Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Demam


esampainya di parkiran apartemen. Haikal kembali mengangkat tubuh menggigil Nala keluar dari mobil.


"Pak, tolong bawakan belanjaan teman saya ya pak!" Pinta Haikal pada petugas keamanan apart.


"Baik pak!"


Sesampainya di apartemen, Haikal memencet beberapa digit angka lalu masuk kedalam membawa tubuh Nala dan membaringkannya keatas kasur.


Dia menatap Nala dengan tangan di pinggang. AC sudah dia matikan, sekarang masalahnya adalah. "Bagaimana caranya aku mengganti bajunya? Tidak mungkin bukan kalau aku yang menggantikannya?" Gumam Haikal mondar mandir tidak jelas.


"Ah benar! Bagaimana aku bisa lupa?!" Rutuk Haikal dengan cepat berjalan meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Di tempat lain, Milea tengah mengemudi kendaraannya menuju apartemen. Dia menjalankannya dengan kecepatan sedang. Matanya sedari tadi melirik kearah kaca spion tengah maupun luar saat merasakan seseorang tengah mengikuti mereka. Tapi dia berusaha untuk tidak memperdulikannya, hingga dering ponsel menyita pikirannya. Dia mengangkat telfon itu dan langsung menghubungkan ke earphone yang dia pasang di telinga.


"Hallo?"


"Ah Milea, bisa kau datang ke apartemenku? Emm begini, aku tak sengaja bertemu Nala di jalan. Dan sekarang dia ada di apartemenku, dia basah kuyup. Jadi bisakah kau kemari untuk menggantikan bajunya?" Jelas Haikal terdengar salah tingkah.


"Apa dia baik baik saja? Oke aku segera kesana. Tunggu aku!!" Milea mematikan ponselnya lalu menancap gas dengan kecepatan penuh, membuat Zaky yang berada di belakang was was saat melihat pengawalnya seperti orang kesetanan.


"Hei apa kamu sudah gila!! Kenapa kau mengebut ha?!" Teriak Zaky yang berpegangan kuat pada pegangan tangan yang ada di atas kepalanya.


Milea tidak menggubris, dia dengan cepat menyalip pengendara lain hingga sampai di apartemen dia langsung meninggalkan bosnya begitu saja memasuki lift menuju lantai 4.


Tunggu! Bagaimana Milea bisa tahu kalau Haikal tinggal di lantai 4? Karna Nala sudah bercerita padanya bahwa dia bertetangga dengan bosnya itu. Dia terus mengomel pada Milea, kenapa harus tinggal bertetangga dengan si mulut nyinyir seperti Haikal.


Tok tok tok


Cklek


Pintu terbuka, Haikal langsung mempersilahkan Milea untuk masuk melihat keadaan sahabat baiknya itu sendiri.


"Ya allah Nala apa yang terjadi padamu..." gumamnya dengan cepat membongkar isi lemari Haikal untuk mencari pakaian ganti yang tebal dan hangat untuk Nala pakai, dan yang pasti pas di badan gadis malang itu.


Setelah selesai menggantikan bajunya, Milea menutupi tubuh sahabatnya dengan selimut. Tangannya memegang erat tangan Nala untuk menyalurkan rasa hangat, berharap sahabatnya bisa segera sembuh.


"Emmmhhh" Milea menatap khawatir Nala yang terlihat gelisah, keringat dingin membanjirinya. Milea meletakkan tangannya di atas kening gadis itu, dan benar saja, Nala sedang demam tinggi.


"Ada apa?"


"Panggilkan dokter segera!" Haikal mengangguk, dia keluar dan terkejut saat melihat Zaky sudah duduk ayem adem di ruang tamu. Dia tidak peduli, yang penting sekarang dia harus menelfon dokter Reza untuk kemari.


"Bagaimana keadaannya dok?"


Reza menghembuskan nafasnya pelan menatap ketiga orang yang nampak khawatir, ralat! Hanya berdua saja, karna sedari tadi Zaky hanya memasang wajah datar, meskipun ada sedikit rasa iba di hatinya melihat karyawannya sakit.


"Demamnya cukup tinggi, disarankan untuk selalu mengganti kompresnya selalu. Dan jika sampai pagi nanti demamnya belum turun juga, kita bisa membawanya kerumah sakit untuk tindak lanjutan." Jelas Reza.


"Terima kasih dok!"


"Mari saya antar dok!" Haikal keluar mengantarkan Reza keluar. Sedangkan Milea setiap berada di samping sahabatnya, bersama Zaky yang tak ingin beranjak sedikitpun dari tempatnya. hanya sesekali melirik pengawalnya yang terlihat sangat khawatir.


"Kita menginap di sini malam ini." Putus Zaky tiba tiba, membuat Milea menoleh bingung.


"Aku tau kamu pasti tidak akan mau pulang ke apartemenku mengingat keadaan sahabatmu sekarang, jadi kita menginap saja di sini, aku dan Haikal bisa tidur di kamar sebelah." Zaky berinisatif untuk menjelaskan saat melihat wajah bingung Milea.


"Terima kasih tuan."


"Aku ingin ke mini market sebentar, kamu ingin menitip sesuatu?" Tanya Zaky membuat Milea menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.


"Sendiri?"


"Lalu? Dengan siapa aku kesana, memangnya kamu mau menemaniku?" Balik tanya Zaky.


"Kenapa tidak minta temani dengan pak Haikal saja?" Tawar Milea. Rntah kenapa perasaannya tidak enak, apalagi mengingat beberapa saat lalu ada yang mengikuti mereka.


" Tidak perlu, lagi pula mini marketnya juga dekat. Haikal di sini saja menemanimu, siapa tahu kamu perlu bantuannya nanti." Tolak zaky.


"Tapi---"


"Sudah tidak apa apa, aku bisa sendiri."