
Cklek
"Eh mau kemana bro?" Tanya Haikal yang tak sengaja berselisih dengan Zaky saat ingin membuka pintu kamar, dan itu tidak luput dari pandangan Milea.
"Mini market. Tolong jaga mereka sebentar." pesan Zaky. "Heh? Jaga? Kebalik! Yang ada pengawal lo yang jagain gue! Guekan kalau ngelihat maling ikutan kabur." Celoteh Haikal.
Ah, Zaky jadi ingat kenangan konyol sewaktu masih SMA dulu. Di mana saat itu dirinya, Haikal dan juga Harun tengah berjalan bersama menuju markas mereka yang merupakan gedung tak terpakai. Saat di tengah jalan, seseorang tiba tiba menyerahkan tas kepada Haikal membuat pria itu bingung.
"Maling woy maling berhenti lo!!" Begitulah teriakan para warga. Haikal menoleh kebelakang dan langsung lari seraya menggendong tas itu. Tau 'kan apa jadinya? Yah, Haikal dibawa kekantor polisi untuk disidang. Untungnya pelaku sebenarnya ketemu, jadilah Haikal boleh pulang meskipun diberikan kartu peringatan.
"Jaga!!" Haikal meneguk salivanya payah. *Z*aky kalo serius gini nyeremin woi. Hebohnya di dalam hati seraya cengengesan dengan tangan menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Hehe iya iya gue jagain. Udah lo tenang aja, santay oke?" Zaky memandang datar dan melongos pergi begitu saja, membuat Haikal mendengus kesal lalu masuk kedalam.
"Gimana keadaannya?" Milea yang sedari tadi melamun langsung tersadar saat terasa pergerakan di sampingnya.
"Apa?"
"Keadaan sahabat lo gimana?"
"Panasnya belum turun turun, kita giliran ya ganti kompresnya?" Pinta Milea yang sedari pikirannya bercabang memikirkan keadaan Zaky di luar sana.
"Ck, ngerepotin amat sih nih bocah. Hei cepat sembuh! Lo gak asik tau gak waktu sakit, ngerepotin tau gak!!" Omel Haikal menatap Nala sok.
"Kan gue gak ada temen adu mulut." Sambungnya pelan, bahkan sangat pelan. Meskipun seperti itu, Milea masih bisa mendengar dengan jelas karna saat ini Haikal tengah duduk di sampingnya.
Tersenyum kecil, " kalau begitu saya semakin merepotkan bapak. Kaga teman saya bentar ya pak! Saya mau pergi bentar!" Pinta Milea buru buru pergi.
"Eh eh lo mau kemana mil. Mileaaa!!"
Milea menghiraukan teriakan Haikal, dia langsung menyaut sepatu dan memakainya sambil berlari hingga dia sesekali terjatuh.
Di ujung sana, dia dapat melihat Zaky baru saja memasuki lift. "Tuan Zaky tunggu!!" Teriaknya berlari kencang dengan harap bisa menyusul lift itu.
Terlambat, saat dia sampai pintu lift tertutup. Dan Zakypun tidak melihat karna sedang memainkan gawai di tangannya.
" Sial! " Milea menendang udara kesal, dia menoleh kearah ujung lorong yang terdapat tangga darurat. Mau tidak mau dia harus menuruni anak tangga hingga kelantai dasar.
Tak tak tak
Milea terus menuruni puluhan bahkan ratusan anak tangga hingga sampai di lantai dasar.
"Hosh hosh hosh" Milea menumpu kedua tangannya di atas lutut mencoba mengatur nafas karna kelelahan.
Dari ekor matanya, dia menangkap bayangan Zaky yang baru saja keluar dari pintu apartemen.
"Tuan!!" Gadis itu dengan energi yang tersisa segera berlari menyusul tuannya. dan lagi, takdir seolah olah sedang mempermainkannya. Saat dia berhasil keluar, Zaky sudah melajukan mobilnya keatas jalanan raya bersama puluhan kendaraan lainnya.
"TUAAANNNN!!!" Milea terduduk lemas di atas trotoar. Matanya tak sengaja melihat netra beberapa pengendara yang mencurigakan. Beberapa pengendara bermotor berpakaian serba hitam seperti sedang mengikuti Zaky dari belakang, dan ada juga satu mobil yang menyusul di belakangnya.
Milea terdiam sesaat, dia jadi teringat saat merasakan ada yang mengikuti mereka saat dalam perjalanan pulang. Dan ternyata itu bukan perasaannya saja, tapi memang ada yang mengikuti mereka saat itu.
"Oh tidak, tuan sedang sendiri dan tidak ada yang mengawalnya. Aku harus segera menyusul mereka, sebelum terjadi sesuatu dengan tuan zaky." Gumam Milea segera bangkit mencari kendaraan yang dapat dia palaki dari pengendara motor di jalan raya.
Gadis itu terus menelisik mencari pengendara yang memiliki motor sesuai keinginannya, dan itu ia dapatkan oleh seorang pengendara yang tengah mengebut di jalanan.
"Stop!!"
Ckittt
Suara ban bergesekan dengan jalanan aspal terdengar jelas di telinga Milea. Dan ban itu hanya berjarak beberapa centi dari tubuhnya. Dia tidak peduli, yang penting motor ketemu. Check!
"Lo gila apa bloon sih ha?! Mau mati ya lo!" Pria itu melepaskan helmnya, di tatapnya tajam pria yang ternyata sangat Milea kenali.
Dia Rendy, adiknya Nala. seketika Milea merasa senang karna tidak perlu repot repot malakin orang asing, sekali kali malakin adik sahabat, toh Rendy juga sering menjahilinya saat berkunjung kerumah Nala saat dalam masa kabur.
"Turun lo!" Titah Milea. Rendy yang bingung turun saja. "Mau ngapain lo?" Tanya Rendy menatap tajam Milea yang segera menaiki motor ninja kesayangan miliknya dan langsung merampas helmnya.
"Gue pinjem motor sebentar dek! Lo tunggu aja gue di lobi apartemen, atau masuk aja ke apartemen temen gue di lantai 4 nomor 431 oke?! bye bye!!" Cerocos Milea langsung tancap gas sebelum Rendy sempat membantah.
"WOI BALIKIN MOTOR GUEEE!!"
Brum brum brummmm
Entah memang bakat atau kepepet, Milea mengendarai motor tersebut sudah seperti pembalap profesional. Meski dengan kecepatan tinggi, dia masih bisa menyalip pengendara lain dengan mulus seperti sedang tidak mengebut saja.
Luar biasa...
Ckitt
Milea menghentikan motornya di dalam trowongan yang memang khusus jalan di atas bukit. Sekitar 10 meter di depannya sudah berkumpul beberapa buah motor dan mobil yang sama persis seperti yang dilihatnya, dan juga ada mobil Zaky di sana. Tepatnya mobil yang paling depan.
Milea melepas helmnya dan langsung berlari mencari keberadaan big bosnya itu. Saat sampai di tempat motor motor itu berada, Milea melihat beberapa orang tengah berlari menuju kearahnya.
Dia memakai pakaian yang sama seperti yang dilihatnya pada para pengendara itu. Milea menggelengkan kepalanya, yang paling utama sekarang adalah mencari titik keberadaan bosnya itu dahulu. Setelahnya urus nanti saja.
Brukh
"Maaf!"
"Tidak apa apa." Tap. Milea menghentikan langkahnya terdiam. Dia tidak sengaja bertabrakan dengan salah satu gerombolan orang orang itu, tapi bukan itu yang ia pikirkan, melainkan suara orang itu.
"*A*h maaf" Sesal Milea saat tak sengaja menabrak salah satu karyawan kantor saat berpapasan.
*Pria itu tersenyum mengangukkan kepalanya sopan. "Tidak apa apa." Setelah itu melenggang pergi, diikuti Milea yang juga pergi kearah berlawanan*.
"Suara itu... suara yang sama..."
***
hallo semuanya.. π
maaf ya kalo kemarin author gak update π soalnya kemarin author itu ketiduran πͺ jadi gak sempet bikin π₯
jadi sekali lagi author minta maaf ya buat kalian para pembaca setia novel ini... π¦