memercikkan air pada keduanya
Lantas anak dan Ayah itu saling menatap satu sama lain, dengan tatapan jahilnya lalu beralih pada Serin
"eitss... jangan harap bisa menarikku untuk masuk" ucap Serin yang lebih dulu sudah tahu niat keduanya, dengan senyum kemenangan yang di tariknya
Byurrr
Seseorang mendorong Serin hingga ikut jatuh kedalam kolam, dan berakhir basah kuyup
"Kelamaan" ucap Lidiya yang ternyata datang bersama Gery
"Yak!" kesal Serin sambil mengusap wajahnya
Sedangkan Reyhan dan Glen hanya tertawa, saat melihat Serin juga masuk kedalam kolam
Glen menarik Serin yang akan naik ketepian, untuk tetap berada di dekat mereka berdua
Reyhan menggunakan pelampung agar tidak tenggelam dan sesekali, Glen mengajarinya untuk berenang
"Tapi, kenapa kalian tiba-tiba datang?" tanya Serin, karena biasanya Lidiya akan mengabarinya jika ingin datang
"Hanya mampir sebentar! kebetulan lewat" jawab Lidiya, dan hanya di angguki oleh Serin dan Glen
"Akhhh...." lirihnya tiba-tiba, sontak membuat Glen langsung menatap istrinya
"Kenapa?"
"Lukaku masih belum sembuh total, tapi kalian malah membuatku berada lama dalam air" ucap Serin
Glen yang melupakan hal itu, langsung membantu Serin untuk segera naik ke tepi kolam
"kenapa?" tanya Lidiya, ketika melihat Glen yang buru-buru mengangkat Serin, dan mendudukkannya di tepi kolam
"aku baru saja sembuh, tapi kau mendorongku" sahut Serin menatap sekilas kearah Lidiya
"Ah. maaf! aku lupa" ucap Lidiya beranjak dari duduknya menghampiri Serin
"Tapi kau tidak akan mati bukan!" ucap Lidiya tanpa rasa bersalah setelah mendorong Serin tadi
"Untungnya aku tidak selemah itu" balas Serin, mendelik tajam kearah Lidiya sedangkan wanita itu, ia hanya terkekeh kecil saat Serin meliriknya dengan tajam
"Biar ku bantu" ucap Lidiya membantu Serin berdiri, tapi Glen sudah lebih dulu mengangkat istrinya
"Tolong kalian jaga Reyhan sebentar" ujarnya, lalu pergi untuk membawa Serin
Lidiya hanya tersenyum, lalu beralih pada pria kecil yang masih ada di pelampungnya
"Bisa-bisanya mereka meninggalkan Reyhan di atas pelampung" gumamnya, lalu menyuruh Gery untuk menarik pelampung Reyhan, yang ada di dekat tepi kolam
Tapi tidak lama Lili datang untuk menjemput Reyhan
"......"
Setelah selesai membersihkan dirinya, Serin keluar dari kamar mandi, tapi baru saja ia membuka pintunya, Glen sudah ada di hadapannya dengan pakaian yang sudah di ganti
"Apa masih sakit?" tanyanya, saat Serin keluar dari kamar mandi
"Oh. sudah lebih baik" sahut Serin membenarkan handuk yang ada di kepalanya
Saat Serin akan melangkah keluar, Glen tidak beranjak dari tempatnya, alhasil membuat Serin susah untuk lewat
"sampai kapan kamu akan diam di sini?" tanya Serin menatap suaminya
"Aaakkkh" jerit nya
Belum selesai Glen menjawab, Serin yang tadi tidak sengaja melihat sesuatu sontak melompat kearah Glen
"Ada apa?" tanya Glen pada istrinya yang sekarang, sedang memeluknya seperti bayi koala
Serin hanya menunjuk sesuatu ke arah bawah, tanpa berani menatap apa yang barusan ia lihat
Glen yang mengikuti kemana telunjuk Serin, melihat jika ada ulat bulu di dekat lubang pembuangan, bahkan Glen juga terperanjat kaget saat melihat hewan kecil tersebut
"masa dengan hewan sekecil itu kamu takut?!" tanya Glen, "bukan takut! lebih tepatnya geli" jawab Serin masih pada posisinya "alasan" cibir Glen
"Glen pergi dari sini!" suruhnya, karena membayangkan saja sudah membuatnya bergidik ngeri
"sebentar biar aku membuangnya" ucap Glen
"Kamu gila! hewan itu punya serbuk gatal" sahut Serin
"Sudahlah suruh yang lain saja! bawa aku ke kamarku saja" desak Serin, agar pria itu segera membawanya pergi
Glen meraih sesuatu sebelum ia membawa Serin masuk ke kamarnya
"Sampai kapan kamu akan terus diposisi ini" tanya Glen berdiri di dekat kasur
Serin membuka matanya dan menyadari jika mereka sudah ada di kamarnya
Sontak Serin langsung turun dan membenarkan handuknya
"Tapi sepertinya, ulatnya ada dua, satunya lagi ada di handuk rambut" ucap Glen sukses membuat Serin diam dan berusaha melirik ke atas, walau sebenarnya tidak bisa
"Jangan bercanda" ucap Serin yang sudah membeku di tempatnya
"Biar ku ambilkan" ucap Glen santai, lalu mengambil sesuatu di handuk rambut Serin
"Ini" ucap Glen sengaja melemparkannya kearah istrinya, sukses membuat Serin teriak saat itu juga
"Yak!" teriaknya, dengan mata yang ia pejamkan, Serin mengibas-ngibaskan sesuatu yang terasa menempel di pundaknya
"Glen!!!" lirihnya dengan suara sedikit berbeda, Glen yang menyadari itu sontak langsung memecahkan tawanya yang tadi ia tahan, saat melihat ekspresi takut istrinya
"Hei! tenang... tenang! ini hanya kabel" ucap Glen seraya mendudukkan dirinya di tepi ranjang, tanpa dosa sedikitpun
"Hishh!" kesal Serin yang langsung melempar kabel kecil itu pada Glen
"Keluar dari kamarku sekarang!" kesalnya, lalu menarik Glen dan mendorongnya keluar dari kamar, sedangkan pria itu masih saja terkekeh saat Serin mendorongnya keluar kamar
"Malam ini kau tidur sendiri" ucapnya, lalu langsung menutup pintu, serta mengganti password
"Ya.. ya! aku cuma bercanda" ucap Glen mengetuk pintu kamar istrinya, tapi sama sekali tidak di bukakan pintu oleh Serin
Glen menghela kasar napasnya, lalu duduk di tepi ranjang dengan wajah manyun-nya
...****************...
.
.
.
Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊
.
.
.